Titik Lemah

1246 Words

Pagi itu Nindya baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke ponsel Bima. Nindya kembali menatap ponselnya. Pesan sudah terkirim. “Bima, maaf aku mengganggu. Tapi aku perlu ketemu kamu. Penting.” Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya, lalu balasan masuk. “Sekarang?” Nindya menjawab cepat. “Iya, sekarang.” Satu jam kemudian Nindya sudah tiba di kafe tempat dirinya janjian bertemu dengan Bima, tempatnya tidak terlalu ramai. Nindya sudah duduk lebih dulu. Wajahnya tenang, tapi pikirannya jelas tidak berhenti bekerja. Tidak lama kemudian, Bima datang. “Nindya?” katanya sedikit terkejut. “Tumben, jarang banget kamu ngajak ketemu.” Nindya tersenyum tipis. “Maaf mendadak.” Bima duduk di depannya. “Kelihatannya serius.” Nindya tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD