Pagi itu terasa berbeda. Udara di rumah Arman lebih tenang, namun justru ketenangan itu terasa seperti badai yang tertahan. Nindya sudah duduk di ruang kerja sejak subuh, menatap layar laptop dengan fokus. Semua data sudah tersusun rapi, semua kemungkinan sudah ia hitung. “Ini saatnya…” bisiknya pelan. Ia tidak lagi ragu. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Setelah mengetahui isi dokumen perjanjian itu, semuanya menjadi jelas. Ini bukan sekadar konflik pribadi, tapi permainan besar yang sudah dirancang jauh sebelum ia menyadarinya. “Aku gak akan biarkan mereka menang,” lanjutnya lirih. Tangannya mulai bergerak cepat di atas keyboard. Satu per satu file dipilih, dipilah, dan disiapkan. Bukan untuk disebar sembarangan, tapi untuk digunakan di waktu yang tepat. Di ambang pintu, Arman berdir

