“Aku rasa kita semua sudah cukup bersembunyi.” Suara Nindya terdengar tenang, tetapi cukup tegas untuk memecah keheningan di ruang tamu itu. Ratna yang masih berdiri dengan wajah pucat langsung menoleh padanya. “Apa maksud kamu?” tanya Ratna tajam. Nindya tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan menuju meja kecil di dekat sofa, lalu mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di sana. “Selama ini kamu selalu berpikir kamu yang mengendalikan semuanya,” kata Nindya pelan. Ratna menyilangkan tangannya. “Kalau kamu ingin menuduhku lagi, sebaiknya kamu punya bukti.” Nindya tersenyum tipis. “Justru itu yang ingin aku tunjukkan.” Ibunya Arman menatap mereka berdua dengan cemas. Ia merasa percakapan ini mulai berjalan ke arah yang tidak ia pahami sepenuhnya. “Apa yang sedang kamu l

