Jam 8 pagi mereka memulai perjalanan. Mereka saling bertukar cerita kehidupan dari masa kanak kanak mereka. Mia dan Rayhan merasa lebih dekat dengan mereka bercerita satu sama lain.
Pemandangan yang mereka lewati sungguh indah. Dimulai dengan gunung-gunung yang tinggi menjulang dan persawahan yang bertingkat, laksana permadani hijau yang terhampar menyejukan mata bagi siapapun yang melihatnya. Mia terkesima, ia berdecak kagum. Karena memang ini adalah kali pertamanya melakukan perjalanan pergi ke Green Beach tempat tujuan mereka.
"Mia kamu lapar? Kamu beli membeli sesuatu?"
Krik....krik...krik.
Tidak ada jawaban.
Rayhan sejenak mengalihkan pandangannya dari jalanan, Ia melihat ke arah Mia.
“Uhm.. Dia ketiduran.Kasihan juga dia belum.” Rayhan tersenyum.
Bahkan di saat tidur pun Mia terlihat sangat cantik. Rayhan bergumam dalam hati.
Rayhan memandang sekali lagi wajah gadis di sampingnya dengan seksama. Pandangannya terhenti tepat pada bibir Mia. Sesuatu sangat yang sangat menarik perhatiannya. Rayhan kemudian menepikan Mobil. Dia ingin lebih leluasa melakukan sesuatu.
Perlahan Rayhan mendekatkan wajahnya ke wajah Mia yang tengah terlelap. Rayhan menatap lekat bibir Mia, Lalu ia menyentuhnya dengan perlahan dan sangat lembut.
Mia terkejut...
Seketika Ia terbangun dan membuka mata.
"Kamu mau ngapain?! " Mia tersentak. Ia tak bergerak dengan wajah mereka yang saling berdekatan, dan jemari Rayhan masih tepat berada di bibirnya
Rayhan tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum memandangi wajah Mia sangat dalam.
Mia merasa semakin gugup, Jantungnya seakan menendang d**a ingin keluar dari tempatnya. Masih tanpa kata Rayhan menyapu bibir bagian bawah Mia. Gadis itu. semakin tak berdaya. Dia merasa ada kejutan di tubuhnya yang hampir membuatnya dirinya terbang.
Rayhan memperlihatkan jemarinya dan menunjukan sesuatu.
"Ada semut di bibir kamu, Aku takut kamu digigit."
"Semut?! " Mia terkesiap mendengarnya.
"Iya." Rayhan mengangguk pelan.
Benar saja Mia melihat seekor semut merah pada jemari Rayhan dan telah tak bernyawa. Pipi Mia bersemu merah seketika.
"Kenapa?" Rayhan tersenyum tipis seraya berkata, "Apakah kamu mengharapkan sesuatu ada sesutu yang lain?"
" Tidak... tidak. Kamu apa bicara apa." Mia menggerutu dan sangat sangat malu. Hampir-hampir dia ingin lari saja membenamkan wajahnya di rerumputan.
"Hahahaha." Rayhan tertawa melihat Mia, Wajahnya semerah kepiting rebus. Dan dia sangat menikmati saat-saat dimana Ia dapat menggoda teman seperjalanannya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Sekitar 30 Menit kemudian, "Kita sudah hampir sampai." Rayhan tersenyum melihat alam sekitarnya
"Benarkah?" Mia sangat bersemangat, Ia melihat ke arah jalanan. Dan benar saja ,di sepanjang sebelah kanan jalan,terlihat hamparan pasir dan air laut di belakang pemukiman nelayan yang tinggal dipesisir pantai
Udara khas lautan yang menyegarkan pikiran dan perasaan, Berbalut aroma alam mengisi paru- paru mereka. Mia menghirup dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan
"Seandainya bisa, aku ingin menyimpan aroma ini, dan menghirupnya di saat aku membutuhkan." Wajah Mia penuh takjub tak berkesudahan memandangi alam sekelilingnya
"Kamu bisa mengajakku kesini kapan pun kamu mau." Rayhan terdengar sangat tulus. Dia tidak pernah melihat Mia sebahagia ini sebelumnya
Mobil mereka memasuki area wisata. Setelah memarkirnya, Rayhan berjalan ke loket dan membeli tiket untuk mereka berdua. Mereka berjalan masuk ke arah pantai secara berdampingan
Mia termanggu akan pesona pantai itu. Pasir putih menghampar indah. Air laut dengan gradasi warna Hijau tosca pada tepian bibir pantai dan semakin ketengah semakin berwarna biru gelap
Beberapa kapal nelayan berbagai macam warna tertambat pada tepian pantai, Semakin memperindah Mahakarya sang pencipta
Beberapa anak berlarian menaikan layangan mereka, Layangan yang sangat indah dan ukurannya yang lebih besar dari layangan yang biasa. Meliuk-liuk di atas samudera dengan warna-warna menawan manjakan mata akan keindahan
"Tunggu sebentar." Rayhan pergi berlari meninggalkan Mia menjauh. Beberapa saat kemudian datanglah Ia membawa topi pantai, Berwarna mocca, dan memiliki *Brim yang Lebar. Rayhan mengenakan topi itu pada kepala Mia langsung dengan kedua tangan-nya
"Kamu cantik sekali mengenakannya." Rayhan tersenyum puas akan pilihannya. Ia menyibak rambut Mia yang berkibar tertiup angin dan menutupi separuh wajah cantik yang dimilikinya
Mereka terdiam dan terpaku beberapa saat. Saling memandang dan saling membisu
"Maksudmu , aku tidak cantik jika tidak memakai topi ini?" alis Mia mengkerut.
"Kamu pandai merusak moment Mia." Rayhan mendorong kepala Mia dan berlari menjauh meninggalkan Mia. Rayhan merasa Ia bersikap sedikit memalukan
"Hei, tunggu! Rayhan kita mau kemana?" Tersengal nafas Mia berlari mengejar Rayhan. Dia sudah tak sanggup meneruskan langkah dan terduduk di bawah pohon kelapa yang rindang.
"Kita cari Villa" Rayhan berhenti dan menunggu Mia menghampirinya
"Apa masih jauh?" Aku merasa lelah Ray, Aku masih belum tidur
"Bukannya kamu sudah tidur tadi di mobil?" Rayhan mendelik
"Itukan cuma sebentar. Paling-paling cuma 10 menit"
"Baiklah naik ke punggungku." Rayhan membungkukkan tubuhnya dan ia berjongkok di depan kedua kaki Mia
"A..pa?! Aku tidak akan melakukannya kasihan kamu. Aku berat." Mia menolak dengan keras.
"Tidak masalah, Ayolah... Aku mempunyai otot lengan dan bahu yang kuat" Rayhan menepuk lengannya.
"Tidak ah, aku malu." Gadis itu tersipu. Mia berjalan melangkah menjauh dari Rayhan.
"Yang mana tempatnya? Apakah masih jauh? " Mia sangat penasaran
"Kamu lihat itu? Tempat yang berjejer berwarna coklat. Itu adalah vilanya" Rayhan menunjuk dari kejauhan.
"Lumayan jauh, tapi tak masalah." Mia bersemangat. Ia memacu tubuhnya lebih cepat
Sebenarnya Villa itu Memang masih cukup jauh. Sekitar 700 meter dari tempat mereka sekarang. Namun untuk pemandangan seindah ini, berjalan menyusuri pantai tidaklah terasa melelahkan.
"Mbak, saya minta kamar dua." Rayhan memesan kamar hotel pada perempuan yang berdiri di belakang meja receptionis.
"Ada, tapi sayangnya kami hanya memiliki satu kamar saja yang tersisa. Dan itu juga single bed. Jadi Bagaimana ?" Resepsionis memandangi wajah mereka berdua secara bergantian.
Mia dan Rayhan saling pandang