Sepeninggal Sihoon, Yeollane duduk sendiri disana. Semilir angin dengan lembut membelai pipinya, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Dengan wajah datar, gadis itu mengingat malam dimana ia menelpon Dennis dan mengatur rencananya. Masih jelas dalam ingatannya kata-kata Jesslyn beberapa hari yang lalu, “Berikan jantung baru untuknya dan lanjutkan tugasmu. Hanya itu caranya.” . . . . . “Dennis ?” panggil Yeollane begitu telepon tersambung. “Ya, ada apa Yeol ?” suara kakaknya disebrang terdengar begitu tenang. “Boleh aku bertanya sesuatu padamu ?” gadis itu memainkan kabel telepon. “Apa itu ?” “Apa kau mengenal seorang dokter bernama George Dalton ?” Yeollane mencoba mengingat-ingat nama itu. “Tentu. Dia adalah mantan dokter keluarga kita. Dr. Dalton dipecat karena ia salah memberika

