Pagi itu mentari telah keluar dari peraduannya. Sinar keemasannya yang hangat tengah menyeruak masuk ke dalam setiap tirai kamar yang belum terbuka, berniat membangunkan tukang tidur yang masih asyik dalam mimpi mereka. Tapi, Yeollane membuka matanya tiba-tiba. Gadis itu bangun dengan dengan nafas terengah-engah seperti biasa. Tangan mungilnya meraba meja kecil di samping ranjang dan mengambil segelas air lalu meminumnya cepat. Detik berikutnya ia menghela nafas sambil menyeka keringat yang mengucur sebasar biji jagung dikeningnya. Untuk beberapa saat Yeollane termenung. Masih terlintas jelas dalam bayangannya suara melengking seorang gadis kecil yang kesakitan… “Yeol…?” seorang gadis berambut emas menatap Yeollane dengan mata birunya. “Yeol…?” kali ini ia melambaikan tangannya di depan

