Mita menikmati kehidupannya yang penuh perjuangan selama sembilan tahun terakhir. Dia benar-benar berjuang keras menghadapi kenyataan yang membuatnya mampu hidup mandiri.
Usaha toko bunga yang ia lakoni semakin berkembang. Hampir setiap hari toko bunga yang ia kelola selalu kebanjiran order. Akhirnya dia mencari seorang karyawan untuk membantunya mengurus toko bunga yang semakin berkembang. Namanya Ujang, usianya 19 tahun. Baru saja lulus SMA. Jujur dan mau bekerja keras. Dia adalah tetangga rumah Nyai Kosasih. Sehingga Mita mengenal Ujang lumayan dekat.
Sekitar pukul sepuluh pagi. Mita dikejutkan dengan kedatangan Tama ke kiosnya. Gadis itu mengernyitkan dahi dan melihat ke kalender duduk yang ada di meja kerjanya.
“Selamat pagi, Teh Mita!” sapa Tama kepada gadis yang sedang menyembunyikan identitasnya itu.
“Pagi, Kak Tama!” Mita tampak mengernyitkan dahi dan bingung karena belum satu minggu tapi sales marketing itu kembali datang ke kiosnya.
“Kayaknya ini belum satu minggu deh? Tapi kenapa sudah kunjungan lagi?” Mita merasa kalau Tama salah jadwal.
“Oh, bukan mau kunjungan, Teh! Tapi mau beli bunga.” Tama mengulas senyumnya dan berusaha bersikap semanis mungkin di depan Mita.
“Oh ... begitu? Silakan mau memilih bunga apa? Mau pilih sendiri atau mau dipilihkan, atau apa saja terserah bagaimana kamu memesannya saja!” Mita dengan ramah menyapa setiap pelanggannya.
“Mau pesan satu tangkai bunga mawar tapi nanti dikasih ucapan, ya!” Tama berniat untuk memberikan setangkai bunga mawar merah itu kepada seseorang.
“Bisa banget! Tunggu sebentar, ya! saya pilihkan bunga mawar yang indah untuk seseorang yang spesial pastinya!” Mita dengan lembut memilihkan bunga mawar untuk Tama. Kemudian gadis itu menghiasnya sedemikian rupa sehingga terlihat sangat manis dan menyejukkan setiap mata yang memandang.
“Nah ini kertas untuk ucapannya! Mau dituliskan atau mau menulis sendiri juga boleh.” Mita merasa kalau Tama sedang dalam masa pendekatan terhadap seorang gadis. Karena biasanya, beberapa pelanggan yang sering membeli bunga di tempat Mita, tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Tama.
“Saya tulis sendiri saja, ya!” Tama berharap kalau ada pembeli yang membuat Mita menjadi lebih sibuk. Ketika ia menuliskan untuk siapa bunga mawar itu.
‘Semoga saja segera banyak pembeli yang datang ke Toko Mita! Supaya Mita Nggak sadar kalau bunga itu sebenarnya untuk dia,' ucap Tama dalam hatinya yang tidak lama kemudian terkabulkan.
Saat Tama sedang menulis ucapan di atas kertas itu, ada tiga orang yang datang ke Toko Mita untuk memesan buket bunga. Sehingga Mita terlihat sangat sibuk dan dia tidak menyadari kalau Tama justru menuliskan nama “Mita”, di kertas ucapan bunga mawar merah itu.
Ketika Mita tengah sibuk memilihkan bunga. Tama menunggu dengan setia. Mita yang menyadari hal itu, langsung meminta tolong kepada asistennya untuk membantu pelanggan yang baru saja datang memilihkan bunga yang akan dijadikan buket. Lalu Mita menghampiri Tama.
“Bagaimana? sudah?” Mita menyapa Tama yang terlihat sedang menunggunya.
“Sudah! Tinggal bayar administrasi aja!” Tama masih menggenggam bunga mawar itu tetapi berusaha menyembunyikan tulisan yang ada di kertas ucapan itu.
Setelah Tama membayarnya. Dia berpamitan kepada Mita untuk melanjutkan pekerjaannya. Padahal Tama berpura-pura berjalan ke arah mobil pickup kantor yang sering dia bawa. Tama menunggu Mita sibuk membuat buket bunga lalu secara diam-diam dia menaruh bunga mawar yang sudah dihias sedemikian rupa beserta secarik kertas ucapan di dekat tumpukkan bunga aster. Tama yakin Mita akan menemukannya ketika Gadis itu hendak membersihkan kios sebelum tutup.
***
Seperti dugaan Tama. Mita baru menyadari ada yang berbeda di tumpukan bunga aster berwarna putih ketika dia berjalan melewati tumpukan bunga aster itu.
Mita mengernyitkan dahi sembari menggeleng-gelengkan kepala. Lantaran dia mengetahui bunga itu milik siapa. Justru Mita menduga kalau Tama lupa membawa bunga mawar merah yang dia beli di tokonya.
“Dasar, Tama! Beli bunga aja dia lupa membawanya.” Mita meraih bunga itu sembari tersenyum. Dia belum menyadari tulisan yang ada di secarik kertas berwarna merah muda yang dia berikan secara cuma-cuma untuk semua pelanggan yang membeli bunga dan meminta kartu ucapan.
Namun rasa penasaran Mita membuatnya membaca kartu ucapan yang tertera pada bunga mawar merah yang dibeli oleh Tama. Mata Mita membulat. Seperti ada pelangi yang tersirat di sana.
“Hah, jadi ini konsepnya?” Mita kembali menggelengkan kepala sembari tersenyum dan mencium aroma bunga mawar merah itu.
“Teruntuk Mita gadis manis sang penjaga toko bunga.” Mita terkekeh membaca tulisan itu.
“Ada-ada aja ini orang! Tapi kenapa ya? dia jadi begini?” Mita merasa aneh tapi juga tersipu.
“Coba besok dia masih berani datang ke sini atau enggak?” Mita penasaran dengan keberanian Tama.
Pemuda yang baru dikenalnya satu hari karena sebuah pekerjaan yang mengharuskan Tama di-rolling ke wilayah tempat keberadaan Mita. Seakan-akan terpesona pada pandangan pertama kepada Mita Si gadis penjaga toko bunga.
“Besok kalau dia kesini lagi Aku kerjai saja!” Mita sudah merencanakan sesuatu hal untuk mengerjai Tama Jika dia memang memiliki nyali untuk kembali hadir di depan Mita.
***
Hari itu, Mita menunggu Tama kembali ke toko bunga. Gadis itu sudah menunggu Tama sejak pagi tadi. Namun pemuda itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Mita menganggap bawa Tama kehilangan nyali untuk bertemu dengannya.
Namun semua dugaan Mita terbantahkan ketika Tama terlihat memarkirkan mobil pickup yang dia tunggangi di depan toko bunga Mita. Gadis itu mulai memainkan aksinya. Mita menampakkan wajahnya yang kecut dan judes.
“Selamat siang, Teh Mita!” Tama kembali menyapa Mita tepat pada jadwal berkunjung untuk menawarkan barang dagangannya.
“Siang!” Mita menjawab singkat. Karena itu adalah bagian dari skenarionya.
‘Ha ha ... coba saya mau lihat seberapa jauh mental Tama melihat sikap saya yang judes dan dingin setelah peristiwa bunga mawar kemarin,' bisik Mita dalam hatinya sembari terus memainkan peran.
“Maaf, Teh! Jadi nambah pupuk sama bibit bunga?” Tama sedikit ragu untuk mempertanyakan nasib bunga mawar merahnya yang sudah dia berikan untuk Mita. Sehingga Tama lebih memilih membahas tentang pekerjaan saja.
“Ini daftarnya!” Mita hanya memberikan secarik kertas yang berisi daftar pupuk dan bibit tanaman yang dibutuhkan oleh Abah Engkus.
“Oh iya, Teh! Tunggu sebentar, ya!” Tama mulai merasa tubuhnya gemetaran mendapati sikap Mita yang begitu dingin dan angkuh setelah peristiwa bunga mawar yang nekat dia berikan kepada Mita.
‘Aduh! Mampus! Kayaknya Mita nggak suka sama cara gue ngasih perhatian dan bunga mawar kemarin!’ ucap Tama dalam hatinya sembari berjalan menuju mobil pickup kantor yang selalu dia bawa selama jam kerja.
Tama menyiapkan pupuk dan bibit tanaman sesuai dengan order yang Mita tulis pada secarik kertas. Setelah itu Tama membawanya ke hadapan Mita untuk dicek, sebelum pembayaran administrasinya.
Setelah Mita mengecek semuanya. Tama menyodorkan nota pembelian kepadanya. Ketika Mita sedang menghitung uang yang harus dibayarkan. Membuat Tama memberanikan diri untuk mempertanyakan nasib bunga mawar yang dia berikan kepada Mita.
“Maaf, Teh Mita! Kalau misal nggak berkenan sama bunga mawar yang kemarin. Saya mau minta maaf! Sebenarnya bukan apa-apa sih! Hanya ingin memberikan bunga itu sebagai motivasi dan penyemangat karena saya tahu, Teh Mita begitu lelah mengelola kios bunga ini sendirian. Sekali lagi saya mohon maaf kalau lancang dan membuat Teh Mita tidak berkenan!” Tama benar-benar tulus untuk meminta maaf.
Mendengar ucapan Tama, Mita langsung terkekeh. Dia tidak tahan lagi untuk tertawa karena melihat ekspresi Tama yang ketakutan.
“Si Teteh mah ada-ada aja!” Tama mengusap keringat yang mulai bercucuran di dahinya. Karena sempat panik kalau sikapnya tempo hari menyinggung Mita.
“Sebenarnya sih kaget juga waktu lihat bunga mawar tiba-tiba ada di tumpukan bunga aster. Ternyata itu ulah kamu! Ya sudah saya kerjai saja! Maaf juga, ya! Sudah membuat kamu panik!” Mita senyum sembari memberikan uang administrasi pembayaran pupuk dan bibit tanaman.
“Terima kasih ya, Teh Mita!” Tama bersemangat untuk menghitung uang yang baru saja diberikan oleh Mita.
“Gimana, pas kan?”
“Pas! Terima kasih, Teh!” Tama kembali mengulas senyuman sembari memasukkan uang itu ke dalam dompet besar.
“Mulai sekarang jangan panggil Teteh! Panggil Mita saja!” Gadis itu mengulas senyuman manis yang membuat Tama semakin mengaguminya.
“Siap!” Tama membalas senyuman hangat.
Tak lama berselang, Mita mendengar dering telepon di kiosnya. Gadis itu bergegas untuk menjawab telepon yang masuk. Ternyata telepon itu berasal dari Jakarta. Mita mendapatkan order untuk mendekorasi peresmian sebuah kantor cabang perusahaan besar. Tentu saja Mita merasa bahagia. Hanya saja, dia bingung karena mobilitas dari tempatnya ke Jakarta cukup memakan waktu. Mita membutuhkan mobil untuk mengangkut bunga-bunga segar yang baru saja dipanen dari tempat tinggalnya menuju Jakarta. Hanya saja semua terasa mendadak. Peresmian kantor cabang tersebut akan diadakan tiga hari lagi. Tepat di hari Sabtu. Saat itu juga Mita dituntut untuk berpikir cepat dan memutuskan segala sesuatunya dengan cepat. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Mita akhirnya mau menerima pesanan tersebut. Baginya ini adalah langkah awal perkembangan toko bunga yang dikelola oleh Mita untuk tampil di Jakarta.
Tama melihat raut wajah Mita yang kebingungan Setelah dia menutup telepon tersebut. Karena Mita bingung harus memulainya dari mana. Namun tekadnya yang kuat membuat Mita dituntut untuk berpikir cepat.
“Kamu kenapa?” Tama merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Mita.
Awalnya Mita enggan untuk menceritakannya. Namun, Tama berhasil meyakinkan Mita kalau mereka sekarang sudah berteman. Tama yang diam-diam mengagumi Mita, tidak ingin kalau gadis itu dalam kesusahan.
“Katanya kita teman, sekarang! Tapi kenapa kamu nggak mau menceritakan apa yang terjadi? Nggak mau kalau saya bantu, ya?” Tama berusaha merayu Mita agar gadis itu mau menceritakan masalahnya kepadanya.
“Sebenarnya saya bingung!” Mita masih agak sedikit enggan untuk berbagi cerita dengan Tama. Walau bagaimanapun Mita belum pernah menjalin persahabatan dengan siapa pun. Karena memang dia yang memilih untuk menyendiri.
“Hei?” Tama menunggu Mita untuk bercerita.
“I—iya ... i—itu ....”
“sudahlah, kalau memang nggak percaya atau nggak mau bercerita ya sudah. Nggak masalah. Jangan dipaksakan!” Tama berusaha mengulas senyum di antara kepedihan.
“Eeeh ... iya-iya!” Mita berusaha untuk membuat Tama tidak bersedih.
“Sebenarnya, saya baru saja mendapatkan telepon dari Jakarta. Mereka memesan bunga untuk sekalian dekorasinya. Katanya sih untuk kepentingan pembukaan cabang perusahaan baru. Ya ... jujur senang bukan main. Tapi ....” Mita menatap Tama dengan ragu-ragu dan sedikit bimbang.
“Pasti bingung transportasi deh?” Tama menebak apa yang ada dalam benak Mita.
“Kok kamu tahu?” dengan polos Mita mengatakan hal itu.
“Tama gitu loh!” Pemuda itu mengulas senyuman sembari meninggikan kerah bajunya.
“Ya sudah begini saja! Biar saya antar! Pakai pickup ini! Kita bisa mengangkut banyak bunga beserta perlengkapan dekorasinya. Jadi ... kamu juga bakal aman! Nanti saya bantu untuk dekorasinya!” Tama menawarkan sebuah solusi. Awalnya Mita enggan. Namun lama-kelamaan dia berpikir kalau dia menggunakan jasa Tama, itu berarti akan menguntungkan dua belah pihak. Tama dapat upah untuk uang pengganti bensin. Sedangkan Mita bisa menampilkan hasil dekorasinya sebagai promosi di Ibu kota itu.
“Bagaimana? Deal?” Tama mempertanyakannya sekali lagi.
“Baiklah! Deal!” Mita berjabat tangan dengan Tama.
Mita begitu antusias karena pesanan bunga kali ini lumayan besar. Sehingga dia berharap semua berjalan dengan lancar sebagai penentu karier dan masa depan toko bunga yang dia kelola.