17. Pandangan Pertama

1572 Words
Sembilan tahun berlalu setelah peristiwa buruk yang menimpa Hapsari dan putrinya. Mereka diangkat menjadi keluarga pasangannya Nyai Kosasih dan Abah Engkus. Hapsari diangkat sebagai anak, sedangkan Gendis diangkat menjadi cucu mereka. Hapsari mengganti identitasnya menjadi Ira. Sedangkan Gendis mengubah identitasnya menjadi Mita. Gadis pendiam yang terlihat begitu lemah lembut, ternyata begitu teliti dan jago bela diri. Namun semua itu dia sembunyikan di balik penampilannya yang ayu dan sangat lemah lembut. Setelah mereka diangkat menjadi keluarga. Ira atau Hapsari berdiskusi dengan Nyai Kosasih serta Abang Engkus untuk memulai usaha. Karena di daerah itu menjadi salah satu penghasil bunga potong yang biasanya dikirim ke kota. Akhirnya mereka sepakat untuk memulai usaha penanaman bunga potong dengan beraneka macam jenisnya. Mulai dari bunga krisan, bunga aster, bunga mawar berbagai macam warna, bunga lili, bunga anggrek, dan beberapa jenis bunga yang biasanya laku di pasaran. Mereka sepakat untuk menanam bibit bunga di tanah warisan milik Abah Engkus yang kebetulan sangat cocok untuk ditanami berbagai macam jenis bunga. Mereka memulai dari menanam bunga aster dan krisan. Ternyata pengepul bunga menyukai hasil panen Abah Engkus. Akhirnya mereka menambah varian bunga lainnya. Usaha yang tadinya kecil berubah semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Ketika Gendis lulus sekolah SMA. Dia mulai menggeluti dunia perkebunan bunga guna membantu mamanya dan juga keluarga Abah Engkus. Hingga akhirnya sembilan tahun terlewati dengan penuh perjuangan. Kehidupan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Hidup mereka menjadi lebih berwarna seperti bunga-bunga yang bermekaran di kebun bunga mereka. Lama kelamaan Mita memiliki ide untuk menyewa sebuah kios di tepi jalan utama. Selain lokasinya strategis, di sana pun Mita bisa mengembangkan bakatnya dalam merangkai bunga untuk mendapatkan harga lebih tinggi karena memakai skill. Selain menjual bunga ke pengepul. Mita bisa merintis usahanya untuk belajar mandiri. Walau harga sewa kiosnya lumayan mahal. Namun Mita yakin peluang usaha itu ke depannya memiliki prospek yang baik. Akhirnya Abah Engkus menggelontorkan sejumlah modal untuk membuka toko bunga di sana. Mita sendiri yang menjadi penjaga toko sekaligus owner-nya. Mita pandai merangkai bunga dan merawat bunga-bunga itu. Awalnya cukup sulit mendapatkan pelanggan. Namun Mita tidak menyerah begitu saja. Dia berusaha untuk menawarkan jasa florist ke Villa-villa, hotel, ataupun perkantoran di sekitar wilayah itu. Sehingga usaha toko bunga Mita berjalan dengan lancar dan berkembang. Setiap pagi, Mita dan mamanya membawa bunga-bunga hasil panennya ke toko. Ambu dan Abah yang memanen Bunga itu di kebun. Mita sangat menikmati pekerjaan itu. Terlebih ketika musim kelulusan ataupun wisuda. Mita bisa kebanjiran order. Pekerjaannya itu dia nikmati sembari mencari informasi mengenai misteri yang belum terpecahkan dalam kecelakaan yang menimpanya dan juga mamanya sembilan tahun lalu. *** Mita sudah menjalani pekerjaan itu kurang lebih dua tahun. Usianya saat ini menginjak 22 tahun. Namun belum terpikirkan untuk menikah. Di desa itu minta kerap dicap sebagai perawan tua. Namun hal itu tidak terlalu dipedulikannya. Karena Mita berjanji akan menunda pernikahannya sebelum dia berhasil membantu sang mama untuj mengungkapkan fakta dibalik misteri kecelakaan yang menimpa mereka sembilan tahun lalu. Sejak pagi tadi Mita sudah sibuk mengantarkan bunga-bunga segar ke restoran dan beberapa perkantoran yang menggunakan jasanya. Setelah selesai mengantar bunga-bunga itu. Mita kembali ke toko untuk menunggu pembeli yang datang. Ketika Mita sedang sibuk merekap penjualan pagi tadi. Tiba-tiba ada mobil pickup berwarna putih terparkir di depan toko. Awalnya Mita mengira kalau orang yang turun dari mobil itu adalah salah satu pembeli yang tertarik dengan bunga-bunga yang ada di tokonya. “Permisi, selamat pagi menjelang siang, Teh!” suara itu mengalihkan pandangan Mita dari buku tulis yang ada di hadapannya. Teteh adalah panggilan kepada wanita di daerah sunda. “Pagi juga, Kak,” Mita mengulas senyuman terhadap orang yang dia kira sebagai calon pembeli. Pakaian orang itu rapi dan dimasukkan ke dalam celana. “Maaf, Teh ... mau ganggu waktunya sebentar!” ucap pria yang saat ini ada di hadapan Mita. “Oh, iya! Ada yang bisa saya bantu?” Mita beranjak dari kursi yang dia duduki demi menghormati tamu yang datang ke tokonya. “Perkenalkan nama saya Tama. Sales marketing bibit tanaman dan pupuk dari PT Bio Lancar.” Tama menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Mita. “Oh, saya Mita, pengelola toko bunga ini.” Mita menerima setiap sales yang datang dengan ramah. Beli ataupun tidak itu urusan belakang. Satu hal yang pasti Mita harus menghargai orang lain agar orang lain juga menghargainya. “Tujuan saya datang kesini, mau menawarkan beberapa bibit tanaman bunga dan juga pupuk. Mungkin Si Teteh persediaan pupuknya habis ataupun mau menambah bibit bunga?” tanpa lelah Tama menawarkan dagangannya itu ke setiap toko bunga ataupun perkebunan bunga yang ada di daerah situ. “Tunggu sebentar, ya! Saya cek dulu!” Mita tetap bersikap ramah walaupun dia tidak tahu apakah stoknya cukup atau butuh penambahan pupuk. Mita beranjak untuk meraih laci yang ada di bawah mejanya. Dia mengambil buku stok pupuk yang setiap Minggu di-update olehnya. Tama menunggu dengan sabar. Dia belum lama bekerja di PT Bio Lancar. Dia adalah tulang punggung di keluarganya. Anak yatim sejak usianya 15 tahun. Memiliki seorang adik yang masih sekolah dasar. Tubuhnya tinggi berbadan proporsional. Kulitnya sawo matang dan rambutnya rapi. Aslinya pemalu. Namun tuntutan profesi membuatnya mau untuk berusaha humble. Tentu saja pemuda seperti Tama berulang kali dipermainkan oleh cinta. Bukan dia yang menyakiti wanita. Melainkan sebaliknya. Tama selalu dikecewakan oleh sesuatu hal yang bernama cinta. Semua itu karena Tama terlalu polos dan sulit untuk mengungkapkan perasaannya. Terlihat cuek yang membuat para wanita salah paham. Mereka pikir Tama sudah tidak memperhatikan mereka karena perasaan cinta itu sudah hilang. Padahal Tama memang misterius dan tidak terlalu memperhatikan perempuan. Lantaran yang menjadi prioritasnya saat ini adalah bekerja menjadi tulang punggung dan menyekolahkan adiknya sampai lulus kuliah. “Kak?” Mita menatap Tama yang sedang melamun. Beberapa kali Kota melambaikan tangan ke depan wajah Tama. Namun pria itu tetap bergeming. “Tama!” Kali ini suara Mita langsung didengar Tama dan pria itu terkejut Bukan main karena melamun ketika dia sedang bekerja. Tatapannya beralih ke arah Mita yang juga sedang menatapnya. Saat itu Tama baru menyadari betapa cantiknya penjaga toko bunga yang saat ini ada di hadapannya. Rambutnya hitam berkilau, lurus, dan panjang sebahu. Kulitnya seputih s**u. Alisnya membuat wajah Mita tampak teduh dan Ayu. Ditambah lagi bulu mata lentik dan mata lebar Mita membuat Tama merasa kalau Gadis itu tak ubahnya bagai bidadari. “Kak? Halo?” Mita kembali melambaikan tangan di depan wajah Tama. “Oh, iya maaf, Teh! Agak ngeblank.” Tama gelagapan karena dia menyadari kalau gadis itu memanggil namanya. “Gimana, Teh? mau nambah stok pupuk atau bibit tanaman?” Tama berharap Mita akan membeli barang dagangan yang dibawa. “Semuanya masih cukup. Mungkin sekitar satu minggu lagi, sepertinya Abah butuh stok pupuk.” Mita menyampaikan berita utama tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Atau mau lihat bibit tanaman yang baru, Teh?” Tama pantang menyerah untuk menawarkan kembali barang dagangannya itu. “Kalau masalah bibit tanaman mungkin jalan depan baru saya kasih kabar, ya! Soalnya harus tnya dulu sama Abah. Jadi saya nggak bisa memutuskan sendiri. Karena yang langsung terjun ke lapangan adalah Abah,” jelas minta kepada Tama yang memperlihatkan raut wajah kecewa. “Oh, begitu ya, Teh?” Tama merasa lemas karena sudah beberapa toko yang dikunjungi barang dagangan yang dibawa sama sekali belum terjual. “Maaf banget, ya!” Mita kembali mengulas senyuman di wajah meneduhkan itu. “Iya nggak apa-apa, Teh!” dengan ramah Tama mengulas senyum sembari menundukkan kepala. “Memangnya kamu ini sales baru ya? Biasanya yang datang ke sini itu yang namanya Pak Wahyu.” Mita sudah hafal setiap ada sales yang datang ke tokonya. “Benar, Teh! Saya ini baru di rolling hari ini. Kalau Pak Wahyu sudah di rolling ke wilayah yang beda,” ucapkan Tama kepada Mita yang masih berharap agar bisa membeli barang dagangannya. “Jadi gimana, Teh? ini mau nambah atau enggak?” Tama mempertanyakan hal itu sekali lagi untuk memastikan. “Masih cukup! Lebih baik minggu depan ke sini lagi saja! Nanti sekalian saya tawarkan ke Abah barangkali mau beli bibit yang baru buat nambah koleksi bunga kita!” Mita dengan ramh memperlakukan setiap pengunjung yang datang ke tokonya. Baik sales marketing maupun pembeli. “Ya sudah kalau begitu. Saya minta nomor ponsel Teh Mita saja, ya! Biar nanti kalau mau order bisa kirim pesan ke ponsel dulu, ataupun juga sebaliknya nanti kalau saya mau berkunjung, saya bisa nanya ke teh Mita dulu.” “Oh, boleh! Tunggu sebentar ya saya tuliskan dulu!” Mita bergegas meraih secarik kertas dan bolpoin yang ada di atas meja untuk menuliskan nomor ponselnya. “Nah ini nomor ponsel saya!” Mita menyerahkan secara kertas itu kepada Tama. “Terima kasih, ya, Teh Mita! Kalau begitu saya permisi dulu mau keliling lagi!” Tama mengulas senyum sembari undur diri. *** Setelah Tama masuk ke dalam mobil pickup yang dia bawa. Dia langsung menyandarkan bahunya ke jok mobil. “Huft!” Tama mengusap keringat yang mulai menetes di dahinya. “Baru pertama kali ini gue ngeliat cewek rasanya nano-nano banget! Bisa keringat dingin begini!” Tama tidak menyangka kalau jantungnya berdebar untuk pertama kalinya. Ketika dia melihat Mita seusai melamun. “Untung aja gue bisa dapatin nomor ponsel gadis itu! Beruntung banget hari ini gue di rolling menggantikan Pak Wahyu! Walau awalnya sempat berputus asa. Tapi setelah ini sepertinya gue bakal lebih semangat buat keliling nawarin dagangan gue!” gumamnya sembari menertawakan diri sendiri. ‘Sepertinya gue harus mencari informasi tentang Mita!’ batin Tama yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Mita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD