16. Identitas Baru

1505 Words
Malam itu Hapsari masih duduk di depan makam suaminya. Rasa kecewa yang membuncah di dalam benaknya mengalahkan rasa takutnya. Setelah dia selesai membersihkan makam Adiwilaga dari rumput yang mulai meninggi. Sekarang Hapsari memanjatkan doa untuk mendiang suaminya. Hapsari selalu mengulas senyum walaupun hatinya bagai tersayat belati. Dadanya menyesak, mengganjal seperti ada batu besar di dalamnya. Dia mencoba menceritakan tentang apa yang dihadapinya saat ini di depan makam Adiwilaga. “Mungkin di sana kamu melihat apa yang sedang menimpa aku dan juga putrimu, Mas. Tapi aku mohon, tenanglah di sana! Jangan bersedih! Aku dan Gendis harus bisa melewati ujian yang begitu sulit. Mungkin Tuhan memberikan ujian ini untuk menaikkan derajat kami. Walau semua terasa begitu berat, Mas!” Hapsari tidak tahan lagi untuk membendung air matanya. Beberapa kali Hapsari menengadahkan kepala sembari mengedipkan mata untuk mencegah air mata itu jatuh di depan makam suaminya. Namun hal itu tidak berhasil. Tetap saja Hapsari tidak bisa menahan air matanya. “Aku tidak tahu siapa orang yang membenciku di dalam keluarga kita, Mas! Kenapa harus seperti ini? Pada akhirnya kebencian itu justru mengorbankan masa depan dan kebahagiaan Gendis. Tapi kepedihan ini tidak akan berlarut-larut! Aku janji, Mas! Aku akan bangkit demi masa depan Gendis! Sekarang aku memang sedang berada di titik terendahku. Aku sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Jangankan pekerjaan, untuk memulihkan tenaga saja rasanya begitu melelahkan. Tapi demi Gendis aku janji, Mas! Aku akan bekerja keras dan akan mengungkap siapa dalang dari semua ini! Mungkin aku tidak akan muncul di sini dalam waktu yang lama. Aku bukan meninggalkanmu, melainkan harus kembali menemui Gendis di sebuah desa terpencil di daerah Puncak. Mungkin kami akan tinggal di sana sementara waktu sampai mereka, orang-orang yang sudah tega mencelakai aku dan Gendis lupa dengan semuanya. Saat itulah aku akan kembali mengungkapkan faktanya!” Hapsari berjanji di depan makam suaminya. Wanita itu mencina berdamai dan menerima takdirnya. Ia berusaha bangkit dari keterpurukan. Setelah itu, Hapsari kembali melangkah pergi menuju pangkalan ojek. Dia meminta untuk diantar ke terminal. Karena Hapsari akan kembali ke rumah Nyai Kosasih untuk menemui putrinya. *** Hapsari tiba di rumah Nyai Kosasih saat malam hari. Hapsari sama sekali tidak makan dan hanya meminum sisa air mineral semalam. Raut wajahnya pucat dan kantung matanya menghitam. Nyai Kosasih yang membukakan pintu setelah Hapsari mengetuk pintu itu sangat terkejut melihat kondisi Hapsari yang memprihatinkan. “Assalamualaikum, Ambu!” Hapsari menatap Ambu dengan ragu-ragu lalu mencium punggung tangannya. “Wa’ alikumsalam, Neng?” Nyai Kosasih mengernyitkan dahi sembari melihat kondisi Hapsari. “Kamu teh belum mandi? Ka—kamu belum makan, ya?” Nyai Kosasih mulai berkaca-kaca dan mulutnya terbata-bata melihat kondisi Hapsari yang memprihatinkan. Hapsari hanya bergeming dan dia menahan jeritan dalam hatinya. Namun matanya tidak bisa berbohong. Hapsari teramat sedih. Hatinya terluka. Sampai dia tidak bisa lagi mengungkapkan perasaan yang ada di dalam benaknya. “Ya Allah, Neng! Kenapa bisa begini? Hayuk masuk! istirahat huela atuh! Ambu bikinin teh manis, ya! Nanti Ambu juga siapin makan buat, Neng!” Nyai Kosasih sangat perhatian. Wanita paruh baya itu menyadari mata Hapsari selalu mencari-cari keberadaan Gendis. “Gendis sudah tidur!” Nyai Kosasih menuntun Hapsari yang sangat lemas hingga duduk di kursi yang terbuat dari rotan yang sudah lapuk dimakan usia. “Sakedap nya!” Nyai Kosasih langsung pergi ke dapur untuk membuatkan teh manis hangat. Tak lama kemudian Nyai Kosasih kembali ke ruangan tempat di mana Hapsari berada. “Sok diminum dulu atuh, Neng! Meni pucat pisan! Sok minum dulu!” Nyai Kosasih kembali ke dapur untuk mengambilkan satu piring makanan beserta satu gelas air putih. Tidak lupa, Nyai Kosasih membawakan air kobokan untuk cuci tangan. “Ini di makan dulu, Neng! Masih enak kok! Maafkan Ambu, ya! Ambu pikir Neng teh bakal pulang ke sini besok. Makan dulu! tenangkan pikiran dan hati kamu!” Ambu sangat mengerti bagaimana perasaan Hapsari saat itu. Hapsari hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan melihat nasi yang disediakan oleh Ambu. Hapsari justru menitikkan air mata yang sedari tadi sudah berusaha dia bendung. Hapsari mulai mencuci tangannya. Lalu mengambil sendok yang sudah disediakan. Perlahan Hapsari mengambil nasi dan tempe goreng yang ada di atas piring itu. Karena memang hanya tersisa tempe goreng dan nasi yang sudah dingin. Hapsari mulai memakan nasi itu. Namun justru air matanya merembes, mengalir deras membasahi pipinya. Sampai-sampai Hapsari tidak bisa untuk menelan nasi itu karena rasa yang sesak di d**a membuat tenggorokannya seakan mengganjal seperti ada batu besar yang menindih d**a Hapsari. “Sudah, Neng! kalau memang sulit untuk makan, lebih baik nanti saja! Sekarang lebih baik minum dan menangislah kalau memang itu bisa membuatmu merasa lega!” Nyai Kosasih tidak berani untuk mempertanyakan apa yang terjadi dengan Hapsari. Namun Hapsari menyiapkan mental untuk menceritakannya kepada Nyai Kosasih. Hapsari meneguk air putih yang sudah disediakan Nyai Kosasih. Dia berusaha menghirup napas untuk menenangkan dirinya. Abah Engkus tidak berani mendekat. Karena biasanya seorang wanita mau mencurahkan isi hatinya kepada wanita lain tanpa ada laki-laki di sana. Sehingga Abah Engkus memilih untuk duduk di dapur dan mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh Hapsari kepada istrinya. “Ambu, sebelumnya saya mau minta maaf. Karena saya akan menceritakan sesuatu hal yang mungkin akan menjadi beban baru untuk Ambu dan Abah.” Hapsari gemetar dan dia mulai meremas jemari tangannya untuk mengurangi rasa cemasnya. “Ceritakan saja kalau kamu mau, Neng!” Ambu berusaha mengulas senyuman hangat agar Hapsari merasa lebih tenang. “Sebenarnya saya masih merasa syok dan kecewa setelah saya tiba di depan rumah tempat tinggal saya. Dengan tega mereka menjual rumah yang menjadi tempat tinggal saya. Padahal rumah itu adalah hak Gendis. Pemberian dari mendiang suami saya. Lalu saya memutuskan untuk pergi menemui ibu mertua saya yang rumahnya tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Setelah perjalanan ditempuh menggunakan ojek. Ternyata ibu mertua saya beserta adik ipar dan keluarganya sudah pindah rumah. Saat itu juga dunia saya terasa hancur. Mereka seakan tidak memedulikan bagaimana kondisi saya dan Gendis. Bahkan mereka tidak ada yang mencari di mana keberadaan saya. Namun kenyataan pahit justru saya dapati, Ambu.” Hapsari kembali mengusap air mata yang mengalir deras di pipinya. “Sabar ya, Neng!” Ambu berpindah tempat duduk di samping Hapsari. Wanita paruh baya itu mengusap punggung Hapsari untuk menenangkannya. “Saat itu saya tidak mempunyai pilihan lain. Ingin menemui suami saya tapi takut tidak bisa kembali ke sini. Jadi saya putuskan untuk pergi ke makam mendiang suami saya. Saya curahkan semuanya dan saya berjanji di depan makam suami saya, kalau saya akan bangkit dari keterpurukan demi masa depan Gendis!” raut wajah Hapsari mulai terlihat berbeda. Air mata yang sedari tadi tumpah saat ini sudah mengering. Kemarahan dan dendam akan memenuhi hati dan pikiran Hapsari. “Kamu memang harus bangkit! Kamu harus menemukan fakta yang sebenarnya! Walau mungkin saat ini kamu berada di titik terendah, bukan berarti esok kamu tidak bisa melangkah dan melompat lebih tinggi!” Nyai Kosasih memberikan dukungan untuk Hapsari. “Saya beruntung takdir mempertemukan saya dengan orang sebaik Ambu dan abah. Tanpa Ambu dan Abah, mungkin hidup saya dan Gendis akan terlunta-lunta.” Hapsari menahan air matanya yang mulai menggenang. “Ambu, kalau tidak keberatan, saya dan Gendis apakah boleh tinggal di sini? Menjadi keluarga angkat Ambu dan Abah. Walau bagaimanapun, Gendis tetap harus sekolah demi meraih kehidupan yang lebih baik untuk masa depannya! Saya janji akan bekerja keras untuk membantu Abah dan Ambu serta untuk memenuhi kebutuhan hidup Gendis!” Hapsari meraih dua telapak tangan Ambu, lalu dia memohon dengan berlutut di depan kedua kaki Ambu. “Saya mohon izinkan saya dan Gendis menjadi anak angkat Ambu dan abah! Saya janji akan membantu mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan kita!” Hapsari memohon dengan sangat tulus kepada Nyai Kosasih. “Udah atuh, Neng! Tidak perlu berlutut di depan kedua kaki Ambu! Kalau Neng memang mau tinggal di sini, Ambu merasa begitu bahagia! Karena sudah lebih dari setengah abad, Ambu dan Abah menanti kehadiran anak di rumah ini. Kali ini justru Allah menghadirkan Neng Sari yang sudah abu anggap seperti anak kandung Ambu sendiri. Menghadirkan Gendis, yang sudah Ambu anggap seperti Cucu Ambu sendiri! Beginilah keadaan Ambu dan Abah. Mudah-mudahan Neng Sari dan Gendis mau menerima Ambu apa adanya dan betah tinggal di sini.” jawaban yang menyentuh hati Hapsari. “Terima kasih, Ambu!” Hapsari mengulas senyum dan memeluk Ambu. Keesokan harinya setelah Gendis terbangun dari tidurnya. Hapsari menceritakan semuanya kepada putrinya itu. Rasa penuh kecewa tergambar jelas dari raut wajah Gendis. “Kamu yang sabar ya, Nak! Mama akan selalu ada buat kamu! Mama akan berjuang buat kamu! Kita harus menguak misteri tentang dalang dari semua kejanggalan kecelakaan yang menimpa kita!” Hapsari mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya. “Mulai hari ini, jangan sampai ada satu orang pun yang tahu tentang identitas kita! Nama Gendis sudah dikubur dalam-dalam! Nama kamu sekarang yang adalah Mita!” Hapsari menatap putrinya dengan serius. “Kamu paham kan? Kamu adalah Mita! Cucu dari Ambu Kosasih dan Abah Engkus. Putri dari Mama Ira! Karena Mama akan mengganti nama panggilan Mama dengan nama Ira!” Hapsari dan Gendis mengubah identitas mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD