Setelah satu bulan setelah kejadian kecelakaan itu. Kondisi Hapsari sudah membaik. Goresan luka yang ada di wajahnya pun sudah mengelupas semuanya. Dia menitipkan Gendis yang masih dalam masa pemulihan kepada Nyai Kosasih, Abah Engkus, dan dokter Niken di dusun itu.
“Ambu, Abah, besok pagi saya berniat untuk kembali ke rumah saya. titip Gendis, ya Ambu. Mungkin setelah sampai di sana, saya akan menceritakan semua yang terjadi saat kecelakaan itu kepada Nyonya Bestari—ibu mertua saya. Setelah itu saya akan kembali menjemput Gendis kesini.” Hapsari sudah berniat untuk menyelidiki semua yang terjadi secara diam-diam.
Namun Nyai Kosasih menjadi semakin bersedih karena takut kalau Hapsari dan Gendis akan kembali ke rumah mereka.
“Iya, Neng! Ambu bakal jagain Gendis sampai Neng Sari teh datang lagi ke sini lagi, ke rumah Ambu!” Nyai Kosasih mengulas senyuman hangat kepada Hapsari yang besok pagi akan meninggalkan putrinya demi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarganya.
‘Kalau Neng Hapsari tahu, sebenarnya teh Ambu sedih kalau kalian udah nggak tinggal di sini lagi. Tapi Ambu juga nggak bisa nahan kalian untuk tetap tinggal di sini. Ambu hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian!’ ucapan Ambu dalam hatinya yang meratapi nasib karena suasana yang lebih berwarna beberapa waktu belakangan ini harus kembali sepi ketika Hapsari dan Gendis kembali lagi ke rumah mereka.
***
Hapsari sudah mempersiapkan dirinya beserta barang bawaannya yang hanya satu tas. Itu pun dipinjami tas milik Nyai Kosasih sewaktu muda. Hapsari hanya membawa satu baju ganti. Itu pun milik Nyonya Kosasih yang dipinjamkan kepadanya. Hapsari berpakaian seadanya. Memakai sandal juga seadanya. Rambutnya diikat, penampilannya terlihat sangat lusuh. Terlebih lagi warna kulit wajahnya belum merata pasca kecelakaan itu. Hapsari sempat berpikir kalau nanti dia bertemu keluarganya. Mereka tidak akan ada yang mengenalinya. Kecuali, mereka melihat secara detail siapa orang yang ada di hadapannya.
Jantung Hapsari berdebar begitu cepat. Lantaran saat itu adalah perjalanan pertama Hapsari yang sangat jauh tidak ditemani siapa pun. Hapsari harus naik ojek dari dusun tempat Nyai Kosasih tinggal. Hingga menuju pasar. Di tempat pangkalan angkutan pedesaan menuju ke terminal. Dari terminal itulah, nantinya Hapsari akan menaiki bus menuju terminal lain di kota yang berbeda. Hingga akhirnya Hapsari sampai di desa yang menjadi tempat tinggalnya itu, saat malam hari.
Suasana di sana masih sepi seperti dahulu. Setiap kali selesai ibadah isya. Rata-rata penduduknya sudah masuk ke dalam rumah untuk beristirahat menyambut esok pagi. Karena biasanya penduduk di sana bangun sebelum Azan subuh berkumandang.
Di pangkalan ojek tempat tinggal Hapsari, hanya ada dua motor yang stand by di sana. Satu driver ojeknya sedang tertidur di pangkalan. Lalu yang satu lagi sedang tidak terlihat di sana. Kemungkinan salah satu driver-nya sedang ke toilet yang ada di belakang pangkalan ojek.
Melihat kondisi itu Hapsari mengurungkan niatnya untuk naik ojek menuju rumahnya yang cukup jauh. Hapsari memilih berjalan kaki malam itu. Mengarungi dinginnya suasana pegunungan dengan kabut yang mulai menyelimuti wilayah tempat tinggal Hapsari.
Rasa dahaga yang dirasa oleh Hapsari membuatnya duduk di teras rumah warga yang semua lampunya sudah mati. Hapsari meneguk sisa air mineral yang dia beli di terminal, sebelum wanita itu melanjutkan perjalanannya.
Raut wajah Hapsari begitu semringah kala pandangan matanya melihat atap rumah megah yang sudah tidak jauh dari jangkauannya. Rumah dua lantai peninggalan Adiwilaga untuk putrinya.
“Alhamdulillah sebentar lagi aku sampai di rumah. Rasanya sudah sangat lama aku meninggalkan rumah itu. Mungkin saja Mbak Murni sudah tertidur. Pasti dia terkejut melihat aku kembali!” Hapsari sudah berandai-andai, ketika dia sampai di rumah itu dan kembali bertemu dengan orang-orang yang dulu selalu memberikan dukungan dan mendedikasikan diri mereka untuk setia bekerja pada keluarga Adiwilaga.
Hapsari yang mulai berbinar mempercepat langkah kakinya. Hingga akhirnya Hapsari sampai di depan gerbang rumah megah itu.
Hapsari mematung, sembari melihat tulisan yang menempel di pagar rumah itu. Bulir bening mulai mengenang di balik pelupuh matanya. Kalau dia mendapati tulisan yang tertera di gerbang itu.
“Rumah ini dijual?” Hapsari tertunduk lemas. Wanita itu berusaha tegar menerima kenyataan pahit yang ada di depan matanya.
Hapsari masih mematung di depan gerbang rumahnya sendiri. Dia tidak tahu siapa yang menjual rumah itu. Di sana hanya tertera nomor telepon dari agen yang menjualkan rumah miliknya. Hapsari yang lemas masih tidak menyangka kalau apa yang menimpanya saat ini benar-benar di luar dugaan. Dia tidak bisa menghubungi siapa pun. Karena tidak ada lonsel atau pun telepon umum untuk menghubungi nomor agen tersebut.
‘Siapa sebenarnya yang tega menjual rumah ini? Apa dia lupa? Kalau rumah ini salah satu aset pemberian mendiang Mas Adiwilaga untuk Gendis—putri kami?’ Hapsari mulai merasa nyeri di d**a.
‘Setelah kecelakaan itu, bukannya mereka mencari keberadaanku dan Gendis! Mereka justru menjual rumah ini? Siapa dalang dibalik semua ini?’ dendam baru saja tumbuh di dalam jiwa Hapsari.
Sejak saat itu dia bertekad untuk menemui Nyonya Bestari ke rumahnya. Karena dia merasa satu-satunya orang yang bisa dipercaya adalah mertuanya itu.
Hapsari yang merasa lapar dan haus, harus dia tahan sampai di rumah Nyonya Bestari. Dia hanya berbekal air mineral kemasan botol 600 ml. Itu pun hanya tinggal setengah. Hapsari kembali duduk sembari meneguk air itu sedikit demi sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang kering setelah berjalan lumayan jauh.
Malam itu Hapsari bertandang ke rumah Nyonya Bestari. Hapsari kembali berjalan kaki menuju di pangkalan ojek. Kebetulan di sana salah satu tukang ojek sedang menunggu penumpang. Namun Hapsari tidak mengenali tukang ojek itu. Karena tukang ojek yang mengantar Hapsari ke rumah Nyinya Bestari adalah pengantin baru pindahan dari desa sebelah. Jelas saja tukang ojek tersebut tidak mengenali wajah Hapsari. Terlebih saat ini penampilan dan wajah Hapsari sangat berbeda jauh dari penampilan sebelumnya.
Hapsari masih menyimpan ongkos untuk pulang ke rumah Nyai Kosasih. Namun dia harus menahan laparnya. Agar uang tersebut cukup untuk perjalanan ke rumah Nyai Kosasih, jika kenyataan pahit kembali dialami oleh Hapsari.
“Nanti di gang depan belok kiri ya, Pak!” perintah Hapsari pada tukang ojek itu.
“Baik, Bu!” beruntungnya tukang ojek itu sangat ramah.
“Nah nanti di rumah yang gerbangnya tinggi itu berhenti ya, Pak!” Hapsari berharap kalau Nyonya Bestari ada di rumahnya.
Hapsari menepuk bahu tukang ojek untuk memberhentikan laju motornya. Setelah Hapsari membayar. Dia bergegas untuk memencet bel yang ada di depan gerbang.
“Bu, ini mau saya tunggu apa ndak?” tanya tukang ojek itu sembari bersikap ramah.
“Gimana ya,Pak?” Hapsari sedikit bingung.
“Ditinggal saja enggak apa-apa! Sepertinya mertua saya ada di rumah.” Hapsari yakin kalau Nyonya Bestari ada di dalam sana, karena rumah itu tidaklah sepi. Semua lampunya menyala.
“Ya sudah kalau begitu, Bu! saya kembali ke pangkalan ojek!” tukang ojek tersebut langsung menyalakan motornya dan pergi meninggalkan Hapsari sendirian di sana.
“Makasih ya, Pak!” Hapsari tersenyum ramah.
Beberapa kali Hapsari memencet bel rumah itu. Namun belum ada satu orang pun yang membukakan pintu gerbang. Tanpa lelah Hapsari terus memencet bel sembari memberikan jeda waktu.
Akhirnya seseorang membukakan pintu gerbang rumah Nyonya Bestari. Alangkah terkejutnya Hapsari mendapati orang yang membuka pintu gerbang itu bukanlah asisten rumah tangga Nyonya Bestari yang biasa tinggal di rumah itu. Karena saat ini orang yang membukakan pintu adalah seorang pria paruh baya yang rambutnya hampir semuanya beruban.
“Maaf, Pak! Bapak siapa ya?” Hapsari merasa bingung dan sedikit ragu untuk mempertanyakan hal itu.
“Maksudnya bagaimana ya, Mbak? Saya?” pria paruh baya itu justru bingung menanggapi pertanyaan Hapsari.
“Oh maaf, Pak! Saya Hapsari menantu dari Nyonya Bestari pemilik rumah ini. Saya tidak mengenal Bapak. Oleh karena itu saya mau mempertanyakan identitas Bapak.” Hapsari meminta maaf karena dia takut pertanyaannya tidak sopan.
“Oh begitu? Apa mbaknya ndak tahu? Pemilik rumah yang lama sudah pindah sekitar satu minggu yang lalu! Karena Beliau menjual rumah beserta barang-barang yang ada di dalamnya. Jadi saya dan keluarga saya langsung bisa pindah satu hari setelah pemilik rumah yang lama meninggalkan rumah ini,” jelas pria paruh baya itu membuat Hapsari semakin lemas dan dadanya terasa sesak.
“Oh ... Ja—jadi Ibu mertua saya sudah pindah rumah?” Hapsari hanya bisa mematung dan tidak lagi bisa berkata-kata.
“Lho iya mbak! Mosok menantunya ndak tahu?” pria paruh baya itu merasa aneh dan janggal atas pertanyaan Hapsari dan kedatangannya malam-malam ke rumah itu.
“Iya, Pak! soalnya saya baru saja pulang dari luar kota. Saya benar-benar nggak tahu kalau Nyonya Bestari sudah pindah. Apa Bapak tahu di mana alamatnya?” Hapsari berharap kalau pria paruh baya itu mengetahui alamat baru Ibu mertuanya.
“Waduh kalau itu saya ndak tahu e Mbak! Soalnya saya beli rumah ini juga melalui perantara saya. Pakai calo! Jadi saya sama sekali ndak tahu ke mana pindahnya keluarga Nyonya Bestari. Tapi setahu saya, Nyonya Bestari pindah sama Putranya juga ikut pindah. Cuma saya ndak paham eh pada pindah ke mana!” mendengar penjelasan pria paruh baya itu hati Hapsari sangat sakit bagai ditikam belati. Menyesak di d**a mendapati kenyataan pahit. Ia merasa keluarga suaminya sudah benar-benar tidak lagi memedulikan kondisi Hapsari dan juga Gendis. Hapsari yang tidak memiliki banyak uang. Harus memilih antara kembali pulang untuk menemui Gendis ke rumah Nyai Kosasih atau dia menggunakan sebagian uang itu untuk ke rumah Bramantyo.
“Ya sudah, Pak. Kalau begitu maafkan saya sudah mengganggu waktu Bapak! Saya permisi dulu!” Hapsari berusaha mengulas senyum di antara jeritan hatinya.
“Iya Mbak, hati-hati di jalan! apalagi sudah malam begini!” pria paruh baya itu sebenarnya tidak tega melihat kondisi Hapsari. Namun dia juga tidak bisa seenaknya untuk menawarkan orang menginap di rumahnya. Karena sudah pasti istri pria paruh baya itu menaruh curiga jika ada wanita lain di rumahnya.
Hapsari berjalan sangat pelan. Dia dalam kondisi dilema saat ini.
‘Kalau aku pergi ke rumah Mas Bram, aku takut tidak bisa kembali ke rumah Nyai Kosasih. Tapi kalau aku tidak pergi ke rumah Mas Bram. Semua yang terjadi akan menjadi misteri di dalam hidupku,' ucap Hapsari dalam hatinya yang ingin sekali menjerit saat itu juga. Rasa lelah setelah seharian mengarungi perjalanan panjang harus dibayar dengan kekecewaan.
Hapsari harus cepat mengambil keputusan. Dia tidak mau kalau terus berlarut-larut dalam kepedihan yang nyatanya sangat menyayat hati Hapsari. Apalagi kenyataan yang sangat tidak terduga, datangnya dari orang-orang terdekat.
‘Mungkin lebih baik aku naik ojek dan kembali ke terminal. Biar saja aku menginap di terminal sembari menunggu bus untuk kembali menemui Gendis dan menceritakan semuanya kepada mereka,' batin Hapsari yang terus menahan air matanya walaupun pada akhirnya air mata itu terjatuh menetes di pipi Hapsari. Dia tidak menyangka hidupnya akan terlunta-lunta seperti saat ini. Beban pikiran dan hidup Hapsari semakin berat. Dia tidak akan mengorbankan masa depan Gendis. Dia langsung berpikir kalau dirinya harus bisa bangkit untuk masa depan Gendis. Namun tetap saja trauma rasa sakit hati dan dendam berkecamuk menjadi satu di dalam jiwa Hapsari.
'Ujian hidupku kali ini sangat berat. Jangan sampai aku kembali depresi seperti dulu. Kali ini aku benar-benar harus bisa hidup dan berdiri di atas kakiku sendiri demi Gendis. Gadis itu sangat malang. Baru saja sebentar merasakan kehangatan kasih sayang seorang ayah. Tiba-tiba takdir harus memisahkan mereka. Baru saja hidup bahagia bersama keluarga kecil yang baru. Ternyata takdir kembali menguji kami. Bahkan Gendis tidak bisa merasakan hidup nyaman di rumahnya sendiri. Aku harus tegar demi Putriku!’ tangis Hapsari pecah saat itu juga. Dia kembali teringat mendiang suaminya. Rasa kecewa yang membuncah di dalam diri Hapsari mengalahkan rasa takutnya untuk pergi ke makam Adiwilaga malam itu juga. Sebelum Hapsari kembali ke terminal.
Hapsari berjalan menuju makam suaminya. Dia melihat kalau rumput sudah tumbuh lumayan tinggi dan tidak ada yang membersihkannya. Hapsari mencabuti rumput itu satu persatu sampai semuanya bersih. Air mata terus mengalir deras sembari mengingat masa lalu yang begitu bahagia bersama mendiang Adiwilaga. Dia tidak pernah menduga bahwa takdir akan kembali menguji hidupnya.