El terduduk di sudut ruangan, ingatan masa lalu nya kembali terbayang. Hari pun sudah malam dan dia belum mengganti baju sekolahnya. "Aku sayang kamu El, tetap jalani kehidupan kamu. Aku pamit." "Aaaarrrggghhh!" teriaknya menjambak rambutnya kencang. Suara ketukan pintu itu El hiraukan. "El, tetap tersenyum dengan senyum manis mu. Jangan menangis, aku selalu ada dihatimu." Suara itu kembali terngiang di kepala nya, "Pergi!" teriaknya lagi. Revan, Monik dan Kavin yang baru saja datang semakin panik mendengar suara pecahan kaca dari kamar El. Pikiran buruk sudah terbayang di kepala mereka, "Quen! Quen buka pintunya! Ini bunda sayang!" ucap Monik masih mengetuk pintunya. "Aaaaarrrrgggghhhh pergi!" teriak El lagi dengan pilu. "Be! Ini Ar! Buka pintunya Be!" sahut Kavin. El menangi

