Bab 4

970 Words
"Nara?" Nara mendongak, ia melihat sosok familiar di depannya. Nara terkejut dengan apa yang ia lihat, Fahmi. Cinta pertama Nara yang kandas bahkan sebelum bersama. "Fahmi?" "Astaga jadi bener ya? Gak nyangka banget bakal ketemu kamu disini. Kamu apa kabar? Udah dua tahun aku gak denger kabar kamu." "Aku baik, maaf ya, waktu itu ada hal yang harus aku lakuin tanpa bisa ngabarin kamu lebih dulu. Kamu gimana kabarnya sekarang?" "Aku baik. Aku kesini sama istri dan anakku, mereka lagi main di pantai tuh sebelah sana. Aku lagi pesen minuman, terus liat kamu." "Wah syukurlah kalau gitu." "Aku kangen kamu, Nayla, Mona juga sama, mereka penasaran banget sama kabar kamu, yang kami tahu, kamu pindah ke Jakarta. Kenapa kamu putus hubungan sama kami gitu aja, Ra?" Nara meremas tangannya, ia pelan-pelan menceritakan kejadian dua tahun lalu, ia juga mengatakan untuk tidak khawatir. Fahmi menggenggam erat tangan Nara, mencoba menguatkannya. "Pasti kamu kaget dan tertekan banget waktu itu, gak apa-apa, pelan-pelan aja, mungkin kamu bisa reconnect sama kita. Boleh aku minta nomer kamu? Kalau boleh, aku mau share nomermu ke Nayla dan Mona juga." Nara mengetikan nomer ponselnya di ponsel Fahmi. "Terus sekarang, kamu disini lagi liburan?sama siapa?" tanya Fahmi. "Sama saya." Suara berat Zayn menjawab pertanyaan Fahmi. Fahmi sontak berdiri dan menyapa Zayn ramah. Namun, Zayn hanya bergeming menghiraukan Fahmi. Fahmi pun merasa kikuk. "Ini teman kuliah saya, Mas. Namanya Fahmi." ujar Nara mencoba menyairkan suasana. "Saya suaminya Nara." "Oh iya, salam kenal, Mas Zayn, saya Fahmi." Zayn tetap bergeming menatap Nara. Suasananya berubah mencekam. "Kalau gitu saya pamit ya, Mas, Nara. Istri dan anak saya pasti sudah kelamaan nunggu." "Oh iya iya, salam untuk istri dan anakmu ya." jawab Zayn. Fahmi pun berlalu. Nara merinding, kenapa laki-laki dihadapannya itu bisa berubah mood dalam sepersekian detik saja. "Mas mau pesen apa? Saya belum pesen soalnya takut Mas gak suka." tanya Nara. "Saya mau iced Americano, biar saya saja yang pesan, kamu tunggu sebentar ya." Nara mengangguk. Dia membuka ponselnya, terlihat pemberitahuan bahwa Fahmi memasukkannya ke dalam satu grup chat, di dalamnya ada Nayla dan Mona. "Raa, apa kabar?" tanya Mona. "Raaa, kita kangen banget." ujar Nayla. Nara pun tenggelam dalam rasa rindunya dan berbalas pesan dengan teman-temannya, hingga ia merasakan suasana menjadi lebih dingin, saat ia mendongak, ia kaget karena Zayn ada di depan wajahnya. "Aaaaa Mas!! Saya kaget." "Chat sama siapa? Fokus sama saya saja. Kita sedang kencan." Nara terdiam. Batinnya bergejolak mendengar kata kencan. Entah kenapa kata kencan yang keluar dari mulut Zayn terdengar mengerikan. "Abis ini mau kemana?" tanya Zayn. Nara hanya mengangkat bahunya, bingung. "Saya lapar." ujar Nara akhirnya. "Kita cari makan sekarang. Saya takut kamu berubah jadi siluman." "Apa sih." Zayn dan Nara pun memutuskan berjalan menuju tempat makan hasil rekomendasi Zayn. Zayn berkata, olahan seafood disana sangat enak dan bervariasi. Perut Nara jelas keroncongan membayangkan nikmatnya udang bakar madu, atau cumi telur asin, atau kepiting saus padang. Namun, setelah 10 menit berjalan, kedua manusia itu tidak kunjung sampai ke restauran yang Zayn maksud. Nara sudah mulai merasa lelah. "Ih Mas. Masih jauh gak?" tanya Nara. "Udah deket, itu di depan." Nara menghela nafas lega, ia kembali berjalan dengan semangat, bahkan ketukan kakinya menjadi berirama. Namun, 10 menit kembali berlalu dan restauran yang di maksud belum terlihat sama sekali. "Mas! Katanya deket! Mana?? Kalau difikir-fikir ya, harusnya dari tadi kita udah nyampe Jepang! Di depan di depan? Depan mana? Monas?" Nara mengomeli Zayn yang mulai terlihat kebingungan. "Mas yakin jalan kita udah bener dari tadi?" Pertanyaan Nara menyentil otak Zayn, ia dengan cepat mengeluarkan ponselnya, mengetik nama restauran yang sempat ia cari di peta digital di ponselnya. "Nara.." "Apa?" "Harusnya dari hotel kita belok kanan, bukan kiri." Nara berteriak. Ingin sekali rasanya menghantam kepala laki- laki yang sok pintar itu dengan tabung gas melon. Nara berfikir mungkin lebih baik mendorong makhluk itu ke jurang. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk memesan mobil online. Sesampainya di restauran, Nara buru-buru duduk dan memesan tiga menu sekaligus. "Mbak, saya mau nasi 2 porsi, lauknya udang asam manis, kepiting saus padang, sama cumi tepung krispi ya, minumnya saya mau es teh sereh lemon aja." Nara hanya melirik Zayn, mengintruksikan suaminya itu untuk memesan melalui gerakan alisnya. "Saya mau es lemon peras." "Gak makan?" tanya Nara. Zayn melongo, ia berfikir Nara memesan untuk mereka berdua makan, ternyata Nara benar-benar lapar. "Saya mau ikan bakar saja." Selang dua puluh menit berlalu, makanan yang mereka pesan pun akhirnya tiba. Nara makan dengan lahap, ia memastikan semua menu yang ia pesan masuk ke perut kecilnya itu. "Kayak gak makan dua bulan." Nara memelototi Zayn. "Diem. Kalau bukan karena orang tua yang sok tau, dan bikin saya jalan dua puluh menit pas lagi laper-lapernya, saya pasti udah makan dari tadi." Zayn pun terdiam. Ia menutup mulutnya rapat-rapat. Memang benar, manusia berubah drastis ketika perutnya kosong. Nara berdehem. Zayn mendadak punya firasat buruk. "Hmm Mas. Mas mau ikan bakar lagi?" Zayn menggeleng, ikan bakar di depannya saja belum habis, fikirnya. "Nggak." "Oke." Nara mengambil ikan bakar yang di berada di piring, memindahkannya ke piring makannya. Zayn terkejut. "Kenapa diambil semua?" tanyanya. "Katanya gak mau lagi?" Astaga. Anak ini. "Terus, kamu masih mau makan udang, cumi sama kepitingnya?" "Ya mau lah." "Saya minta dikit." "Boleh." Nara menyendokan satu potong cumi, dua potong udang dan sepotong capit kepiting untuk Zayn. "Naraaaa.." "Sama-sama, selamat makan yaa." Zayn benar-benar kesal, namun ia tidak mungkin ribut dengan anak kecil. Ia pun merelakan ikan bakar yang sangat nikmat itu untuk Nara. Hatinya mencelos melihat Nara makan berbagai hidangan menggiurkan itu dengan lahap. Ia lebih tidak menyangka lagi karena Nara benar-benar hanya menyisakan duri dan cangkang di atas piring-piringnya. "Kenyang?" sindir Zayn. Nara menepuk-nepuk pelan perutnya, lalu mengangguk. Zayn bersyukur ternyata perut kecil itu mencapai batasnya. Nara berjalan mendahului Zayn yang baru selesai membayar pesanan mereka. "Heh, mau ke mana?" "Cari ice cream!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD