"Dua bulan lagi baru kalian boleh bercerai, tapi dengan beberapa syarat!"
"Mah..." ujar Zayn.
"Diem kamu! Rumah tangga yang kamu bangun, gagal karena kamu gak becus jadi suami!"
Zayn dan Nara terdiam, Nara ingin sekali berkata 'Mampus!' namun takut disemprot mertuanya.
"Dalam dua bulan, kalian harus berusaha lebih baik. Tidur dalam satu kamar dan satu ranjang, sebelum berangkat dan sepulang kerja, kamu wajib peluk dan cium dahi Nara. Kencan setiap hari sabtu dan minggu!" ujar Kamila.
"Kalian harus bisa jaga komitmen itu, mama mungkin gak mengawasi tapi mama akan tau kalau kalian melanggar. Tidak ada tapi, tidak ada alasan. Kalian harus mengobrol dengan satu sama lain lebih banyak, kalian dulu dekat loh. Kalau dalam dua bulan, kalian tetap ingin bercerai, mama tidak akan melarang."
Nara dan Zayn pun menyanggupi permintaan Kamila.
"Dan satu lagi! Mama akan pesankan tiket pesawat untuk kalian bulan madu, termasuk hotel. Kalian berangkat besok!"
---
Zayn menyeret dua koper di kedua tangannya, di belakangnya Nara membuntuti dengan dua tiket pesawat di tangannya.
Setelah perdebatan panjang di rumah Kamila sehari sebelumnya, mereka akhirnya sepakat untuk menunda perpisahan. Zayn berjanji pada orangtuanya dan Wildan, ia akan berusaha memperbaiki kerusakan dalam bahtera rumah tangga yang sedang ia bangun.
Nara sedikit kesal karena langkah kaki Zayn terlalu panjang dan sulit diikuti Nara meskipun Nara tidak membawa banyak barang di lengannya. Melihat Nara yang cemberut di belakangnya, Zayn merasa heran.
"Kamu kenapa? Berubah fikiran? Kemarin mama sudah nawarin Labuan Bajo, dan Maldives. Kamu malah milih Bali." ujar Zayn.
"Bisa gak jalan pelan-pelan?"
Mata Zayn terarah pada kaki Nara yang kecil, ia terkekeh, ia lupa bahwa gadis ini seperti kekurangan gizi, tingginya hanya sebatas ketiaknya.
"Kenapa ketawa?"
"Kamu dulu pasti jarang olahraga, ya?" tanya Zayn sedikit menyelidik.
"Sok tahu banget! Aku dulu jago main basket tahu!" omel Nara.
"Kamu jadi bolanya?"
Mendengar pertanyaan itu, darah Nara mendidih, mulut mungil Nara mulai merepet dan mengomel tiada henti.
"Udah ah ayok, kamu mau ketinggalan pesawat?"
"Oh ya, jangan jauh-jauh, takutnya kamu gak kelihatan." lanjutnya.
Nara memajukan bibirnya.
'Brengsheekkk'
--
"Kita ke hotel dulu, simpen barang." ujar Zayn.
Nara hanya mengangguk, melihat waktu yang mendekati matahari terbenam, ia ingin sekali ke pantai, namun ia ragu untuk mengatakannya pada Zayn.
"Ini kamarnya."
Nara menempelkan kartu di pintu kamarnya dan merengsek masuk, ia langsung melihat sofa empuk dengan tv besar yang bisa diputar ke arah kamar, kamar mewah dengan satu ranjang king sized, kamar mandi dengan shower dan bath tub, namun yang paling menarik baginya adalah, kaca besar dengan pintu keluar langsung menuju pantai. Ia hendak langsung keluar menuju pantai ketika mendapati Zayn masih di kamarnya.
"Mas kalau mau ke kamar silahkan, saya mau langsung ke pantai."
"Kamar mana?"
"Ya kamar mas, lah."
"Kita sekamar."
"Hah?"
Nara berjalan gontai ke pantai, ia sibuk memikirkan malam yang akan dilaluinya jika tidur satu ranjang bersama Zayn.
Namun, tak lama, perhatiannya teralihkan dengan indahnya pemandangan pantai di depannya. Nara spontan membuka ponselnya dan mengambil beberapa gambar pantai yang cantik, ia juga mengambil beberapa selfie. Ia ingin sekali dipotret dengan latar belakang pantai, namun ia bingung meminta tolong kepada siapa, karena tidak ada satupun orang di pantai itu.
Nara melihat Zayn di belakangnya, namun tak berani meminta tolong, akhirnya ia menyimpan ponselnya kembali ke kantong celana nya dan berjalan menuju ombak air di tepi pantai.
Zayn mengikuti Nara, ia memeluk pinggang Nara. Nara yang terkejut sontak loncat mencoba melepaskan diri.
"Apaan sih, Mas?"
"Disuruh mama"
Zayn nyengir, Nara terlihat kesal.
"Apa kamu ada saran?" tanya Zayn.
"Saran apa, Mas?"
"Saran hal hal yang harus saya lakukan agar kamu jatuh cinta sama saya."
"Kenapa gak mikirin cara agar Mas jatuh cinta sama saya? Perasaan saya biar jadi urusan saya."
"Benar juga. Sepertinya kamu udah jatuh cinta duluan sama saya."
"Yang waras, ya!"
Zayn terkekeh. Nara mengabaikan pria itu dan berjalan sendiri menelusuri pantai.
Ketika sunset tiba, Nara mengeluarkan ponselnya untuk memotret. Zayn mengikutinya, ia memotret Nara yang sedang terpukau pada keindahan sunset di depannya. Nara mengetahui hal itu, senyumnya tergambar, ia berlari membelakangi Zayn, Zayn mengejar Nara sembari terus memotret figur cantik di depannya.
"Ah capeekk. Liat disitu ada cafe, Mas."
"Mau kesana?"
Nara mengangguk, keduanya berjalan beriringan, Zayn menunjukan hasil foto nya pada Nara.
"Wow keren, saya baru tahu kalau ternyata Mas punya bakat lain selain bekerja." sindir Nara.
"Loh kenapa baru tau? Bukannya jelas ya, selain kelihatan tampan dan kaya raya, bakat dan keahlian saya juga banyak, wajar kalau banyak yang naksir saya."
Nara mencibir.
"Terserah."
Sambil tersenyum kecut, Nara berjalan lebih cepat mendahului Zayn. Ketika hendak masuk ke dalam cafe, ponsel Zayn berdering, Zayn pun berkata akan menerima panggilan dari asistennya itu dan meminta Nara untuk masuk dan memesan lebih dulu. Nara melihat Zayn berjalan menjauh sembari berbicara melalui ponselnya. Dari nada bicaranya, sepertinya Zayn sedang memarahi Adam, asistennya. Nara merinding, akhirnya ia memutuskan memesan minuman hanya untuk dirinya sendiri, karena ia tidak tahu apa yang cocok untuk selera Zayn.
Nara menduduki kursi persis di dekat jendela bagian samping cafe itu, dengan pemandangan pantai yang ombaknya bersautan. Fikirannya jauh lebih tenang melihat ombak, Nara merasa usaha untuk tidak bercerai jauh lebih sulit dari pada langsung bercerai, ia bahkan tidak yakin bahwa pernikahan ini akan berakhir dengan jalan yang berbeda. Namun, ia memilih untuk menjalani dua bulan kedepan sebagai bentuk penghormatan pada keinginan mertua dan ayahnya.
Nara membuka tabletnya untuk mengerjakan projek baru yang ia terima pagi tadi. Pekerjaannya kali ini tidak begitu rumit, namun ia harus sangat teliti karena client nya kali ini cukup rewel, namun dengan bayaran yang cukup untuk membeli ponsel boba terbaru, Nara tentu dengan senang hati mengerjakannya.
"Memang client bule selalu royal." ujarnya sambil menyesap iced latte pesanannya.
Saat Nara fokus dengan pekerjaannya, ia tidak sadar seseorang menghampiri tempat duduknya.
"Nara?"