Bab 2

1076 Words
"Oh itu, emm, saya mau.. cerai." Bak disambar petir, Zayn beranjak dari kasurnya dengan cepat, tentu saja Nara terkejut bukan main dengan reaksi laki-laki itu sehingga ia hampir saja terjatuh dari ranjang Zayn. Zayn membantu Nara kembali duduk sambil menatap Nara tajam. "Apa?" "Saya mau cerai." ulang Nara. "Dalia Nara! Jangan sembarangan bicara!" tegas Zayn. "Saya gak sembarangan bicara, Mas! Bukannya memang dari awal kita cuma akan menikah selama dua tahun? Congratulations! Kita bakal anniversary yang ke dua tahun dalam dua bulan, yeaayyy!" Zayn terdiam, ia ingat pernah mengatakan hal itu pada Nara. Ternyata Nara mengingatnya. "Kita bahkan gak ada kemajuan, Mas. Kita cuma dua orang asing yang tinggal dalam satu atap. Saya sempet beberapa kali lihat Mas jalan sama perempuan yang beda tiap kali jalan. Saya juga denger Mas masih suka cari tahu soal kak Ambar." Zayn terkejut, tidak menyangka Nara akan tahu sejauh itu. "Kamu tau dari mana, Nara?" Nara berdecak. "Ya gampang lah itu, Mas fikir aku gaptek? Aku gak mau bertahan sama Mas lebih lama lagi. Terserahmu lah mau jalan sama siapa aja. Mas fikir mas doang yang mantep? Saya juga lebih mantep! Saya cantik, pinter, penghasilan saya lebih dari cukup meskipun di rumah aja. Dan satu lagi, saya gak gagal move on!" Pukulan telak dari Nara untuk nalarnya, tidak ada kemajuan dalam hubungannya dengan Nara, hatinya masih terlalu gersang untuk kembali menaruh hati pada Nara, istrinya. Gadis yang lebih muda 4 tahun darinya itu bahkan tidak pernah ia sentuh. Namun, rasanya salah jika harus disudahi tanpa berusaha. "Saya akan tunda perjalanan kerja saya, besok kita ke rumah mamah. Kita bicarakan disana, dengan ayahmu juga." ujar Zayn akhirnya. "Loh? Kenapa gak ambil keputusan sekarang aja?" "Lebih baik keputusan ini disetujui keluarga besar, Nara." "Ya nggak perlu gitu juga lah, Mas. Kita ini manusia dewasa, harus bisa ambil keputusan sendiri!" Zayn tetap bersikukuh akan mengambil keputusan bersama keluarga, sedangkan Nara tahu betul bahwa keluarga mereka tak akan menyetujui perceraian. Nara pun pergi dari kamar Zayn dengan penuh kekesalan. Zayn tidak mampu melarangnya, ia pun merelakan punggung kecil itu berjalan menjauhinya dan menghilang dibalik pintu kamarnya yang tertutup. Pagi harinya, Nara terlambat bangun, hal yang hampir tidak pernah terjadi. Zayn memutuskan untuk menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka. Zayn mengetuk pelan pintu kamar Nara, tak ada jawaban, ia membuka pelan pintu itu, dan melihat Nara meringkuk di ranjangnya. Tubuhnya yang mungil terbungkus selimut bergambar beruang. Zayn sempat berfikir mungkin Nara menangis semalaman, padahal Nara hanya begadang untuk menonton drama Korea. Tangan Zayn terulur mencoba meraih rambut yang menghalangi wajah Nara, sedikit jari-jari itu menelusuri pipi Nara dan berakhir di bibirnya. Ada perasaan aneh di perut Zayn. Zayn menepis perasaan itu dan membangunkan Nara. "Ra?" ucapnya pelan. Nara hanya bergumam, tubuhnya bergerak merubah posisi gulingnya, namun ia tetap terlelap. "Nara, bangun. Udah siang, Ra." Gadis itu bergeming. Zayn pun membiarkan Nara dan berhenti mencoha membangunkannya. Ia memutuskan untuk turun ke bawah dan mengecek pekerjaannya. Di sofa, ia menemukan laptop dan ponsel Nara, ia melihat potret penyanyi asal Inggris, Zayn Malik, dengan tulisan 'Zayn❤️' di bagian bawah. Zayn tersenyum, ia tahu betul Nara mengidolakan Zayn dan grup band One Direction sejak remaja. Dulu, saat masih berpacaran dengan Ambar, Zayn akan meledek Nara dengan mengatakan band itu sudah bubar dan tidak akan pernah kembali dari hiatusnya, Zayn akan tertawa terbahak-bahak melihat Nara yang hampir menangis jika Zayn tidak berhenti meledeknya. Zayn baru ingat, tahun lalu ia bahkan melihat Nara menangis sesenggukan, karena salah satu anggota band itu meninggal dunia. Saat itu, Zayn bahkan tidak menghibur Nara, ia justru memarahi gadis itu karena menurutnya, Nara terlalu berlebihan. Zayn menaruh ponsel Nara ke meja kembali, ia tidak membuka lebih jauh karena ia merasa tidak sopan. Ia kemudian fokus pada laptopnya, menerima dan mengoreksi pekerjaan yang asistennya berikan. Satu jam kemudian, Nara terbangun, ia masih mengantuk namun buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci muka, ia terkejut karena jam sudah menunjukan pukul 10.15. Nara terkejut melihat Zayn duduk di sofa dengan secangkir kopi di depannya. Zayn pun terkejut karena ia melihat Nara masih berbalut piyama yang... terlalu pendek. "Maaf, saya kesiangan, semalem saya begadang nonton drama Korea..." "Hah? Oh. Ya sudah sarapan dulu." Nara mengiyakan dan duduk di meja makan, ia melihat sandwich telur dan ham yang menggiurkan, dan langsung melahapnya tanpa basa basi. Usai makan, ia menuangkan kopi hitam ke cangkirnya, lalu menyesapnya pelan. "AHHHH" Zayn berdehem, ia menahan tawanya, baru kali ini ia melihat Nara menyesap kopi seperti bapak-bapak. "Kenapa?" tanya Nara ketus. Zayn hanya menggeleng. "Hari ini kita jadi ke rumah Mamah?" tanya Nara. "Iya." jawabnya. "Saya siap-siap sebentar." Nara kembali lima belas menit kemudian dengan pakaian yang lebih rapih, rambutnya ia gerai, wajahnya ia poles dengan make up tipis, terlihat sapuan blush on peach di pipinya, warna lipstik nude nya sangat cocok dengan wajahnya yang manis. Baru kali ini, Zayn tertarik dengan penampilan Nara, padahal begitulah dandanan Nara setiap harinya, meskipun di rumah, tanpa blush on tentunya. Perjalanan menuju rumah Kamila dan Budi hanya sekitar 20 menit jika lalu lintas lancar. Begitu sampai, hati Nara berdegup kencang, ia takut mertua dan ayahnya akan menolak keputusan Nara dan Zayn. "Halo sayaaang, menantu mamah paling cantik. Gimana kabarnya?" Sapaan hangat Kamila menyambut kedatangan Nara, ada sedikit rasa sakit dalam hati Nara melihat senyuman Kamila. Terlebih, mertuanya itu sangat baik kepadanya, seperti menggantikan sosok Ibu untuknya. "Baik, Ma. Mama gimana? Sehat?" "Sehat, cuma akhir-akhir ini mama tuh kayaknya pengen sesuatu gituu.." "Pengen apa, Ma?" Kamila menatap Nara dan putranya bergantian. "Cucuu hehehe. Yuk ah masuk, ayah kamu juga udah di dalem." Zayn dan Nara hanya diam dan mengikuti Kamila ke ruang keluarga. Wildan bahkan belum sempat berinteraksi dengan anak gadisnya. "Kami akan bercerai." Ketiga orang tua di ruangan itu terdiam, suasananya berubah. Kamila bangun dari duduknya dan menghampiri Zayn. Plak! "Guobbblo0ookkk. Maksud kamu apa, hah?" Kamila memukuli anak semata wayangnya itu bertubi-tubi, Budi baru melerai pukulan Kamila setelah Kamila mulai terlihat lelah. Zayn hanya diam menerima pukulan-pukulan itu. "Jelasin!" ujar Budi. Zayn pun menjelaskan kondisi pernikahannya secara garis besar, hingga mencapai keputusan untuk bercerai. Wildan meminta maaf karena merasa ikut andil dalam gagalnya pernikahan Zayn dan Nara. "Kamu itu! Bener-bener, ya! Dengan semua kenikmatan yang kamu dapet, gak gini cara mamah ngedidik kamu. Kamu bener-bener bukti kegagalan mamah dalam mendidik. Astaga. Naraaa, mamah minta maaf. Maafin mama ya, Naraa.." Kamila menangis memeluk Nara. Setelah lebih tenang, Kamila kembali duduk disamping suaminya. Setelah keheningan beberapa saat, Kamila buka suara. "Dua bulan lagi baru kalian boleh bercerai, tapi dengan beberapa syarat!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD