chapter 38

1047 Words
Author POV Afrika Butik Zora Afrika, Rama dan Varrel saling melempar pandangan ketikan mereka sama-sama tidak mengerti mana yang pantas mereka belikan untuk Sinta. Jelas, karena banyak sekali bra dan CD disana. "Ram, lebih baik aku keluar, maaf Ram kali ini aku lebih baik kamu pukul dari pada aku harus membelinya!" ucap Varrel pasrah, manik-manik matanya menatap semua orang pengunjung secara bergantian dan semuanya adalah wanita menatap penuh minat kepadanya. Apalagi kini Rama dan Varrel berada dikawasan tempat pakaian wanita. "Rel, lu" panggil Rama. Sementara yang empunya nama semakin melengos pergi. "Aaagggrrr, dia, Bos laknat," umpat Rama kesal. "Permisi tuan, ini baju keluaran terbaru yang ada di butik kami!" Sosok pelayan wanita yang menyapa Rama tadi pas masuk menghampiri sembari menenteng dua pakaian dengan model dan warna berbeda. Rama melirik, dia memicingkan tatapannya menatap satu-persatu pakaian itu. Lalu tak berselang lama ia langsung menunjuk ke dress bercorak merah di pandu kelap kelip membuat pakaian lebih menawan dan indah. Pilihan Rama jatuh kepada baju ini, ia yakin Sinta pasti akan setuju apa yang ia pilihkan ini. "Baik, tuan akan saya siapkan. Apa ada yang lain?" tanya pelayan itu, setelah sesaat ia menyerahkan baju yang dipilih kan Rama kepada pelayan perempuan yang berada disebelahnya. "Hmm, aku mau membeli sepasang bra dan CD untuk tunanganku, bukan maksudku istriku!" jawab Rama sedikit ragu, wajahnya seakan merah manahan malu yang teramat apalagi hampir semua pengunjung perempuan masih senantiasa melirik kearahnya sembari berbisik-bisik. "Sinta, aku akan menagih ini semuanya nantinya." batin Rama. "Bisa tuan, ukuran berapa?" tanya pelayan itu lagi. Ukuran, Rama seketika menggarukkan kepalanya terasa tak gatal. Sumpah demi apapun dia tidak tau tentang ukuran yang dimaksud pelayan itu. "Apa harus ada ukuran?" tanya Rama balik. "Tentu tuan, takutnya nanti tidak cocok bagi tubuh istri tuan, kebesaran ataupun kekecilan." Jelas pelayan itu yang spontan membuat Rama mengusap wajahnya kasar. "Sayang, selamat kamu berhasil mempermalukan calon suamimu sendiri. Aku tidak akan melupakan ini, kamu harus membayarnya mahal!" batin Rama lagi. Ekor mata Rama berpaling menatap ke sembarang arah, hingga manik-manik matanya tertuju pada sosok wanita cantik berkulit coklat sedang berbelanja baju disana. "Istriku seperti dia?" tunjuk Rama kearah wanita itu. Ia yakin kalau body wanita itu sama persis seperti body Sinta. "Apa anda yakin tuan?" tanya pelayan itu merasa ragu. "Iya, saya yakin!" Sahut Rama bulat apa yang ia pikirkan. "Kalau begitu anda bisa bertanya kepadanya, karena saya juga tidak tau berapa nomor pakaian dalam yang dipakaikan oleh wanita itu!" kata sang pelayan hanya bisa tersenyum kecil. "A-Aku bertanya?" Gumam Rama. Ia yakin apa yang akan terjadi kalau dia bertanya. "Tentu tuan." Rama mulia memberanikan dirinya menghadap, ia berdehem kecil lalu sembari mendekati. Sementara sang wanita yang merasa ada sosok seseorang mendekatinya spontan menoleh cepat. "Berapa nomor CD-mu, dan berapa nomor bra yang kau pakaikan?" tanya Rama to the poin pada tujuannya. Alhasil membuat sang wanita terkesiap mendengarnya. "Apa?!" Seru wanita itu membulatkan matanya menatap Rama. "Dasar c***l!" desisnya. Plakkkk Satu tamparan terkejut didapat Rama dari wanita itu, lalu hendak berlalu pergi namun Rama sudah terlebih dahulu mencengkram tangan si wanita. "Kau ingin pergi setelah menamparku!" kata Rama dingin. "Hay, pria m***m lepaskan aku!" desis sang wanita memberontak pergi tapi, salahnya karena kekuatan Rama jelas jauh lebih kuat darinya. "Jagan coba-coba kabur, atau aku akan melaporkanmu ke polisi atas penamparan yang tidak berdasarkan apa, kau berikan kepadaku!" tukas Rama. Yang lagi-lagi membuat sang wanita membulatkan matanya. "Kau mengancam ku!" desis sang wanita tak percaya. "Aku tidak mengancam, kalau kamu menurut, atau kamu mau pihak polisi menangkapmu kurang dari dua belas jam dari sekarang!" kata Rama. "Kau!" "Apa!" "Lepaskan aku!" "Tidak akan, kamu tidak lihat sekarang semua pengunjung menatap kearah kita, apa kamu tidak malu ditatap seperti itu. Jadi cepat katakan berapa nomor bra dan CD-mu yang kau pakaikan itu. Aku tak tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu!" katak Rama penuh penekanan. "Hahhhh .... Apa kau sudah gila?" wanita itu merasa semakin aneh melihat Rama. Bisa-bisa ada seorang laki-laki menanyakan hal fulgar seperti itu kepadanya di hadapan banyak orang. Mau taruh dimana wajahnya. Ia sudah merasa malu sendiri, dan lagi memang benar apa yang dikatakan Rama, kalau semua pengunjung sedang menatap kearah mereka berdua sekarang. "Bagiamana, cepat katakan. Sebagian gantinya aku akan membayar semua barang kamu belikan itu, kamu boleh berbelanja sesukamu!" Ucap Rama memberi tawaran. Sang wanita sesaat terdiam, dia masih mencerna apa yang dikatakan Rama barusan. Membayari apa yang dia mau. "Dasar pria gila, tapi apa dia benar-benar akan membayar semua yang akan aku belikan. Dia mau mentraktir ku pakaian disini!" batin sangat wanita, ada rasa keraguan dalam hatinya dengan apa yang dikatakan Rama barusan tapi, saat melihat pakaian Rama begitu mewah dan berkelas, apalagi jas Rama terlihat begitu mahal. Sang wanita yakin Rama bukanlah pria sembarang. "Jangan terlalu banyak berpikir atau aku akan mengubah penawaran ku!" tukas Rama. "Ok, akan aku beritahu. Tapi kamu harus menepati janjimu?" "Apa aku terlihat seperti seorang pembohong?" "Aku tidak yakin, tapi kamu terlihat seperti pembohong besar!" "Kau menantangku?" "Aku tidak menantang tapi itu kenyataannya!" "Ok, baiklah. Sekarang cepat pilih baju mana yang ingin kau belikan biar aku yang akan membayarnya." Kata Rama melepaskan tangannya. "Ok, kalau begitu aku akan belanja dulu!" "Mayan ada tang bayari, kapan lagi coba. Mimpi apa kamu semalam Aleksa bisa bertemu cowok gila seperti ini. Hihihi .... Tapi tak apalah aku beritahu berapa nomor pakaian dalam yang aku pakaikan ini. Yang penting aku bisa membelikan baju-baju dari brand ternama!" batin sang wanita tersenyum senyum sendiri. "Hey, kenapa kau malah melamun! Cepat beli pakaian mana yang ingin kamu belikan. Aku tidak punya banyak waktu meladeni wanita liar sepertimu!" Tukas Rama membuyarkan lamunan sang wanita. "Ahhhh iya. Sabar jangan ngegas, kalau sudah begini aku nurut. Tenang saja!" Sahut siang wanita sembari tersenyum iblis. Tanpa panjang lagi ia segera mengambil semua gaun indah yang ia lirik tadi namun tidak jadi ia ambilkan. Hingga tangannya kini sudah menumpuk berbagai macam gaun, entah berapa banyak sudah gaun yang ia ambil. "Hei, apa aku menyuruhmu memborong semua gau," Rama merasa terkejut melihat betapa banyaknya gaun yang di ambilkan wanita itu. "Hehehe katanya kamu tidak suka di tantang, kalau tidak mau yasudah. Aku tidak jadi!" Kata sang wanita ancang-ancang. "Ok, ok, serah kamu mau membeli berapa banyak. Tapi cepat katakan berapa nomornya?" "Tenang, aku akan mengatakannya setelah pembayaran gaun yang aku pilih ini selesai!" "Kauuu!" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD