chapter 39

1078 Words
Tepat pukul jam dua siang, Varrel dan Rama baru tiba di apartemen Justin. Kedua pria itu sama-sama berdecak kesal, namun yang lebih merasakan kesal adalah Rama. Ya, karena membelikan pakaian dalam Sinta dia harus berurusan sama wanita galak yang menamparnya kasar. Beruntung dia punya ide menawarkan wanita itu berbelanja kalau tidak mungkin dia masih di butik itu karena belum tau pakaian dalam nomor berapa yang cocok untuk kekasihnya. Tapi satu hal yang membuat Rama merasa tak habis pikir bagaimana bisa wanita itu berbelanja begitu banyak pakaian. Bahkan jika di tambah satu pakaian lagi pas 3 juta dollar uangnya membeli pakaian wanita itu. "Kenapa lama sekali!" ketus Sinta saat Rama membukakan pintu kamar dan menyerahkan apa yang dia belikan tadi. "Lain kali jangan menyuruhku membelikan hal itu lagi!" Kata Rama tidak menjawab pertanyaan Sinta. "Cepatlah berpakaian dan keluar. Makanan sudah disiapkan," Sambung Rama lagi lalu melengos pergi tanpa berkata apapun lagi. "Ada apa dengannya!" Sinta menaikan sebelah alisnya. "Apa dia sedang malu," Sinta tertawa kecil sungguh ia bisa membayangkan apa yang dirasakan Rama saat membeli pakaian dalam untuknya. Dengan penuh rasa penasaran Sinta membukakan barang apa yang dibelikan Rama untuknya Senyuman indah langsung terukir diwajahnya saat melihat gaun yang dibelikan Rama untuknya. Gaun yang benar-benar indah dan corak warna kesukaannya, tidak disangka selera Rama sangat pas untuknya. Namun senyumannya itu tidak berlangsung lama tak kala ekor matanya menatap pakaian lain yang dibelikan Rama untuknya. Ya, pakaian dalam pakaian. "Ini, kebesaran. Rama," *** Satu hari berlalu di Kanada sejak Rama datang, kini sudah tiba saatnya bagi mereka untuk pulang kembali ke negaranya. Dan lagi keadaan Justin sudah jauh lebih baik dari kamaren membuat Sinta merasa lega membiarkan pria Eropa itu sendiri di apartemennya yang luas itu. "Justin, apa kamu yakin ingin tinggal di sini. Tidak sebaiknya kamu pulang ke Italia. Keluargamu pasti akan merawatmu dengan baik disana. Lagian kamu sedang terluka, jadi butuh sosok seorang yang harus membantuku. Aku khawatirnya anak buah tuan Alexander akan menemukanmu lagi. Mereka pasti tidak akan membiarkan kamu lolos kali ini!" Ucap Sinta panjang lebar. "Kamu tau aku dari Belanda?" tanya Justin mengerutkan keningnya. Seingatnya dia tidak bercerita apapun kepada Sinta, jadi bagaimana bisa wanita asing didepannya ini tau tentang dirinya. "Hehehe .... Maafkan aku, kemaren siang karena lama menunggu Rama membelikan aku pakaian jadi aku membuang rasa bosanku dengan membaca beberapa kertas surat di lacimu!" jawab Sinta menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapi. "Kau!" "Jangan marah, aku minta maaf. Aku tau aku sudah lancang, tapi apa yang aku katakan tadi benar. Aku bukan apa-apa, cuma aku sedikit khawatir denganmu. Anak buah tuan Alek bisa datang kapan saja, dan mereka pasti akan jauh lebih kasar dari sebelumnya. Aku yakin, jadi sebelum nyawamu berpindah dari tempatnya ada lebih baiknya kamu mendengarkan apa yang aku katakan. Ayo ikut kami ke bandara sekalian!" sela Sinta, sungguh dalam hatinya ada rasa cemas dengan pria yang menolongnya ini. Ia sungguh merasa bersalah apa yang terjadi dengan Justin. Mansion dan tembakan itu, tidak akan ada orang yang mau berkorban nyawanya demi orang lain, apalagi nyawanya. Pasti mereka akan menolong diri mereka sendiri. Namun Justin, walaupun penampilan sedikit ugal-ugalan, tapi ada jiwa kepedulian yang kuat tertanam dalam tubuhnya. Sinta sangat bersyukur karena yang menolongnya ada Justin, dia tidak bisa membayangkan kalau saja dia di tolong oleh pria yang tidak bertanggung jawab. Sudah pasti nasibnya akan sangat buruk. "Benar apa yang dikatakan Sinta, baiknya kau ikut kami ke bandara, kau tidak perlu cemas, aku akan mengantikan semua kerusakan dalam mansion itu. Rama akan mengurusnya nanti!" timpal Varrel, entah kenapa dia sekarang berkata itu. Mungkin ada rasa respect dalam dirinya karena Justin telan menolong sahabat dekatnya. "Aku akan tetap disini. Kalian pulanglah!" tolak Justin. "Justin, ayolah. Jangan keras kepala. Ini juga untuk keselamatanmu. Aku tidak mungkin memberikan kamu tinggal sendirian disini. Kota ini cukup mengerikan, apa lagi anak buah tua Alek yang bisa datang kapan aja menerkam mu!" Bujuk Sinta. Untuk beberapa saat Justin diam, lalu sebuah anggukan pelan di nyatakan oleh Justin. Setelah ia pikir-pikir kan apa tang dikatakan Sinta adalah semuanya benar. Ia tidak punya cukup tenaga untuk melawan anak buah tuan nantinya, ia yakin kali ini tuan Alek pasti akan mengerahkan lebih banyak lagi anak buah untuk membunuhnya. "Ok, aku akan ikut kalian, tapi sebelum itu aku akan berbicara kepada seseorang dulu untuk menjaga apartemenku ini!" Kata Justin. "Tidak masalah, asal kamu pergi dari negara ini. Kamu harus tinggal bersama keluargamu dulu!" Timpal Sinta. Dengan bujukan akhirnya Justin luluh, sebenarnya ada rasa ragu bagi Justin untuk tinggal disini maupun pulang ke negaranya. Namun apa boleh buat, kalau dia terus menerus disini pasukan Alexander pasti akan tetap mengejar dia. Lambat daun mereka pasti akan bertemu. Satu jam lamanya menghabiskan waktu, kini mobil Justin yang dikendarai Rama sudah berada di bandara internasional, cuaca buruk membuat penerbangan ditunda selama dua kedepan. Jadi terpaksa membuat mereka menunggu, jalan lalu lintas dihadang oleh angin ribut, pohon besar terjatuh menimpa jalan, membuat semua pengendara harus memutar balik mengambil jalan lain atau kembali pulang. Rama, pria itu lebih memilih memutar balik mengambil jalan lain. Namun tanpa disadari Rama, mobil mereka diikuti oleh dua mobil lainnya di belakang. Jalan terlihat sepi, banyak pohon besar menjulang tinggi sedikit menutup cahaya sinar matahari. Namun begitu, penglihatan masih mata melihat masih terang. Rama melirik, ekor matanya berhasil menatap dua mobil yang mengikutinya dari belakang, rasa curiga langsung menyerangnya. "Rel, sepertinya kita ada yang ikutin kita!" kata Rama. "Apa!" Spontan Varrel, Sinta dan Justin ikut melirik. "Itu mobil anak buah tuan Alek!" Kata Justin. "b******n!" Gumam Varrel geram dengan rahangnya mengeras. Ia segera mengambil sesuatu dari bawah mobilnya. Sebuah pistol lengkap dengan anak peluru. "Varrel" ucap Sinta terkesiap. "Tenang, percaya. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos, kamu yang tenang!" ucap Varrel sembari menurutkan kaca mobil, lalu hendak mengeluarkan tangannya menembak mobil di belakang. Sayangnya karena tidak hati-hati satu peluru dari anak buah tuan Alek mengenai tangan Varrel, beruntung hanya tergiur, tapi darah segar langsung mengalir deras. "Varrel!" "Rel hati-hati,! "Aaagggrrr .... Aku tidak apa-apa Sinta ini hanya luka kecil!" kata varrel menahan rasa sakit. "Luka kecil bagaimana!" tanpa berkata lagi Sinta merobek dress merah yang ia kenakan lalu melilitkan ditangan Varrel. "Berikan padaku!" Ucap Sinta merampas kasar pistol yang masih ada ditangan varrel. "Diam, dan lihatlah!" Duarrrrr .... Duarrrrr .... Duarrrrr .... Hanya tiga kali tembakan kedua mobil di belakang hendak menyela mobil mereka berhasil dilumpuhkan oleh Sinta. Varrel dah Rama dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Sinta barusan, sedangkan Justin hanya tersenyum kecil. Ia sudah tau bakat Sinta dalam menembak. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD