chapter 40

1117 Words
"Sinta! Apa yang kamu lakukan?" tanya benar-benar dibuat takjub apa yang dilakukan Sinta barusan, bagaimana bisa seorang wanita seperti Sinta yang ia tahun lembut mempunyai ahli dalam menembak, bahkan dia saja tadi belum tentu bisa, sedangkan Luna hanya menghabiskan tiga anak peluru saja sudah berhasil melumpuhkan dua mobil sekaligus. "Kalau mau minta tanda tangan nanti saja, sekarang kita harus kerumah sakit mengobati luka varrel dulu!" ucap Sinta dengan nada sedikit sombong. Padahal dalam hatinya sudah berdetak kencang atas apa yang telah ia lakukan tadi. Padahal sungguh dia belum pernah punya pengalaman dalam hal menembak, tapi untuk kedua kalinya dia sudah melakukan hal ini, dan anehnya semua tembakkannya tepat sasaran. Sinta ingat betul bagaimana dirinya di mansion Justin, menembak semua para anak buah hanya sekali tembak, tidak ada satupun anak peluru yang meleset dalam tembakan yang ia layangkan. Jujur Sinta merasa aneh sendiri dalam dirinya, entah dia mempunyai hoki random atau memang sebuah berkat dari Tuhan. "Kamuu, benar-benar membuat semua orang takjub. Dan itu sangat keren!" kata Varrel memuji sembari mengajukan ibu jarinya. "Aaahhh, Bos sebenarnya itu hanya kebetulan. Jangan terlalu memuji saya." sahut Sinta tersenyum sipu. "Sayang, apa ini benar-benar kamu. Sinta anaknya tuan Tama dan nyonya Ratna Mangali?" Rama masih terkejut, nyaris saja kelopak matanya tak berkedip menatap Sinta. "Apa kamu sudah tidak mengenali ku lagi Ram!" Desis Sinta. "Bukan begitu, tapi sejak kapan kamu mempunyai keahlian menembak?" Tanya Rama. "Sejak aku diculik, sebenarnya aku juga tidak tau sih. Kenapa aku bisa menembak hehehe .... Sudah. Lebih baik kita kerumah sakit sekarang. Ayo tua Rama yang terhormat tancap gas mobil kerumah sakit. Sebelum nanti jadwal pesawat telah!" Pinta Sinta, sementara yang empunya nama yang disebut mengangguk mengerti. "Siap sayang." *** Cukup sedikit lama dirumah sakit, karena setelah mengobati Varrel, Sinta menyuruh dokter juga melihat bagaimana keadaan Justin, tentunya dengan lukanya. Dan puji Tuhan, luka Justin dinyatakan baik-baik saja. Tidak ada hal yang serius, hanya butuh waktu beberapa hari lagi luka itu akan menghilang. Keluar dari rumah sakit mereka langsung menuju ke bandara. Disana Justin langsung saja disambut oleh pihak maskapai penerbangan yang di pesankan oleh Varrel menunjuk Italia. Ya, sebagai rasa balas Budi pikir Varrel, tidak salahkan jika dia sedikit bersikap feer terhadap pria Eropa itu. "Thx, kamu sudah menolong wanitaku. Kalau tidak ada kamu mungkin aku sudah gila dirumah karena tidak juga menemukan sahabatku. Dan maaf karena aku sempat salah paham kepadamu, memukulmu kasar." Kata Rama penuh dengan hati terbuka dan yang mengejutkan lagi dia memeluk Justin singkat, baginya sebagai tanda perpisahan. "Sama-sama, mungkin takdir memang mempertemukan kami, kalau tidak mana mungkin. Dan hati-hati buat kalian disana!" Ucap Justin juga. "Hai Justin!" Panggil Rama pelan sembari berjalan mendekati pria Eropa itu. "Hai Sinta!" "Aku mau ucapkan terimakasih, buat semuanya. Sampai kamu rela mempertaruhkan nyawamu demi menyelamatkanku. Kamu sangat baik sekali, aku hanya bisa berdoa supaya Tuhan membalas semua kebaikan yang kamu lakukan!" kata Sinta. "Hm, sama-sama Sinta, aku senang bisa membantumu. Diriku ini bisa juga bermanfaat untuk orang lain!" "Kamu orang baik, pasti akan selalu berguna. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak!" kali ini Sinta tanpa segan memeluk Justin erat. Yang secara spontan membuat Rama merapatkan giginya geram. Pria itu sudah mengepalkan kedua tangannya. "Sabar Ram, itu hanya sebentar sebagai tanda terimakasih. Jangan marah dulu, semua wanita juga akan seperti itu kalau ada laki-laki yang menolongnya!" Bisik varrel yang berada disamping. "Apa semua wanita juga lupa kalau dia sudah memiliki calon pasangan!"geram Rama namun dengan suara pelan. "Bisa jadi hahahaha, aku juga tidak tau pasti, tapi satu hal yang aku ketahui tentang wanita Ram!" "Apa itu?" "Wanita selalu benar, mereka tidak pernah salah, dan yang salah pasti kita para laki-laki. Jadi biarkan saja apa yang mereka lakukan, percayya mereka pasti akan lebih sayang kalau memiliki pasangan yang mengerti!" Jawab Varrel tersenyum kecil melihat Rama semakin panas. "Sinta, sudah jangan memelukku terus nanti pacarmu bisa memukulku lagi, aku takut tidak bisa pulang kerumah malah terbaring di rumah sakit nantinya." Kata Justin merenggangkan pelukannya. "Oh, iya. Aku lupa, kalau punya tuan muda posesif!" *** Perjalanan dari Kanada ke Indonesia cukup memakain waktu yang begitu lama, bahkan nyaris sehari semalam. Selama masa penerbangan bahkan sudah menghabiskan waktu hampir sepuluh jam masih saja terjadi keheningan yang melanda di antara calon suami istri itu. Rama yang diam sendiri tanpa berbicara sepatah katapun mendiami Sinta sadari tadi, dia menyibukkan dirinya sendiri dengan bekerja. Bahkan Sinta sudah berubah mengajak pria itu berbicara, tapi jangankan dibalas ajakan bicaranya di lirik saja tidak. Hal itu semakin membuat Sinta kesal adalah sikap Rama yang terlihat kekanak-kanakan. Sungguh, Sinta tidak tau kenapa Rama bisa mendiaminya sampai seperti itu. "Ram, kamu marah kepadaku?" tanya Sinta kembali berusaha. "Rama, maafkan aku. Jangan mendiami ku seperti ini, aku tau aku salah. Tapi bicaralah denganku, aku tidak bisa diabaikan seperti ini." ucap Sinta lagi, dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya masih belum ada tanda-tanda jawaban dari pria yang sedang bersikap dingin dengannya melebihi beruang kutub. "Hufffff .... Ok, baiklah, kalau kamu suka cara kasar!" Desis Sinta membuang nafas kasar. Lalu tanpa aba-aba dia langsung menutup laptop Rama dengan cepat lalu berdiri dan langsung duduk dipangkuan pria itu. Sementara kedua tangannya bergantung manja di bahu Rama. "Sayang!" panggil Sinta selembut mungkin nada bicaranya bahkan terdengar begitu seksi, bibir bawahnya sudah digigit kasar. Untung saja, awak kapan dan varrel tidak ada satu ruangan pesawat dengannya dan Sinta jadi lebih leluasa baginya bermesraan dengan Rama. Pesawat pribadi yang dinaiki mereka terbilang salah satu pesawat pribadi terbesar dan termewah yang ada. Jadi tidak heran jika ada beberapa kelas ruangan dalam pesawat. "Kamu mau mencoba menggodaku!" Kata Rama tak lupa dengan nada dinginnya yang begitu menyeramkan. "Apa kamu tidak tergoda denganku sayang!" Bisik Sinta kini tangannya sudah mulai membuka kancing kemeja Rama, sungguh dia sudah seperti p*****r sekarang demi membujuk pria dingin yang membuatnya kesal dari tadi karena sikapnya. "Jangan, lakukan ini, cepat turunlah, aku lagi tidak ingin melakukannya!" tolak Rama. "Apa, kamu bilang apa barusan, kamu menolakku!" Desis Sinta kesal tak percaya spontan saja ia bangkit dari pangkuan Rama. "Ok, kalau kamu menolakku. Masih ada pak pilot, jadi jangan menyesal nanti kalau aku akan mengandung anak pak pilot" Ketus Sinta, karena sangking kesalnya. "Sinta!" seru Rama. "Apa? Bukannya tadi kamu menolakku!" Balas Sinta. "Jangan coba-coba melangkah atau aku akan menghukummu dengan hukuman yang tidak akan pernah kau bayangkan!" Ancam Rama. "Aku tidak takut!" Tantang Sinta hendak melangkah pergi. Dengan secepat kilat Rama sudah menarik Sinta membawa wanita itu kedalam ruangan paling ujung, dan teryata itu adalah sebuah kamar lengkap dengan sofa dan kamar mandi didalamnya. "Kau mau kepuasan, baiklah. Aku aku yang akan memberikan kamu kepuasan!" "Rama hentikan, aku hanya bercanda tadi!" "Bercanda kamu bilang, kamu sudah membuat juniorku sesak dari tadi saat kamu duduk dipangkuan ku dan sekarang kamu bilang bercanda. "Rama!" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD