chapter 8

1019 Words
Cahaya di bawah sinar rembulan malam. Sore hari zahra terlihat tergesa-gesa berjalan masuk kedalam kamar hotel. Dira yang melihat itupun tersenyum licik, wanita itu baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati zahra sedang terburu-buru, dia langsung menghadang berdiri tepat di depan wanita itu. Karena memang kamar zahra harus melewati kamar Dira terlebih dahulu. "Hey, w*************a. Apa kabar? Apa hari ini kau sudah puas menggoda Varrel?" Dira tersenyum sinis melipatkan kedua tangannya di belahan d**a. Zahra berdecak kecil, kenapa di saat terburu-buru malah ketemu Mak lampir ini. Dia tidak menjawab melainkan menerobos Dira yang berbeda di depannya. "Beraninya kau, tunggu." Dira kembali menghadap langkah zahra, tapi kali ini dengan gaya mengacak pinggang dan kepala yang di dongkrak. "Apa seorang anggota Humas tidak punya tata krama. Berani melewati atasan begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu. Ohhh..... Aku hampir saja lupa, kau memang sama sekali tidak punya tata Krama ya. Hahaha..... Sepertinya Varrel bernasib malang telah menikah denganmu." Celutus Dira congkak. "Ck, apa kamu sedang menertawakan dirimu sendiri. hah, sayang sekali. Sudah lama mengincar suami saya tapi tidak dapat juga hhhhhhhh... Sebagainya kamu menyerah saja, masih banyak laki-laki di luar sana jauh lebih tampan dan lebih kaya dari suami saya . Karena sampai kapanpun suami saya tidak akan pernah luluh sama wanita tidak tau diri sepertimu." Balas Zahra tegas lalu langsung berjalan masuk kedalam kamarnya. "Kurang ajar, Wanita sialan. Awas saja, aku akan menghancurkan mu berkeping-keping. Varrel sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku." Seru Dira meluap. ** "Huuufffff... Dasar wanita gila, apa dia tidak punya malu ingin menghancurkan rumah tangga sahabatnya sendiri. Katanya sahabat kecil, tapi tingkahnya seperti kecoak, menjijikkan." Umpat zahra menatap dirinya dari pantulan cermin, ya karena zahra baru saja sedikit merias dirinya agar tidak terlihat kusam. Dan sebentar lagi dia akan di jemput Varrel di lorong hotel. Ia tidak ingin moodnya buruk malam ini dengan berpenampilan kusut di depan suaminya. Di sisi lain Intan juga sedang bersiap-siap, dia sedang berdandan secantik mungkin, agar bisa memikat hati Justin Wiguna. Karena sebentar lagi dia dan Justin akan pergi makan malam bersama. Atas permintaan zahra tentunya, Justin akhirnya setuju dinner dan nonton pesta kembang api bersama Intan. Walau Justin merasa tidak terlalu suka berjalan bersama Intan, Namun dia tetap berusaha menenangkan dirinya agar tidak menyakiti perasaan zahra, karena itu nantinya bisa memperburuk kedekatannya. "Zahra terimakasih, ini berkat dirimu Justin mau menemaniku. Aku sangat bersyukur bisa memiliki sahabat sepertimu." sebuah pesan singkat dari Intan. Ting... Zahra yang kala itu masih memandang dirinya dari pantulan cermin pun mendelik saat mendengar suara bunyi ponsel berdering pertanda ada pesan masuk. "Intan." Zahra sedikit menaikan alisnya karena ia ternyata mendapat pesan masuk dari sahabatnya. "Hahaha ..... Iya , iya. Aku juga beruntung memiliki teman seperti mu. Semoga kencan kalian berjalan dengan lancar" balas zahra. Ting... Pesan kembali masuk dari ponsel zahra, tapi kali ini bukan dari Intan melainkan dari Varrel. Zahra yang melihat nama Varrel tertulis sangat jelas di layar ponsel pun tersenyum senang dia seakan tidak sabar lagi langsung membuka isi pesan. "Aku sudah berada di lorong hotel. Aku menunggumu di sini, datanglah." pesan berlebel cinta dari Varrel. "Dia sudah datang, aku harus segera bersiap-siap." Zahra dengan terburu-buru memasukkan ponselnya kedalam tas, lalu melirik seluruh tubuhnya dari pantulan cermin melihat apa yang masih kurang. "Bedak udah, minyak wangi udah, tas udah apalagi ya. Ya Tuhan, sepatu." Zahra berlari seperti terbirit-b***t menuju kopernya. "Hampir saja." Sekarang barulah penampilannya sempurna. Zahra memakai celana jeans dan jaket hitam berbulu yang terbuat dari bulu domba, hingga di cuaca dingin sekalipun akan membuat badannya tetap terasa hangat selalu. Zahra juga tidak lupa mengaitkan shal di lehernya. *** Zahra sudah melayangkan kakinya di lorong hotel tepat ia tinggal sekarang. Kedua bola matanya membulat sepenuhnya mencari keberadaan sosok laki-laki yang sudah dari tadi memenuhi pikirannya. Di lorong hotel zahra berdecak kesal karena tidak juga mengetahui dimana suaminya sekarang. Karena tidak punya pilihan lain akhirnya zahra menghubungi Varrel secepatnya. Namun tak kala hendak menekan nomor ponsel Varrel, seseorang tiba-tiba saja datang menutup kedua bola matanya dengan jemari. Sontak saja zahra kangen membalikkan badan mencoba melihat siapa yang telah berani menyentuhnya. Tapi sayangnya tidak bisa karena tenaga orang itu jauh lebih kuat ketimbang dirinya. "Suuuttt... jangan berisik." ucap orang itu, mengisyaratkan zahra untuk tidak membukakan mulutnya. Karena hampir saja zahra berteriak minta tolong. "Mas Varrel..." tebak zahra cepat, saat mendengar suara tak asing baginya. "Kamu benar." Varrel tersenyum senang sembari memindahkan tangannya dari wajah zahra. "Aaaaaa... Mas kamu bikin aku jantungan aja." Zahra dengan lantang memukul d**a Varrel. Dia benar-benar takut, mengira kalau dirinya telah di culik oleh orang jahat. "Hahaha..... Maaf, Maaf. Tadinya aku hanya ingin memberimu kejutan. Hahaha bagaimana kamu suka?" "Enggak, enggak lucu tau enggak. Bercanda di tempat sepi seperti ini. Kalau tadi bukan mas bagaimana, tiba-tiba ada orang nyulik aku. Mas mau aku di culik." ketus Zahra memanyunkan bibirnya menatap kesal dengan tingkah suaminya ini. Sangat nyeselin. "Tidak akan ada orang yang berani menculik kamu dariku. Kalaupun ada, aku yang akan lebih dulu membunuhnya sebelum rencana dia tersampaikan." sahut Varrel cepat. "Aku akan mematahkan tangannya jika dia menyentuh wanitaku. Aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang, percayalah." kemudian dengan lembut Varrel memeluk singkat istrinya. Wanita yang sudah mematung kan dirinya mendengar apa yang baru saja di katakan Varrel. "Ayo aku, akan membawamu ke tempat yang indah malam ini. mengelilingi kota Paris, di bawah sinar rembulan malam." Varrel menggenggam erat jemari zahra, memasukkan jemari istrinya kedalam sela jari-jarinya. * Di pusat kota Paris, terlihat banyak orang yang berlalu lalang menikmati pemandangan kota yang indah. Varrel dan zahra saling bergandengan tangan berjalan kaki menelusuri padatnya jalan raya. Walau malam sudah gelap gulita hanya sinar lampu remang-remang dari satu toko ke toko lain dan tiang lampu menerangi jalan. Tidak menutup keindahan kota di malam hari. Kedua sepasang suami istri itu terus saja melayangkan kaki mereka secara bersamaan menikmati hembusan angin malam. Saling menggenggam erat ketika mendapat tiupan angin kencang. Tertawa bersama-sama. "Apa kamu kedinginan?" tanya Varrel dengan suara membeku. Tidak di pungkiri dirinya juga kedinginan sekarang, walau sudah memakai jaket tebal. Tapi hembusan angin salju seakan menembus ke kulit mereka. Ya, malam ini turun salju, salju pertama menjelang akhir tahun. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD