chapter 9

1048 Words
"Hem, sedikit!" Kata Zahra malu-malu. "Ini kamu kedinginan sayang!" Tanpa menunggu lagi Varrel langsung melepaskan jaket yang ia kenakan memakainya pada tubuh Zahra. Lalu diikuti dengan genggaman tangan kuat. "Sayang, maafkan aku. Kemaren-kemaren aku telah membuat kamu kesal, tapi sungguh aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku hanya ingin--" perkataan Varrel sudah lebih dulu dipotong oleh zahra. "Aku tau, mas!" Sela zahra. "Sebenarnya, aku sangat kesal dan hatiku sangat sakit saat itu. Tapi, aku sadar. Aku memang salah, dan pantas menerimanya!" kata zahra apa adanya. Sungguh, ia tidak punya keberanian saat ini untuk membenci suaminya. Karena sadari tadi jantungnya tidak berhenti berdetak sama sekali, bahkan untuk sesaat rasanya nafasnya begitu kasar. Hening Untuk beberapa saat hening, kedua insan itu saling berada pandang, saling tertegun dengan manik-manik masing-masing. Hembusan angin malam diliputi salju bola-bola salju kecil-kecil membuat suasana semakin dingin. Rasa seperti di tangan laut. Rambut poni Luna berjatuhan akibat terjangan angin sepoi-sepoi malam. Varrel, pria itu yang melihatnya tidak membiarkan wanita terlalu lama menikmati angin malam. Tanpa menunggu Varrel segera merapikan poni Zahra, membentuk kan rambu poni itu seperti sedia kala. "Maafkan aku, aku telah menyakiti perasaanmu!"suara Varrel terdengar pelan namun sangat jelas terdengar didaun telinga Zahra. Wanita itu hanya tersenyum membalasnya. ** The cafe Blizzard Itu adalah nama cafe yang kunjungi Varrel dan Zahra, kedua manusia itu baru saja tiba disana. Seorang pelayan cafe dengan pakaian seragam formal menghampiri, menawarkan makanan apa yang dia beli. "Sayang maaf, tadi aku ingin memberikan kamu kejutan dengan dinner di taman kota, tapi sayang suasana sangat dingin. Aku tidak mungkin membiarkan kamu makan di sana. "Hm, tidak apa-apa mas, ini saja sudah lebih dari cukup!" "Kami mau hidangan pertama di cafe ini!" kata Varrel kepada pelayan cafe yang di anggukan sebagai jawaban apa yang di minta Varrel barusan. Hening "Sayang, tolong. Sekali maafka aku atas sikap ku selama ini yang mungkin menyakiti perasaanmu. Aku benar-benar menyesal sayang. Aku tidak sanggup kamu bersikap dingin kepadaku seolah-olah kehadiranku tidak ada disisimu ataupun melihat dirimu bersama dengan laki-laki lain, hatiku sakit. Jadi ku mohon sayang, mau kah. kamu memperbaiki hubungan di antara kita, mungkin ini terlihat konyol, karena aku terlambat mengatakannya, tapi ini adalah perasaan terdalam ku padamu, sayang. Aku sudah jatuh cinta kepadamu, hatiku berdebar setiap kali aku bersama, hatiku memacu setiap kali melihat dirimu, dan hatiku begitu panas setiap kali melihat dirimu bersama pria lain. Jadi dengan ini aku mengatakan, mau kah kamu memulainya dari awal denganku sayang, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku." Ucap Varrel panjang lebar layaknya seperti sebuah lamaran yang tak pernah terpikirkan secara tiba-tiba datang. Zahra memegang dadanya yang teramat sesak mendengarnya. Air matanya tak terbendung menetes dengan sendirinya. Membasahi sudut pipi. Ini adalah tangisan bahagia yang pernah ia rasa seumur hidupnya. Dilamar oleh laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya sendiri. Terdengar konyol, tapi itulah yang terjadi sekarang. Varrel secara perlahan-lahan mengeluarkan sebuah cincin dari saku jasnya, lalu tanpa menunggu memakaikan di jari manis istrinya, lalu disusul dengan sebuah kecupan manis di punggung tangan zahra. "Mas ... Ck, a-aku tidak bisa berkata apapun selain ucapan terimakasih." air mata zahra mengalir semakin deras. Ia merasa sangat bahagia, ini adalah momen paling bahagia selama hidupnya. "Sayang, sudah." Varrel dengan lembut menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya. Mengecup kening istrinya dengan sangat dalam." Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu sidah mau menerima diriku. Aku sangat beruntung bisa memiliki kamu sebagai pendamping hidupku. I love you cintaku." Kali ini kecupan itu berpindah tempat, dari kening ke bibir. Varrel dan zahry saling memejamkan mata mereka tak kala bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain. Kejadian itu terbilang cukup lama karena keduanya sangat menikmati momen terindah itu. Para tamu cafe lainnya hanya diam menyaksikan cinta sejoli Indonesia itu, apalagi bagi para jomblo hanya bisa menahan rasa sakit tercabik-cabik melihat keromantisan mereka. ** Di sini lain Justin dan Intan mengehentikan langkah kaki mereka, tak kala Intan melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dengan cepat ia meminta Justin mengambilnya. "Justin, aku menyukai boneka beruang itu." tunjuk Intan pada salah satu boneka beruang yang tersusun rapi dengan boneka lainnya di sana. Itu adalah sebuah permainan mengambil boneka dengan mesin jari, banyak dari sekian banyak orang yang bermain berhasil dan banyak juga yang tidak berhasil. Justin yang mendengar itupun langsung menoleh kearah yang ditunjuk Intan barusan. "Boneka itu?" tanya Justin memastikan. Intan menunjuk boneka yang berbeda dalam lemari kaca. Siapapun yang ingin mengambilnya makan harus memasukkan koin dan mengambilnya dengan pengaitnya sendiri. "Iya ..." Intan mengangguk cepat. Ia benar-benar sangat ingin boneka beruang itu, apalagi penampilannya yang begitu menggemaskan membuat siapa saja tertarik. "Baiklah aku akan mengambilnya untukmu." Justin dengan bangga berjalan mendekati lemari kaca itu. Memasukkan koin pertama dan langsung mencoba mengambilnya. Satu, dua, tiga, sampai empat koin sudah Justin masukkan kedalam lemari kaca tersebut tapi boneka yang di inginkan Intan tak berhasil juga didapatkan. Justin hendak memasukkan koin lagi namun niatnya terurung tak kala mengetahui kalau dirinya sudah kehabisan uang koin. Kedua bola matanya menatap kasian terhadap Intan yang sudah memanyunkan bibirnya sadari tadi. Menunggu keberhasilan darinya. "Mas, apa anda mempunyai boneka beruang ini secara terpisah?" tanya Justin pada penjaga lemari kaca tersebut. yang memang berdiri di samping lemari keca itu berjaga-jaga. "Ada, mas, kebetulan saya menyisakan satu tadi." jawab penjaga lemari kaca tersebut. "Kalau begitu saya ingin membelinya apa boleh?" "Tentu, mas. Sebentar." penjaga itu langsung mengambil boneka beruang dari dari dalam kotak kardus yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. "Ini, mas." katanya sembari menyerahkan. "Terimakasih, apa segitu cukup." Justin menyerahkan beberapa lembar uang poundsterling. Ya, karena sebelum jalan tadi Justin terlebih dahulu menukarkan uangnya dengan menjadi mata uang negara Prancis tadi hotel tempat mereka menginap. "Cukup, mas. Terimakasih banyak. Kalau saya boleh tau. Apa itu pacar mas ya?" tanya penjaga lemari kaca tersebut melirik kearah Intan. "Iya." Justin tanpa berpikir panjang langsung menjawab. "Ini aku sudah mendapatkannya." ucap Justin menyerahkan boneka beruang itu pada Intan. "Ye... Aku mempunyai boneka beruang ye... Terimakasih." Intan sontak antusias memeluk Justin sangat erat. * Di hotel Dira berdecak kesal karena dirinya tidak juga menemukan zahra dan Varrel di mana-mana. ya, sudah dari tadi dia mencari sepasang suami istri itu tidak ketemu-ketemu. Sementara Rama dan Sinta duduk bersantai menyaksikan kekesalan sahabatnya. "Jangan-jangan mereka keluar bersama lagi. Sial... Aku selalu terlambat selangkah dengan w*************a itu." "Kenapa kamu masih menatapku seperti itu, ayo kita pergi." ketus Dira. Bersambung .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD