Empat hari telah berlalu di Prancis, dan semuanya telah terkendali, ajukan kontrak kerja sama juga telah berhasil dengan sempurna. Maka dari itu sore hari Varrel memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia.
Perjalanan cukup menempuh waktu lama tiba di Indonesia, walaupun mereka menggunakan pesawat pribadi milik Varrel namun karena cuaca buruk terpaksa pilot mengambil rute penerbangan terpanjang untuk menghindari kecelakaan nantinya.
Pukul lima sore waktu Indonesia bagian barat akhirnya, pesawat pribadi milik Varrel tiba di Bandara internasional Jakarta. Cuaca beruk akibat curah hujan yang tinggi nyaris membuat pesawat tergelincir saat landing. Beruntung nasib baik masih berpihak kepada mereka.
Varrel yang melihat situasi seperti itu tidak bisa terus menerus berdiam diri menunggu hujan reda, Apalagi saat melihat istrinya yang terlihat lelah dalam perjalanan.
Pria langsung saja menginformasikan pihak bandara untuk menyiapkan hotel terdekat. Tak berlangsung lama pihak bandara pun datang menemui Varrel menginformasikan kalau ada satu hotel yang kosong saat ini dekat dengan bandara, hanya butuh waktu lima menit.
"Kita akan beristirahat di hotel." ucap Varrel dengan pandangan mata terfokus pada istrinya. Manik-manik matanya tidak luput memperhatikan istrinya yang terlihat kelelahan.
"Tapi Varrel, bukankah kamu harus segera menghadiri rapat penting malam ini?" tanya Dira. Wanita ini masih tetap saja menempel di samping Varrel, mencoba mencari perhatian.
Zahra merasa jengkel ketika melihat Dira yang seperti itu, seperti ulat bulu memperlihatkan kecantikannya tapi padahal dia begitu menjijikkan. Kalau saja hanya ada mereka bertiga di bandara ini sudah pasti zahra akan melabrak Dira saat ini juga. Namun zahra tau ini bukanlah saat yang tepat memberitahu semua orang kalau dirinya adalah istri Varrel, apalagi Intan dan Justin, hanya mereka berdua yang belum mengetahuinya di antara yang lainnya. Masih ada kesempatan emas nantinya di konferensi pers, dia akan mengakui dirinya disana. Sekaligus membersihkan nama baiknya yang sudah tercemar gara-gara Dira.
Desah desus di kantor, sejak saat pertama kali ia masuk sudah membuat perusahaan gempar, desus mengatakan kalau dia merebut Varrel dari Dira. Dengan kata istilah lain pelakor.
"Papa sudah menundanya, hari ini Papa sibuk di kota A. Jadi Papa memberitahu kalau rapatnya di tunda besok pagi." jawab Varrel.
"Bagus, ini adalah hari keberuntunganku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ini adalah kesempatan terakhirku menjatuhkan w*************a itu. Sebelum semuanya terlambat. Aku harus membereskannya." Batin Dira tersenyum licik.
"Dasar wanita bermuka dua. Di depan suamiku kau bersikap manis, tapi dibelakangnya kau menusuknya begitu dalam. Aku akan membuka kedok mu.Wajah polos mu itu tidak akan selamanya tertipu." bantin zahra.
***
Di hotel Monalisa. Mereka baru saja menginjakkan kakinya di sana. Ya, karena setelah perbincangan tadi petugas bandara langsung saja mengantar Varrel ke hotel yang mereka maksud. Walau hotel yang mereka pijak ini berbintang empat, tapi semua fasilitas dan perabotannya tidak kalah mewahnya dengan hotel bintang lima. Semua fasilitas di desain dengan begitu indah dan elegan.
Zahra dan yang lainnya langsung saja di arahkan ke kamar VVIP hotel. Varrel memesan lima kamar hotel VVIP teratas. Pelayan hotel dengan penuh rasa hormat menyambut dan mengantarkan mereka. Masing-masing orang dilayani dengan pelayanan khusus tersendiri.
"Bro, thx. Gue sangat beruntung bisa memiliki teman seperti Lo." Rama dengan santai memukul bahu Varrel sesaat sebelum laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Aaahhhkkk... Akhirnya bisa istirahat juga."
"Vik, Lo udah bosan hidup?" Varrel bertanya dengan tatapan menajam.
"Apaan sih, jangan ganggu. Gue mau tidur, tadi di pesawat gue enggak bisa tidur nyenyak." Rama tidak menghiraukan tatapan Varrel, dia malah meringkuk menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Gue kan juga udah pesan kamar buat Lo. Kenapa mesti tidur di kamar gue sih." Varrel setengah berteriak menarik tubuh Justin kasar. "Turun enggak, gue pengen sendiri. Jangan ganggu." imbuhnya.
"Wooiiiii... Iya-iya, gue pergi. Resek amat. Perasaan gue selalu Lo usir enggak di indo enggak di luar negeri sama aja. Percuma gue ke Prancis di tinggal sendirian mulu. Enggak siang enggak malam lo sama Dira sama aja, sama-sama nyebelin." cetus Justin mulai beranjak pergi dari kamar Varrel.
"Yang nyuruh Lo ikut siapa?" Varrel tersenyum kencur, tertawa kecil dengan tingkah Justin menurutnya sedikit kekanak-kanakan.
"Gue juga pernah karena tertarik sama Zahra!" teriak Rama di ambang pintu sebelum laki-laki itulah melengos hilang dari sana.
Hampir.....
Di kamar Varrel masih mengerutkan keningnya, pikirannya terfokus apa yang di katakan Rama tadi. berselang beberapa saat, Varrel langsung teringat apa yang dikatakan Rama beberapa hari yang lalu. Pria itu langsung mengeraskan rahangnya kasar, gumpalan tangan langsung saja ia genggam.
*
Di saat hampir bersamaan Dira tiba-tiba saja datang ke kamar Varrel, dia menerobos masuk tanpa mengatakan apapun terlebih dahulu. Apalagi saat melihat pintu kamar Varrel sedikit terbuka.
"Rel..." Dira mendarat tubuhnya di samping Varrel dengan gaya centilnya. Tangannya secara perlahan lahan memegang paha sahabatnya itu.
Varrel masih mematung pandangannya masih terfokus ke sembarangan arah.
Sejak kapan Rama mengenal zahra. Sudah berapa lama mereka saling kenal. Kenapa zahra tidak pernah bercerita tentang ini. Apa diam-diam mereka menjalani hubungan. Pikiran Varrel entah kemana-mana.
"Rel..." Dira menyandarkan kepalanya di bahu Varrel, mengeliat disana.
"Dira ..." Varrel baru tersadar kalau Dira berada di sisinya. Laki-laki itu sedikit mengusurkan tubuhnya menjauh dari sahabat masa kecilnya itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya.
"A-Aku, aku kesini ingin mengajakmu minum."
"Aku lagi pengen sendiri."
"Rel, please. Semua orang sedang menunggumu, termasuk istrimu." Dira sedikit mencibir bibirnya saat menyebutkannya kata istrimu.
"Kamu yakin tidak ikut gabung. Rama dan Justin juga ada disana lo, kurasakan mereka sudah dari tadi berada disana. Apalagi tadi aku melihat mereka hanya bertiga." timpal Dira.
"Di lantai berapa?" Entah kenapa hati Varrel tiba-tiba saja tidak tenang mendengar kedua nama laki-laki itu. Walau Varrel sudah sedikit curiga terhadap Rama tapi tidak menutup kemungkinan Justin juga patut dicurigai, Apalagi mereka selalu bersama-sama setiap saat.
Dira tersenyum puas saat mendengar pertanyaan Varrel tersebut seakan tidak sabar. Sepertinya Varrel sudah mulai termakan rencanaku. Ck, tidak sia-sia aku memanfaatkan Rama.
"Tidak jauh, di lantai bawah. Ada cafe VVIP disana. Pergilah kami menunggumu di sana." Dira beranjak bangkit. "Aku pergi duluan ada sesuatu yang harus aku lakukan."
***
Kimmy Pov.
Kenapa tiba-tiba wanita pelakor itu memanggil kami berkumpul ke tempat seperti ini. Apa yang sebenarnya dia rencanakan.
Hatiku tiba-tiba saja gelisah tanpa sebab, tidak tenang. Aku merasa akan terjadi hal yang buruk hari ini. Pandanganku teralih, menatap Intan yang duduk di sebelahku. Sepertinya dia sedang bahagia, terlihat dari wajahnya senyam-senyum sendiri.
Aku ingin bertanya tapi kedua bola mataku tiba-tiba saja menatap kearah sesuatu yang sedang dipegang Intan. Apa itu? boneka beruang. Sejak kapa sahabatku ini menyukai boneka beruang, aku tidak percaya ini. Dia tersenyum kepada boneka beruang itu.
Karena aku semakin penasaran akhirnya aku bertanya.
"Kapan kamu membeli boneka ini?" Aku langsung bertanya daripada membuat kepalaku pusing memikirkannya.
"Aku tidak membelinya, tapi ini pemberian." jawabannya masih tersenyum cengar-cengir.
"Siapa yang memberikanmu boneka ini?" rasanya aku ingin ketawa mendengarnya. Tapi bibirku mengatup dengan sendirinya saat melihat kearah yang ditunjuk Intan melalui kode mata.
Ya, Intan menunjuk kearah Justin sedang berjalan menuju ketempat kami.
Bersambung ....