chapter 11

1012 Words
Zahra POV Entah kenapa tiba-tiba badanku terasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang besar kan terjadi, aku tidak tau itu atau mungkin hanya sebuah firasatku saja. Makan di depan adalah makanan kesukaan ku, ekor mataku terfokus kedepan. Sekilas pandangku menatap kearah Varrel, pandangan kami saling bertemu dan saling terkunci untuk beberapa saat. "Zahra, kamu tau betapa bahagianya aku malam itu. Dia menghabiskan banyak uang demi mendapatkan boneka ini." Intan dengan antusias berbisik di telingaku. Spontan membuat aku menundukkan kepalaku. "Maaf aku terlambat." tutur Justin yang di ikuti Sinta dibelakangnya. "Maaf aku terlambat, tadi ada sedikit pekerja yang harus aku kerjakan," ucap Sinta dengan nada ramahnya. Dia duduk tepat disebelah Dira. Keningku berkerut melihat sikap Sinta sekarang. Rasanya ada seperti aneh. Selama di Prancis dia tidak pernah berbicara sepatah katapun pada kami maupun hanya sekedar menatap, tapi kenapa tiba-tiba dia sok akrab begitu hari ini. Aku tidak menyahut begitupun juga dengan Intan dan yang lainnya. Kami hanya tersenyum membalasnya. "Justin. Aku boleh minta tolong enggak, nanti sore---" Pertanyaanku terjeda karena Justin langsung memotong pembicaraan ku. "Maaf aku sibuk." Dia menjawab tanpa menatap kearah ku. Ini lagi kenapa tingkatnya juga aneh hari ini. Biasanya dia langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang walau lagi sibuk sekalipun. Aku sedikit tertegun mendengar penolakan dari Justin. "Kalau begitu maaf, aku menganggu waktumu." Sahutku hembusan nafas pelan aku lakukan. "Kenapa tidak meminta bantuan padaku saja, aku bisa membantumu. Apapun itu?" Rama menawarkan simpatinya, pria itu menatapku lekat. "Maaf, tidak perlu, tuan Rama. Aku tidak mau merepotkan." aku merasa sungkan menerima tawaran laki-laki yang dua kali sudah aku temui tanpa disengaja. Dan lagi Varrel sangat tidak suka aku berdekatan dengannya. Pandanganku kini beralih kepada Varrel. "Sama sekali tidak merepotkan kok, aku malah merasa senang bisa membantu kamu. Lagian aku juga enggak ada kerjaan nanti sore. Jadi aku rasa aku bisa membantumu." imbuhnya lagi, terdengar sedikit memaksa. Dugggg Tatapan yang begitu menakutkan aku dapatkan. "Ahhh ... Taun Rama bisa saja. Tapi sungguh saya tidak apa-apa." "Ehemmm....." Suara dehem seseorang yang terdengar begitu keras. Mataku langsung teralih menatap ke sumber suara itu. "Mas Varrel ..." Batinku "Cepat makan jangan banyak bicara, ada pekerjaan yang harus kalian lakukan setelah ini, jangan membuang-buang waktu dengan berbicara hal yang tidak penting!" Tukas Varrel dengan tatapan menusuk. Dia duduk di bangku tepat di depanku. Aku menjadi takut saat melihat tatapan dari suamiku ini. Kenapa tatapannya sangat menakutkan, seperti ingin memakanku. "T-Tidak kok mas, Eeppp. Pak. Maaf." Aku hampir keceplosan. "Kalian sudah berkumpul rupanya." Suara Dira baru datang dengan beberapa pelayan cafe dibelakangnya membawakan jus anggur. "Ayo cepat hidangkan." perintah Dira kepada para pelayan cafe tersebut. "Baik nyonya." jawab mereka secara bersamaan. "Ini nyonya silahkan di nikmati." salah satu pelayan cafe menyodorkan jus anggur yang warnanya terlihat hitam pekat kearah ku. Dia menaruhnya tepat di depanku. "I-Iya." Aku mengangguk pelan sembari mencoba mencium jus anggur itu terlebih dahulu. Firasat ku mengatakan ada yang aneh. "Hey... Kenapa kamu melihat jus anggur sampai segitunya. Ayo cepat minum." tegur Intan melihatku hanya menatap kearah jus tanpa meminumnya. Sementara semua orang mulai menikmati minuman mereka masing-masing. "Nona zahra. Apa anda tidak suka minuman itu. Kalau anda tidak suka aku akan menyuruh pelayan tadi menggantikannya." ucap Dira dengan nada manis. "T-Tidak, A-Aku suka." aku terpaksa meminum saat tatapan yang di tunjukkan mas Varrel lebih menakutkan dari pada yang tadi. Kenapa dengan dirinya, apa aku melakukan kesalahan hingga aku mendapatkan tatapan itu. Beberapa menit kemudian. "Hahaha ..." Suara tawa mereka menggelegar ditelinga ku. Rada-rada senyap saat mendengar suara mereka. Kepalaku tiba-tiba saja pusing tanpa sebab. Penglihatan ku juga mulai kabur, wajah Intan seakan menjadi dua di mataku. Aaahhhh... Rasanya sakit sekali. "Zahra" "Zahra kamu baik-baik saja?" Samar-samar aku mendengarkan suara Intan. "Aju tidak apa-apa, hanya saja kepalaku kepalaku pusing." Aku mencoba memukul pelan kepalaku, rasanya ingin pecah banyangan Intan semakin sudah tidak terlihat jelas lagi. Aku yakin kalau dirinya sekarang sedang kasi obat yang entah apa itu, aku saja tidak tau. Pendengaran mulai saja meredam dengan sendirinya mengecil secara perlahan-lahan hingga tidak terdengar lagi. Badannya yang lemas hingga pada akhirnya terjatuh pingsan tidak sadarkan diri. Author POV. "Ya Tuhan, zahra." seru Intan setengah berteriak, membuat pandangan semua orang teralih menatap ke arahnya lalu pandangan mereka sontak saja melirik zahra yang sudah tergeletak tak berdaya di sofa. "Zahra ..." Varrel yang berada di didepan langsung menyambar, mengangkat kan kepalanya istrinya itu kedalam pangkuannya sembari menepuk pipi istrinya pelan. Mencoba membangunkan wanita yang berada di pangkuannya. Secara bersamaan itu juga Rama dan Justin langsung panik, mereka sama halnya juga dengan Varrel. Hendak menyentuh namun tak tak sampai karena tangan mereka di tarik kembali. Justin hanya bisa menatap menyaksikan bagaimana zahra terbaring lemas di pangkuan Varrel. "Kenapa kalian hanya diam saja cepat! telepon dokter!" seru Varrel dengan keras. "Zahra bangun. Sayang ... Jangan membuat aku khawatir." Intan mendengarkan itu mengerutkan keningnya dalam, hingga kerutan itu melingkari pelipis matanya, Dia merasa tidak percaya apa yang di panggil Varrel tadi. SAYANG... Telinganya masih sangat jelas mendengar kata itu. Sementara yang lainnya sudah tau hanya diam membisu tidak mengatakan apapun selain menyaksikan apa yang sedang terjadi. Intan meraih tasnya yang ia letakkan tak jauh dari jangkauannya. Dengan tanpa sabar dia mengambil ponselnya mencoba menghubungi dokter. Tapi tiba-tiba saja Dira langsung berkata mengehentikan niat Intan. "Tidak perlu menelpon dokter. Biar aku saja yang akan memeriksa Nona zahra. Aku kan pernah ikut tes akademik kedokteran universitas beberapa tahun yang lalu." tawarnya langsung berjalan mendekati Zahra. Mencoba memeriksa layaknya dokter. "Nona zahra tidak apa-apa dia hanya kecapean aja. Hanya butuh istirahat sejenak setelah itu pasti akan sembuh." Sambungnya lagi. "Karena aku tidak membunuhnya, dia hanya pingsan sebentar saja. obatnya sedang bekerja setelah itu dia akan sadar dan mengejutkan kalian semua. Ck... Bersiaplah Varrel sebentar lagi kamu akan mendapatkan kejutan dari istrimu ini." "Apa kau yakin dia hanya kecapean?" tanya Varrel serasa masih belum bisa mempercayai apa yang dikatakan Dira barusan. Apalagi melihat tubuh zahra kian melemah tak kunjung sadar. Beberapa detik kemudian. "Aaagggrrr ..... Panas, panas!" Suara zahra yang tiba-tiba bersuara tubuhnya merobek gaun yang ia pakai seketika. "Zahra, sayang apa kamu lakukan?" Kata Varrel terkesiap apa yang sedang istrinya lakukan. Bersambung .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD