chapter 12

1008 Words
Varrel POV Aku mengerutkan keningku dalam, dapat kurasakan bagaimana tubuh zahra kian panas. Aku mengenggam erat tangan Zahra, mencoba membantunya berdiri. "Sayang, kamu harus istirahat mau aku bantu!" Tawarku tidak ada penolakan sama sekali. "Aku tidak apa-apa!" Dia beranjak bangkit. "Aaagggrrr ...." tanpa aba-aba Zahra sudah mencium ku secara tiba-tiba. Ciuman begitu ganas belum pernah dia lakukan sebelumnya. Aku terkesiap, tidak membalas aku hanya diam melihat Zahra semakin lama semakin memperdalam ciumannya, bahkan ia menekankan kepalaku agar ciuman kami semakin dalam. "Astaga!" Suara Dira terkejut. Aku membulatkan kedua bola mataku, melihat apa yang sudah dilakukan Zahra, dia membukakan bajunya sendiri. Bahkan gunung kembar miliknya sangat jelas terlihat. Spontan aku mendorong Zahra sedikit jauh dariku. Bibirnya bermain, menggigil dengan sendirinya. "Oh tidak dia berencana ingin mempermalukan mu Varrel!" Timpal Dira. Aku melepaskan jasku cepat lalu menutupi tubuh polos istriku. Mengendongnya untuk menjauh dari kerumunan orang. Semua pasang mata menatap penuh minat kearah kami, bisik-bisik halus terdengar didaun telingaku. Aku tidak meneruskannya langkahku kian menajam hanya waktu lima menit aku sudah tiba didalam kamar hotel milikku. "Aaahhhh ..... Panas, aku ingin!" Suara zahra terus memaksa dia semakin lama dia semakin menggigil. Bahan ia sudah melepaskan semau pakaian yang membaluti tubuhnya. "Sayang suaraku!" "Mas Varrel!" *** "Sialan, kapan gue kasi tau Lo hah." sahut Rama merasa tak terima padahal dia takut mendapatkan amukan dari Sinta. Sinta tidak menghiraukan perkataan Rama barusan, baginya yang terfokus adalah sekarang kesannya terhadap laki-laki itu. "Minumlah obatmu dulu, agar kamu lekas sembuh," ucap Rama mengambil obat yang ada disiapkan oleh pelayan dan gelas berisi air putih. "Aku tidak suka minum obat," keluh Sinta lesu. "Kalau kamu tidak minum obat kapan kamu akan pulih, jadi ayo cepat buka mulutmu. Jangan membantah!" tukas Rama dengan nada sedikit kasar membuat Sinta tidak bisa berkutik selain segara membukakan mulutnya. "Kalau gitu aku pamit dulu, lagian percuma kami ada disini enggak ada gunanya juga kan, melihat keromantisannya kalian lebih baik aku main game ya, gak Ga." tutur Justin sembari mengedipkan matanya "Hem, kalau begitu kami pamit pak, Buk. Hati-hati kalian orang ketiga setan, Hahaha ...." Ledek Justin sekilas lalu pergi begitu saja. "Sialan Lo." Desis Rama menendang kaki Justin namun sebelum itu pria itu sudah lebih dulu kabur pergi meninggalkan mereka berdua. "Kamu dekat dengannya? Sejak kapan?" tanya Sinta, setelah perjamuan makan tadi kepalanya pusing tak karuan beruntung, Rama segera membawanya masuk kedalam kamar hotel, juga Justin yang membantu mengambil dua obat. "Sudah lama beberapa bulan lalu, dia baik. Dan juga sad boy. Dia jatuh cinta pada Zahra!" "Apa?" "Sungguh pria yang malang!" *** Masih di hotel. Rama baru saja selesai dalam ritual mandinya, setelah itu memakaikan setelah kemeja yang ada didalam koper miliknya. "Kamu mau kemana?" tanya Sinta terdengar berat. "Aku harus pergi sebentar, ada sesuatu yang harus aku kerjakan, kamu kamu disini gak apa-apa kan. Nanti aku akan kembali kesini!" Jawab Rama. "Aku masih sakit, kamu tidak mau menginap?" tanya Sinta lagi serasa enggak berpaling menatap wajah Rama begitu tanpa dan menggoda. Apalagi sekarang rambut laki-laki jangkung itu basah acak-acakan. Sungguh membuat siapa saja pasti aman menelan air ludah. "Sungguh ini pengalaman pertama ia melihat bagaimana bentuk tubuh d**a sixpack pria yang selama ini ia cinta secara sangat dekat, dan itu sangat menggoda. "Tidak, aku harus pulang karena aku sudah janji kepadanya!" "Kamu sudah berubah Ram, kamu tidak seperti Rama yang aku kenal dulu! Kamu sudah tidak peduli lagi sama aku, apa aku melakukan kesalahan, aku minta maaf. Tapi tolong jangan menghukum aku seperti ini, aku sangat mencintaimu Ram." ucap entah dia sadar atau tidak namun setelah itu dengan secepat kilat ia menutup mulutnya rapat-rapat. "Kamu bilang apa barusan!" Rama mengerutkan keningnya. "A-Aku!" "Sinta!" *** Pagi hari saat sinar matahari Kembali dalam rutinitasnya menyinari bumi, awan awan putih berkelabut di cakrawala menghiasi indahnya langit biru. Zahra terbangun dari tidurnya saat ia mendengar suara ketukan pintu yang diiringi dengan panggilan namanya terus terdengar. Wanita menguap mengumpulkan seluruh alam kesadarannya sembari membelakkan kedua bola matanya dengan malas. Seluruh tubuhnya rasanya rumuk akibat pergaulan semalaman membuat ia menjerit menagis karena rasa sakit yang menyerang. "Nyonya mudah, nyonya muda," suara seorang pelayan terdengar dari arah luar terus mengetuk pintu terbuat dari kayu pilihan sudah dicat putih itu. Sepertinya tidak membiarkan Zahra melanjutkan tidurnya lagi. "Iya, sebentar." sahut zahra membalas agar wanita paruh baya itu tidak terus-menerus memanggilnya. "Aaauuu ...." Zahra memekik ia hendak turun, namun rasa nyeri diarea sensitifnya membuat ia kembali diatas ranjang. Dilihatnya Varrel sudah tidak ada lagi didampinginya. Buru-buru zahra menaikkan selimut tebal itu sampai diarea lehernya. Merapikan sedikit rambutnya. "Ya, silahkan masuk saja!" ucap zahra terpaksa dari pada membiarkan wanita muda yang menjabat sebagai staf hotel masuk kedalam, mungkin ada hal penting sampai mendesak seperti ini. Ceklek "Ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya zahra. "Ini nyoya, anda harus turun kebawah memeriksa berkas laporan keuangan dan pengeluaran di perusahaan selama seminggu lalu. Sesuai perintah dari Ibu Dira, beliau memanggil anda." jawab pelayan itu tak lupa tanda penghormatannya. "Oh, iya, nanti akan turun." tutur zahra memeriksa catatan keuangan, yang benar saja, belum sampai dua Minggu dia menjadi bagian perusahaan di perusahaan ternama kota ini sekarang dia harus memeriksa laporan dan catatan keuangan perusahaan. Rasanya zahra tidak percaya ini. "Nona saya permisi dulu, hanya itu yang ingin saya sampai kalau anda membutuhkan sesuatu silahkan memanggil kami, kami siap melayani anda." ucap pelayan itu ramah. "Tapi, baiklah. Aku akan turun, tapi sebelum itu aku mandi dulu." sahut zahra menghela nafas panjang, tidak punya jalan lain sekarang, dan lagi dia keterlibatan bekerja itu tandanya tidak bisa berkutik lagi. "Kami menunggu anda dibawah Nyonya." pamit pelayan sembari mengundurkan dirinya pamit, tak lupa menutup kembali pintu yang sudah dicat putih itu. Tidak punya pilihan lain saat ini, mengingat apa yang dikatakan Intan sang sahabat. Namun untuk beberapa saat kemudian Zahra teringat apa yang telah ia lakukan semalam, ia tidak menyangka kalau dia akan menyerang Varrel dengan begitu ganasnya, wajahnya memerah bagaikan tomat, walaupun dia tidak sepenuhnya sadar semalam karena pengaruh obat yang diberikan Dira, tapi didalam benaknya sangat jelas mengigat kejadian semalam. "Aaaaa .... Apa yang telah aku lakukan, bagaimana bisa aku melakukan itu!" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD