POV Luna.
Aku diam melirik ruangan kamar yang aku masuk teryata begitu luas dan besar, rajang king size serta alat perabotan lengkap semuanya. Sungguh aku tidak pernah terbayangkan kalau di perusahaan suamiku ada kamar pribadi seperti ini, aku pikir hanya ada di dunia novel saja. Tapi teryata aku aku salah, ini benar-benar adanya.
Ekor mataku menatap kearah jendela kaca besar, menampakkan betapa indahnya pemandangan gedung diatas sungguh benar-benar menakjubkan, aku melangkah kesana. Serah mau dibilang aku kampungan atau katrok tapi yang jelas ini sungguh benar-benar membuat aku terpesona. Dulu saat aku kecil, aku sering ke kantor Papa. Beranda dilantai tunggi seperti ini. Tapi semenjak aku dewasa sekalipun aku tidak pernah lagi.
Aku masih menatap kearah luar sana. Hingga aku rasa ada sebuah tangan memegang perutku, dan teryata itu Varrel. Dia memelukku dari belakang menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kamu suka?" Katanya aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kalau begitu sering-sering masuk kesini. Ini kamarmu juga!" Katanya lagi, aku membalikkan tubuhku pekan menatapnya.
"Varrel?" Panggilku pelan.
"Hem!" Dia menatap ku dengan manik-manik matanya yang biru. Jelas aku melihat bagaimana bentuk sempurna wajahnya. Alisnya yang tebal serta hidungnya yang mancung dan bibirnya yang begitu seksi membuat aku rasanya ingin melumatnya.
"Apa kamu menciumiku?" Tanyaku kutatap wajahnya lekat.
"Apakah cinta mesti diucapkan?" Tanyanya balik, jemarinya menaikkan kembali rambut poniku yang sempat terjatuh.
"Hem, tentu, bukankah cinta memang seperti itu!" Jawabku.
"Lalu aku tidak mencintaimu mana mungkin aku bersamamu sekarang. Hm, apa itu masih belum cukup sebagai jawaban!" Katanya, aku tersenyum. Spontan wajahku memerah sempurna mendengarnya. Diikuti irama jantung memelukku.
"Kamu sangat manis!" Sebuah kecupan aku rasakan di bibirku. Kecupan cukup lama, beda kenyal sangat aku rasa menempel dan semakin lama semakin menuntut lebih. Aku membukakan mulutku, membiarkan senorita menjelajahi disana. Tidak peduli betapa banyak sudah air liar keluar.
*
Author POV
Ini jauh lebih menggoda menggoyang jantungnya sudah berdetak sangat kencang. Rintikan air yang masih berada di d**a sixpack Varrel bertambah membuat jantung Zahra seakan ingin berhenti.
Rasanya nafasnya begitu sesak seolah olah ia begitu susah menarik dan menghembuskan nafasnya. Hingga beberapa saat kemudian mata Varrel berhasil menangkap mata Zahra yang sudah dari tadi memperhatikannya. Seulas senyuman langsung tersungging di bibirnya.
"Sayang kamu kenapa? Kok ngiler gitu??goda Varrel tersenyum kecil.
"Ah-ahhhhh .... A-apa, apa? Kamu bilang apa barusan?" tanya Zahra sontak tersadar.
"Apa? apa? Kamu tadi terpesona dengan ketampanan ku buka??" terka Varrel sembari melangkah dua langkah kedepan berhadapan tepat didepan Zahra.
"Enak aja, si-Siapa bilang aku aku terus pesona. Enggak kok, A-Aku B aja." sahut Zahra sembari sedikit mengusurkan tubuhnya kebelakang. Wajahnya seketika mera merona ketahuan.
"Kalau B aja lalu kenapa kamu jadi gugup seperti itu, Hem." ucap Varrel secara perlahan-lahan ia menurutkan badannya mengenai Zahra. Membuat istrinya berada dibawah belah dadanya. kedua tangannya menopang di atas ranjang.
Jantung Zahra seakan meledak bagaikan di bom, matanya kini dengan sangat jelas memperhatikan bidang d**a sixpack Varrel yang hanya berjarak kisaran 5 cm saja.
Nafasnya seakan memburu naik turun tidak beraturan. Tanpa berkedip Zahra menelan ludahnya kesekian kalinya. Hormon nafsunya sontak naik drastis. Bau aroma maskulin yang tercium semakin membuat Zahra terbuai.
Kini lirikan matanya berpindah menatap kearah roti sobek yang kembang kempis itu, Pikiran kotornya langsung terbayang begitu saja. Sebagai penggemar cogan Zahra tidak bisa melihat yang satu ini. Rasanya ia begitu ingin menyentuhnya namun dengan cepat Zahra mengendalikan dirinya.
"Sayang, apa kamu sudah siap, aku berjanji akan membuatmu puas tiada tara. Kamu akan medesah nikmat, permainan ku akan membuat kamu ketagihan sayang." bisik Varrel begitu lembut mengalun menggoda iman.
"Varrel." Zahra yang sudah tidak bisa menahan nafsu hormonnya dengan gerak cepat mendorong tubuh Varrel agar menjauh darinya, serasa oksigennya sudah habis dan sangat butuh udara segar.
Varrel yang melihat Zahra seperti itupun malah tersenyum senang, rasanya ia belum puas menggoda istrinya.
Dengan penuh hati-hati Varrel mengayunkan ke-dua tangannya memegang handuk yang membaluti sebagai tubuhnya itu.
"Mas k-kamu mau ngapain." seketika mata Zahra membulat, ludahnya kembali tertelan.
"Menurutmu, apa yang akan aku lakukan?" Tanya balik Varrel sembari melepaskan handuk yang membaluti area pinggangnya. Ya, karena tadi ia sempat ke kamat mandi membuang hajatnya, namun sayang bajunya malah terkena banyak ceprikan air, sehingga mengharuskan dia untuk melepaskan kain yang melekatkan ditubuhnya.
"Varrel ...." sontak Zahra berteriak tanpa pikir panjang menutup matanya rapat-rapat, Varrel yang melihat itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha ...." Varrel tidak henti-hentinya tertawa.
"Mas apa yang kamu lakukan?" gerutu Zahra dengan tangan masih menutupi wajahnya.
"Emangnya kamu pikir aku sedang ngapain?"
"Mas berhentilah bermain-main. Cepat pakaikan celana mu."
"Makannya lihat sayang apa aku udah memakaikan celana apa belum jangan menutup matamu seperti itu. Lagipula kamu sudah melihat semuanya bukan." tutur Varrel masih tertawa.
Zahra yang mendengar itu secara perlahan-lahan ia menurunkan tangannya mencoba melihat bagaimana keadaan suaminya sekarang. Wajahnya sudah merah seperti tomat sudah siap dipanen kan.
"Lihat Aku sudah memakaikan celana, kenapa kamu menutupi wajahmu seperti itu sampai merah hem." Goda Varrel lagi.
"Au ah gelap" Zahra mengerucutkan bibirnya, teryata benar kalau Varrel memang sudah memakai celana pendek. Dengan penuh kesal Zahra pun beranjak bangkit dari pinggir ranjang dengan tergesah-gesah ia memasuki kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Zahra menatap dirinya dari pantulan cermin, dia berdiri tepat didepan wastafel melihat wajahnya yang merah merona. Dia seakan malu ke ubun-ubun sekarang. Teryata Varrel hanya menggoda dirinya.
"Dasar pria tidak tau malu beraninya kamu menggodaku. Awas aja mas aku akan membalasmu." guma Zahra.
Beberapa menit kemudian, setelah menghabiskan waktu kurang lebih 10 menit dalam kamar mandi akhirnya Zahra keluar.
Namun sebelum itu Zahra terlebih dahulu mengintip Varrel, ia ingin melihat apakah suaminya sudah pergi kembali kerja apa belum.
Dan ternyata belum, Varrel terlihat duduk atas ranjang bersandar di headboard. Pandangan matanya tertuju pada layar ponsel yang ia pegang.
Zahra tersenyum licik, ia sedikit berdehem seolah olah mengabarkan kalau dia sudah selesai dalam kamar mandi. Langkah kakinya yang kecil secara berangsur-angsur ia layangkang.
Dengan tangannya yang mengibak rambutnya sedikit basa ke arah samping. Memperlihatkan kemulusan leher jenjangnya itu.
Sedangkan bibir bawahnya sudah digigit dengan kasar. klik, tepat saat Varrel menatap kearahnya Zahra mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu menggodaku?" tanya Varrel to the poin.
"Tidak. Aku tidak sedang menggoda mu, tapi kalau kamu merasa tergoda itu wajar karena aku memang perempuan penggoda." sahut Zahra dengan nada sangat seksi.
Tangannya yang sebelah kiri mengelus ngelus lembu pahanya yang putih bersih itu. "Mas, aku bisa memuaskan mu jikalau kau mau. Aku juga bisa membuat kamu jauh lebih merasakan kenikmatan surga dunia." bisik Zahra dengan nada centil, berusaha menggoda harimau buas.
"Benarkah, kau akan memuaskan ku?" tanya Varrel tersenyum kecil.
"Iya, apa kamu pikir aku tidak bisa bermain di atas ranjang, Hem. Aku ini jauh lebih hebat dari pada wanita p*****r manapun." tukas Zahra yang sudah tidak menyadari kalau dirinya sekarang sudah benar-benar berada dalam kerangkeng harimau.
Rasakan, sekarang kamu menerima akibatnya bukan hahahaha, siapa suruh mengerjai ku. Emang kamu pikir aku tidak mengerjaimu. Kamu suka sekali bukan membuat jantungku rasanya ingin copot berhenti berdetak.
"Tapi aku masih belum percaya sayang. Kamu pasti akan menangis nantinya memohon ampun." ujar Varrel memancing mancing Zahra agar lebih lagi masuk kedalam perangkatnya.
"Apa kamu piki aku tidak tau, kamu sedang ingin membalas ku bukan. hehehe, tapi aku akan mewujudkan apa yang kamu katakan barusan sayang." Batin Varrel
"Kamu masih belum percaya, Baiklah akan aku buktikan." secara perlahan-lahan dengan gaya seksi Zahra menurunkan kemeja formal yang ia gunakan. Satu demi satu kancing kemejanya ia bukakan.
Tunggu, tunggu. Kalau aku melepaskannya itu berarti sama saja aku menyerahkan diriku sendiri tidak, tidak.
"Hem'em, aku rasa sudah cukup sampai disini." Zahra memakaikan kembali kancing kemejanya. "Aku rasa aku harus kembali bekerja, Bu Sinta pasti akan marah nanti kalau aku bermain-main bukanya bekerja.
"Tidak bisa semudah itu sayang, bukankah aku sudah bilang. Disini aku bosnya" Varrel yang melihat itu dengan gerak cepat menarik Zahra dan menindihnya. Setelah itu tanpa sabar ia melepaskan kain yang membaluti tubuh istrinya.
"Mas" Mata Zahra membulat sempurna.
"Suuttttt... Jangan berbisik, nanti suaramu didengar oleh orang." jari telunjuk Varrel mengatupkan belahan bibir seksi Zahra.
"Hahhhhh...." Varrel menelan ludahnya begitu kasar, kedua gunung kembar berwarna putih sangat jelas berada di depan matanya.
Secara bergiliran Varrel menamkan tanda kepemilikan sampai ia merasa puas lalu setelah itu baru berpaling dileher jenjang mulus Zahra.
Sedangkan kedua tangannya memainkan kedua gunung itu. Zahra yang ingin menolak tapi sudah tidak kuat lagi, hormon nafsunya kini sudah menjelajah keseluruh tubuhnya.
"Ahhhhh...." Akhirnya Zahra mengeluarkan desahan, permainan Varrel benar-benar membuat ia lupa diri.
Kedua tangan Zahra dengan bergelayut manja dileher Varrel, sesekali ia menjambak rambut suaminya itu.
Kini kedua bibir mereka menyatu begitu dalam. Saling melum**.
"Hahhhh Hahhhh Hahhhh." suara nafas Zahra begitu terengah-engah setelah Varrel mengentikan ciuman panasnya.
Varrel beranjak bangkit, melepas kasar baju yang ia kenakan dan membuatnya sembarang arah, begitu juga dengan kain yang membaluti area pinggangnya. Kini dirinya bertelanjang bulat-bulat di depan Zahra.
Glukkk...
Untuk kesekian kalinya Zahra menelan ludahnya lagi. Manik-manik matanya dengan sangat jelas melihat sesuatu yang bulat, besar nam panjang sedang mengarah kearahnya. Berdiri kokoh rasanya ingin menerjangnya.
Varrel dengan penuh lembut kembali menindih Zahra, mengangkat kan kedua paha putih mulus Istrinya lalu meletakkan kedua paha putih itu di atas pundaknya.
Setelah itu secara perlahan-lahan ia mencoba membukakan pintu nikmatnya surgawi yang tiada tara itu. Satu dua sampai tiga kali sudah Varrel mencoba tapi masih tetap tidak bisa. Hal itu membuat ia berdecak kesal.
"Sayang mungkin ini agak sedikit sakit tapi tahanlah, nanti sakitnya akan menjadi nikmat." ucap Varrel yang mendapat anggukan dari Zahra.
"Aaahhhkkk..." Zahra menjerit bukan main saat benda tumpul itu berhasil masuk kedalam surga dunia. Kedua tangannya meremas kasar sprei bewarna putih cerah itu, diikuti kepalanya yang terperangah ke atas karena menahan rasa nyeri.
Darah segar seketika mengalir begitu saja. Varrel tersenyum puas lalu secara perlahan-lahan ia mengayunkan pinggulnya.
Bersambung ....