kamar tidur

1206 Words
Author POV Suasana diruangan Varrel terlihat canggung, setelah beberapa saat mereka berbicara dan terjadilah keheningan yang melanda. Berbeda halnya dengan Zahra yang duduk dia di sofa sedangkan Varrel, sabuk berkutik dengan ponselnya. Sesekali Zahra mencoba melirik namun sayangnya disaat lirikannya yang entah keberapa kali malah diketahui oleh Varrel. Dia tersenyum kecil lalu memperlihatkan apa yang sedang ia baca dilayar ponsel. "Ini saham, sayang. Aku lagi membaca saham perusahaan dari kantor cabang. Kamu mau membacanya?" tanya Varrel yang secara spontan mendapat gelengan kepala dari wanita itu. "Aku enggak bisa! Aku tidak mengerti tentang saham!" jawab Zahra seadanya. Dan memang benar dia tidak terlalu pandai dalam dunia saham. Mungkin dengan bisnis masih bisa ia ketahui. "Kamu tidak akan mengerti kalau kamu tidak melihatnya. Ayo lihatnya!" "Tapi--" "Coba dilihat dulu, dulu aku juga sama sepertimu tidak tau tentang saham, aku belajar secara perlahan-lahan kini aku tau. Jadi kamu juga harus belajar agar kamu tau!" Kata Varrel final dan itu tidak ada penolakan. Zahra menghela nafas panjang ia mulai melirik ke layar ponsel sungguh, dia benar-benar tidak paham. "Itu angka deposit dari kantor cabang A. Sedangkan dibawanya pengelola rata-rata pemasukan dan pengeluaran setia perbulannya. Sedangkan di dibawahnya lagu itu harga satuan saham pesetiap produk yang dikucurkan. Minimal harus 2 persen dari salam awal dinaikan ke deposit internasional. Untuk menghitung keuntungan dan rugi!" Jelas Varrel, Zahra hanya bisa Manggut-manggut pertanda mengerti tapi pada dasarnya dia masih bingung dan tidak paham apa yang dikatakan oleh suaminya ini. Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat keduanya tersadar. "Masuk!" Kata Varrel memberikan izin masuk sembari menekan remote control otomatis pembuka pintu, ya karena tadi Varrel menguncikan pintu. Sosok Sinta langsung keluar dari balik pintu dengan beberapa kotak makanan berada ditangannya. "Ini tuan!" Kata Sinta menaruh makanan yang ia bawa diatas meja. Lalu ekor matanya menatap Varrel dan Zahra terlihat terkesiap. "Kamu, ngapain kamu ada disini?" tanya Sinta kepada Zahra. "A-Aku!" "Aku ingin makan, nanti kita saja bicara!" Potong Varrel, Sinta mengangguk mengiyakan. Ekor matanya masih menatap Zahra dan berbagai pertanyaan sebelum benar-benar ia akan pergi dari ruangan Varrel. "Dia Sinta, teman sekaligus sekretaris yang aku percayai. Kami satu kampus di Amerika!" kata Varrel memecahkan yang terjadi beberapa saat sembari membukakan kota makanan. "Makanlah, kamu pasti lapar kan!" kata Varrel, Zahra hanya mengangguk pelan lalu mulai mengambil sendok dan memakan makanya itu. *** Kantin. "Ram, gue masih penasaran sama Varrel, saat dia hilang secara tiba-tiba setelah gua kasi obat perangsang. Dan yang lebih parahnya lagi saat itu dia ke kantor seperti itu. Gue heran banget, padahal saat itu gue ngasih obat perangsang dengan kadar tinggi. Dan gue bisa pastikan Varrel harus benar-benar melakukan hubungan intim kalau tidak tubuhnya akan mengalami depresi." Ucap Dira masih terngiang keherana dalam benaknya. "Gue juga berpikir seperti itu Ra, bisa-bisa Varrel pergi tanpa sepengetahuan kita. Padahal semua rencana sudah siap dengan matang." balas Rama menyuguhkan kopi hangat yang ia pesan tadi. "Eh, itu siapa wanita siapa sih? Kok gue baru lihat, dan Lo bilang tadi apa saudaranya Varrel. Saudara yang mana, seingat geu dia gak punya saudara karena memang papa dan mamanya adalah anak tunggal, jadi saudara dariman coba?" "Gue juga lagi mikirin itu Ra, gue benar-benar gak paham, gue juga terkejut kalau Varrel teryata punya saudara dan cantik seperti Zahra." balas Rama. "Apa saudaranya kerja disini, Lo ketemu dia dimana?" "Gue belum tau dia kerja ada kerja di sini apa enggak. Kan Lo yang kerja di sini, mana gue tau!" "Ya kan Lo yang bilang tadi kalau tu cewek saudara Varrel, jadikan gue penasaran. Siapa sih namanya tadi Lo bilang?" "Zahra, pertama gue bertemu dia di cafe ngebet banget mau masuk kedalam ruangan VVIP. Dan sekarang gue tadi bertemu dia di lantai ruangan kalian dia tiba-tiba aja nangis, makanya gue ajak kesini." Jelas Rama seadanya. "Nagis, nagis kenapa?" Tanya Dira semakin dilandasi penasaran tingkat akut. "Ya mana gue tau, kan gue dah bilang saat gue mau ketemu lu pada dia udah ada di balik dinding sambil nagis meluk gue! Gue aja terkejut kenapa dua meluk gue secara tiba-tiba seperti itu!" Jawab Rama sembari mengangguk benar tidak paham. "Sudah lupakan tu cewek lebih baik sekarang Lo mikir susun rencana apa kek gitu buat Varrel klepek-klepek sama gua. Capek gue lama-lama mencintai dia Mulu tanpa dia sadar dari dulu. Gue udah berusaha eh dia malam menjauhi gue pakek pindah kampus lagi buat hindari gue. Apa gue segitu tak pantasnya bersanding dengannya. Gue kurang apa coba Ram. Gue itu cantik, badan gue bagus. Tinggi dan bahkan masuk model aja gue sampai di cari-cari oleh pihak perusahaan. Lah si Varrel mudah banget nolak gue begitu aja." Keluh Dira panjang lebar, dia langsung terlihat lesu dengan pandangan menunduk kebawah. "Eh Lo ngapain nagis, udah nanti bakal gue bantuin Lo. Gue bakal mikir caranya lagi." Kata Varrel. "Padahal gue disini Ra. Gue disini yang mencintai Lo sejak lama dan gue disini yang selalu ada buat lu. Walau lu tidak pernah melirik gue, dan bahkan gue yang membantu lu agar lu dan Varrel bersatu. Andai lu tau Ra, bagaimana perasaan gue selalu sakit ketika lu bilang dengan mudahnya kalau lu mencintai Varrel. Sakit hati gue Ra, gue bukan pria kuat dan gue gak mau berlarut larut dalam kesedihan cinta bertepuk sebelah tangan ini. Lebih baik gue meleraka lu sama Varrel. Karena gue yakin lu pasti bakal bahagia kalau nikah sama dia. Dan lagi dia punya segalanya, dia memiliki segalanya dan harta yang melimpah, sementara gue masih beban orang tua. Gue takut kalau lu sama gue, gue gak bisa membahagiakan lu Ra. Gue sadar diri siapa gue dan siapa Varrel. Maka dari itu gue bakal berusaha melupakan lu Ra!" Batin Rama panjang lebar. "Woi malah bengong aja lu, bukanya mikir cara!" Tukas Dira sembari memukul pelan bahu Rama, pria itu terlihat melamun kan sesuatu. "Aaahhh iya. Tenang aja, gua bakal mikir cara yang lebih ampuh buat lu supaya bikin Varrel jatuh cinta sama lu!" Kata Rama. "Apaan, lu udah nemuin caranya. Gimana?" "Ya, belum kan gua lagi mikir masak langsung jadi!" Ketus Rama. "Ye, lelet amat lu!" "Sabar, namanya otak gue dibawah rata-rata!" "Makanya sering-sering minum Paramex!" "Supaya pintar?" "Supaya cepat ninggol!" "Astaghfirullah Dira!" "Gue bercanda!" "Canda Lo ga asik, gua masih mau hidup!" "Iya iya, gue mintak maaf!" "Perkataan itu adalah doa!" *** Sementara diruangan pak CEO, kini Varrel dan Zahra sudah siap dalam makanan mereka masing-masing. Zahra yang merasa kenyang berencana hendak bangkit dari sofa dan pergi kembali bekerja. Apalagi saat ia melirik jam, dan teryata jam makan siang sudah dua puluh lima menit lalu habis. "Mau kemana?" tanya Varrel mencegah sembari memegang tangan Zahra. "Mau kembali berkerja!" jawab Zahra santai. "Siapa yang menyuruhmu kembali?" "Tapi ini sudah dua puluh lima menit lalu waktu makan siang habis!" "Kan aku udah bilang disini aku bosnya, dan kamu istri Bos, jadi kalau kamu mau terlambat atau tidak masuk sekalian gak akan ada yang marahin!" "Tapi---" "Suuuttt, duduklah tetaplah disini. Kamu harus dihukum dulu karena membuat aku kesal tadi melihat kamu bersama Rama!" "Dihukum!" "Iya, ayo cepat sini ikut aku!" Varrel menarik tangan Zahra lembut. Membawa wanita itu ke salah satu pintu berwarna coklat disana. Dan tak kala terbuka mata Zahra langsung melotot, sebuah ruangan kamar cukup besar disana terpapang jelas. "Ayo masuk!" ajak Varrel tersembunyi kecil lalu lalu tak lupa ia menguncikan pintu dari dalam. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD