istri Bos

1060 Words
Zahra POV "Mau ikut aku kantin, sekarang sudah saatnya makan siang bukan. Kamu pasti lapar ayo!" Ajak Rama, aku menoleh menatap wajahnya. "Iya!" mungkin saja setelah bersama Rama aku bisa melupakan Varrel walaupun hanya sejenak, tapi sungguh aku ingin melupakan kejadian tadi. Hatiku masih sakit memikirkan Varrel, apa dia sungguh-sungguh berselingkuh di belakangku. Kenapa, sudah sejak kapan mereka berhubungan. Kenapa aku tidak tau. Apa mereka sudah lama berpacaran. Tega sekali kamu Varrel. Aku tidak bersuara lagi. Tubuhku hanya melangkah kearah mana Rama membawaku. Aku hanya tau sekarang aku sudah dilantai 20 menuju kantin kantor terlihat ramai. Ekor mataku melirik mencoba melihat Intan dan Justin tapi masih aku masih belum menemukan mereka. Mungkin karena rame. "Yok, kita duduk bergabung disana?" Kata Rama dia menarikku, mengenggam tanganku. Membuat para pasang mata menatap minat kearahku, kesal, sedih semuanya bercampur. Aku yang tau merasa diperhatikan berusaha melepaskan tanganku. Hingga tanpa aku sadari aku sudah berada di sebuah meja. Kedua bola mataku melotot sempurna, manik-manik mataku seketika terkejut bukan main. Teryata aku sedang berhadapan dengan Varrel, dia sedang makan bersama wanita yang aku lihat tadi. Bahkan mereka terlihat romantis saat makan. "Hai, boleh gabung?" tanya Rama melepaskan genggaman tangannya menarik satu kursi untuk aku duduki. "Tentu!" Wanita itu tersenyum sinis kepadaku, jelas dari raut wajah yang dia tunjukkan, sangat tidak bersahabat. "Terimakasih!"balasku pada Rama dia juga langsung duduk di kursi kosong sebelahnya Varrel. Varrel menatap beku sorot matanya menajam menusuk seolah-olah siap menerkam diriku hidup-hidup. Aku menelan salivaku kasar. "Siapa dia Ram?" suara wanita disebelah Varrel mulai berbicara. "Kamu pasti akan terkejut mendengarnya. Dia adalah saudara Varrel!" Kata Rama seolah-olah tidak ada beban sama sekali. Ya, jelas disini yang ada beban adalah aku dan Varrel. "Ikut aku!" Kata Varrel dingin namun terkesan menusuk dia berjalan melangkah duluan. "Rel, kamu mau kemana?" Tanya wanita itu lagi, tidak ada jawaban. Aku melangkah berdiri dan tanpa bicara apapun langsung pergi menunju langkah Varrel melangkah. Dia menaiki lift, menunggu sosok kehadiranku. Aku tertegun dengan langkah cepat sebelum pintu lift itu tertutup aku mendekati. "Masuk!" katanya, aku berhasil masuk sebelum pintu lift itu tertutup sepenuhnya. Tidak ada percakapan diantara kami, kecuali kami saling diam dalam keheningan yang melanda, begitupun juga dengan aku. Sesekali mencuri-curi pandang. Tunggu, tunggu kenapa aku seolah-olah takut dengannya. Bukankah disini, dia paling bersalah. Dia selingkuh dibelakangku tanpa tanpa aku sadari. Tig Suara pintu lift terbuka lebar, aku melihat dimana sekarang ini, dan teryata ini lantai dimana aku melihat wanita itu bermanja dengan suamiku. Aku masih melangkah, menuntun langkah panjang Varrel yang menuntun. Aku membaca ruangan CEO, tanpa aba-aba Varrel menarikku masuk kedalam ruangan itu. Lalu menguncinya dari dalam. Dia masih dia, menatap tajam kearah ku. Bahkan manik-manik matanya semakin mengerikan bagaikan elang selangkah demi selangkah dia mulai mendekatiku. "Apa ada sesuatu yang ingin kau jelaskan padaku?" Tanyanya masih terdengar dengan nada yang sama. Dingin, sangat dingin. "A-Aku!" Aku berusaha mengumpulkan kekuatan. Aku memundurkan langkahku, hingga tanpa aku sadari kini sudah menghadang dinding. "Jawab kenapa bisa kau ada disini? Dan kenapa bisa kau bersama Rama?!" Tanya Varrel kali ini dengan suara begitu menakutkan. "A-Aku, aku sudah bekerja disini!" Jawabku sedikit terbata-bata. "Bekerja?" dia mengerutkan keningnya. "Sejak kapan? Apa kamu sudah kekurangan uang dariku, hingga bekerja lagi. Apa uang yang aku kasih masih belum cukup untuk kamu habiskan?!" tanya Varrel dia mendekatiku, sangat dekat. Hingga hembusan nafasnya pun sangat jelas terasa salah hidungku. Bau maskulin dalam dirinya juga. "Apa, apa salah aku berkerja. Apa salah aku membuang rasa bosanku dengan berkerja, kenapa kamu marah? Berteriak seperti itu kepadaku? Apa karena kamu takut hubunganmu dengan wanita itu aku ketahui. Kamu takut perselingkuhanmu terbongkar olehku. Sekarang aku tau kemana kamu selama ini, kamu selalu pulang larut malam itu karena kamu menghabiskan banyak waktu dengannya bukan. Jawab!" Seruku dengan nada lebih menantang dari sebelumnya. Varrel mengerutkan keningnya wajahnya terlihat mengintimidasi menatap kearahku. "Selingkuh, dengan wanita lain. Maksudmu Dira?" Tanyanya, Dira aku tidak tau siapa namanya, melihatnya saja baru kali ini. "Iya, aku melihat dengan kepalaku sendiri. Kamu kalian bermesraan, bahkan aku pernah melihatmu makan siang dengannya di cafe wanita itu. Aku tidak mempermasalahkannya karena memang waktu itu aku masih sadar siapa diriku bagimu, tapi dengan melihatnya tadi aku semakin yakin kalau kamu ada apa-apa dengannya. Tidak mungkin kan, dia bermanja-manja denganmu kalau kalian tidak apa-apa!" Kataku, dengan bersusah payah menahan bendungan agar tidak terjatuh. "Dia hanya temanku, teman masa kecilku!" Jawab Varrel, ia sedikit mulai menjauh dariku. "Ya, teman. Teman yang bisa bermesraan, teman yang bisa melakukan apa saja bukan!" "Kamu cemburu?" tanya Varrel menyela pembicaraan ku. Manik-manik matanya kembali menatap kearahku. "Iya, aku cemburu, dia bisa bermanja-manja dengan suamiku. Sedangkan aku sendiri tidak pernah dimanjakan oleh suamiku sendiri. Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya berdekatan dengan wanita lain, dan bahkan itu sangat mesra!" Kataku akhirnya bendungan yang aku tahan terjatuh juga. "Aku dengannya hanya sebatas teman tidak lebih. Dia hanya temanku sejak kecil," ucap Varrel, entah aku harus percaya atau tidak. "Ok, begini saja. Kamu tau aku juga cemburu melihat kamu dekat dengan laki-laki lain selain dengan diriku. Termasuk Rama, jauhi dia jangan pernah dekat dengannya begitupun juga dengan aku, aku janji akan menjaga jarak dengan Dira." Sambung Varrel sembari memegang kedua bahuku dengan tangannya. "Jangan menangis, maafkan aku!" dia membawaku kedalam pelukannya. Membenamkan dirimu dalam tubuhnya. "Aku tidak ingin kita bertengkar lagi!" "Aku juga!" balasku. "Sudah jangan nagis lagi, kamu belum makan kan, aku akan memesankan makanan untuk kita!" Katanya masih memelukku erat. "Tapi sebentar lagi waktu makan siang akan berakhir!" "Disini aku bosnya, jadi aku yang mengaturnya. Khusus buat kamu bebas!" satu kecupan aku rasakan di keningku. "Apa aku boleh datang terlambat ke kantor?" tanyaku kini aku sudah merenggang kan pelukan dan menghapus semua air mata yang sempat terjatuh. "Tentu, kamu istri Bos!" Jawab Varrel, entah kenapa jawabnya membuatku tersenyum sendiri. "Benarkah?" "Hm, sebentar aku akan meminta Sinta untuk memesankan kita makanan!" Varrel mengambilkan ponselnya, lalu meletakkan ponsel itu didaun telinganya. "Halo, Sinta. Pesanan aku makanan siang. Lalu bawa masuk kedalam ruanganku. Dan ingat jangan ada masuk kedalam ruanganku!" kata Varrel penuh ketegasan. Aku tidak menyangka, ini seperti mimpi bagiku, aku bekerja ditempat suamiku sendiri. Oh Tuhan dunia ini terasa sangat sempit. Aku tidak menyangka kalau aku istri dari seorang tuan besar. Papa pernah bilang padaku, kalau Varrel akan menjadi penerus ayahnya di perusahaan. Tapi aku tidak menyangka kalau perusahaan Varrel akan sebesar dan semega ini. Teryata suamiku adalah orang besar. Astaga aku baru tau. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD