apa kamu selingkuh

1053 Words
POV Zahra. Tanpa terasa kini jarum jam telah menunjukkan pukul setengah satu siang. Ini adalah pengalaman pertamaku di dunia bisnis. Walaupun aku tidak terlalu mahir namun labuh kurang otakku masih bisa diandalkan. "Zahra!" suara keras Intan mengangetkan ku. Anak itu, hampir saja aku mati karena ulahnya. "Tan, bisa tidak pelan kan suaramu. Itu sangat tinggi, dan kamu hampir saja membuat aku jantungan. Kamu mau aku mati muda!" Tukasku, sementara yang ajak bicara malah cengar-cengir gak jelas di sampingku. "Hehehe maaf sayangku, habisnya aku senang banget kamu bisa kerja hari ini juga!" Katanya. "Hem, yalah tuh." "Eh kamu dapat tugas apa hari ini?" Tanya Intan ekor matanya melirik kearah meja kerjaku terlihat kosong. "Belum, aku hanya bantu memeriksa instrumen produk kosmetik tadi melalui email. Mungkin besok aku akan dapat tugasku. "Hm iya sih, kamu kan masih baru. Aku juga kemaren begitu." Intan. "Eh Ra, udah jam makan siang ini. Mending kita cari makan aja yok? Di kantin!" Ajak Intan, astaga perasaan aku baru tadi bekerja sudah jadwal makan siang aja. Cepat amat jalan waktunya. "Eh ada Intan, hai Intan, hai Zahra!" sapa Justin yang tiba-tiba datang menghampiri. "Hai!" Balas Intan dan aku secara kompak. "Tumben Tan, main di humas kelas B?" tanya Justin. "Iya, soalnya anak Zahra ini teman ku. Makanya aku main ke sini!" "Benarkah!" "Iya!, Eh yok kita pergi kantin bareng!" "Boleh tu, yok!" Ajak Justin lagi, mereka berdua secara kompak bersuara. Intan langsung menarik tanganku menuntun kearah pintu lift. Anak itu, hahhh aku hanya bisa pasrah mengikuti mereka berdua lagian aku tidak tau menahu di di perusahaan ini. "Bu Zahra!" Panggil seorang wanita yang berada dibelakang kami. Secara spontan kami menoleh bersamaan. "Iya!" Sahutku menatap wanita itu. Wanita asing yang belum pernah aku temui. "Ibu dipanggil ke ruangan Bu Sinta sekarang!" Kata wanita itu, aku menaikan alisku. Sinta, aku belum pernah mendengar namanya. "Dia sekretaris pak CEO. Cepat gih, kamu harus menemuinya, mungkin akan diberikan tugas khusus, kamu kan bagian itu!" Kata Intan. "Baiklah, tapi dimana ruangannya. Tan temani aku yok!" Pintaku yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari wanita itu. "Tidak bisa Ra, itu lantai khusu pak CEO. Kamu tidak bisa pergi kesana kalau tidak di panggil. Dan lagi, siapa yang di panggil dialah sendiri yang harus pergi. Tidak boleh mengajak orang lain. Aku aja susah hampir enam bulan disini, baru dua kali aku pergi kesana!" Jelas Intan membuat aku menghela nafas panjang. "Iya, lantai lima puluh. Nanti disana kamu langsung akan mendapatkan ruangan Bu Sinta pertama kalinya!" Timpal Justin. "Baiklah, aku akan pergi sendiri!" Balasku pasrah. "Semangat, kamu bisa. Kalau begitu kamu pergi kantin duluan. Ada dilantai bawah, lantai 20. Ok!" Kata Intan sebelum sesaat dia dan Justin melengos pergi masuk kedalam lift. * Lantai lima puluh, aku baru saja menginjakkan kakiku disana, setelah pintu lift terbuka dan menampakannya ruangan begitu indah bak hotel bintang lima. Aku langsung disuguhi oleh ruangan tamu disebelah sana lalu berselang itu ruangan sekretaris Sinta. Nama itu tertulis jelas di depan pintu. Aku bergegas hendak mengetuk pintu berlapis kaca itu. Namun tanpa sengaja ekor mataku melirik kearah sana, manangkap sosok pria yang sangat aku kenal sedang masuk kedalam ruangan yang aku baca ruangan Presdir atau CEO. "Varrel!" Gumamku terkesiap melihat suamiku disana. Apa yang dilakukan disini, dan ruangan itu. Kenapa dia masuk kesana? Pikiranku bertanya-tanya. Lalu aku kembali melihat kearah sana, terlihat Varrel hendak keluar. Aku yang melihat itu segera berlari kecil bersembunyi dibalik tembok. Secara diam-diam aku memperhatikan suamiku, sepertinya dia tidak melihatku. Lalu tak lama kemudian aku spontan membulatkan kedua bola mataku melihatnya, sosok wanita cantik nam seksi bergelayut manja di lengannya. Bahkan Varrel terlihat biasa saja, tidak menolaknya. Duggg jantungku berdetak kencang, seolah-olah ada tombak besar menusuknya. Hatiku begitu peri, "jadi selama ini dia selingkuh dibelakangku!" Batinku. Mereka berus masih belum menyadari keberadaanku lalu dengan santainya masuk kedalam pintu lift. Sementara aku sudah sesak menahan bendungan air mata. "Aku pikir dia sudah berubah dan mulai mencintaiku. Tapi teryata aku salah dibelakang ku dia bermain dengan wanita lain. tega kamu mas, tega!" Kuhapus air mata itu kasar. Aku tidak boleh lemah dan cengeng seperti itu. Kalau tidak mereka pasti akan semakin menginjak-injak harga diriku. Tok Tok Tok Setelah merasa cukup puas aku menagis gara-gara mereka aku memilih mengetuk pintu ruangan Bu Sinta. Tidak lama, beberapa saat kemudian. Setelah mendapatkan instrumen masuk barulah aku masuk kedalam ruangan itu. Sosok wanita muda langsung menungging kan senyuman kecilnya padaku. "Kamu Zahra kan, karyawan baru yang masuk hari ini?" tanyanya padaku. Aku mengangguk cepat sebagai jawaban, sembari berusaha menutup kesedihan yang aku rasakan ini. "Iya, Bu Sinta. Saya Zahra!" "Kalau begitu sini, ini ada beberapa berkas mengenai rancangan tender bulan lalu, dan ini rangan tender bulan ini. Jadi aku kau, kamu mempelajari dulu rancangan tender bulan lalu, setelah paham buatan sketsa yang bagus secara terperinci untuk tender bukan ini. Bagiamana kamu bisa?" Tanya Bu Sinta. Sesaat aku diam, lalu mengangguk sebagai jawabannya. "Bisa Bu!" jawabku. "Bagus, ini pekerja pertamamu di perusahaan ini, jadi lakukanlah sebagian mungkin ya. Jangan ada kesalahan." Pintanya, dan lagi-lagi aku mengangguk sebagai jawaban. Bagus, kalau begitu, kamu bisa pergi. Ini sudah waktunya makan siang, kamu belum makan kan?" Aku kembali mengangguk. Tanpa menjawab lagi aku mengambil tumpukan berkas yang di tawarkan tunjukkan tadi oleh Bu Sinta. "Saya pamit mohon undur diri!" Pemiku lalu langsung melangkah pergi. Setelah aku berhasil menutup pintu ruangan Bu Sinta. Aku kembali menetes kan air mata, apa yang aku lihat tadi kembali berbekas di ingatanku. Cukup lama aku menangis, sedih disana. Kurasa Bu Sinta tidak mendengarkan suara tangisanku. "Kau baik-baik saja?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja tanpa aku sadari susah berdiri di depanku. Aku mendongkrakkan kepalaku melihat, Rama. Spontan aku memeluknya erat, menumpahkan tangisanku padanya. Rama tidak menolak, kurasakan dia malah membalas pelukanku hangat. Cukup lama kami diam saling berpelukan setelah aku merasa tenang barulah aku merenggangkan pelukanku. "Terima kasih," Ucapku pelan, kuyakin dia bisa mendengarnya dengan jelas. "Kamu baik-baik saja?" tanya Rama. Aku mengangguk cepat sebagai jawaban. "Iya, aku baik-baik saja!" jawabku seadanya. "Lalu kenapa kamu menagis? Apa kamu berkerja disini? Kamu dipecat? Apa kamu berbuat kesalahan?" Rama bertanya secara berangsur-angsur. "Tidak!" aku menjawab pelan. "Lalu!" "Mataku kelilipan, tadi terus aku sedih. Maaf, aku susah memelukmu tanpa sebab." Tutur ku berasa tidak enak. "Ah santai saja tidak apa-apa. Oh ya, kamu belum makan kan, ini sudah jam makan siang. Ayo kita pergi ke kantin!" Tawar Rama Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD