kesedihan Dira

1790 Words
Author POV Zahra berdiri dengan tenang, ia membuang nafas gusar. Sadar apa yang ia lakukan ini. Tapi dia sama sekali bukan wanita yang bisa seenaknya ditindas, ia tau juga kalau hari ini adalah hari pertamanya masuk kantor, tapi di perlakukan seperti ini tanpa ada alasan yang jelas membuat dia tidak bisa diam diri di tindas seperti ini. Sungguh, Zahra tidak tau apa kesalahannya, dimana letak salahnya hingga membuat dua atasnya ini kesal terhadapnya. "Apa kamu pikir kamu bisa pergi setelah melakukan ini?" kata Dira. "Tolong, kenapa anda melakukan ini kepada saya, apa saya mempunyai kesalahan. Kalaupun ada beritahu kepada saya, tapi jangan anda semena-mena seperti itu kepada saya. Saya sadar saya ini hanya karyawan biasa baru masuk bekerja. Tapi saya juga tidak bakalan terimakasih kalau saya di tindas seperti ini tanpa ada kesalahan yang saya lakukan!" tukas Zahra dengan tampang percaya dirinya. "Kamu tanya dimana kesalahanmu?!" Zahra menganggu cepat. "Katakan kepada saya?" "Karena kau wanita jalang yang ingin merebut calon suaminyaku. Sekarang jawab pertanyaanku, dengan jujur. Apa yang kamu lakukan dengan Varrel didalam ruangannya tadi. Sampai 4 jam kalian didalam ruangan terkunci seperti itu. Katakan padaku apa yang kalian lakukan?!" seru Dira dengan suara begitu lantang. "Dia masih belum sadar kalau aku istri dari bos mereka!" Batin Luna. "Apa yang saya lakukan saya rasa itu tidak perlu saya beritahukan kepada anda, karena itu privasi saya dan tuan Varrel. Jadi kalau anda bertanya apa yang saya lakukan. Maka maafkan saya, tidak bisa menjawab pertanyaan anda ini!" Sahut Luna. "Kalau begitu, mulai saat ini, kamu dipecat. Dan jangan pernah kau menampakan diri mu lagi disini. Apalagi di hadapanku dan Varrel kamu mengerti, atau aku akan membuat kamu menyesal!" ancam Dira. "Anda memecat saya karena saya masuk ke dalam ruangan pak Varrel, hanya gara-gara itu, apa itu bisa dikatakan alasan. Ok baik, kalau memang anda berkuasa. Mulai besok saya tidak akan menginjakkan kaki saya lagi disini. Tapi satu hal yang harus anda tau, anda menyuruh saya tidak menemui tau Varrel. Apa anda pernah bertanya kepadanya tuan Varrel, siapa saya? Dan dengan siapa tuan Varrel tinggal. Mungkin setelah anda tau, anda akan sadar kalau setiap malam, dan setia hari. Aku selalu bertemu dengan taun Varrel. Dan oh ya, satu lagi. Terimakasih atas obat perangsang yang anda taburi kepada taun Varrel, jadi saya bisa merasakan bagaimana nikmatnya surga." Kata Zahra wajahnya memamerkan senyuman manis. "Kauuuu .....!" "Ada apa ini?!" suara Varrel baru keluar dari ruangannya. Terkesiap melihat tiga wanita yang sangat ia kenali sedang berada tepat didepan ruangannya. "Maaf saya masih punya banyak urusan lain! Jadi saja pamit mohon undur diri, permisi!" Zahra melengos pergi menuntun kearah lift. Sementara Dira, yang melihat Kenzo segera menghampiri pria itu, air matanya segera ia tumpahkan, memeluk Kenzo erat. "Dira, apa yang kamu kan?!" Kening Varrel berkerut dalam. "Siapa dia sebenarnya Rel?" Dira melepaskan pelukannya. "Kamu tau, dia wanita begitu kasar, lihat ini!" Tunjuk Dira kearah pipi kanannya yang sudah merah dan sembab. " Dia menamparku dengan kasar, dan dia menghinaku Rel, dia benar-benar wanita tidak punya etika, pipiku sakit Rel. Aku mau kamu menghukumnya. Dia tidak punya moral dan jalang, wanita jalang--" "Cukup Dira, cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi!" sela Varrel kesal. Darahnya seakan naik mendera orang lain berkata rendah kepada istrinya. Bagaimana hanya dia yang bisa berkata seperti itu, tidak orang lain. "Varrel, kamu membelinya, kamu lebih membelanya ketimbang aku. Aku tidak percaya ini Varrel!" Dira terkesiap. "Dia istriku! Jadi aku sangat tidak suka jika ada orang menghina istriku. Siapa itu, aku tidak terima toleransi apapun!" Jelas Varrel tidak mau berkepanjangan lagi lalu dia melengos pergi membiarkan Dira dan Sinta terkejut bukan main disana mendengar apa yang dikatakan Varrel barusan. "Istri!" Gumam dirasa merasa tak percaya. Rasanya hatinya bagaikan disambar petir di siang bolong. Bagaimana bisa pria yang sangat ia cintai teryata sudah memiliki istri. Sahabat yang selama ini ia sayangi telah menikah tanpa sepengetahuannya. Mimpi buruk yang paling ia takutin sekarang telah benar-benar terjadi. "Apa yang dikatakan Varrel barusan. Kau menderanya?" Tanya Dira pada Sinta. Tubuhnya sekarang lemas, rasanya ingin ambruk dilantai. "Aku tidak tau Dira, sumpah demi apapun aku tidak tau. Aku baru mengetahuinya, dia tidak pernah berbicara ataupun memberitahuku kalau dia sudah menikah!" sahut Sinta menelan salivanya kasar. Jelas, dia juga begitu shok mendengarnya. Varrel menikah tanpa sepengetahuannya. Ini benar-benar tidak mungkin. *** Ruangan humas Zahra baru saja tiba disana. Masuk menuju meja kerjanya. Ruangan sudah terlihat sepi. Para anggota lainnya sudah pulang secara beriringan. Hanya beberapa orang ada disana. Justin, pria itu teryata masih disitu. "Zahra!" Panggil Justin terkesiap melihat wanita yang sadari tadi siang ia carikan namun tak kunjung ia temukan. "Iya!" Jawab Zahra santai. Kini dirinya sudah duduk di kursi tempat ia kerja. Mungkin besok, dia tidak akan duduk di sini lagi. Sekretaris Dira sudah memecatnya sepihak. Zahra rasa mungkin kapan-kapan lagi dia akan mencari kerja ditempat lain. Duduk diam diri di rumah, itu adalah hal yang membosankan baginya. Dia tidak mau berdiam diri rumah sendirian. Apalagi Varrel pulang kerumah di jam yang tidak bisa ia tebak sama sekali. "Kamu kemana saja, aku dan Intan dari tadi mencarimu?" Tanya Justin. "Oh, itu, A-Aku keluar kantor tadi, ada sesuatu yang haru aku tangani di kantor cabang. Jadi Bu Sinta menyuruh ku!" bohong Zahra. "Apa? Maksudku. Kenapa bisa kamu disuruh kesana. Kamu kan baru masuk?" Justin menaikkan alisnya. Ya, bagaimana bisa orang yang baru masuk bisa mendapatkan tugas pergi kekantor cabang. Setahunya hanya para senior yang diperbolehkan. "Aku juga tidak tau, tapi itu adalah yang sebenarnya." balas Zahra singkat. Sembari merapikan tempat kerjanya. "Lupakan, kamu mau pulang. Mau aku antar?!" tanya Justin menawarkan diri. "Tidak perlu, aku bisa palang sendiri lagian, rumahku tidak jauh dari kantor. Terimakasih!" tolak Zahra lembut. ***. Lobi kantor, Zahra baru saja tiba disana. Manik-manik matanya menatap ke sembarang arah, mencari sesuatu sosok yang ia harapkan. Ya, sudah tentu Varrel, pria itu yang tadi memintanya untuk pulang bersama. Bimmm Suara clakson mobil terdengar berhenti tak jauh dari Zahra. Zahrah yang mengenali siapa empunya mobil pun langsung menghampiri, Masuk kedalam. "Apa aku terlambat?" Tanya Varrel sebelum sesaat ia menekan pedal gas mobil. "Tidak, aku baru saja keluar?" Sahut Zahra. "Kita pulang mansion utama. Tadi Mama menelpon katanya ingin makan keluarga!" "Benarkah, aku juga sudah lama tidak menemui Mama. Aku sangat merindukannya." balas Zahra. "Iya, Mama juga bilang sangat merindukanmu." Kata Varrel. Mungkin kali ini kali ini kepulangan sedikit berbeda dari sebelumnya. Terasa canggung dan dingin. Berbeda dengan sekarang, keduanya terlihat lebih akrab dan membagi cerita satu sama lain. "Temanmu sangat kasar kepadaku?" Zahra mulai bercerita. "Maksudmu Dira?" tanya Varrel. "Iya, siapa lagi. Dia tiba-tiba saja menarik rambutku saat aku baru dua langkah keluar dari ruanganmu, dan dia juga menamparku!" jelas Zahra. "Lalu, apa kamu membalasnya?" "Tentu, aku membalasnya, emangnya dia pikir dia siapa berhak menamparku seenaknya saja. Aku tidak terima jadi aku menamparnya balas, lebih kasar seperti yang ia tampar kan kepadaku!" kata Zahra terdengar mengadu. Membuat Varrel tersenyum senang. "Kenapa kamu malah tersenyum?" Zahra menaikkan alisnya, entah dia harus suka atau tidak, tapi melihat senyum Varrel barusan membuat dia kesal. "Hehehe, aku hanya senang sayang. Kamu membalasnya!" kata Varrel tak lama ia memarkirkan mobilnya ditepi jalan secara tiba-tiba. "Apa kita sudah sampai? Bukannya tadi kamu bilang kita akan ke mansion utama?" tanya Zahra heran, jelas ini tiba-tiba saja di tengah jalan, bahkan haru sudah gelap. Tanpa menjawab, Varrel mengambil sesuatu yang dari jok mobil. Lalu mendekati wajah Zahra. "Kamu mau ngapain?" "Sssuuttttt, diamlah. Aku akan mengoleskan salep di pipimu. Pipimu bengkak seperti ini, nanti Mama pikir aku kdrt lagi sama kamu!" Kata Varrel menatap Zahra hangat, lalu secara lembut ia mengoleskan salep itu. Tepat di wajah Zahra penuh luka sebam. Zahra tertegun, wajahnya nyaris tidak ada jarang dengan Varrel, ia dengan dengan sangat jelas melihat bentuk wajah suaminya. Bahkan hembusan nafaspun sangat terasa. Duggg Jantung Zahra kembali berdetak kencang tidak seperti biasanya. "Maaf, gara-gara aku kamu jadi seperti ini. Ini salahku, seharusnya aku melindungimu tadi!"sambung Varrel manik-manik matanya beradu dengan Zahra. "Aaahhh, aku tidak apa-apa ini hanya bengkak kecil!" kata Zahra reflek sedikit menjauh dari Varrel. Nyaris saja dia salah tingkah karena terlalu lama ditatap seperti itu. "Tidak, walaupun ini hanya bengkak biasa tapi tetap saja. Tidak boleh!" "Kamu tau, sebenarnya Dira sudah menyukaiku sajak lama. Sejak kami masih sekolah. Tapi aku tidak menanggapinya. Karena memang aku tidak memiliki perasaan kepadanya. Kecuali perasa sebatas teman." Sambung Varrel. "Hm, aku bisa lihat. Bagaimana dia tadi kesal samaku kerena aku terlalu lama dalam ruanganmu Mas!" Balas Zahra. "Mas!" Varrel seakan tertegun, entah kenapa perkataan mas barusan benar-benar terasa menarik ditelinganya. "Iya, kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Zahra binggun "Tidak, tapi aku suka kata-kata itu, aku senang. Panggil aku dengan sebutan itu, ya. Aku suka!" jawab Varrel masih tersenyum senang. "Iya, akan aku coba!". "Harus!" *** Pukul delapan malam akhirnya Zahra dan Varrel tiba juga mansion utama. Keduanya langsung disambut ramah oleh Kedua orang tuanya Varrel dan juga Zahra. Ya, Zahra cukup terkesiap melihat orang tuannya teryata hadir dia pikir hanya makan bersama dengan orang tua suaminya. "Sayang, Bunda sangat merindukanmu?"ucap Bu Mirna lebih dulu menghampiri Zahra, spontan langsung memeluk menantu kesayangannya itu. "Zahrah juga bunda. Zahrah kangen banget sama bunda!" balas Zahra. "Jadi Zahra cuma kangen sama Bunda. Sama Mama enggak ni!" Kata Bu Ningsih pura-pura merajuk. "Mama, Zahra juga kangen sama Mama tau!" Dia langsung juga menghamburkan pelukannya. "Mama kangen banget sama Putri Mama yang satu ini. Soalnya gemesin!" Bu Ningsih melayangkan ciuman bertubi-tubi. "Hei, para wanita. Kenapa kalian malah berdiri disana. Cepat masuk, atau kalau tidak kami akan makan duluan!" Ucap pak Romi tiba-tiba datang kerena merasa para wanita itu tak kunjung masuk. Sedangkan Varrel sudah dari tadi masuk. "Iya, iya, sabar. Gak ada sabarnya!" ketus Bu Mirna. "Para laki-laki selalu saja menjengkelkan. Apa Varrel juga sering menjengkelkanmu sayang?" tanya Bu Mirna. "Kadang-kadang Bun" jawab Luna apa adanya. Ya, memang Varrel kadang merasa sangat menjengkelkan. "Anak itu, nanti biara Bunda tegur, sudah yuk kita makan. Nanti keburu makanannya dingin!" Ajak Bu Mirna sementara kedua wanita lainya hanya mengangguk. *** Apartemen setia Budi Suara teriakan dan pecahan belik terdengar keras di seluruh penjuru ruangan. Tidak terelakkan, sosok wanita berusaha menenangkan namun karena kuatnya emosi dan amarah membuat dia kewalahan menghadapinya. "Halo, Ram, cepat Lu kemari, Dira Ram, gue gak sanggup lagi mengatasi ni anak. Dia ngamuk!" kata Sinta setelah sesaat melekatkan ponselnya menghubungi Rama. Satu-satu orang yang ia rasa bisa membantu masalah ini. "Aaagggrrr ....." Suara teriakan Dira semakin keras, membuat Rama yang diseberang sana menaikan alisnya. "Sinta, Dira kenapa? Hah?" tanya Rama terdengar panik. "Ceritanya panjang, lebih baik Lu segera kemari. Aku udah cakep Ram!" keluh Sinta. "Ok, dua puluh menit gue akan sampai disana! Tunggu!" Kata Rama yang langsung mematikan sambungan telponnya. "Rel, salah aku apa hikkk, salah aku apa Rel, bisa-bisa kamu menikahi wanita lain! Sementara kamu tau sendiri kalau aku sudah dari dulu menyukaimu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD