makan malam bersama

3575 Words
Apartemen setia Budi Suara teriakan dan pecahan belik terdengar keras di seluruh penjuru ruangan. Tidak terelakkan, sosok wanita berusaha menenangkan namun karena kuatnya emosi dan amarah membuat dia kewalahan menghadapinya. "Halo, Ram, cepat Lu kemari, Dira Ram, gue gak sanggup lagi mengatasi ni anak. Dia ngamuk!" kata Sinta setelah sesaat melekatkan ponselnya menghubungi Rama. Satu-satu orang yang ia rasa bisa membantu masalah ini. "Aaagggrrr ....." Suara teriakan Dira semakin keras, membuat Rama yang diseberang sana menaikan alisnya. "Sinta, Dira kenapa? Hah?" tanya Rama terdengar panik. "Ceritanya panjang, lebih baik Lu segera kemari. Aku udah cakep Ram!" keluh Sinta. "Ok, dua puluh menit gue akan sampai disana! Tunggu!" Kata Rama yang langsung mematikan sambungan telponnya. "Rel, salah aku apa hikkk, salah aku Rel, bisa-bisa kamu menikahi wanita lain! Sementara kamu tau sendiri kalau aku sudah dari dulu menyukaimu!" seru Seli mengamuk, semua barang sudah menjadi amukannya sekarang bahkan kamar susah seperti kapal pecah. Pecahan beling serta alat make up dan bantal sudah berserakan kesana kesini. Sinta, wanita itu menggigit bibir bawahnya kasar, sejak pulang dari kantor dia langsung mengahadapi Dira seperti ini. Ia pikir tadi ingin pulang ke apartemennya, namun ia melihat Dira akan mengamuk, dan seperti dugaannya Dira mengamuk. Sementara disisi lain Rama mengebutkan mobilnya secepat mungkin nyaris saja pria itu ditilang karena menerobos lampu merah. Beruntung, nasib baik masih memihak kepadanya. Tidak butuh waktu lama akhirnya pria itu sampai di apartemen Dira. Langah kakinya yang jenjang ia layangkan selebar mungkin menuju pintu lift. "Rama, akhirnya lu datang juga!" kata Sinta mendapati Rama berada di ambang pintu. Pria itu menoleh sekilas kearah Sinta, lalu ekor matanya menatap kearah Dira yang masih sibuk dengan emosinya. Karena kewalahan akhirnya Dira pun tumbang, terduduk lemas di lantai. "Dira!" panggil Rama menghampiri. "Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Rama spontan memeluk wanita itu. Tangisan Dira pun kembali pecah, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Sinta hanya bisa menatap pasrah melihat bagaimana khawatirnya Rama kepada Dira. Jujur dari hati paling dalam, ada rasa sakit melihat melihat padangan ini, dadanya seketika sesak menahan bendungan angin, sungguh untuk bernafas rasanya sangat susah. Namun sekuat tenaga ia berusaha untuk menguatkan dirinya melihat pemandangan itu, pria yang ia cintai secara diam-diam tidak pernah sekalipun di khatulistiwa sampai seperti itu. Sedangkan wanita lain, yang juga sama dengannya status sebagai teman malam mendapatkan perlakuan begitu istimewa. Kecewa, tentu. Namun Sinta sadar dari, siapa dia siapa Dira. Dia hanyalah wanita yang hidup atas belas kasihan dari Varrel, yang membantunya sejak dari dulu. Sedangkan Dira, anak seorang pengusaha PT Bank terbesar di Indonesia. Jelas perbedaan mereka antara langit dan bumi tidak akan percaya sepadan. Maka dari itu Sinta tidak pernah mendekatkan dirinya kepada mereka terlalu dalam biarlah perasaan dan sakit ini ia pendam dari awal. Tidak pernah ia sangat kekagumannya kepada Rama akan menjadi Sebuih cinta begitu dalam, jujur Sinta sudah menyukai Rama sejak mereka pertama kalinya kenal. Dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, namun tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam pikirannya kalau ia akan mengatakan perasaannya itu kepada Rama. Baginya cukup memendamkan rasa itu saja. "Dira, kamu yang sabar!" kata Sinta menggosok pelan punggung Dira. "Sebenarnya apa yang terjadi?" kali ekor mata Rama menatap Sinta. "I-itu, teryata Varrel sudah menikah Ram. Dia menikah tanpa sepengetahuan kita!" Jawab Sinta sedikit gugup. Sungguh setiap kali Rama menatapnya ia selalu saja gugup sendiri. "Menikah?" Rama menaikan kedua alisnya. Rasanya ia tidak bisa mempercayainya Varrel sahabatnya sudah menikah? Kapan? Dan Dimana? Kenapa dia tidak tau? Sejak kapan dia menikah? Pertanyaan itu langsung memenuhi otak Rama sekarang, ia mencoba mengingat ingat, mungkin ada sesuatu yang membuat dia lupa. Tapi sekuat apapun dia mencoba hasil nihil Rama sama sekali tidak mengingat apapun yang mengaitkan Varrel menikah. "Darimana kamu tau? Kalau Varrel sudah menikah?" tanya Rama. "Varrel yang menjelaskannya sendiri Ram. Kamu tau kan, wanita baru yang masuk sebagai anggota humas baru hari ini. Dialah istri Varrel. Aku tidak tau sejak kapan mereka sudah memiliki hubungan, tapi yang jelas itu adalah kenyataannya!" jawab Sinta. "Maksudmu, Zahra?" "Iya, namanya Zahra!" "Dia jadi membohongiku, dia bukan saudara Varrel!" Kedua rahang Rama mengeras seketika. Bukan marah karena dia telah dibohongi namun marah karena mengetahui fakta kalau Zahra teryata sudah dimiliki orang lain. Padahal ia sudah bersiap untuk mendekati wanita itu. "Pantas saja dia berada di rumah Varrel, teryata mereka sudah menikah. Sialan!" Batin Rama. "Siapkan kamar satunya lagi untuk Dira. Aku akan membawanya kesana, kita tidak bisa membiarkan dia tidur didalam kamar seperti ini!" tintah Rama, Sinta yang mendengar mengangguk cepat. Lalu setelah Rama rasa kamar tamu satunya lagi sudah siap barulah pria itu mengangkat tubuh ramping Dira membawanya menuju kamar itu. Apartemen Dira termasuk salah satu apartemen paling besar dan mewah. Miliki tiga kamar tidur, dua utama sedangkan satu lagi kamar tamu. *** Mansion utama keluarga Jonas Semua orang kini sedang sibuk menikah santapan makan malam mereka, tidak ada perkataan sepatah katapun kecuali suara sendok makan yang terdengar sana sini. Zahrah, wanita itu terlihat sangat bernafsu sekali dalam memakan makanan, sampai membuat semua orang tersenyum melihatnya. "Zahra, sayang. Hati-hati makannya, jangan terlalu buru-buru nanti kamu bisa tersedak!" ucap Bunda Mirna memperingati menantunya itu. "Iya, sayang. Hati-hati, tenang kami tidak akan menghabiskan makanan itu!" timpal Bu Ningsih menggeleng gelengkan kepalanya menatap sang putri. "Hehehe ..... Habisnya ini enak sekali Mah, Bun. Enak banget suer dah!" Zahra mengangkat kan tangan, makanan yang di masak Ibu mertuanya benar-benar lezat menggugah selera makannya. "Bunda memang pandai sekali dalam hal memasak, kalau kamu enggak sibuk kami bisa meminta bunda mengajari kamu masak masakan ini!" kata Varrel bergabung. "Benarkah!" wajah Zahra langsung antusias senang. "Iya sayang, benar apa dikatakan suamiku. Kalau kamu tidak sibuk, sini main kerumah Bunda. Nanti bunda ajarkan kamu berbagai macam masakan enak!" Ucap Bunda. "Yes, ok Bunda. Nanti kapan-kapan Zahra kesini lagi. Masakan bunda benar-benar enak!" Puji Zahra lagi. "Oh, jadi sekarang masakan Bunda yang enak. Masakan Mama enggak enak lagi!" tutur Bu Ningsih memayunkan bibirnya. "Hihihihi .... Siapa bilang, masakan Mama paling the best. Tapi untuk yang satu ini memang Bunda!" Sahut Zahra tertekekeh kecil berhasil membuat dia tersedak kecil. Khukkkk .... "Zahra!" panggil Bu Ningsih dan Bunda secara bersamaan. Varrel dengan gerak cepat menyerahkan air putih kehadapan Luna. "Hati-hati, cepat habiskan makanan mu dulu baru setelah itu kami bisa berbicara!" tegur Varrel. Zahra meminum minuman itu cepat, menghabiskannya semua air dalam gelas. "Makan dulu, nanti kita baru bicara!" kata pak Romi final membuat semua orang kembali memakan makanan mereka masing-masing. *** Sementara lain tempat, tempatnya di apartemen mewah ibuku. Malam larut serta tiupan angin malam membuat beberapa helai rambut seorang wanita berterbangan kesana kesini mengikuti kemana arah angin menghembus. Setelah memastikan Dira sudah merasa tenang, Sinta memilih keluar mencari makanan malam, ia kini sudah menentang tiga bungkus nasi kota yang ia belikan dari cafetaria serta dua kota pizza. Karena Dira menyukai makanan yang satu itu. Malam semakin larut, antrian tadi di cafe benar-benar membuat Sinta mendengus, ia membuang waktunya menunggu disana hampir satu jam lamanya. Untung dia sosok wanita yang memiliki kesabaran diatas lebih, kalau tidak mungkin dia akan memaki. Dengan langkah panjang sembari menenteng kotak makanan yang ia bawa, Sinta berjalan menelusuri trotoar jalan. Ia melangkah, bayang-bayang Rama kembali terlintas dalam benaknya, Andai saja Rama meliriknya sekilas pasti dia akan merasa bahagia. Namun nyatanya tidak, dia hanya menganggap dirinya tak lebih dari seorang teman. Brukkkk Seseorang tanpa sengaja menabrak Sinta, membuat wanita itu tergusur kelantai. Serta makanan yang ia bawa sudah tergelatak jauh disana. "Aaagggrrr ....." "Maafff, Maafff, saya tidak sengaja, saya buru-buru permisi!" Suara seorang wanita yang menabrak Sinta dari belakang, ia menengadah mencoba melihat, namun sayang sosok wanita itu sudah pergi menghilang bagaikan angin. "Aaagggrrr, sial!" Sinta memekik kecil, ia mendengus melihat kota makanan yang beli tadi sudah berhamburan. "Hey kau!" Teriak seorang pria bertubuh besar menghampiri Sinta. Tanpa pikir panjang pria itu langsung menariknya kuat. "Hey, apa yang kau lakukan?" Desis Sinta terkesiap. "Sudah cukup anda membuat kami lelah dalam berlari, sekarang anda harus cepat ikut kami. Kami tidak punya banyak waktu mengurus orang seperti anda!" Tukas pria itu kembali menarik paksa tangan Sinta. "Lepaskan saya, lepasakan!" teriak Sinta berusaha memberontak, namun hasilnya nihil tentu saja pria itu jauh lebih kuat darinya. * Ke-lelahan dan letih seluruh anggota tubuh membuat wanita cantik yang rambutnya sedikit pirang dengan sedikit kasar menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Sesaat tangannya yang lentik dan putih memijit pelipisnya yang terasa pusing. Hembusan nafas yang dikeluarkan olehnya menandai kalau dia benar-benar sangat letih. Seakan seluruh anggota tubuhnya ingin rontok satu persatu. Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara seorang wanita yang memanggilnya dengan setengah berteriak, sontak membuat pandangannya teralih. "Nona " suara seseorang wanita sembari berjalan mendekati Sinta yang kala itu masih memijit kepalanya. Tangannya yang beku memegang erat-erat beberapa berkas yang sudah ditutupi oleh map berwarna merah muda. Ia bergerutu kesal, entah dari angin apa dia bisa bermasalah dengan wanita yang sama sekali tidak ia kenal. Padahal disini dia adalah korban dari perempuan yang menabraknya tadi namun karena pria itu dirinya sebagai wanita kabur itu, menyeretnya sampai ke gedung yang ia diyakini singa kalau ini adalah gedung untuk model majalah. Sinta sudah berusaha kalau dia bukanlah model yang lari, namun pria itu bersikeras menganggap dirinya. "Nona, anda harus segera pergi bersiap-siap sebentar lagi Anda harus foto shoot. Perias sudah menunggu anda diruang ganti." tutur wanita itu lagi. Seketika mata Sinta melengot membulat sempurna ia merasa seperti tidak percaya apa yang baru saja didengar. Foto shoot. "Tolong, biarkan saya pergi. Saya bukan wanita yang kalian cari. Saya orang lain!" Sinta kembali berusaha menjelaskan. "Maaf, Nona anda tetap harus melakukan foto ini. Mau tidak mau karena memang ini sudah ditentukan oleh bos besar!" Jawab wanita itu. Rasanya sekarang juga Sinta ingin memutuskan untuk membunuh diri saja. Bekerja di kantor sepuluh kali lipat jauh lebih baik dari pada menjadi seorang model yang begitu melelahkan seperti ini. Walaupun di kantor harus mengurusi otak dan pikirannya tapi setidaknya tidak sampai lelah seperti ini. "Nona anda sudah siap, mari ikut saya." ucap wanita itu yang sadari tadi menatap Sinta hanya diam saja menatap dengan tatapan kosong. Wanita itu sedikit menyenggol lengan Sinta agar membuat wanita model itu terjaga dari lamunannya. "Ahhh iya, Aku akan segera keruangan ganti." ucap Sinta yang sontak bangkit dari sofa dengan senyuman yang di paksa lalu tanpa menunggunya lagi ia segera melangkah pergi keruangan ganti. *** "Apa tidak ada gaun lain, aku tidak mau memainkan gaun ini, gaun ini terlihat sangatlah seksi." protes Sinta merasa kurang suka dengan gaun yang sudah di siapkan untuknya. Gaun yang memperlihatkan seluruh punggungnya jika saja ia memakaikan gaun itu. "Tapi Nona anda harus tetap mengunakan gaun ini. Ini sudah perintahkan dari pak--- selaku direktur utama perusahaan internasional. Perusahaan internasional adalah salah satu cabang terbesar perusahaan Modeling Grup. Perusahaan yang baru saja di resmikan sebagai perusahaan model sekaligus pemasaran produk terbaik di kota ini, sangat membutuhkan model ternama seperti Kimmy. Ketua direktur pak---- sudan membayar mahal untuk itu supaya Kimmy bisa menjadi model bintang utama di perusahaannya. "Aku tidak mau." Sinta masih tetap pada pendiriannya. "Nona kalau anda memakaikan gaun lain saya bisa dimarahi. Tolong pakaikan saja gaun ini menurut saya ini tidak terlalu seksi." "Apa tidak ada wanita lain yang bisa menjadi model, kenapa harus aku!" "Tidak ada, lagian anda sudah sempurna menjadi seorang model." "Kamu bilang apa tadi, kamu bilang ini tidak seksi? matamu. Ini apa ini, kenapa bolong-bolong seperti ini." tunjuk oleh ke bagian belakang gaun. "Nona." "Tidak, jangan terus-menerus memaksaku memakainya, minggir aku mau pulang aku tidak ada urusan sama kalian. Dengarnya aku bisa tuntut kalian ke polisi atas pemaksaan ini." desis Sinta dengan nada mengancam sembari meletakkan gaun yang sadari ia pegang ketempat semula. ** Sementara di apartemen Rama dan Dira sudah lebih dua jam menunggu kepulangan Sinta yang tak kunjung juga pulang. Rama berusaha menelpon namun masih juga tak ada tanda-tanda kalau panggilan akan dijawab. Sudah lebih sepuluh kali Rama menelpon. Hingga rasa khawatiran muncul di benak Rama dan juga Dira. Kedua manusia itu akhirnya memutuskan untuk menyusul. "Ram kenapa disini ramai sekali ya?" tanya Sinta mengerutkan keningnya bersamaan juga dengan Rama. Ke-dua laki-laki itu baru saja tiba di depan sebuah gedung bertuliskan model tak jauh dari apartemen mereka. "Hey mau kemana?" salah satu laki-laki bertubuh atletis nam tinggi menghadang Dira dan Sinta tak kala mereka hendak melewati lingkaran merah yang sudah di tetapkan agar tidak siapapun masuk atau sekedar melewatinya. Sontak Rama mengangkat sedikit kepalanya karena memang laki-laki itu lebih tinggi daripadanya. "Aku ingin masuk." Rama menekankan kata-katanya. Pikirnya mungkin saja Sinta ada disana. Mengingat begitu banyak orang yang berada. "Tidak bisa, tidak satu orang pun bisa masuk ke sini tanpa seizin dari bos kami." tegas laki-laki bertubuh tinggi tersebut. "Nona Sinta .... Nona Sinta...." suara panggilan yang bergemuruh nam keras membuat semua pasangan mata langsung teralih, begitupun juga dengan Rama dan juga Dira ke dua manik-manik mata berwajah asia itu sekilas melirik kearah orang yang bergumuru, namu beberapa detik kemudian pandangan mereka sontak teralih kepada seorang yang sangat ia kenali sedang berlari sekuat tenaganya untuk keluar dari dalam gedung. "Sinta." mata Rama dan juga Dira tidak berkedip sangking terkejutnya. "Tangkap dia" teriak seseorang dari arah belakang dengan beberapa pelayan lainnya mengejar Sinta. Sontak saja apa yang terjadi membuat para wartawan dan pengambil foto tidak akan melewatkan kejadian langka itu, mereka langsung menyiapkan ponsel mereka untuk merekam aksi kejar-kejaran itu. "Minggir-minggir..." Seru Sinta dengan nada keras sembari mengisyaratkan dengan kedua tangannya kepada semua orang yang berkerumun untuk menyingkir. Namun bukannya menyingkir mereka malah menghadang Kimmy mengehentikan langkah wanita itu, setelah itu dengan sigap mereka memegang tangan Sinta agar tidak kabur. "Hey, apa yang kalian lakukan cepat lepaskan aku. Aku tidak mau memakaikannya baju seksi itu. Cepat lepaskan." disis Sinta berusaha sekuat tenaga melepas tangannya sudah di kunci namun usahanya sia-sia kekuatannya tidak sebanding dengan pria yang sudah mengunci tangannya. Mata Rama membulat sempurna seketika, di sepersekian detik memerah menahan amarah yang memucat, aliran darahnya seketika mendidih bagaikan lahar panas. "Beraninya kau menyentuh sahabatku." Rama beranjak bergegas menarik rambut pria yang telah berani menyentuh Sinta dan memukul rahang wajahnya dengan sangat kuat, hingga di sekali pukulan saja membuat pria itu tergusur ke lantai dan mengeluarkan darah di mulutnya. "Aku tidak akan mengampunimu." Rama dengan sangat membabi buta tidak memberikan ampunan terus menuju pria yang telah berani menyentuh wanita yang selama ini sangat ia hormati. Dira yang melihat seketika tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia tidak punya pilihan lain selain membantu sahabatnya itu apalagi kini Rama sedang dihadang oleh banyaknya bodyguard yang memang sengaja di persiapkan untuk menjaga keamanan. Duppp... Tanpa Rama sadari wajahnya mendapatkan pukulan yang sangat keras dari salah satu bodyguard hingga membuat ia tergusur kebelakang terjatuh tepat berada tepat di kaki Sinta. Hidupnya yang langsung saja mengalir darah segar dan mata berbinar. " Sinta" "Rama!" Sinta seakan terkejut bukan main lidahnya saja begitu kaku menyebutkan nama laki-laki itu. "Rama." Sinta yang terkejut sekaligus sedikit terkesiap melihat keberadaan Rama tiba-tiba berada didepannya. Matanya yang coklat masih tak berkedip berharap kalau apa yang ia lihat sekarang bukanlah mimpi. Ini benar-benar kamu Rama, Hati Sinta terasa sangat lega sekian saat, sosok laki-laki yang sangat ia rindukan kini berada tepat didepan matanya. Namun, beberapa detik kemudian ingatan kejadian masa itu kembali terlintas dibenaknya. "Tenang Sin, aku akan melindungimu" ucap Rama dengan nada pelan namun sangat jelas terdengar ditelinga Sinta. "Rama awas" teriak Dira memberitahu Rama kalau salah satu bodyguard hendak melayangkan pukulannya tinju kepadanya. Rama yang menyadari itu dengan secepat kilat mengelak, kakinya yang panjang menendang kuat paha bodyguard tersebut hingga membuat dia sedikit menjauh. Rama bergegas bangun, sekilas matanya menatap kearah sahabatnya itu yang terlihat masih terkejut, tersenyum kecil setelah itu dengan sekuat tenaga Rama membantai para bodyguard itu dengan sangat mudah apalagi dirinya dibantu oleh sahabatnya, Dira. Wanita itu melempar apa-apa yang ada, bahkan kayu menjadi menjadi sasarannya. Kebetulan dia lagi butuh pelampiasan kekesalannya. Yang membuat kemenangan berpihak kepadanya. Keahlian Rama dalam bertarung jangan ditanya lagi, karena memang dia sudah mempelajari ilmu beladiri sejak mereka berumur 12 tahun. "Kamu baik-baik saja..." Tanya Dira ia sedikit khawatir tentang keadaan sahabatnya itu apalagi darah segar masih mengalir di hidung Rama. "Aku tidak apa-apa. Kamu sendiri?" jawab Rama dengan nafas terengah-engah. "Sama." Ceklik... Ceklik... Ceklik... Semua wartawan dan fotografer tidak melewatkan apapun, sadari tadi mereka terus merekam dan memfoto apa saja yang sudah terjadi. Sebagai dari mereka bahkan menyiarkan langsung di stasiun televisi. "Ram, apa ini benar kamu. Kamu datang melindungi ku. Rasanya aku masih belum percaya apa yang telah aku lihat sekarang ram. Kamu berada didepan mataku. Hahhhh... Aku sangat bahagia Mas. Akhirnya kamu datang, kamu menghawatirkan ku." batin Sinta dengan mata sudah berbinar. Ia mengusap pelan air matanya yang sempat terjatuh, lalu secara perlahan-lahan memundurkan langkah kaki hendak berbalik badan pergi berlari meninggalkan tempat itu. "Anda tidak boleh kemana-mana Nona Sinta" desis wanita cantik yang sudah memegang pergelangan tangan Sinta dengan sangat kuat, tidak membiarkan model pengantin itu kabur dengan mudah. "Anda harus bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi." tukasnya. "Lepaskan tanganmu dari sahabatku atau aku akan mematahkan tanganmu sekarang juga." ucap Rama dengan nada bergemuruh, menatap mematikan kearah wanita yang memegang Sinta. "Tidak bisa, Nona Sinta harus bertanggung jawab. Ini semua terjadi karena dia, dia yang telah mencoba kabur dari tanggung jawabnya. Kalau saja Nona Sinta tidak kabur makan kejadian ini pasti tidak akan terjadi." timpal wanita itu semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Aku bilang lepas lepas." Rama yang memanas menarik rambut pirang wanita itu dengan sangat kuat lalu mendorong wanita itu hingga tergusur kebelakang. "Rama, apa yang kamu---." "Ikut aku." Sela Rama dengan sigap merangkul tangan Sinta dan membawanya melewati kerumunan wartawan. Sinta sedikit tersentak namun untuk beberapa saat ia pun berusaha mengimbangi langkah Rama walaupun sedikit susah karena langkah kaki Rama jauh lebih panjang daripadanya. Para wartawan saling bisik membisik akan hal itu, seketika mereka langsung bertanya tanya siapakah sosok laki-laki yang telah menolong model baru incaran mereka. Mereka tidak berhenti menyiarkan langsung berita hingga kejadian semua ini diketahui oleh seluruh masyarakat Ibukota. Hingga siaran itu terlihat oleh pak Romi, pria paruh baya itu langsung menaikan alisnya melihatnya. "Varrel, apa kamu memecat Sinta?" Tanyanya langsung. "Sinta, enggak pah. Kerjanya bagus bagaimana mungkin Varrel memecatnya. "Lalu, itu, Sinta jadi perbincangan wartawan, tertulis model baru bernama Sinta kabur. Dan itu lihatlah, Dira dan Rama juga ada. Mereka berkelahi!" pak Romi semakin terkesiap melihatnya. Tak berlangsung lama, Varrel pun serupa, dia juga terkesiap melihatnya. ** "Rama lepas, lepaskan tanganku." desis Sinta berusaha melepaskan genggaman tangan Rama yang begitu erat. Dia sekarang sudah berada lorong-lorong sempit yang Sinta saja tidak tau dia berada dimana sekarang. Ini pertama kalinya ia melihat tempat yang begitu aneh. Sunyi, sepi tidak ada satu manusia yang berada kecuali burung-burung yang berterbangan kesana kesini. Rama mengehentikan langkah kakinya ketika ia rasa ini sudah cukup jauh membawa sahabatnya menjauh dari kerumunan wartawan. Tanpa aba-aba Rama langsung memeluk Sinta begitu dalam melepaskan semua ke khawatiran yang terjadi. "Rama lepas." "Sinta maafkan aku, aku terlambat menolong mu, seharusnya tadi aku tidak membiarkan kamu pergi sendirian aku yang salah, Maafkan aku!" "Hey, ini bukan salahmu. Kenapa kamu yang minta maaf?" "Tapi seharusnya sebagai teman aku harus melindungimu!" "Hem, iya. Teman!" Gumam Sinta entah kenapa dia merasa sesak mendengar kata teman yang dikatakan Rama barusan. "Iya, teman. Memang sudah seperti itu, aku kita memang hanya bisa bisa menjadi teman. Tidak lebih, seharusnya aku membuang jauh-jauh perasaan ini!" Batin Sinta. Dringgg ..... Suara deringan ponsel terdengar keras, Rama, Sinta yang menyadari dengan cepat mengambil ponselnya. Nama Varrel sangat jelas terlihat di layar ponsel. "Halo, Sinta!" "Iya Bos!" "Kalian baik-baik saja. Aku mendengar kabar kamu jadi model?" suara Varrel terdengar khawatir. "Tidak, itu hanyalah kesalahpahaman. Kami baik-baik saja. Tidak perlu khawatir!" Jelas Sinta sesaat sebelum Rama mengambil alih ponselnya. "Rel, kita perlu bicara. Aku ingin kita bicara besok di kantormu. Jadi sisawakan waktumu!" Tukas Rama nada bicaranya tegas. "Tentang?" "Aku rasa kamu cukup tau apa yang aku maksud. Aku tidak ingin bertele-tele kita bicara besok saja!" Tutttt ** Malam itu Varrel dan Zahra memilih untuk menginap dirumah ke-dua orang tuanya. Sementara pak Hasan dan Bu Ningsih sudah pulang satu jam lama. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, Zahra masih senantiasa duduk menonton TV sedangkan Varrel pria itu berkutik dengan laptop yang ada di meja. Sementara pak Romi dan bunda sudah kembali kedalam kamar mereka. "Sayang, gak tidur. Ini udah malam?" Ajak Varrel sekilas matanya menatap Zahra yang terlihat masih asik menonton film. "Sebentar lagi mas, ini lagi seru, tolak Zahra!" "Iya sayang, aku tau. Tapi besok kita harus ke kantor!" "Aku gak ke kantor mas!" "Lah, kenapa masak kamu libur sayang, baru masuk. Nanti gak enak sama yang lain. Dan juga nanti aku kangen sama kamu gimana?" "Aku dipecat sama teman kamu!" Jawab Zahra matanya masih terfokus ke depan tanpa memikir Varrel sama sekali. "Apa?" "Hm, kan aku udah bilang Mas kemaren tadi dia kan cari gara-gara sama aku. Dan hasilnya dia memecat ku. Apa boleh buat!" "Terus kamu mau berhenti bekerja!" "Ya mau mau bagaimana lagi!" Zahra menyahut pasrah. "Sayang. Dengarnya, lihat aku baik-baik!" Varrel menarik Luna agar wanita itu menoleh kearahnya. "Tidak ada satupun orang yang bisa mecat kamu apalagi nyakitin kamu. Kamu istriku satu-satunya wanita yang harus aku lindungi dari siapapun. Jadi kamu bebas sayang lakukan apapun yang kamu inginkan, kamu ingin bekerja silahkan kali ini aku tidak akan melarang, tapi kamu hanya boleh bekerja di kantorku. Dan kedua kalaupun kamu bosan kamu bisa keluar aku malah senang sayang. Kamu gak kerja, kamu bisa beristirahat di rumah gak perlu mikir apapun, biar aku saja yang akan mencari uang. Kamu cukup duduk manis dirumah ya!" Ucap Varrel lembut. Zahra yang mendengar itu tersenyum bahagia. "Terimakasih, mas!" "Sama-sama sayang!" Bersambung .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD