di rumah mertua

1407 Words
Pagi hari Varrel terbangun lebih awal dari biasanya, tepat pukul enam pagi laki-laki mengerjakan matanya beberapa kali sembari mengumpulkan kesadarannya kembali. "Aaauuu....." Varrel memekik kecil merasakan nyeri di tangannya dengan cepat ia melirik. "Zahra!" Pria itu langsung tersenyum menyeringai menatap wanita yang telah menjadi miliknya, ekor matanya menatap Zahra lekat menatap setiap inci wajah istrinya itu. "Aaagggrrr...." Varrel mengayun-ayunkan tangannya terasa kebas yang tak tertahankan. Setelah ia rasa tangannya sedikit mendingan Varrel melirik kembali ke arah zahra, ia begitu sangat meneliti wajah istrinya sekarang. Ciuman kecil pun terjadi, Varrel mencium kening Kimmy begitu sangat dalam. Setelah ia rasa puas barulah laki-laki beranjak dari ranjang. Rasa sakit pun kembali terjadi namun kali ini bukan di tangan melainkan di kepala. "Aku pasti mabuk berat semalam." Varrel memukul kecil kepalanya yang terasa sangat berdengung. Laki-laki langsung berjalan ke kamar mandi, Varrel menatap dirinya dari kaca wastafel setelah sesaat ia membasahi wajahnya dengan air. Pandangannya langsung beralih pada belahan dadanya yang telanjang bulat, matanya langsung melotot dengan gerak cepat ia memerhatikan tubuhnya sekarang yang hanya mengunakan celana pendek selutut. "Apa semalam aku melakukannya lagi!" Gumamnya, seingatnya semalam pria itu tidak bergulat sama sekali dengan istrinya. Ya, Karena mengingat Zahra masih sakit di area sensitifnya. Sebisa mungkin dia harus menjaga nafsunya agar tidak memburu. Beberapa artikel pernah ia baca di internet kalau terlalu memaksa pasangan dalam berhubungan intim itu akan membuat rasa nyeri tak tertahankan, dan pendarahan darah. Varrel tidak mau hanya karena nafsu dia akan membuat Zahra sakit. ** Matahari sudah sepenuhnya terlihat, membuat sinarnya berhasil menembus ke kamar dari sela-sela jendela. Zahrah yang merasakan hawa panas pun mengeliat di atas ranjang, meluruskan semua ototnya. "Huaaakkkk " Zahra bergeliat beberapa kali diatas ranjang. Manik-manik matanya menatap ke langit kamar mencoba mengumpulkan seluruh alam kesadarannya setelah itu matanya melirik ke sembarang arah mencari keberadaan suaminya. "Dia sudah bangun. Hufff... Jam berapa sekarang. " Gumam Zahra samar-samar ia melihat kearah jam dinding dingin yang bersangkutan di sana. "Masih jam enam rupanya." Di taman belakang Varrel sedang menikmati cahaya sinar matahari pagi dengan teh hangat yang melengkapi hawa suasana. Sesekali pria itu tertawa keras, entah apa yang ia nonton tapi laki-laki itu tidak henti-hentinya tertawa. Zahra sudah siap dengan pakaian kantornya pun mendelik saat mendengar suara tawa Varrel terdengar sangat jelas di telinganya. "Apa yang dia lakukan, apa mas mas Varrel gak ke kantor!" memperhatikan Varrel dari balkon kamarnya, menatap suaminya yang masih tertawa renyah dengan laptop di pahanya. Karena penasaran akhirnya zahra memutuskan untuk pergi melihat. Varrel yang menyadari langkah kaki seseorang pun langsung terdiam dari tawanya. Bergegas mematikan laptop. "Sudah bangun... " sembari tersenyum manis menatap istrinya yang semakin berlaju ke arahnya. "Kenapa masih disini enggak pergi ke kantor?" Zahrah mengantikan topik, ia tahu kalau Varrel menyembunyikan sesuatu padanya sekarang. "Ke kantor ngapain?" Varrel bertanya heran, untuk apa dia pergi ke kantor di hari libur. Mendengar Varrel bertanya balik Zahra menaikkan alisnya, segera ia menghidupkan ponsel melihat tanggal berapa sekarang. "Hehehe..." Zahra menampakkan gigi putihnya merasa sedikit malu. Apalagi kini ia memakai pakaian kantor. "Sayang kemarilah," Varrel menepuk pelan pahanya setelah sesaat ia memindahkan laptop ke atas meja. "Hah, apa?" "Kenapa malu seperti itu, bukankah setiap malam kamu sidah melihat semuanya." "Apa..." Zahra membelak matanya seakan ingin keluar dari tempatnya. Ia begitu sangat malu mendengar perkataan Varrel barusan. "Kemarilah," Varrel menarik tangan Zahra, membuat istrinya kedalam pelukannya. "Mas apa yang kamu lakukan." Zahra berusaha keras melepaskan dirinya. "Kenapa malu Hem, bukankah tadi malam kamu sudah melihat seluruh tubuhku. Aku akan melanjutkan apa yang tertunda semalam." bisik Varrel di telinga Zahra. Bulu kuduk Zahra sontak berdiri setelah mendengar perkataan Varrel barusan. Wajahnya langsung merah merona ia begitu sangat malu sekarang. "Sayang, wajahmu merah." Zahra membenamkan wajahnya cepat berusaha menutupi wajahnya sudah merah seperti tomat. "Sayang jangan bergerak kalau tidak nanti aku nanti aku tidak akan bertanggung jawab apa yang terjadi." Varrel berusaha menahan sesuatu yang sudah mulai mengeras di bawah sana. "Dia benar-benar tidak punya malu beraninya berbicara seperti itu padaku. baiklah kita lahat saja siapa yang akan malu!" umpat Zahra, bagaimana kalau mertuanya melihat apa yang dilakukan anaknya ini, bisa-bisa Zahra malu sampai tua. "Mas, ini gak lucu, bagaimana nanti kalau Bunda dan Papa melihat" Zahra mendongkrak kepalanya menatap wajah Varrel penuh maksud. "Aku takut, mas. Kita bisa melakukannya lain kali kan." bisik Zahra dengan nada seksi. "Benarkah, lagian Bunda dan Papa kan juga pernah muda sayang. Jadi biarkan saja," Varrel tersenyum nakal, membuat wanita itu semakin malu dibuatnya. "Kalau begitu ayo, sekarang juga kita akan membuat cucu untuk Bunda dan Papa." Varrel mengendong tubuh istrinya segera membawa ke arah kamar. "Mas, ingat kita ini lagi dirumah Bunda!" Seru Zahra namun sayangnya perkataan Zahra sepertinya tidak didengarkan oleh Varrel, pria itu seolah-olah tidak memperlakukan apa apun. *** Setelah menjatuhkan tubuh istrinya di atas ranjang Varrel tidak henti-hentinya mencium bibir seksi Zahra, bahkan ia semakin memperdalam ciumannya. Zahra terengah-engah berusaha mengatur nafasnya kembali normal. Varrel tersenyum kecil melihat istrinya tidak pandai dalam mengatur nasaf. Tak berlangsung lama pria itu kembali melanjutkan aksinya. Kini Varrel membenamkan wajahnya di leher Kimmy memberikan beberapa tanda pemilik di sana. "Sayang mungkin ini agak sedikit sakit tapi percayalah nanti sakitnya akan menjadi nikmat." Varrel membisik seksi di telinga Zahra. Setelah semua tempat memberi tanda pemilik kini Varrel sudah siap bertempur, ia dengan kasar melepaskan bajunya dan membuangnya sembarang arah. Ia juga melepaskan celananya dengan sangat cepat, menjatuhkan apa yang melekat di tubuhnya di atas lantai. Pelan-pelan Varrel menarik tubuh Zahra agar semakin mendekat ke arahnya, lalu pria itu dengan sangat hati-hati membukakan kancing baju istrinya. Ini pertama kalinya jadi harus berhati-hati kalau enggak nanti enggak akan dapat lagi. "Mas" panggil Zahra dengan nada sangat lembut. "Iya..." Varrel menyahut cepat. "Sepertinya aku melupakan sesuatu..." Zahra mengigit bibir bawahnya. Mendengar apa yang di katakan istrinya barusan Varrel mendongkrak cepat, sembari menaikkan alisnya. "Apa..." "Aku lagi datang bulan..." Zahrah berbicara dengan nada pelan. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak sekarang merayakan kemenangannya namun karena belum selesai dia pun berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. "Apa, kamu mengeejaiku!" "Hihihi aku bercanda mas!" "Aku tidak akan mengampunimu. Kali ini!" *** Siang hari setelah adegan panas mereka lakukan yang entah keberapa kali sudah sepasang suami istri lakukan, padahal sebelumnya mereka tidak pernah memikirkan akan melakukan hal ini, rasanya kecanduan atas kenikmatan berhubungan membuat keduanya lupa diri. Zahra bolak balik ke kamar mandi terasa perutnya mules, padahal ia belum makan apapun pagi ini. Setelah menuntaskan hajatnya wanita itu bernafas lega sembari mengelus lembut perutnya. Karena hari ini bukan hari kerja melainkan hari libur Zahra mengantikan pakaiannya dengan pakaian santai. "Harusnya hari ini aku bersantai untuk apa memikirkan hal yang tidak perlu" Berjalan menuju ruangan bioskop mini yang bersebelahan dengan kamar mertuanya, Oh ya. sudah dari tadi pagi ia tidak melihat mertuanya dirumah. Apa sedang pergi, kekuar. Kemana? Kewnoa ia tidak tau Zahra berencana ingin menonton drama Korea, Sudah lama sekali ia tidak menonton drakon. Entah kenapa akhir-akhir ini dia suka nonton Bollywood apalagi pemerannya adalah aktor favoritnya. Zahra segera memencet remote control setelah sesaat ia mengambil remote control itu di atas meja depan sofa. "Film apa ya yang enak di tonton pagi -pagi begini." gumamya sembari terus memencet remote control mencari film drama yang pas. * Di tengah-tengah menonton Zahra memegang kembali perutnya, rasa mules kembali melanda kali ini lebih menyakitkan dari yang tadi. "Aaagggrrr....." Zahra dengan cepat mengerakkan sepasang kakinya melaju melangkah berlari ke kamar mandi. Varrel baru keluar dari ruangan kerja mengerutkan dahinya saat melihat istrinya berlari sangat cepat ke kamarnya. Namun sesaat kemudian Varrel tidak menghiraukannya lagi, karena ia buru-buru kembali kembali kedalam ruangan kerjanya. Ponselnya berdering kuat. Zahra menutup mulutnya rapat-rapat, tidak bisa mencium bau yang sangat menyengat menusuk bulu hidung. Dengan cepat ia menyirami kloset agar baunya segera menghilang. "Kenapa perutku bisa mules seperti ini sih, perasaan aku enggak makan yang asam-asam deh." Zahra berdecak kesal sembari keluar dari toilet. Dengan menyelipkan kedua kakinya Zahra duduk di tepi ranjang mencoba memikirkan kenapa perutnya bisa mules seperti ini, bahkan pagi ini sudah tiga kali ia harus bolak balik ke kamar mandi. "Apa mungkin ini sedang hamil, masak secepat ini, bukannya kami baru beberapa hari lalu melakukannya masak langsung hamil." Gumam Zahra berasumsi. "Kalau memang benar, puji syukur Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa memberikan Papa dan Mama cucu juga. Mereka pasti tidak akan sabar!" Namun apa yang di katakan Zahra barusan harus pupus tak kala ia merasakan ada sesuatu yang yang memang setiap bulan ia rasakan. Halangan, Zahra nyaris saja menutup mulutnya sendiri karena tersadar kalau dia sudah waktunya datang bulan. "Tanggal berapa sekarang! 12"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD