chapter 1

3300 Words
Zahra, berdecak kecil ketika dia baru teringat dan ia lupa membelikan pembalut. Seharusnya tadi pagi sehabis siap-siap ia bergegas pergi ke apotik. Karena memegang biasanya Zahra membeli pembalut di apotik. Dahinya berkerut, tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang, pergi ke apotik sekarang tanpa mengunakan pembalut itu sangat tidak mungkin, bisa bisa dia menjadi bahan tawaan di sana. Zahra memijit lembut keningnya mencoba berpikir jernih apa yang harus ia lakukan sekarang. Kalau di rumah orang taunya mungkin mudah, dia bisa meminta pembalut Mamanya ataupun meminta Mamanya membelikannya. Tapi ini di rumah mertuanya. Hanya dia dan suaminya di sini kepada siapa harus minta tolong kalau bukan pada sang suami. "Ckck. Apa dia mau membelinya. Aku yakin dia pasti tidak akan mau apalagi tadi aku habis mengerjainya dan sekarang aku malah mau minta bantuannya." Hembusan angin menyesal pun keluar tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan dari Varrel. Mencoba adalah bukan hal yang buruk, lebih baik mencobanya dulu baru tau hasilnya dari pada duduk tidak jelas di kamar. Pelan-pelan Zahra berjalan memasuki ruang kerja, dilihatnya ruangan nampak kosong tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya. Zahra mencoba mencarinya lagi. kini ia pergi ke taman belakang mungkin saja Varrel masih di tempat tadi pagi ia temui. Varrel terlihat sangat serius dengan laptop dan beberapa laporan di depannya, sepertinya laki-laki itu sedang mengerjakan tugas kantor. Ya, karena moodnya sekarang buruk dari pada meluapkannya lebih baik ia bersibuk diri. Zahra memberanikan diri melayangkan kedua kakinya untuk berjalan setelah sesaat ia memperhatikan punggung suaminya dari agak kejauhan. Zahra bisa menebak kalau Varrel pasti menyibukkan diri agar tidak memikirkan kejadian tadi. Zahra menghentikan langkahnya sesaat tak kala satu langkah lagi tepat berada di samping Varrel, dia memerhatikan apa yang di kerjakan suaminya melirik sekilas setelah itu pandangannya beralih kembali pada wajah tampan Varrel. Jantung Zahra berdetak kencang tak karuan, ia merasa tidak enak meminta bantuan Varrel perasaan takun pun melanda hatinya. "Mas ..." suara Zahra terdengar begitu kecil setelah sesaat ia melanjutkan lagi langkahnya yang terjeda. Varrel sangat jelas mendengar kalau Istrinya barusan memanggilnya. Tapi laki-laki itu tidak bergeming berpaling saja seolah olah tidak mendengarnya panggilan. "Iya?" Setelah beberapa saat akhirnya Varrel menyahut, namun tangannya masih sibuk mengetik "Mas ..." Zahra menaikkan nada panggilannya sedikit lebih tinggi dari yang tadi agar membuat Varrel menoleh. Zahra menarik nafas panjang mencoba berpikir jernih bagaimana cara membujuk suaminya ini. Zahra merasa seperti tersisihkan tidak di pedulikan. Di diamkan teryata lebih menyakinkan dari pada tinggal pergi. Ini pertama kalinya ia merasa sesaat teramat menusuk jantung. "Dia tidak menggubrisnya sama sekali, semarah itukah dia padaku. Berpaling saja seakan sangat susah. Baiklah kalau memang kamu masih bersikeras mendiamkan ku, terpaksa aku harus mengeluarkan jurus pamungkas. Semoga saja bermanfaat." "Mas, ini terakhir kalinya aku panggil kalau Mas tidak mau melihat kearahku maka nanti malam mas tidak boleh tidur seranjang denganku!" Ancam Zahra penuh ketegasan. "Ya, sayang. Kok gitu, aku tadi lagi mengerjai ini yank. Maaf jangan marah-marah dulu. Ya, please!" Kata Varrel merayu. "Jadi itu lebih penting dari aku sekarang, ok baiklah. Mula---" "Sssuuttttt gak ada yang lebih penting selain kamu sayang!" "Ayo sayang duduk" Varrel menepuk sofa sebelumnya, rasa tak tega nya membuat ia menerima tangan Zahra lembu membawa agar segera duduk bersebelahan dengannya. "Yes ..m." "Mas aku---" "Oh ya aku lupa mengabarimu yank, Bundan Papa tadi pergi ke luar kota. Ada saudara jauh kita sakit soalnya. Jadi jadi bunda titip pesan untuk kamu yank. Katanya hatus nelayani suami!" Sela Varrel menaik turunkan alisnya. "Apa. Mana mungkin bunda nitip pesan begituan, mas ngadi-Ngadi." Celutus Zahra, sekarang ia tau kenapa mertuanya tidak ada di rumah sekarang. "Aku berkata jujur sayang. Suer jujur kami mah gak percaya!" "Emang aku enggak percaya, soalnya mas suka kali ngadi-Ngadi!" "Kamu yank lama-lama gemesin, pengen makan lagi!" "Massss!" "Hahahaha .... Aku bercanda yank!" "Au ah. Mas bikin sebel!" "Tapi ngangenin kan?" "Gak!" Ketus Zahra "Mas ..." Panggil Zahra lagi "Hem..." "Boleh minta tolong." "Apa sayang?" "Aku lupa membelikan pembalut. Aku minta tolong boleh, mau kan mas membelikannya." Varrel menaikkan alisnya mencoba mencerna apa itu pembalut, rasa-rasanya ia pernah mendengar kata itu tapi ia tidak tau di mana. sesaat kemudian ia pun teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia memergoki Zahra pergi secara diam-diam. "Hanya itu?" tanya Varrel setelah ia rasa tau apa itu pembalut. Zahra mengganggu cepat karena memang hanya itu yang ia butuhkan sekarang. "Tapi mas nanti carikan yang sedikit panjang ya. Kalau enggak yang paling besar." Zahra tersenyum kecil rasanya ia sangat malu mengatakan hal itu tapi karena tidak punya pilihan lain mau tidak mau tetap harus di katakan. "Baiklah aku akan membelinya sekarang." "Di supermarket atupun di apotik Mas, jangan lama-lama Mas ya. Pokoknya Mas harus beli sekarang!" ** Zahra tersenyum kecil melambaikan tangannya ke arah mobil yang akan pergi berlalu meninggalkan rumah. Varrel melajukan mobilnya dengan cepat sesaat setelah ia keluar dari kawasan rumah, dia sedikit menaikan alisnya memikirkan dimana harus membelikan pembalut yang di maksudkan oleh Zahra tadi. Ia lupa menanyakan tempat di mana dia harus membelinya. Di supermarket Varrel baru saja selesai memarkirkan mobilnya. Pria itu berjalan sembari terus menghapal nama pembalut agar tidak lupa. Mata Varrel melirik mencari setiap sudut, karena apa yang di cariin Varrel menyangkut masalah perempuan jadi Varrel pergi tempat kawasan barang-barang perempuan. Mata Varrel membulat saat melihat Teryata banyak sekali macam-macam bentuk pembalut sudah berjejer rapi di atas rak. Varrel memutar-mutar tempat itu mencari kata pembalut namun ia sudah berkali-kali berkeliling-keling tidak menemukannya juga. "Charm body fit, her Protex, laufir double, kotex, relax." Tulisan itu tertulis sangat jelas di antar setiap bungkus. Varrel berdecak kesal ia lupa dengan tulisan yang pernah ia baca dulu, saat ia memegang pembalut Zahra. "Permisi tuan." ucap seorang wanita yang berseragam tiba-tiba datang dari arah belakang Varrel. Wanita itu tersenyum menunjukkan keramahannya, sebagai seorang pegawai supermarket tentang saja harus bersikap ramah. "Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya wanita itu setelah terdiam sesaat. Sedikit terpesona dengan ketampanan Varrel seperti bak aktor film. Varrel memaling setelah mendengar suara itu. "Apa itu pembalut?" tanya Varrel balik tanpa malu-malu. Dengan kepedean Varrel menunjukkan rak pembalut sudah berjejer rapi. Pegawai supermarket mendelik merasa sangat terkejut, ia tidak pernah membayangkan kalau pria tampan yang berada di depannya ini ternyata sedang mencari pembalut. "I-Iya tuan." wanita itu merasa aneh, sudah hampir dua tahun ia bekerja di supermarket baru kali ini ia menemukan seorang pria tampan membeli pembalut, biasanya ada tapi mereka datang dengan istri mereka masing-masing, dan yang membelikan pun bukan suaminya melainkan istrinya, tapi ini malah sebaliknya. "Kenapa kecil sekali apa tidak ada yang besar." Varrel memperagakan dengan tangannya dengan ukuran sangat besar, pria itu membayangkan tubuh Zahra yang besar. Menurutnya tidak pas jika Zahra mengunakan pembalut sekecil ini. Ini untuk bayi pikir Varrel. "Maaf tuan tapi semua pembalut itu sama tuan, ukuran sama seperti ini. Tidak ada pembalut sebesar itu tuan." pegawai supermarket memberikan beberapa bungkus pembalut menampilkan pada Varrel kalau apa yang ia katakan itu benar. "Kau mau mencoba membohongiku, ini kan untuk bayi. Mana muat untuk istriku." Varrel berdebat. tanpa segaja matanya melirik kearah celana popok dewasa. Bibirnya langsung tersenyum. "Bungkus yang itu semua." ucap Varrel sembari menunjuk ia yakin kali ini pilihannya benar tidak akan mengecewakan. "T-Tapi tuan itu." ---- "Jangan coba-coba menipuku atau aku akan memecat mu." tegas Varrel sudah tidak mau berlama-lama lagi. Pegawai itu terdiam, bisa di lihat dari penampilan Varrel bukan lah orang sembarang. Dari pada membuat masalah lebih baik ia turutin saja pikir wanita itu. *** Rumah Varrel dan Zahra Ya, setelah Varrel membelikan tadi apa yang disuruh oleh istrinya itu. Varrel mengajak Zahra untuk kembali pulang kerumah, mengingat masih banyaknya pekerjaan yang harus ia lakukan. Apalagi tentang kesepakatan laut negeri Di rumah Zahra membulatkan matanya penuh di ikuti dengan mulut yang terbuka lebar. Menatap tak percaya apa yang ia lihat sekarang. "Dia itu manusia apa bukan sih. Aku minta di beliin pembalut kenapa malah popok." Zahra mengumpat kesal, ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit di perutnya, berpikir bisa memakai pembalut segera. Mau tidak mau Zahra memainkan popok dewasa itu, sudah tidak punya pilihan lain sekarang. Sepanjang menit di kamar mandi Zahra tak henti-hentinya mengumpat kekesalannya terhadap Varrel. Wanita itu berpikir mungkin dirinya telah dikerjai. Zahra merasa geli-geli sedap memainkan popok dewasa itu, ia terus saja menggeser kan popok itu mencari kenyamanannya. Di tempat lain Varrel yang kala itu sedang sibuk dengan laptop di depannya tiba-tiba saja ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk. Varrel dengan cepat mengambil ponselnya itu yang letaknya tak jauh dari laptop menekan tombol hijau sebelum sesaat akan melekatkan ponsel di telinganya. "Iya ada apa Sinta." ucap Varrel yang sudah tau kalau yang menghubunginya adalah Seli sahabatnya. Karena nama Seli tertulis jelas di layar ponsel. "Bos kamu di mana?" tanya Sinta di sebrang sana. "Aku di rumah." "Hm, Bos aku cuma mau mengabari investor dari cina telah membatalkan perjanjian kontrak kota secara sepihak, dan itu sangat berdampak buruk bagi perusahaan Bos!" "Berapa kerugiannya?" "Dua puluh juta dollar!" "Sial .... Apa mereka punya alasan membatalkan kontrak kerja samanya?" "Tidak ada Bos, mereka langsung memutuskan komunikasi!" "b*****t ....." Umpat Varrel kesal. "Cari titik kelemahan mereka, dan segera hancurkan perusahaan mereka. Beraninya bermain-main denganku!" tukas Varrel penuh penekanan. "Baik, Bos!" Setelah mematikan sambungan telepon Varrel juga mematikan laptopnya segara. ia segera pergi bertemu Sinta, dan lagi berada di rumah seharian membuat kepalanya pusing. Varrel mengantikan pakaiannya dengan setelan kasual biasa, yang hanya memakaikan kaos yang di tutupi dengan jaket hitam. Zahra yang sudah selesai dalam tugasnya di kamar mandi pun kini pergi ke gudang yang letaknya tak jauh dari dapur. Hari ini aku tidak ada tugas lebih baik aku bersih-bersih saja pikir wanita itu sembari mengambil pel dan sapu. Pertama tama Zahra membersihkannya ruang tamu terlebih dahulu, karena ruangan itu yang paling utama di lihat orang. Sembari menyapu lantai Zahra menghidupkan video lagu yang ia gemari. Sembil menyapu wanita itu mengerakkan badannya, bergoyang mengikuti irama musik yang menyala, sesekali ia juga ikut bernyanyi. Varrel yang kala itu baru turun dari anak tangga pun mengehentikan langkahnya sejenak, memerhatikan Zahra yang masih asyik dengan goyangannya. Kerutan di kening Varrel terlihat sangat jelas, laki-laki itu merasa heran dengan sikap Zahra seperti itu. Teryata dia masih saja seperti anak-anak pikir Varrel di ikuti dengan senyuman yang tipis. Lalu sorot matanya melirik ke sembarang arah sudut ruangan. "Dia ingin membersihkan rumah ini sendirian." Varrel mendelik. Ia merasa tidak tega terhadap istrinya itu. Walau ekspresi yang di tunjukkan olehnya begitu semangat dalam membersihkan rumah, tapi nanti dia pasti akan sangat letih. Perasaan dan emosional tidak boleh di satukan. "Hombasti ala hombasti" suara Zahra semakin meningkat seiring suara dalam video yang juga meninggikan suaranya. Zahra begitu mendalami nyanyian musik yang ia dengar sambil terus menari hingga tanpa ia sadari ia telah menabrak Varrel dari arah samping yang kala itu hendak melewatinya. Sontak saat itu juga Zahra terpeleset hendak jatuh ke lantai. Namun dengan gerak cepat Varrel menarik tangan Zahra hingga membuat wanita itu berada di pangkuannya. Tatapan kedua insan itu saling menatap, terkunci tidak bisa berkedip sama sekali. Varrel begitu sangat jelas melihat manik-manik mata Zahra yang juga melihat manik-manik matanya, begitu juga dengan Kimmy. Keheningan pun terjadi. Deg .... Deg .... Zahra yang tersadar segera membangkitkan diri, menjauh dari Varrel. "M-Maaf..." suaranya yang terdengar berdebar seirama dengan jantungnya. "Hati-hati sayang." Kata Varrel juga tersadar sembari merapikan sedikit bajunya. Zahra hanya menunduk dia tidak berkata apa-apa lagi, jantungnya semakin berdetak sangat cepat. Varrel melanjutkan langkahnya yang terhenti namun baru dua langkah laki-laki itu kembali menghentikan langkahnya. "Mulai sekarang carilah asisten rumah tangga dan, supir." tuturnya setelah itu bergegas melangkah tanpa menoleh sama sekali. "Hah ...." Zahra mendongkrak kan kepalanya cepat. "Apa dia serius. bukannya dia sendiri yang tidak menginginkan orang lain tinggal di rumah ini." sembari menggelengkan kepala. *** Setelah mendengar apa yang dikatakan Varrel tadi, mengenai dia mengizinkan adanya asisten rumah tangga, Zahra sedang sangat sibuk memilih orang-orang yang sedang melamar kerja sebagai asisten rumah tangga. Ya, karena setelah kepergian Varrel dia sudah memikirkan dengan matang-matang kalau dia harus segera mencarikan asisten rumah tangga. Apalagi dia tidak selalu berada di rumah. Pulang kerja beres-beres rumah, hadeh bisa mati berdiri. Zahra membuka lowongan kerja cepat, di mempromosikannya di Googling agar lebih mudah dan terselesaikan hari ini. Karena besok dia harus pergi kantor, tidak bisa mengurus pekerjaan rumah lagi. Teryata benar tak butuh waktu lama para pelamar pun datang sendirinya ke rumah. kurang lebih dua puluh pelamar sedang berada di rumahnya, sembari memegang berkas-berkas yang entah apa itu Zahra saja tidak tau. Padahal dia tidak mencantumkan berkas apapun ataupun riwayat hidup, asal bisa memasak silahkan mendaftar. Sementara di hotel, Varrel baru saja melayangkan kakinya masuk kedalam. Dira yang melihat Varrel datang pun tersenyum senang, ia dengan cepat menghampiri sahabat kecilnya itu. "Varrel ... Kau datang." sembari mempersilahkan Varrel duduk di sofa yang ia duduki tadi. "Hey brother." ucap Rama juga ikut menghampiri Varrel. "Bagiamana, apa kalian sudah menemukan titik kelemahan perusahaan itu?" tanya Varrel mendudukkan punggungnya dibawah sofa tak jauh dari Sinta. Wanita itu langsung melirik dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Belum cukup sulit mencari kelemahan mereka!" "Kita harus memberikan mereka pelajaran, beraninya mereka bermain api dengan kita. Aku pastikan secepatnya mereka akan menerima pembalasanku!" Kata Varrel penuh penekanan. Disela-sela mengerjakan apa gang mereka cari tanpa disadari Varrel kalau Dira sadari tadi meliriknya, dengan tatapan tidak bisa diartikan. Mungkin kesal bercampur sedih teramat. Wanita itu terlihat begitu menguatkan dirinya berusaha untuk bernafas sebisa mungkin. Pria yang ia cintai sejak lama kini sudah menjadi milik orang lain, cukup membuat ia sedih. Namun ambisius memiliki Varrel masih tertera jelas kepalanya. Rama, yang melihat Dira begitu langsung paham apa yang dirasakan wanita itu, kini ekor matanya juga ikut melirik kearah Varrel. "Rel!" panggil Rama. "Hm!" "Lu udah nikah ya?" tanya Rama to the poin pada maksudnya. "Iya!" tanpa ragu Varrel menjawab santai. "Kenapa lu gak ngabarin kita, kalau lu udah nikah. Kenapa lu sembunyikan udah kayek rahasia besar?" Tanya Rama lagi. "Gua di jodohkan sama papa dan Mama, dengan putri sahabat papa. Jadi selepas pulang dari Amerika kemarin seminggu kemudian aku menikahi Zahra." jawab Varrel lagi dan lagi-lagi dia terlihat biasa saja. "Lu tau kan kalau dari dulu Dira, itu mencintai lu, susah lama banget. Kenapa lu sekalipun gak pernah lirik dia. Apa masih kekurangan!" Perkataan Rama membuat semua orang saling memandang. Termasuk Varrel sekilas menatap kearah Dira bergantian dengan Rama. "Maaf, Dira. Aku tidak bermaksud mau menyakitimu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, aku hanya menganggap kamu hanya sebagai teman, tidak lebih. Dan lagi sekarang aku dan Zahra sudah saling menerima. Aku sedang mencintainya!"ucap Varrel dengan pelan. "Iya, aku tau Rel tidak perlu minta maaf, dari awal juga aku sadar kalau aku memang tidak di takdir kan untukmu. Maaf, perasaan ini akan aku jaga baik-baik." Kata Dira "Tapi aku tidak akan melepaskanmu Rel, kamu salah kalau kamu pikir kamu bisa lepas dariku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, kamu hanya milikku, hanya milikku. Aku bersumpah akan hal itu, mungkin untuk saat ini kamu bisa bersama wanita itu. Tapi tidak lain kali Rel, kamu akan bertamu." batin Dira. "Terimakasih, atas pengertiannya, dan sekali lagi aku minta maaf. Maaf karena tidak memberitahu kalian sebelumnya. * Di rumah, Zahra sudah dua jam lebih berurusan dengan para pelamar kerja. Persaingan yang begitu ketat membuat iya begitu letih, Zahra tidak bisa asal menunjuk salah satu dari mereka untuk langsung di jadikan asisten rumah tangganya, itu terasa tidak adil bagi pesaing lainnya. Maka dari itu Zahra membuang peraturan seketat mungkin dalam uji coba. Di ronde pertama dan ronde kedua Zahra menyuruh mereka semua menuliskan macam-macam bumbu dan aneka makanan. Perintah itu terdengar bodoh dan konyol, tentu saja mereka semua tau berbagai macam bumbu dan jenis masakan. Zahra mengarukkan kepalanya tak gatal dia tidak tau bagaimana cara memilih salah satu di antara mereka. Sedangkan mereka semua tau tentang masakan dan jenis hidangan bahkan sampai yang tersulit sekalipun. "Mbak bagaimana ini. Siapa sebenarnya yang Mbak cari?" seorang wanita yang umurnya sedikit lebih tua dari Zahra memberanikan diri untuk bertanya. Sudah dari tadi dia dan para pesaing lainnya hanya duduk diam saja tanpa adalagi uji coba. "Hahh...." Zahra menatap sendu. "Lalu apa yang harus saya lakukan, kalian semua itu pintar-pintar." Imbaunya sembari membuang nafas panjang. "Saya punya ide, bagaimana kalau Non lotre kami saja. Begini Non, kami menulis nama kami di gulungan kertas, lalu Non masukkan nama kami kedalam kaleng setelah itu Non kocok. Setelah selesai baru deh Non ambil satu kertas nama di antara kami secara acak. Siapapun nama yang keluar berarti dialah yang berhak bekerja di rumah Non." ucap seorang wanita yang usianya sudah lanjut, mencoba memberi saran agar masalah ini bisa segera terselesaikan. "Nah ide bagus." Zahra menjertikkan jarinya. "Bagaimana menurut semuanya, apa dengan begitu bisa di katakan adil. Karena kalau kalian semua menyuruh saya memilih, jujur saya tidak tau harus memilih siapa." "Kami ikut Mbak aja, apapun keputusan Mbak kami terima." sahut wanita yang mengajukan pertanyaan pertama tadi. "Zahra, kalau semuanya setuju, kalian bisa isikan nama kalian masing-masing sekarang." perintah zahra, serasa dia sudah menemukan jalan keluar dalam masalah ini. * Semua orang sudah bersiap-siap menulis nama mereka masing-masing dalam selembar kertas kecil, lalu menggulungnya sekecil mungkin. Di sisi lain Zahra sedang mencari sesuatu yang bisa di kocok, wanita itu nampak mondar mandir di dapur. Karena melihat tidak ada satupun barang yang bisa di gunakan untuk mengocok, Zahra akhirnya memutuskan mengambil baskom besar, ia rasa baskom ini bisa di gunakan. "Maaf ya semuanya, di rumah saya enggak ada kaleng kosong jadi saya gunakan pekek ini saja ya." ucap Zahra sembari menampakkan baskom yang ia bawa, sesaat setelah ia kembali dari dapur. "Nggak papa Non itu juga bisa." sahut perempuan yang memberi saran tadi. "Ok, kalau begitu silahkan taruh nama kalian semua di sini." ucap Zahra lagi. Setelah semua nama terkumpul Zahra dengan segera dan sangat hati-hati mengayunkan baskom, membuat nama-nama pelamar jadi acak-acakan. "Ok, ini sudah selesai, biar tidak terjadi kecurangan saya akan mengabil satu nama dengan menutup mata saya." tutur zahra lalu menutup matanya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mencoba mengabil satu gulungan kertas nama. Para pelamar sudah dag-dig-dug-ser, mereka semua memejamkan matanya tak kala melihat Zahra dengan sangat pelan-pelan membukakan gulungan nama. Zahra tersenyum saat membaca nama siapa yang tertera, ia sudah sangat yakin sekarang tidak akan ragu lagi. Kalau nama orang yang tertulis ini adalah orang terpercaya. "Selamat buat Bu Ani." ucapnya penuh dengan senyuman mengembang, teryata nama yang di katakan barusan tak lain adalah nama orang yang telah memberikan saran tadi. Wanita yang usianya sudah terbilang lanjut. Bu Ani yang mendengar namanya di panggil pun sontak sujud syukur. Berterima kasih pada Tuhan karena telah menerima doanya. Di sisi lain para pelamar lainnya pun mengucapkan selamat pada Bu Ani secara bergiliran. Menyalami bahkan memeluk Bu Ani. * Di tempat lain , masih di ibu kota. Varrel dan para sahabatnya menari di bawah lampu kelap-kelip, karena setelah menghabiskan beberapa jam berkutik dengan masalah kantor mereka akhirnya memilih bersenang-senang sebentar. Mereka berjoget bersama layaknya pesta. Varrel yang jiwanya tak terkontrol pun terduduk lemas di lantai, dirinya mabuk berat karena terlalu banyak meminum bir dan jus anggur yang sengaja di berikan Dira secara berturut-turut. Dira yang melihat Varrel seperti itupun tersenyum senang akhirnya rencananya berhasil. Kali ini iya yakin rencanakan pasti akan berjalan lancar. "Sekarang saatnya melanjutkan rencana selanjutnya." "Ram, Aku antar Varrel pulang dulu ya, keknya dia udah enggak kuat lagi deh." tutur Dira sembari menopang tubuh Varrel, mencoba membuat laki-laki itu berdiri lagi. "Ok." Sahut Rama sembari mengangguk, namun sesaat kemudian dia memanggil Dira cepat tak kala sebelum wanita itu jauh dari padanya. "Dira tunggu. Gue antar ya." tawarnya. "Enggak perlu, aku bisa nyetir sendiri kok, lagian yang mabuk itu bukan aku tapi Varrel." sahut Dira cepat. "Baiklah kalau emang kamu tidak membutuhkan ku. Ya sudah gue titip Varrel ya, hati-hati kamu jaga dia baik-baik. gue pergi dulu." ucap Rama sebelum sesaat ia berlalu meninggalkan Varrel yang masih dalam pangkuan Dira. "Tanpa kamu bilang pun aku akan selalu menjaga Varrel, karena dia adalah satu-satunya harapan aku hidup di dunia ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD