chapter 2

4428 Words
Tepat pukul delapan malam di rumah Zahra terlihat terbaring lesu di atas sofa ruangan keluarga. Ya, karena setelah makan malam tadi Zahra langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Ia merasa seluruh badannya sangat letih sekali. Sembari memejamkan matanya Zahra menarik nafasnya dalam-dalam, ingatannya kembali teringat kepada sang suami yang tak kunjung pulang. Zahra tadi sempat menyuruh Bi Ani menyisakan makanan di atas meja, ia mewati takutnya Varrel belum makan malam. Karena ia sudah tau kalau suaminya itu tidak terlalu suka makanan luar. Zahra juga menyuruh Bi Ani memanaskan makanan itu kembali jika nanti suaminya pulang. "Bik kalau nanti suami saya pulang jangan lupa di panaskan lagi makanannya ya." ucap Zahra mencoba mengingatkan Bi Ani lagi, takutnya nanti lupa. "Iya, Non." Bi Ani hanya bisa tersenyum, dalam pikiran Bi Ani, Zahra adalah wanita yang sangat mencintai suaminya, kalau tidak mana mungkin khawatir sampai segitunya. "Non pasti cepek kan, biar saya pijitin ya Non. Gini-gini saya sangat pandai Lo Non dalam bidang pijat-memijat." sambung Bi Ani lagi menawarkan pijatan, ia merasa khasian terhadap wanita mudah yang terbaring lemas di atas sofa, yang sudah menjadi nyonya nya sekarang. "Eeeehhhh..... Tidak apa-apa Bik, tidak apa-apa. Saya baik-baik aja kok cuma kecapean aja. Bibik tidak perlu repot-repot memijat saya." Zahra dengan gerak cepat mengehentikan tangan Bi Ani yang kala itu hampir menyentuh kakinya. Bukan tidak mau, hanya saja Zahra merasa tidak tega jika ia membiarkan wanita tua ini yang umurnya hampir sebaya dengan Ibunya mencoba memijat kakinya, walaupun Bi Ani adalah asisten rumah tangga di rumahnya, namun tidak sepantasnya ia memperlakukan Bu Ani seperti itu. "Gak papa kok Non. Saya sudah terbiasa memijit orang, Non sama sekali tidak merepotkan saya kok. Apalagi Non adalah Nyonya saya." ucap wanita tuan itu. "Beneran kok Bi saya itu enggak apa-apa, saya cuma kecapean aja. Palingan setelah istirahat juga capeknya hilang." Sahut Luna tetap menolak. " Oh ya Bik saya naik ke atas dulu ya, soalnya saya mau ambil ponsel kelupaan tadi hehehe." imbuhnya lagi. "Iya Non." Bi Ani hanya bisa mengangguk. Selang beberapa saat setelah Zahra naik ke atas, tiba-tiba saja suara bunyi bel berbunyi dering. Bik Ani yang mendengar itupun segera keluar membukakan pintu, iya menduga kalau yang memencet bel itu adalah tuannya ataupun suami majikannya. "Rel, bangun. Coba kamu lihat ini beneran rumah kamu kan?" tanya Dira sembari mengonyang kan tubuh Varrel, agar membuat laki-laki itu tersadar. Dira masih belum yakin kalau rumah yang baru saya dia pencel bel tadi itu adalah rumah Varrel. Tapi menurut kisi-kisi yang di berikan Varrel tadi sebelum ketiduran ini sangat benar rumah yang di maksudkan oleh Varrel. Bi Ani mengerutkan keningnya dalam tak kala melihat teryata seorang wanita cantik keluar dari mobil. Dengan cepat ia menghampiri wanita cantik itu. "Maaf, Nona. Cari siapa ya, malam begini-begini?" tanya Bi Ani menghampiri Dira. "Tolong, bantu saya Bi. Bukan pintu sekarang!" bukanya menjawab Dira malah memerintah. Kening Bi Ani berkerut dalam. Dia tidak tau untuk menuruti apa bagaimana. Dia juga baru bekerja disini, belum tau tentang siapa saja tinggal di rumah ini. Dan siapa yang sedang memerintahkan. Tidak mau pikir panjang lagi, akhirnya Bi Ani membukakan pintu mobil dan membantu Dira memampangkan tubuh Varrel kedalaman. Menuntun kearah bawah yang ada disana. "Ok, terimakasih Bi. Bibi silahkan pergi? Biar ini mejadi urusan saya!" kata Dira dengan nada mengusir. "Baik Nona, saya permisi dulu!" "Hem!" ** "Siapa Bi?" tanya Zahra baru turun. "Saya tidak tau Non, tadi ada seorang wanita cantik muda hampir sama seperti Non, sedangkan satulagi seorang pria tampan, sedang mabuk sepertinya Non, soalnya tadi Bibi cium bau alkohol sangat menyengat. Pria wanita, Zahra langsung mengerutkan keningnya dalam, ia sedang mencoba memikirkan sesuatu. "Mas Varrel!" Tanpa menunggu lagi Zahra langsung menunju pintu kamar. Tok Tok Tok "Mas keluar, kamu tidak bisa melakukan ini terhadapku." Desih Zahra bergemuru melayangkan tangannya berangsur-angsur memukul kasar pintu kamar. Dira yang kala itu sedang asik put beranjak pun semakin geram. Dengan langkah yang panjang yang ia layangkan, ia bergegas membukakan pintu kamar. Hingga lebaran pintu meluas ke dinding. Pandangannya langsung tertuju pada sosok seorang wanita yang masih melayang tangannya hendak memukul kembali pintu, namun dengan cepat wanita itu menarik tangannya kembali sesaat setelah tersadar kalau pintu itu terbuka. Kedua mata Dira langsung menatap sinis. Keningnya berkerut di ikuti dengan nafas yang terjeda. "Kau ..." gumamnya. Di sisi lain Zahra juga sama halnya dengan Seli, kedua bola matanya juga ikut menajam. Pandangan mereka saling terkunci, sama-sama memperhatikan. Keheningan pun terjadi tidak ada percakapan yang terjadi kecuali tatapan saling beradu. Bi Ani yang melihat itupun mengigit bibir bawahnya kasar, tidak tau harus melakukan apa. Ia hanya bisa berdiri mematung di belakang Zahra menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Apa yang kau di sini, hehhh" Seli merubah raut wajahnya cepat menatap tajam ke arah Zahra. Zahra tidak langsung menjawab pertanyaan yang di lontarkan Dira, bola matanya kini berpaling menatap tubuh Dira yang sudah polos, hanya tersisa bra dan dan celana dalam di atas lutut. "w*************a apa yang kau lakukan di sini hah ..." kali ini suara teriakan Dira jauh lebih keras dari sebelumnya. Ia merasa semakin geram. Bola mata Zahra kembali ke tempat semula, ia kembali menatap manik-manik mata Dira. tatapan yang begitu mengerikan bagi seorang wanita. Dengan langkah yang panjang dan kuat Zahra menerobos masuk tanpa menghiraukan Dira kala itu masih berdiri tepat di pintu. Hingga membuat wanita itu tergusur ke dinding, menghantam. Di samping ranjang Zahra mencoba memperhatikan Varrel. Di lihatnya suaminya sudah bertelanjang d**a dengan mata tertutup. Bau nafas alkohol yang di hembuskan Varrel pun tercium di hidung Zahra. "Mas ...." Zahra menerka kalau Varrel tengah mabuk berat, dia mencoba membangunkan Varrel, menggoyang-goyangkan lengan suaminya. "Kamu pikir kamu bisa menang dariku, cih. Dari awal kami saling mencintai tapi kamu datang seperti benalu yang merusak segalanya" Dira menarik bahu Zahra secara kasar kebelakang, yang hampir membuat wanita itu terjatuh ke lantai. "Kali ini aku tidak akan memaafkan mu, aku akan memberimu perhitungan." Desih Dira. "Kau sudah kelewatan batasanmu. Beraninya kau masuk ke rumah atasanmu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Kamu pikir kamu ini siapa hah." "Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya kepadamu, kamu bisa lihat sendiri sekarang, aku istrinya dan kamu, hanya sebatas teman yang berharap lebih" suara Zahra tak kalah dengan Dira. "Dasar wanita tidak tau malu." "Kamu yang tidak tau malu. Ngapain kamu berada kamar berdua bersama suami orang hah. Apa yang ingin kamu lakukan terhadap suamiku." "Suami .... Hahaha... Jangan mimpi kamu. Dari ujung kaki sampai ujung rambut kamu itu tidak pantas-pantasnya menjadi istri Varrel, seorang pengusaha muda terkenal di negeri ini." "Oh ya, begitukah menurut anda. Tapi sayangnya semua yang kamu katakan barusan hanya bisa menjadi angan-angan di pikiran kamu saja, karena aku kini telah sah menjadi istri Varrel secara sah, baik agama dan negara. Sedangkan kamu hanya teman," tukas Zahra menekankan kata-katanya. "Jadi aku harap kamu tau aturan ada di rumah orang. Mau kamu percaya atau tidak saya tidak peduli. Yang aku inginkan sekarang anda pergi dari rumah ku." sambung Zahra lagi sembari menunjuk ke arah luar. "Wanita sialan jangan lancang kamu ya." Dira sudah habis kesabaran dia hendak ingin melayangkan tamparan pada pipi Zahra namun dengan cepat wanita itu menangkap tangannya. "Jangan sampai aku berbuat kasar padamu ya. Aku bisa saja melaporkan kamu pada polisi sekarang juga, karena kamu sudah menganggu ketentraman di rumah ku. Apalagi kamu berencana ingin melecehkan suami ku." Dira sontak terkesima mendengar kata polisi. Sebenarnya ia masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang di katakan Zahra barusan tapi ia sadar kalau ia kini berada di dalam rumah orang. "Kamu ingat ya, urusan kita belum selesai. Aku pasti akan membuat kamu menyesal seumur hidupmu." ucap Dira lalu bergegas mengambil semua barang-barangnya dan berlalu pergi keluar. * Di sofa Zahra menumpahkan semua air mata dan rasa sakit hati yang ia rasakan sadari tadi. Sembari mencakar sofa Zahra mengumpat ke-kesalannya kepada Varrel. "Pria brensek, dasar b******n. hik... hik..." menangis tersedu-sedu, tubuhnya tegas tapi hatinya rapuh. "*Kenapa kamu melakukan ini mas, disaat aku sudah membukakan isi hatiku, di saat aku sudah mulai menerima kamu sebagai suamiku. Hik... apa segitu marahnya dirimu padaku, hingga kamu tega melakukan hal sekeji ini. Hik... " "Aku tidak tau apa yang akan terjadi jikalau saja aku tidak ada di rumah atau aku tidak turun saat itu. Kamu pasti akan menjadi milik Dira seutuhnya, walaupun kamu tidak tersadar tapi wanita itu sepenuhnya sadar mas." Bi Ani pelan-pelan mendekati Zahra, menggosokkan punggungnya secara perlahan-lahan. Perasaan bersalah pun menghantui Bi Ani, ia merasa bersalah telah membiarkan Dira masuk kedalam rumah. "Non maafkan saya, karena saya Non jadi seperti ini." "Saya yang telah membiarkan wanita itu masuk kedalam rumah. Kalau saja tadi saya sedikit lebih tegas tidak membiarkan dia masuk, Non pasti tidak akan sesedih ini."sambung Bi Ani "Hah, Apa yang Bibik katakan, Bibik sama sekali tidak bersalah jangan meminta maaf. Semua ini salah saya, saya yang tidak bisa menjadi seorang istri yang benar." Kata Zahra. "Non, jangan berkata seperti itu, pamali nantinya. Non itu sudah sangat sempurna untuk tuan. Non itu sangat cantik, sangat baik, sangat perhatian lagi. Non itu lengkap pokoknya, tidak ada kurang-kurangnya percaya deh sama Bibik Non, Bibik itu tidak bohong. Non itu perfect end the best." Tutur Bu Ani lembut. "Chahhh ... Bibik bisa aja." Zahra sedikit terhibur mendengar perkataan Bi Ani barusan. Ia merasa sangat bahagia telah memperkerjakan orang yang tepat. Walau belum genap satu hari kenalan tapi Bi Ani sudah berhasil membuat Kimmy tersentuh. "Bik, makasih. Makasih sudah mau menghibur saya, makasih juga sudah mau bekerja di tempat saya." ucap Zahra menggenggam erat tangan Bi Ani. "Seharusnya saya yang terima kasih sama Non karena telah menerima saya, ini malah sebaliknya Non." "Aaeehhhh..... Tidak apa-apa, bukankah yang kecil harus menghormati yang lebih tua." Bik Ani hanya tersenyum mendengar perkataan Zahra barusan. Ia hanya bisa berdoa agar kelak hubungan majikannya baik-baik saja. "Oh ya Bik. Apa Bibik sudah mengurus mas Varrel?" tanya Zahra sesaat setelah teringat, karena tadi ia buru-buru keluar dari kamar tidak menghiraukan Varrel lagi yang sudah terlelap dalam tidurnya. "Sudah Non, saya sudah menyelimuti dan melepaskan sepatu tuan Varrel. Sesuai perintah Non." "Hah," Zahra menarik hembusan angin "Sekali lagi saya ucapkan terimakasih Bik." * Pagi hari, suara deringan ponsel berdering keras hingga membuat seorang wanita di atas ranjang menggeliat tak kala suara bunyi ponsel itu terdengar sangat nyaring di telinganya. Sembari mengumpulkan kesadarannya kembali Zahra mematikan suara deringan itu, rupanya dia sengaja membuat alarm ponsel agar ia bisa bangun lebih awal. Setelah selesai barulah ia mengerakkan kakinya menuruni ranjang, berjalan ke arah kamar mandi sesaat setelah merampas handuk kimono di yang tergantung di pintu kamar mandi. Di dapur Bi Ani juga baru terbangun dari tidurnya, setelah membersihkan diri barulah ia melanjutkan tugasnya di rumah yang ia pijak ini sebagai asisten rumah tangga. Bi Ani merasa beruntung memiliki majikan seperti Zahra. Ia tidak pernah menduga kalau Zahra akan memperlakukannya layaknya seorang Ibu. Bi Ani tidur di kamar bawah, kamar yang bersebelahan dengan Varrel, awalnya Bi Ani merasa sungkan jika tidur di kamar itu. Karena kamar itu sangat luas dan lengkap dengan balkon, Kamar mewah dan indah ini hanya di khusus untuk orang kalangan atas. Bi Ani merasa sangat tidak enak, tidak seharusnya ia di perlakukan seperti ini. Namun Zahra tetap bersikeras pada pilihannya. Di sisi lain Zahra yang sudah usai dalam kamar mandi keluar sembari menggosok-gosokkan kepalanya dengan handuk putih, berusaha mengeringkan rambut. Wanita itu mengambil stelan baju kantor yang sudah tersusun rapi di lemari, mengunakan pakaian itu setelah rambutnya kering. * Kembali di dapur, Bi Ani nampak sangat serius memasak. Ia memasak masakan kesukaan Zahra, walaupun tidak sepenuhnya iya tau masakan apa saja yang di sukai Zahra, tapi Bi Ani sudah tau sedikit mana makanan yang di sukai Zahra dan mana makanan yang di sukai Varrel. Karena semalam Zahra sudah sedikit cerita. Tak jauh dari posisi Bi Ani, Zahra baru saja turun dari anak tangga, wanita itu sudah siap pergi kerja sekarang. Namun sebelum berangkat ia terlebih dahulu pamit pada Bi Ani. "Bik, Zahra berangkat ya." tutur zahra sembari melangkah mendekati Bi Ani. "Eh, Non. Enggak sarapan dulu...??" tanya Bik Ani sesaat setelah berpaling dan mendapati Zahra sudah siap dengan setelan kerjanya. "Enggak, Bik. Soalnya Zahra buru-buru ada yang harus Zahra kerjakan." padahal ia beralasan agar ia tidak melihat wajah Varrel pagi ini, Zahra segaja bangun pagi-pagi buta ia merasa belum bisa melupakan kejadian semalam. Memang kalau dari segi kejadian Varrel tidak bersalah karena dia saat itu dalam keadaan mabuk berat dan tidak sadarkan diri. Tapi, tidak seharusnya kan dia meminta bantuan seorang perempuan untuk mengantarkannya pulang apalagi dalam keadaan seperti itu, kesempatan bisa datang kapan saja dasar laki-laki, semua sama saja selalu tidak berpikir panjang sebelum bertindak. "Tapi Non, Bibik udah masak nasi goreng kesukaan Non." "Hemmm, Ya udah deh gini aja. Bibik masukkan saja nasi goreng itu kedalam kotak makan, buat bekal. Nanti Zahra makan pas sampai di kantor." Zahra merasa tidak enak. Padahal ia berencana ingin membeli nasi bungkus tadinya namun karena tidak enak sama Bi Ani sudah capek-capek menyiapkannya makanan ia pun mengurungkan niatnya itu. "Baik Non, Pokoknya nanti Non harus habiskan makana ini ya soalnya lihat itu badan Non, kurus kali kayek enggak ada asumsi makanan." cetus Bi Ani sembari menyiapkan bekal. "Hehehehe..... Ini namanya diet Bik. Nanti kalau Zahra makan banyak-banyak jadi gemuk kayek orang sumo bagaimana." "Ya, Ampun Non, maappppppp..... Maksud Bibik enggak kayek gitu." "Hehehe..... Zahra bercanda Lo Bi. Zahra janji Zahra bakal habiskan nasi goreng buatan Bi Ani." Zahra memeluk Bi Ani singkat. Entah kenapa suasana hatinya selalu bahagia saat bicara dengan Bik Ani. "Makasih ya Bik makanannya." sambungnya lagi" Zahra pamit. "Bay." "Bay." "Hadeh anak-anak jaman sekarang, diet lah, pengen kurus lah. Hehhh... Dulu mana ada, Zaman sudah berubah." * Di kamar, Varrel memekik kecil. Ia tidak bisa bangun dari atas ranjang, kepalanya berdengung sangat hebat pusing tak terkendali. "Sial, sepertinya aku mabuk berat semalam." umpatnya sembari memijit kening yang terasa semakin berdengung. "Di mana aku." Varrel melirik setiap sudut ruangan, ia merasa tidak asing dengan ruangan ini. "Siapa yang membawaku pulang? Apa Dira" Varrel baru ingat kalau semalam Dira meminta alamat rumahnya, dia berkata akan mengantar nya pulang. "Aaagggrrr..... Kenapa sakit sekali." Varrel memaksakan diri berjalan keluar, dengan langkah gontai ia berjalan kearah anak tangga. Bik Ani yang kala itu sudah selesai di dapur pun keluar, ia berencana pergi ke kamar Zahra, mengambil pakaian kotor. Tanpa segaja matanya berhasil melirik Varrel yang kala itu hendak melayangkan kakinya di anak tangga pernah. "Tua..." panggil Bi Ani cepat, ia merasa khawatir saat melihat Varrel berjalan gontai. "Kamu, Siapa?" Varrel menaikkan alisnya baru pertama kalinya ia melihat wanita paruh baya berada di rumahnya. "Saya Bi Ani, tuan. Saya asisten rumah tangga. Baru kemaren saya di terima kerja di sini oleh Non Zahra." Bi Ani sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat. "OOO...." Varrel manggut-manggut pertanda sudah mengerti, ia juga sudah teringat kalau ia pernah menyuruh Zahra mencari asisten rumah tangga kemaren. "Di mana dia? Maksudku di mana istriku? Apa dia belum bangun?" "Sudah tuan. Non Zahra sudah berangkat ke kantor beberapa menit yang lalu." Varrel sontak saja mengerutkan keningnya dalam. "Jam berapa sekarang." "Jam enam lewat lima tuan." "Apa .... Di pergi ke kantor pagi-pagi buta." Varrel merasa heran. "Kata Non Zahra, Buru-buru ada yang harus di kerjakan." "Kerja apa sepagi begini, aku tidak pernah menyuruh karyawan ku pergi sepagi ini" Varrel berdecak kecil. Ia hendak melanjutkan langkahnya namun tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu. Sorot matanya kembali melirik kearah Bi Ani. "Apa Bibik tau siapa yang mengantar saya pulang semalam?" tanya Varrel mencoba memastikan apakah benar Dira yang mengantarnya pulang. "Eh, t-tidak Tuan." Varrel mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Bi Ani terdengar terbata-bata. "Apa yang mengantar saya semalam seorang wanita?" "Ehm," Bik Ani tidak berani menjawab. "Aku tidak boleh ikut campur dalam rumah tangga Non Zahra, biar Non Zahra yang akan mengatasinya sendiri." "Bibik kenapa?, kenapa Bibik seperti ketakutan seperti itu." Varrel curiga telah terjadi sesuatu semalam. "Anu tua, yang mengantar tuan selama seorang wanita. Kalau enggak salah namanya Non Dira" Bi Ani merasa ragu jika harus mengatakan kalau Dira telah berani menyebut dirinya sebagai calon istrinya. Bi Ani bukan tanpa tanpa alasan melainkan Bi Ani tidak sanggup jika mendengar perkataan itu ternyata benar, Bi Ani merasa tidak tega jika wanita sebaik Zahra tersakiti "Apa Zahra dan Dira emalam bertemu?" Varrel semakin antusias. "I-Iya, tuan!" * Di perusahaan Global Grup. Tepat pukul delapan pagi Varrel baru tiba di kantor, setelah sesaat laki-laki itu memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Varrel dengan penuh elegan dan karisma berjalan menuju lift. Semua para karyawan yang melihat kedatangan sang putera tunggal perusahaan pun terkesima, mereka langsung berlari memberi hormat, menundukkan kepalanya. Bagi para karyawan kantor, melihat wajah Varrel secara langsung adalah sebuah keberuntungan bagi mereka. Pasalnya rumor yang mengatakan kalau Varrel adalah pria yang sangat tampan teryata benar, banyak sekali para karyawati yang telah melihat langsung wajah Varrel mereka sontak jatuh cinta. "Ya Tuhan mimpi apa aku semalam bisa melihat pak Varrel secara langsung." bisik para karyawati. "Pak Varrel sangat tampan. Aaaaaa ... Idaman aku banget." "Beruntung banget ya Bu Dira jadi kekasihnya pak Varrel, Setiap hari bisa memandang wajah tampannya itu." "Hem'em. Aku jadi iri." Bisikan itu tidak berhenti sampai Varrel lenyap dari pandangan mereka. Setelah tiba di lantai lima puluh Varrel menghentikan sejenak langkah kakinya tak kala berada tepat di depan meja Sinta. Sinta dengan gerak cepat menundukkan kepalanya. "Ada yang bisa saya bantu bos?" tanyanya. "Kumpulkan semua orang, bukankah hari ini ada rapat mengenai projek di Prancis!" "Baik, pak, saya akan segera menyiapkan sidang rapat." sahut Sinta yang masih saja menundukkan kepalanya hingga sampai Varrel berlalu masuk kedalam ruangan. Di sisi lain, Zahra nampak sangat sibuk dalam tugasnya. Matanya dan jemarinya tak pernah luput dari layar monitor dan keyboard komputer. Sesekali wanita itu berdecak kesal saat menyelesaikan rancang tugas yang nampak sedikit susah baginya. "Ck... Susah sekali." Zahra memijit pelipisnya pelan rasanya ia tidak bisa konsentrasi dalam bekerja, bayang-bayang Varrel dan Seli terus terlintas di kepalanya. "Aggrrrr ... Kenapa kedua orang itu terus saja berada di pikiran ku." batin Zahra merasa sangat kesal. "Bu Zahra." suara panggilan Malisa tiba-tiba datang menghampiri Zahra. Malisa adalah karyawan humas dibawah Zahra. "Emmm. Iya, Malisa" Zahra sedikit terkejut. "Ibu harus segera keruang rapat sekarang, Pak Varrel mempercepat rapat masalah mengenai rancangan penelitian projek Prancis." ucap Malisa dengan penuh kelembutan dan rasa hormat. "Iya, aku akan segera ke sana." "Kalau begitu saya permisi dulu Bu, saya mau memberitahu pak Justin dulu." pamit Malisa yang masih dengan nada hormat, bahkan wanita itu sedikit menundukkan kepalanya. *** Ruangan rapat. Semua orang para karyawan sudah berkumpul kecuali Varrel dan Seli selaku atasan tertinggi dalam perusahaan Global Grup ini. Intan dengan nafas beratnya terus saja menggenggam erat jemarinya, wanita itu merasa takut kalau rancangannya tidak di terima. Sembari mengigit bibir bawahnya Intan berdo'a pada Tuhan agar bisa melewati hari ini dengan lancar. Zahra melihat itupun menggenggam tangan Intan dengan lembut. Ia tau sahabatnya ini pasti gugup. "Tenang, aku yakin kamu pasti bisa." bisik Zahra dengan hati-hati agar orang lain tidak mendengarnya. "Ra, aku sedikit takut. Kalau sampai rancangan ku di tolak. Aku pasti akan di PHK." "Suuuttt ... Semua akan baik-baik saja." "Selamat pagi semuanya." ucap Varrel baru tiba di ruangan rapat, begitupun dengan Dira yang berjalan di belakangnya. Mendengar itu semua orang langsung berdiri dari kursi mereka, memberikan hormat pada Varrel tak terkecuali Zahra sendiri. "Pagi Pak." jawab para karyawan secara bersamaan. "Duduk," pinta Varrel sembari mempersilahkan. Laki-laki itu juga duduk melipatkan kedua kakinya, sorot matanya melirik setiap anggota rapat secara bergiliran. Hingga di tatapan terakhir Varrel dengan sangat lekat memerhatikan manik-manik mata coklat Zahra. Kedua insan itu saling terkunci dalam tatapan mereka. "Kamu ini kenapa Mas, sikapmu kepadaku tidak bisa ditebak. Aku tidak tau apa kamu mencintaiku atau hanya mempermainkan ku saja!" batin Zahra. "Satu persatu orang akan tau tentang pernikahan kita ini, aku tidak akan melanggar apa yang kau inginkan itu Sayang, tapi aku akan membuat kamu sendiri yang mengatakan pada semua orang kalau kamu adalah istriku. Istri sah pemilik Global Grup." batin Varrel. *** Presentasi rapat sudah berlalu beberapa menit yang lalu, semua persiapan keberangkatan ke Prancis sedikit demi sedikit terselesaikan hanya tinggal menunggu berkas peninjau proyek dari Zahra saja. Varrel dengan sangat teliti memeriksa berkas Zahra, ia memasang mimik sangat serius dalam meneliti. Varrel manggut-manggut, ia sangat takjub dengan apa yang di rancang istrinya, semuanya sesuai keinginannya. Tidak heran jika Zahra bisa, karena memang dia adalah salah satu mahasiswa terunggul di kampusnya. Pekerjaan ini kalau di perhatikan sangat susah di kerjakan tapi jika cermati semuanya terlihat sangat mudah. Varrel tersenyum puas. Padahal istrinya baru kemaren bekerja, "apa dia tadi pergi kerja karena ingin menyelesaikan ini" Tapi sayangnya perlahan-lahan senyuman Varrel memudar sedikit demi sedikit takala ia meneliti lembaran terakhir. Dahinya berkerut seolah-olah ia begitu heran dengan lembar yang terakhir. Zahra yang melihat mimik yang di tunjukkan Varrel pun menaikkan alisnya. Padahal tadi ia tersenyum puas tapi kenapa sekarang berubah menjadi mengerikan. "Apa semuanya baik-baik saja?" Dira bertanya cepat, ia juga merasa janggal dengan mimik yang di tunjukkan Varrel. Namun dalam hati wanita itu ia tersenyum puas bahkan ingin tertawa terbahak-bahak. Wanita itu bisa menebak kalau di lembaran terakhir telah terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan, sebisa mungkin ia memanfaatkan situasi ini. Brukkk..... Varrel dengan tanpa aba-aba memukul kasar meja di depannya, membuat semua orang yang berada di ruangan rapat terkejut di buatnya. Kecuali Dira, wanita itu bisa membaca kalau hal ini pasti akan terjadi. Zahra memegang belahan dadanya cepat, jantungnya hampir saja berhenti berdetak saat mendengar suara hantaman tadi. Semua pasang mata menatap Varrel dengan tatapan takut. "Apa ini" ucap Varrel dengan suara bergumuru, menatap tajam kearah istrinya. Bahkan tatapan ini belum pernah ia tunjukkan pada Zahra sebelumnya. "Varrel tenangkan dirimu." Dira mencoba bersaksi sebisanya. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk menjatuhkan Zahra dari perusahaan ini. Wanita licik itu juga ikut menatap tajam ke arah Zahra. "Ini belum seberapa atas penghinaan yang kamu berikan tadi, wanita jala**. Aku akan pastikan kamu di tendang dari perusahaan ini, kamu sama sekali tidak layak berada di sini. Dasar w*************a. Aku tidak akan melepaskan kamu begitu mudah." Batin Dira. "Saya akan segera memperbaikinya." ucap Zahra sesaat setelah ia memejamkan singkat matanya. Sebelumnya ia sudah menduga kalau dia pasti akan mendapatkan teguran dari atasan, karena rancangan di lembar terakhir belum terselesaikan secara keseluruhan dan apabila dia tadi terburu-buru menulisnya. "Aku salah seperti ini juga karena dirimu mas, pikiranku sekarang sudah di penuhi bayangan mu dan wanita di sampingmu itu!" batin Zahra. "Siapkan berkas ini secepatnya, aku tidak mau menerima toleransi lagi. Hari ini harus siap!" tukas Varrel. "Sayang, maafkan aku, aku harus melakukan ini, aku harus bersikap adil. Bukan ini yang kamu inginkan." Batin Varrel. "Maaf." hanya perkataan itu yang keluar dari mulut Zahra sekarang. "Varrel, aku rasa wanita ini tidak layak lagi di pertahankan. Dia benar-benar tidak bertanggung jawab. Aku pikir sebelumnya karena prestasi dan sekolahnya yang tinggi, bisa menjadi contoh dan panutan di perusahaan ini. Tapi sepertinya aku salah orang, aku akan segera mencari yang baru." Dira mencoba beraksi. "Mohon maaf, pak Varrel. Menurut saya ini adalah hal yang wajar terjadi. Bu Zahra adalah salah satu karya baru di sini. Beliau belum berpengalaman sangat dalam dunia bisnis dan proyek sebesar ini. menurut saya Bu Zahra sudah sangat sempurna dalam tugas ini pak. Bisa bapak lihat sendiri, ini adalah rapat pertama beliau di perusahaan ini dan beliau langsung mendapat tugas yang susah." Justin memerhatikan Zahra dengan sangat lekat sebelum sesaat ia akan melanjutkan pembicaraannya lagi. "Mohon berikan Bu Zahra satu kesempatan lagi pak, saya akan berada di samping Bu Zahra untuk mengajarinya selaku senior di perusahaan ini." sambung Arya lagi sedikit menundukkan kepalanya di Kalimantan terakhir. Zahra menatap tak percaya, ia tersentuh atas pembelaan yang di tunjukkan oleh Justin. sementara Varrel semakin menatap tajam ke arah mereka berdua. "*Bisa-bisanya ada laki-laki lain yang membelanya." Batin Varrel. "Sialan Arya pakek ikut-ikutan segala*." Batin Dira. "Rapat bubar." Varrel berjalan sangat cepat berlalu pergi dari ruangan rapat. "Keluar, aku ingin bicara pribadi dengan Humas ini" ucap Dira tiba-tiba sesaat setelah Varrel keluar dari ruangan rapat. Semua tanpa hening tidak ada pembicaraan ataupun gerakan sama sekali melainkan saling tatap menatap. "Apa perkataan ku kurang jelas." "B-Baik Bu." "Kamu hati-hati. Aku akan selalu berada di belakang mu." bisik Justin menggosok pelan punggung Zahra. "Zahra aku pergi dulu." Intan juga ikut berbisik, lalu keluar bersamaan dengan yang lainnya. Kini di ruangan rapat hanya tinggal Zahra dan Dira. Mereka berdua saling beradu tatapan. "Mungkin hari ini kamu selamat tapi lain kali tidak." Dira berbicara sembari berjalan mendekati Zahra, yang kala itu masih duduk di kursinya. "Apa kamu pikir aku akan mundur." ucap Zahra sembari bangkit dari kursi. "Sepertinya aku sudah paham betul apa yang kamu inginkan sekarang." sambungnya lagi. "Kau sudah merampas apa yang selama ini aku inginkan, kau sudah mengambil sesuatu yang berharga dalam hidupku. Aku tidak akan membiarkan kamu menang lagi. Kali ini aku pasti bisa merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku." "Hahaha ... Ckck. Aku pikir kamu wanita terhormat tapi nyatanya anda tidak lain adalah wanita tidak bermoral. Beraninya mengganggu rumah tangga orang lain." "Mengganggu. Lucu sekali bukankah perkataan itu seharusnya aku yang katakan." Dira tertawa renyah. "Aku ingatkan kepada mu. Aku adalah sahabat kecil Varrel, dan aku orang yang selalu berada di sampingnya sejak dari kecil hingga sampai sekarang. Sedangkan kamu hanyalah istri sementara, uppp.... Salah. Lebih tepatnya Istri simpan." "Plakkk" tamparan mulus berhasil di layangkan di pipi Dira. "Aku akan menjauhkan suamiku dari wanita ular sepertimu." ucap Zahra. "Beraninya kamu." Dira hendak melayangkan tamparan keras, ia merasa terhina apa yang di lakukan Zahra barusan. Namun suara ketukan pintu berhasil membuat ia mengurungkan niatnya. "Permisi, maaf. Apa saya boleh berbicara dengan Bu Zahra sebentar." suara Justin dari balik pintu. "Sepertinya hari ini berpihak padamu, tapi lain kali tidak akan." Dira menerobos berlalu meninggalkan Zahra yang masih mematung di tempat. *** Di ruangan Dira. Wanita itu mengobrak abrik meja kerjanya, hingga membuat seluruh barang yang tergeletak di atas meja terjungkal ke lantai. Sorot matanya memanas, buas siap menerkam mangsa. "Sialan, wanita jalan* sialan. Beraninya kau menamparku. Aggrrrr" Dira terus mengobrak abrik meja. "Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Ckck, kamu pikir kamu bisa selamanya menjadi istri Varrel hah. Kamu ingin menjadi nyonya di negera ini, ck. Itu hanya akan menjadi mimpi belakang mu saja. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sampai matipun aku akan tetap merebut apa yang seharusnya menjadi milikku." Seli meluapkannya semua emosinya. * Sinta yang kala itu sedang bertugas pun tersentak mendengar suara gemuruh di ruangan Dira, dengan gerak cepat wanita itu membukakan pintu ruang Dira, mencoba melihat. "Bu Dira." ucap Sinta yang terkejut melihat ruangan Sinta sudah seperti kapal pecah. "Pergi, beraninya kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu." "Bu Sinta apa yang terjadi dengan mu." "Kalau kau tidak pergi, aku akan membunuhmu sekarang juga." ancam Dira dengan sorot mata menusuk. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD