mulai ada rasa

1196 Words
Setelah pergulatan yang begitu hebat tadi pagi. Kini Varrel membenamkan tubuhnya dibawah shower berguyur dengan air membersikan dirinya. Sungguh Varrel benar-benar puas atas apa yang perbuat tadi pagi dengan Zahra. Ia tidak pernah menyangka akan merasakan hal senikmat ini berhubungan intim. Serasa seluruh lelah dan penaknya hilang dalam seketika. Selesai dalam ritual mandi Varrel melilitkan handuk di area pinginnya. Manik-manik matanya sekilas menatap kearah Zahra masih tertidur pulas sepertinya wanita itu benar-benar kewalahan. Sungguh berbeda dengan Varrel yang terasa sangat b*******h, rasanya ia lagi dan lagi menikmati tubuh istrinya itu. "Tidurlah sayang, aku janji akan pulang awal hari ini!" Gumam Varrel mengambil stelan jas ya dan memakan pakaian itu. Hari ini ada meeting penting tepat pukul sepuluh dia harus segera bersiap-siap untuk berangkat kantor. "Aku akan membuatkan makanan untukmu. Istirahatlah!" Sebuah kecupan kembali di turunkan di kening Zahra. Wanita itu menggeliat dengan bola matanya masih tertutup rapat. Sepertinya alam mimpi benar-benar membuat dia tertidur pulas. Varrel turun, ia melepaskan jasnya sebentar. Melipatkan lengan baju kemejanya keatas lalu berkutik diatas di dapur. Varrel sadar kalau semalam adalah yang pertama kali dilakukan olehnya dan juga oleh Zahra. Terlihat jelas sekali banyak darah yang keluar dari selaput kewanitaan Zahra. Ia benar-benar puas melihat itu. Dua puluh menit berkutik akhirnya nasi goreng lengkap dengan sosis dan ayam goreng telah tersaji. Sebenarnya Varrel tidak terlalu pandai memasak seperti Zahra yang bisa memasak untuknya. Tapi ia pernah beberapa kali di Amerika memasak makanan sendiri. Dan lagi nasi goreng tidak terlalu payah. Varrel adalah tipe orang pemakan daging. Dia tidak suka sesuatu yang berbau sayur-sayuran. Mencium saja tubuhnya bergejolak memaksa muntah. Tidak heran jika dia selalu menggoreng atau memanggang ayam. Makanan favoritnya. Setiap semaunya tertata rapi di atas piring. Varrel tersenyum tipis, ia juga telah mencicipi kalau rasanya tidak kalah jauh dengan apa yang masak Zahra biasanya. Segelas s**u hangat, ia letakkan di atas nampan bersebelahan dengan piring berisi nasi yang dibuatkan Varrel tadi. Tiba di kamarnya dengan hati-hati Varrel meletakkan nampan itu di atas meja tak jauh dari ranjang. Juga sebuah tulisan yang ia tulis diselipkan di antaranya. *** Pagi hari menjelang siang, suasana rumah sudah penuh akan cahaya sinar matahari yang terik. Tentu karena cahaya matahari telah berhasil menembus sela-sela jendela kaca. Zahra menggeliat di atas ranjang, perlahan-lahan ia mengucek kedua bola matanya sembari mengumpulkan alam kesadarannya kembali. Sesaat ia termenung menatap langit-langit kamar yang terlihat asing baginya. Ia mengerutkan keningnya ekor matanya nulis menyipit memperhatikan seisi ruangan yang benar-benar sungguh berbeda dari kamarnya biasanya ia tempati. "Dimana aku!" gumamnya sendi. Namun tanpa sengaja ekor matanya melirik ke sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah bingkai foto berukuran besar terpanjang indah disana. Foto pernikahan Zahra dan Varrel, disana terlihat jelas kalau Varrel mengandeng tangan mesra serta serta senyuman manis di sudut bibir Varrel yang selama ini tidak pernah ia lihatkan. Terlihat jelas disana Varrel tersenyum senang. Tanpa disadari Zahra ia menyunggingkan senyum manis melihat itu. Entah kenapa rasanya ia bahagia. Setelah memastikan dan sadar kalau Zahra sekarang berada didalam kamar Varrel Zahra hendak beranjak bangkit, seperti biasa ia melangkah namun baru satu langkah ia melangkah Zahra sudah menjerit sakit. "Aaagggrrr ..." Zahra merebahkan kembali tubuhnya diatas ranjang. Kedua bola mata Zahra membulat melihat tubuhnya polos tanpa ada sehelai benangpun yang menutupinya. Bagaimana bisa batin Luna mencoba memikirkan. Tak butuh waktu lama Zahra langsung tersadar apa yang telah terjadi semalam. Wajahnya langsung memerah merona. Ooohhhh Zahra memekik kembali rasa nyeri kembali menyerahkan, ia perhatikan tubuhnya secara perlahan-lahan. Begitu terkejut. Tubuhnya seperti sisik ikan banyak tanda merah menghiasinya apalagi bahagian d**a keatas semaunya dipenuhi cupang. "Varrel!" Seru Zahra keras. Beruntung suaminya tidak ada dirumah mendengar suara teriakan istrinya yang melengking. * Cukup lama Zahra berada didalam kamar mandi membersihkan diri, secara perlahan-lahan ia melangkah dengan hati-hati rasa nyeri masih sangat terasa. Area sensitifnya bengkak merah. Zahrah menelan salivanya membayangkan keganasan suaminya semalaman benar-benar mengila seperti harimau lapar. Zahra berjalan hendak melangkah keluar setelah sesaat ia membereskan semua kekacauan yang ada dikamar kamar suaminya. Dengan handuk putih melilitkan tubuhnya tentunya dengan langkah hati-hatian. Memungut semua pakaian kotor termasuk pakaian suaminya. Zahra menelan salivanya saat melihat Daleman suaminya terpapang nyata dimatangkan. Ia ingin betul bahwa ganasnya benda keras dan besar itu masuk kedalam tubuhnya. Lagi-lagi Zahra menelan salivanya. Buru-buru memungutnya lagi baru. Tak lupa Zahra mengantikan sepre dengan yang baru. Bercak-bercak darah dan bau amis sangat terasa di hidungnya. Setelah memastikan semaunya rapi dan memasukkan pakaian kotor dalam kerangka sampah barulah Zahra hendak pergi keluar menuju kamarnya. Ekor matanya lagi-lagi melirik sesuatu yang belum ia lihat sebelumnya. Nasi goreng serta segelas s**u terdapat diatas meja. Kening Zahra berkerut. "Apa dia yang membuangnya?" gumam Zahra bertanya pada dirinya sendiri. "Mungkin." Awalnya Zahra tidak mau menghiraukannya. Tapi perutnya terasa lapar setelah melihat makanan itu. Tidak punya pilihan lain Zahra pun mulai mendekati. Manik-manik menatap sebuah kertas putih kecil di selipkan di bawah piring. "*Makanlah, itu sengaja aku buatkan untukmu. Setidaknya balasan permohonan maafkan atas kejadian semalam. Habiskan, akan akan usahakan pulang cepat. Tunggu aku pulang, dan terimakasih atas semalaman."* Baca Zahra dalam hatinya. Sungguh Zahra tidak percaya kalau Varrel yang dingin dan cuek kepadanya membuatkan dia sarapan pagi seperti mimpi. Zahra mulai menikmatinya. "Tidak buruk, cukup enak!" Batin Zahra mulai memakan semua nasi goreng itu tak lupa menghabiskan s**u yang dibuatkan oleh Varrel. *** Global grup. Varrel POV Entahlah, aku enggak tau kenapa hari ini rasanya aku begitu segara dan bahagia. Aku tersenyum senyum sendiri. Mungkin saja kalau dilihat orang aku seperti orang gila hahaha biarkan sajalah. Yang aku kenapa mereka yang sibuk, emang mereka siapa. Tok Tok Suara ketukan pintu yang aku dengarkan, "masuk!" Tintah ku tanpa menoleh. "Apa masih ada tanda tangan yang pernah aku tanda-tandani?" Tanyaku, jelas aku pikir itu adalah Sinta sekretaris ku. Yang super duper pintar. "Rel, ini aku Dira!" "Dira!" batinku segera mendongrak kepalaku melihat siapa yang berdiri dihadapan ku sekarang. Segera aku membuang tatapan kembali fokus kedalam layar laptop. Entahlah ketika melihatnya aku mengingat keajaiban semalam. Sungguh aku benar kesal walaupun hanya membayangkannya saja. Dimana Dira berusaha menjebakku dengan obat perangsang. Tidak ku sangka ternyata Rama juga ada dibalik itu semua. Iya, semalam aku pulang terlambat karena menemani mereka part di clup malam. Aku pikir akan baik-baik saja tapi nyatanya kedua teman laknatku ini berusaha menjebakku. Awalnya aku menolak ajakan mereka, entahlah aku tidak suka saja mengingat selama ini aku selalu pulang terlambat membiarkan istriku tidur dirumah sendirian. Bagaimana kalau ada sesuatu yang berniat jahat masuk kedalam rumahku dan melakukan hal keji pada Zahra. Entahlah, tapi jujur aku tidak enak hati pulang larut malam. Kadang aku melihatnya tertidur di ruangan TV. Mungkin menungguku, aku senang melihat kenyataan itu. Tapi pagi hari saat aku mendengar kata-katanya. "Astaga kenapa aku bisa tertular pulas saat menonton Drakor yang ku sayangi!" Kata-kata itu benar-benar membuat aku kesal, sungguh aku pikir dia akan bertanya. "Kenapa akhir akhir ini kamu pulang larut malam, tidak bisakah semalam saja kamu pulang awal!" Harapan itu sepertinya tidak akan aku dengarkan. Dia begitu dingin kepadaku, satu hal yang salut. Walaupun dia bersikap seperti itu kepadaku dia selalu melakukan tugasnya sebagai istri. Memasak sarapan pagi untukku, membersihkan rumah dan bahkan mencuci bajuku. Padahal aku sudah memperingatkan dia kalau aku bisa mencuci bajuku sendiri. Tapi dia sangat berbakti. "Rel kemana kamu semalam?" Bersambung .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD