Malam itu

1157 Words
"Kenalin namaku Rama!' pria tampan anak dari konglomerat terkaya di Indonesia!" sapa Rama menjulurkan tangannya untuk berjabat berkenalan. "Gak butuh, aku ada urusan lain permisi!" ketus Zahra hendak pergi lagi dan lagi-lagi Rama menghentikan langkahnya. "Hey, kau sangat tidak sopan. Kau masuk kesini atas izin dariku kau mau aku panggil satpam untuk menyeret kamu keluar dari sini. Mau?" Desis Rama. "Kamu mengancam!" "Aku tidak akan mengancam kalau kamu tau diri. Atau kau mau aku berteriak disini!" "Kau!" Zahra merapatkan giginya. "Oh, ayolah kau sangat manis kalau diam duduk dengan rileks dan nikmat!" Kata Rama menarik paksa Zahra untuk duduk disofa tepat didepannya. Zahra menghela nafas panjang tidak punya pilihan baginya selain menuruti. Takutnya kalau Rama benar-benar teriak itu akan membuat dia dalam masalah. "Selamat siang tuan. Ada yang bisa saya bantu!" seorang pelayan mendekati setelah Rama menjertik kan tangan pertanda memanggil pelayan cafe. "Tolong siapkan aku stek sama jus buah!" tutur Rama. "Kau pesanlah apa yang kamu mau?" tanya Rama pada Zahra. Wanita itu semakin mendengus kesal. "Terserah!" ketus Zahra mengerucutkan bibirnya. "Kalau gitu samakan saja." tintah lagi Rama pada pelayan cafe itu. "Baik, tuan, pesanan anda akan segera kami siapkan!" kata pelayan mengangguk lalu melengos pergi. Suasana hening tak ada percakapan antara dua manusiawi itu selain keheningan. Zahra sibuk bermain dengan ponselnya sementara Rama juga demikian tapi rasa sesekali mencuri-curi pandang kepada Zahra terlihat fokos. "Kamu main apa?" Tanya Rama memecahkan keheningan. "Bukan urusanmu!" Ketus Zahra. "Aku hanya ingin tau, kalau enggak mau ngasi tau ya sudah!" Balas Rama. "Ngapain kamu ngotot mau masuk kelas VVIP. Punya uang emangnya kamu buat bayar!" "Sekali lagi bukan urusanmu." Seru Zahra. "Ya udah." Lima menit kemudian beberapa pelayan datang membawa kan apa yang di mintak oleh Rama tadi. Zahrah melihat sekilas rasa tergiur dengan makanan membuat ia menelan salivanya. "Kami permisi dulu tuan. Kalau membutuhkan sesuatu hubungi kami!" Pamit salah satu pelayan. "Hm" hanya itu yang diucapkan Rama mulai memakan pesanannya. Zahra mendengus, duduk melihat Rama makan membuat dahaganya terasa sangat ingin menyentuh stek itu. Entah kenapa perutnya semakin lapar, namun gengsi membuat ia mengurungkan niatnya. Bukan tanpa alasan hanya saja Zahra belum mengenal Rama sepenuhnya dia juga tidak bisa menebak kalau Rama ini orang baik atau jahat. Dari tampangnya Zahra bisa menebak kalau Rama orang baik. "Ni orang sebenarnya baik apa jahat sih, takut pas makan diracuni pulak. Gak-gak aku harus menahannya, menahan dari hal-hal burung yang mungkin akan terjadi. "Kau kenapa menatapku seperti itu? Cepat makan habiskan makananmu!" tintah Rama. "Eng-ggak, siapa yang melihatmu. Kepedean, ogah." Desi Zahra. "Kalau begitu cepat makan, habiskan makananmu. Jangan melihatku terus nanti kamu bisa jatuh cinta!" kata Rama lagi "Dih," "Kau makan sendiri atau mau aku suapi dengan mulutku ini. Pilih mana?" tawar Rama menghentikan aktivitas makanya sebentar. "Kau ini, kenal enggak. Apa-apa enggak kenapa maksa sih. Mau aku makan kek, mau aku enggak makan kek. Bukan urusanku!" cibir Zahra. "Jadi kamu mau benar-benar aku paksa, ok. Tidak masalah kalau itu yang kamu inginkan dengan senang hati aku akan memberikannya untukmu!" Tantang Rama hendak mendekati Zahrah yang terbelalak melihat Rama benar-benar melakukannya. "Hentikan, dasar pria aneh. Aku akan makan!" keluh Zahra terpaksa mengambil garpu memotong makanannya, sementara Rama tersenyum kecil melihatnya. "Dasar gadis liar, tapi tidak apa. Aku suka yang menantang!" batin Rama. *** Dirumah pukul setengah sepuluh malam Zahra sudah berputar layaknya seperti setrika mondar-mandir diruangan tengah sembari mengigit kuku telunjuknya. Pikirannya terus saja terpikir kepada Varrel, sang suami. Luna yakin seratus persen kalau laki-laki yang ia lihat itu memanglah benar Varrel. Maka dari itu selepas pulang cafe Zahra tidak mampir dimana-mana lagi selain langsung pulang kerumah. Menunggu sang suami pulang. Merasa lelah untuk berjalan terus menerus, Zahra memilih duduk sekarang. Ia menyalakan TV guna untuk menghibur diri. Tapi nyatanya pikirannya sama sekali tidak berpaling tempat, masih tetep memikirkan Varrel. Entah kenapa hatinya terasa sesak jika membayangkan hal itu lagi. Karena Varrel tak kunjung pulang juga membuat Zahra kewalahan dan akhirnya tertidur yang entah berapa lama. Ia tersadar dari alam mimpinya tak kala mendengar suara orang menekan bel masuk. Ting tong .... Zahra mengucek ngucek bola matanya. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya melirik kearah jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 pagi. "Sepagi ini dia pulang! Kenapa lama sekali, apa dia semalaman bersama wanita itu!" Terka Zahra berasumsi. Ting Ting .... Kembali lagi mendengar suara ketukan pintu dan bel berbunyi. Zahra bergegas membukakan pintu utama, sengaja kali ini ia mengunci pintu agar ketika Varrel pulang ia bisa sadar. "Kamu baru pulang!" ucap Zahra menampakkan sosok pria yang ia tunggu di ambang pintu dengan pakaian tidak bisa di artikan pagi. Kusut tentunya, bahkan kancing kemeja sudah terbukti tiga kancing memperlihatkan bidang d**a sixpacknya. "Mas, kamus kenapa?" suara Zahra terkesiap melihat penampilan Varrel. Pria itu tersenyum, sekilas matanya yang biru samar-samar melihat kearah Zahra lalu tanpa aba-aba mencumbui Zahra kasar. Sedangkan kan tangannya sebelah lagi bermain di gunung kembar kenyal itu. Tentu, Zahra lebih terkesiap melihat apa yang dilakukan suaminya kali ini, ini sungguh membuat ia tersentak. Tanpa tanpa ampun Varrel terus menjelajah bibir ranum Zahra memaksa membukakan mulutnya. Dirasakan nafas sudah habis Zahra berusaha mendorong tubuh Varrel menjauh. Nafasnya tersengal-sengal. "Mas apa yang kamu lakukan!" bentak Zahra dengan sorot mata memerah. "Layani aku!" bisik Varrel kembali melanjutkan aksinya yang kasar mendorong Zahra untuk masuk kedalam, menindih Zahra di atas sofa ruang tamu. Zahra melawan, ia berusaha mati-matian tapi tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan Varrel yang sudah gairah memucat setelah puas di bibir ranum kini Zahra, kini Varrel memberikan puluhan kecupan di leher jenjang Zahra. Memberikan tanda kepemilikannya disana. "Hikkk apa yang kamu lakukan lepaskan aku!" Parau Zahra bersuara. "Kau mau aku mati?" tanya Varrel menghentikan aktivitasnya sebentar menatap nanar kearah Zahra. "M-mati!" Zahra mengerutkan keningnya. Pipinya sudah basah dengan air mata membanjiri. "Tubuhku dipengaruhi oleh perangsang, satu-satunya cara untuk menjinakkannya kamu harus melayani aku atau kalau tidak aku akan depresi dan mati. Kau mau jadi janda?" tanya Varrel lagi. Mendengar kata janda spontan Zahra menggeleng kan kepalanya cepat. "Kalau begitu layani aku!" Pinta Varrel. Tak ada jawaban dari wanita itu terlihat Zahra mencerna apa yang dikatakan Varrel barusan namun kali ini tidak ada juga penolakan. Dengan leluasa Varrel menjelajahi tubuh istrinya, merobek kasar pakaian Zahra lalu membuangnya ke sembarang arah. Hanya dalam hitungan detik tubuh Zahra sudah polos tidak tersisa sedikitpun benang. "Cantik!" Gumam Varrel tersenyum puas. Wajah Zahra merah merona menahan malu yang membaluti tubuhnya. "Apa ini pertama kali untukmu?" Zahra menganggu ragu akan pertanyaan Varrel dan lagi-lagi pria itu tersenyum puas mendengarnya. Varrel bangkit dia beranjak berdiri membukakan semau pakaiannya tak tersisa. Hingga terlihat jelas di mata Zahra sesuatu yang menegang dan keras disana. "Kau suka?" Zahra menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dan kejadian panas itu berakhir pukul 8 pagi entah berapa banyak sudah Varrel membuang beningnya didalam sana. Namun ia benar-benar puas merasakan nikmat tiada tara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Zahra lelah ia sudah terlelap tidur, dengan hati-hati Varrel mengangkat tubuh polos Zahra menaiki anak ranjang membawakan kedalam kamarnya. "Terimakasih!" Kecupan kening dilayangkan oleh Varrel. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD