pria aneh

1039 Words
Satu bulan sudah Zahra tinggal dirumah barunya yang dibelikan oleh Varrel, sang suami. Kedekatan bagi keduanya sudah mulai terasa dekat dan bahkan cara keduanya berbicara pun sudah mulai mulai membaik. Namun keduanya masih tetap dalam tidur dalam ranjang masing-masing. Akhir akhir ini Varrel sibuk bekerja pergi dan pulang tengah malam, entahlah Zahra saja tidak tau jam berapa suaminya itu pulang. Lebih baik ia beristirahat dan menenangkan dirinya, pernah sekali Zahra terbangun dari tidurnya. Karena merasa haus akhirnya ia memilih untuk ke dapur untuk menuangkan sedikit air agar menghangatkan dahaganya yang terasa haus. Ia bertepatan saat itu ia bertepatan dengan suaminya yang baru pulang. Rambut acak-acakan dan kemeja terlihat kusut. Diliriknya jam sudah pukul dua pagi. Sesibuk itukah dia pulang, kening Zahra tersangka sebelah. Menghela nafas panjang ia hendak bertanya tapi laki-laki itu menatapnya datar lalu menerobos masuk menaiki anak tangga tanpa berbicara sepatah katapun. Pagi hari Zahra terbangun lebih awal, seperti biasa ia menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Kebiasaan ini membuat Zahra merasa aneh dengan dirinya. Seharusnya dia tidak melakukan itu karena memang Zahra belum tau apa perasaannya terhadap Varrel sekarang. Sudah berkembang menjadi cinta atau hanya perasaan nyaman saja jika berdekatan dengan pria itu. Tapi yang jelas Zahra selalu menyiapkan sarapan pagi untuk pria itu. Keheningan melanda, seperti biasa juga tak ada percakapan bagi keduanya sibuk dalam urusan mereka masing-masing kecuali hal yang diperlukan saja. "Apa kamu bisa pulang cepat hari ini?" tanya Zahra memulai memecahkan keheningan, ia menatap Varrel sekelas tak ada jawaban dari laki-laki itu. Dia masih terlihat sibuk dengan sarapannya. Nasi goreng dengan ditaburi ayam goreng dan saus sambal. Terlihat Varrel begitu menyukainya. Tentu, Karena Zahra sudah bertanya kepada mertuanya tentang makanan apa saja yang disukai oleh suaminya ini. "Aku ingin menjenguk Bunda, kata bunda bunda ingin mengajak kita makan bersama!" ucap Zahra lagi. Bunda adalah panggilan Zahra kepada ibu mertuanya. Sedangkan Mama kepada ibu kandungnya sendiri. "Aku sibuk, kau bisa pergi saja sendiri. Aku tidak punya banyak waktu." sahut Varrel tanpa menoleh makanan di piringnya sudah habis tidak tersisa. Pria itu beranjak mengambil jasnya yang ia letakkan di sela kursi lalu bergegas pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Hufffff .... Zahra membuang kasar tubuhnya, entahlah akhir akhir ini ia merasa sangat di abaikan oleh suaminya itu. Ia merasa Varrel menjaga jarak dengannya. *** Sepuluh menit berkutik didalam dapur membersikan semau piring kotor, mengepel dan mencuci pakaian. Ya itu adalah tugas seorang ibu rumah tangga bukan. Apalagi Zahra belum masih belum menemukan tempat yang bagus untuk dia berkerja. Duduk berdiam diri dirumah adalah hal yang sangat membosankan, sesekali hanya ditemani Intan datang berkunjung ke rumahnya atau sekedar mencari udara segar diluar. Cuaca dingin membuat Luna menggosok gosokkan telapak tangannya. Kini dia sudah siap dengan pakaian dress-nya yang selutut berwarna kuning telur serta rambutnya terurai dibiarkan begitu saja. Heels bot melengkapi penampilannya. Zahra berencana ingin keluar sebentar mencari udara segar, sudah satu Minggu dia belum keluar rumah cuma berkutik didalam rumah membuat dia bosan. Mobil taxsi yang ia pesan dari aplikasi online sudah berhenti didepan pintu pagar. Buru-buru ia menaikinya. "Pak, cafe SOP!" Ucap Zahra kepada sang supir yang mendapatkan anggukan kecil lalu kembali menjalankan mobilnya menuju padatnya jalan ibu kota. Suasana menyingsing, terik matahari mulai memanas, jarum jam pun sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Dua puluh menit berlalu akhirnya Zahra tiba juga di cafe yang ia tujukan. Cafe SOP cafetaria, ya itulah salah satu cafe kesukaannya semenjak ia kembali ke Indonesia. Luna duduk bangku yang biasa ia duduki walau cuma satu Minggu sekali ia pergi makan disini. Seorang pelayan datang menyapanya hormat serta sedikit anggukan kepala. "Nona, apa ada mah memesan sesuatu?" tanya pelayan itu ramah sembari menyerahkan daftar menu makanan cafe kearah Zahra. "Ah iya, aku mau pesan seefood udah aja sama hamburger minumannya jus lemon!" kata Luna mendapatkan anggukan cepat dari pelayanan yang melayaninya. "Iya, Nona, pesanan anda akan segera kami siapkan!" Kata pelayan itu lalu melengos pergi. Ting ... Bunyi pesan masuk membuat Luna menundukkan kepalanya meraih ponselnya dalam tas. "Aku pesan bangku VVIP, apa masih ada yang kosong!" kata seseorang kepada pelayanan cafe yang menanganinya. "Iya, ada tuan. Mari ikut saya!" pelayan itu menuntun. Mendergar suara yang sangat tidaklah asing baginya membuat Zahra menengadahkan kepalanya menatap ke sumber suara. Varrel, Zahra memicingkan tatapannya saat melihat siapa yang bersuara tadi. Benar saja itu adalah suaminya. Seorang wanita seksi yang tidak Zahra kenali bergelayut manja di lengan suaminya. Memasuki lorong cafe diyakini kalau itu adalah ruangan VVIP cafe tersebut. "Varrel, dengan siapa dia? Siapa wanita itu?" tanya Zahra bergumam pada dirinya sendiri. Karena merasa penasaran Zahra pun akhirnya mencoba melihat melihatnya agar jelas. "Maaf Nona, apa anda memerlukan sesuatu? Biar saya bantu?" tanya pelayan yang melayani Zahra tadi berhenti mengadang langkah kaki Zahra. "Tidak, saya tidak membutuhkan sesuatu apapun!" jelas Zahra. Hendak kembali masuk mengejar Varrel yang kini bahkan sudah hilang dari pandangannya. "Maaf Nona, anda tidak masuk, karena ini ruangan VVIP pribadi." kata pelayan lagi. "Tapi saya harus menemui seseorang didalam. Suami saya!" kata Zahra. "Maaf Nona tetap tidak bisa, privasi pelanggan adalah nomer satu. Kami tidak bisa membiarkan Anda masuk!" "Kalau begitu aku pesan satu ruangan VVIP!" "Sekali lagi saya mintak maaf Nona, semua ruangan sudah penuh. Kami tidak bisa memberikannya!" tegas pelayanan itu membuat Luna berdecak kesal. "Sial!" Dengus Luna membalikkan badannya tajam. "Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku!" ucap seorang seorang pria tiba-tiba datang. Menarik tangan Zahra reflek membuat dia spontan terkesiap. "Hey apa yang kau lakukan!" Desis Zahra hendak melawan namun cengrama pria itu lebih kuat membuat dia tidak bisa berbuat apa-apa hingga berhasil masuk ruangan VVIP. "Lepaskan aku sialan!" teriak Zahra menendang kasar tangan pria itu. "Aaauuu ..." pekik pria itu merasa sakit diare kakinya. "Itu baut kamu beranjak narik-narik orang sesuka hati!" dengus Zahra menajam. "Seharusnya kamu berterima kepadaku karena telam membawamu masuk bukan menendang ku. Aaagggrrr sakit sekali!" "Dasar gadis liar!" Ketus pria itu. "Siapa yang kamu sebut gadis liar hah!" "Ya kami emang ada orang lain disini selain kamu!" "Lagian, kamu ngapain sih. Ngotot amat ingin masuk VVIP?" tanya pria itu antusias. "Bukan urusanmu," Sinis Zahra hendak melangkah pergi namun belum sempat tangannya sudah ditarik duluan oleh pria itu. "Hey, kau masuk denganku, aku yang membiarkan kamu masuk. Berarti keluar juga bersamaku. Cepat duduk temani aku makan!" kata pria menajam. "What!!!" Bersambung .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD