Bagian Dua belas || Mulai peduli

1488 Words
Perhatian kecil darimu, terkadang membuat aku merasa jika aku akan baik-baik saja meski hanya berdua denganmu.  *** Hujan. Waktu menunjukan pukul delapan malam. Artinya, Jovan mungkin sudah menunggunya di taman. Namun Nara ragu. Di luar hujan deras dan mungkin Jovan juga pasti sudah pulang. Ia tidak akan melakukan hal bodoh dengan menunggunya 'kan? Malam ini Bayu berkunjung keapartemennya. Sehabis pulang kuliah tadi Bayu memang mampir ke apartemen Nara dengan alasan 'kangen' karena tidak lagi memiliki waktu bersama tri Angel akhir-akhir ini. Terpaksa Nara tidak jadi mengusirnya, mengingat tidak ada Aqila atau pun Kinan bersama mereka.  Bayu menidurkan kepalanya di pangkuan Nara. Nara sempat berdecak namun tetap membiarkannya sembari memainkan ponsel. Antara telepon atau tidak karena Nara ragu untuk menghubungi Jovan. "Lo kenapa dah gelisah gitu?" pertanyaan Bayu membuat Nara menghembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggungnya kebelakang. "Mungkin nggak, ada orang yang nungguin kita di saat hujan kayak gini?"  Bayu mengernyit. Menyita ponsel Nara dan menjauhkannya. Bayu memerhatikan Nara dari bawah. "Lo ada janji sama orang, ya? Ngaku lo!" tuduh Bayu memicing kan mata. Nara menggeleng cepat. "Enggak. Gue cuma nanya doang." jawab Nara cepat.  Bayu masih memicing. "Maksud gue, masih ada nggak sih orang bodoh yang bakal nunggu seseorang di tengah hujan kayak gini? kan, konyol aja gitu." ucap Nara meralat. Bayu masih diam memerhatikan Nara lekat-lekat.  "Bayu ihh! Gue cuma nanya doang dan reaksi lo udah kayak gini, gimana kalo gue punya pacar coba?"  "Oh, jadi pacar lo lagi nungguin nih?"  Nara mendelik kesal, "Enggak! Lo tuh, di bilang nanya doang ga percaya amat ya ampun.."  Bayu mengendik, "Gelagat lo aneh sih. Mencurigakan."  "Lo kira gue maling."  Bayu terkekeh, "Bukan gue loh yang ngomong."  Nara mengghembuskan napas panjang, "Jadi apa?"  "Apaan?"  Nara semakin menatap Bayu tajam. Di tatap seperti itu membuat Bayu nyengir.  "Santuy, Ra. Gue pribadi kayaknya nggak ada deh, ngapain juga bertindak bodoh dan ngerugiin dirinya sendiri. Tapi lain halnya kalo dia cinta sama seseorang itu, mungkin beda lagi ceritanya."  Nara mengangguk paham. "Seriusan lo nggak ada janji sama orang?" ulang Bayu. Nara menggeleng ragu. Ya, dia memang belum mengiyakan ajakan Jovan siang tadi. Itu artinya dia belum berjanji 'kan? Dan lagi, kalau pun Jovan datang dan menunggunya, itu akan terdengar mustahil. Iya mustahil, seperti yang di katakan Bayu tadi, kemungkinan seseorang akan tetap menunggu di tengah hujan itu jika seseorang itu mencintai orang yang di tunggunya, bukan? Dan Nara yakin jika Jovan memang tidak memiliki itu untuk Nara. Setidaknya itulah yang bisa Nara simpulkan. Tetapi, bagaimana kalau Nara salah?  Di lain tempat, seseorang berulang kali melihat jam yang melingkar ditanganya sembari sebelah tangannya menggenggam sesuatu. Ia memerhatikan sekitar sebelum Ia menghembuskan napas panjang kemudian beranjak dari tempatnya berdiri di bawah guyuran hujan. Dia tidak akan datang. Pikirnya. Nara menarik sebelah tangan Bayu, melihat waktu menunjukan pukul setengah sembilan. Nara menghela napas. Dia pasti nggak dateng kan? Bayu beringsut duduk. Melihat Nara dengan pandangan menelisik. "Sebenarnya apa yang bikin lo kayak lintah kepanasan gini, Hm? Lo nggak bisa diem dan beberapa kali ngeliat jam terus, cerita sama gue." pinta Bayu menuntut. Nara menggigit bibir bawahnya. Ia ragu untuk bercerita. "Gue nggak pa-pa. Udah setengah sembilan tuh, nggak pulang lo? "  Bayu mendengkus. "Ngusir gue lo!"  Nara berdecak, "Udah malem pe'a! Disini kita cuma berdua, kalo di grebek berabe urusannya. Lagian nggak ada Aqila, mending lo pulang sana. Jangan bikin fitnah gue lo." "Halah basi lo! Lagian itu anak satu masih aja ngarepin si kadal darat, udah tahu ujung-ujungnya nangis masih aja bertahan. Heran gue." decak Bayu meraih tasnya di atas meja dan meyampirkan di sebelah pundaknya.  "Susah di bilangin. Batu kayak lo!" balas Nara mengejek.  "Enak aja. Keras kepala kayak Kinan yang bener mah, ya udah gue pulang. Kunci pintu sama jendela. Kalo ada apa-apa hubungin gue dan jangan tidur malem—" "Iya Papi iya.. Udah nggak usah banyak pidato, pulang sana!" potong Nara cepat. Bayu mencebik, mengulurkan tangan mengacak rambut Nara kemudian berlalu. "Besok ajakin tuh anak mabar. Biar nggak ada alesan ngusir gue lagi lo."  Nara terkekeh melihat wajah kesal Bayu. "Iya Papi .. Bawel amat elah kayak emak-emak." balasnya terkikik.  ** ARION HOSPITAL | AT 09:15 Pagi ini Nara tidak melihat Jovan datang ke rumah sakit. Nara sedikit merasa gelisah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi semalam. Ia sudah menghubungi lelaki itu namun tidak ada jawaban, bahkan pesannya saja belum dia baca.  Rea menghampiri Nara dan berjalan di sampingnya—merangkul pundak Nara membuat sang empunya berdecak.  "Tumben pangeran lo nggak ada nyamper, dia kemana?" tanya Rea ingin tahu. Nara mengendik.  "Emang gue emaknya. Mana gue tahu dia dimana."  "Biasanya 'kan pagi-pagi udah ngasih drama picisan sama lo, eh pagi ini sepi tanpa ngeliat kalian cek-cok . Nggak seru ah."  "Nggak seru pale lo!" balas Nara menjauhkan wajah Rea darinya.  Rea nyengir, "Tapi ya, Ra. Kalian itu emang cocok kalo diliat-liat. Chemistry kalian klop gitu."  Sebelum sempat membalas, terlihat dua orang bersetelan hitam berhenti di depan mereka. Nara mengernyit. Melirik Rea yang mengendik tidak tahu.  Salah satu dari mereka memberikan paper bag berukuran sedang pada Nara. Nara sedikit ragu menerimanya.  "Dari siapa? Kalian juga siapa?" tanya Nara tidak mengerti mengintipnya memperlihatkan kotak bekal di dalamnya.  "Kami pesuruh dari Tuan Muda Arion, Nona. Itu juga darinya." jawab salah satu dari mereka.  "Kenapa kalian yang nganter? Jovan sendiri kemana?" tanya Nara memastikan.  "Tuan muda sedang sedang tidak enak badan, Nona. Bekal itu juga di buat oleh pembantu keluarga Arion. Jika sudah tidak ada yang ingin di tanyakan kami permisi, Nona."  "Tunggu.."  Kedua orang bersetelan hitam itu berhenti.  "Jovan, dia sakit apa?" "Saya kurang tahu Nona, Tuan hanya memerintahkan kami melalui telepon. Kami juga belum melihat keadaan beliau."  Nara mengangguk mengerti. "Sampaikan terimakasih ku padanya." mereka mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Nara.  Rea mengerjap. "Pak Jovan beneran idamanable banget, Ra. Lagi sakit aja dia masih inget ngasih lo sarapan sehat. Astaga, nggak salah kalo gue kagum sama dia." ucap Rea melihat salad buah dan salmon wrap di dalamnya. Nara bergeming. Jovan sakit apa? Setelah beberapa jam berlalu, Nara akhirnya mengambil izin setengah hari. Ia berniat menemui Jovan di rumahnya. Tak bisa di pungkiri jika dia juga turut merasa khawatir mengenai keadaan Jovan. Rasa penasaran Nara semakin bertambah ketika Jovan tidak mengangkat telepon darinya sedari tadi. Tak perlu waktu lama, Nara sudah sampai di rumah Jovan. Ia mengetuk pintu dan langsung di sambut oleh pembantunya. "Anda mencari siapa, Nona?" "Jovan nya ada?"  Wanita paruh baya itu mengangguk. "Panggil saya Tini, Nona. Saya pembantu disini. Tuan muda belum turun sedari pagi, anda ingin menunggu atau menemuinya?"  Nara berpikir sejenak sebelum menjawab, "Bisa tolong antarkan saya."  Tini mengangguk kemudian mempersilakan masuk. Membimbing Nara menaiki tangga melingkar menuju kamar Jovan. Setelah sampai Tini pamit undur diri. Nara mengucapkan terima kasih sebelum mengalihkan atensi dari pintu.  Lama Nara bergeming di tempatnya. Ia harus mengetuk atau langsung masuk saja? Akhirnya setelah lama menimang, Nara memutar handle pintu pelan. Ia tidak ingin membangunkan sang pemilik. Tujuannya hanya ingin mengetahui Jovan sakit apa, dia tidak ingin membuat Jovan besar kepala jika tahu Nara mengkhawatirkannya. Nuansa hitam perpaduan cokelat di setiap sudut ruangan dengan harum maskulin membuat Nara tersenyum samar. Benar-benar manly sekali. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang dan melihat Jovan masih meringkuk di balik selimutnya. Nara berjongkok mensejajarkan tingginya dengan wajah Jovan hingga bisa dengan jelas melihat Jovan dari dekat. Ia meletakkan telapak tanganya di kening lelaki itu. Panas. Jovan demam ternyata. Saat hendak menarik tangannya kembali, Jovan menahan tangannya lebih dulu. "Siapa yang ngizinin lo nyentuh gue di saat tidur?" tanya Jovan membuka mata.  Nara gelagapan. "Eh, itu.. Gue—" "Gue nggak terima apapun alasan lo." gumam Jovan dengan suara serak khas bangun tidur.  Nara mendengkus. Meski sedang sakit, Jovan tetaplah Jovan. Lelaki itu selalu saja ingin berdebat setiap kali bertemu dengannya. Jovan beringsut duduk namun Nara lebih dulu menahannya. "Jangan paksain diri lo. Tiduran aja." Nara mengambil thermometer di atas nakas. Mengarahkan pada Jovan untuk mengecek tinggi panasnya. Jovan menolak. "Gue nggak mau. Gue baik-baik aja." "Orang gila kalo di suruh periksa juga bilangnya baik-baik aja. Udah buruan."  Jovan mendengkus. "Tapi gue bukan orang gila." balas Jovan tidak terima. Mengambil thermometer dari tangan Nara dan meletakkannya di antara bibirnya.  "Serah lo aja."  Jovan meringis melihat thermometer di tanggannya. 38° pantes aja gue ngerasa lemes banget. Pikirnya.  Nara mengambil alih, ia berdecak melototi Jovan.  "Demam tinggi gini dan nggak mau periksa? mau mati muda lo!"  Jovan tersenyum geli. Menatap Nara dengan mata sayunya. "Nanti lo debat sama siapa kalo gue mati muda."  "Jovan!"  "Iya Sayang, kenapa? Sini-sini peluk dulu, ngomelnya entar aja kalo gue udah sembuh, gue nggak ada tenaga sekarang."  Nara menghela napas pelan. "Udah minum obat?"  Jovan menggeleng.  "Udah makan?"  Jovan menggeleng lagi.  Nara melihat Jovan serius. Sebenarnya ia tidak yakin, hanya saja ia ingin memastikan sendiri. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya.  "Kenapa bisa sakit?"  "Karena gue juga manusia biasa." jawab Jovan santai. Nara mencebik.  "Bukan itu maksud gue, jangan pura-pura b**o. Lo.. Sakit karena hujan-hujanan semalam 'kan?"  Jovan tersenyum kecil.  "Lo mau gue jujur?"  Nara mengangguk ragu. "Kalo iya emang kenapa?"  Nara berkedip dua kali.  "Kenapa lo bodoh banget sih, udah tahu hujan tapi malah hujan-hujanan dan bukannya neduh? Lo nyari apa sih,"  "Kalo gue bilang karena gue sengaja nunggu lo karena takut lo nyariin gue gimana, apa lo percaya?"  "Van.. Sebenarnya apa yang mau lo buktiin? " "Ketulusan."  "Maksudnya?"  "Sesuatu yang tulus nggak pernah berharap balasan, Ra. Itu yang mau gue buktiin ke elo."  "Gue nggak ngerti."  Jovan tersenyum tipis. "One day you will understand. Maybe not now."  HOPE YOU LIKE!  TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA!  Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya! TANGKYUUU DEAR MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKUN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99  BIG ❣️  '
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD