Jangan membandingkan hidup dengan orang lain, setiap orang punya caranya sendiri menutupi rasa sakitnya. Jika pun kamu melihat hidupnya bahagia, percayalah di belakang sana ada segudang masalah yang ia coba tutupi dari dunia.
***
"Makan dulu, ayo." ucap Nara membawakan semangkuk bubur. Jovan beringsut duduk bersandar pada headboard. Nara mengulurkan buburnya. Jovan hanya diam memerhatikannya.
"Buruan di makan, abis itu minum obat. Gue udah siapin tuh,"
Jovan menggeleng.
"Lemes. Lagian gue nggak enak makan. Pahit." tolaknya manja. Nara berdecak. Duduk di sampingnya dan meletakkan mangkuk bubur di pangkuannya.
"Gue suapin. Nggak usah banyak alasan."
Jovan tersenyum samar.
"Buka mulut .." Jovan menerima suapannya. Membiarkan sejenak waktu berpihak padanya hari ini. Nara kembali menyuapinya dan Jovan menerimanya tanpa penolakan.
"Lo yang masak?"
Nara menggeleng. "Gue masak mie aja gosong, gimana mau bikin bubur, bisa keracunan lo."
Jovan terkekeh. "Payah." ejeknya.
Nara tidak membalas. Mereka sama-sama terdiam.
Setelah habis makan. Nara membuka bungkus obat kemudian menyerahkannya pada Jovan untuk di minumnya. Jovan menahan tangan Nara. Memperhatikan Nara dengan lurus.
"Kenapa lo mau repot gini ke gue?"
Nara terdiam. Ia juga bingung mengapa mau melakukan hal merepotkan seperti ini.
"Ngomong apa sih, lo. Bonyok lo udah nitipin lo sama gue, lagian.. Lo sakit juga karena gue."
Ya. Memang benar 'kan jika Jovan sakit memang karenanya. Jika bukan karena menunggunya di bawah guyuran hujan, Jovan tidak mungkin demam seperti sekarang. Ya, pasti karena rasa bersalahnya.
Jovan menunduk lesu.
"Titipan ya..? " gumamnya pelan.
Nara mengernyit. "Ngomong apa lo?"
Jovan menatapnya datar. "Bukan apa-apa."
Mereka kembali hening. Jovan meraih obat dari tangan Nara lalu meminumnya, setelahnya Nara mendelik ketika Jovan menyingkirkan selimut di tubuhnya. Turun dan berlalu meninggal kannya yang masih tidak mengerti.
Nara mengikutinya.
"Mau kemana? Lo masih sakit, Van."
"Taman. Gue bosen di kamar." jawab Jovan tanpa menoleh ke arahnya.
Jovan merebahkan tubuhnya di atas rumput yang tertata rapi di samping rumahnya. Nara mengikuti hal sama yang di lakukan Jovan. Mereka sama-sama diam sembari melihat langit cerah di bawah terik mentari yang menyapa tubuh mereka.
Nara memperhatikan Jovan dari samping. Meski terlihat baik-baik saja, entah kenapa manik matanya selalu memancarkan kekosongan saat mengungkit mengenai keluarga. Nara sudah mengetahui kalau orang tua Jovan memang sering kali bepergian dan bahkan mereka berada di rumah paling lama hanya satu minggu, itupun karena mereka mengambil kendali perusahaan beberapa waktu sebelum kembali bepergian.
Sebab di haruskan menjadi ahli waris, Jovan juga sudah sering menangani rapat-rapat penting juga mengurusi anak cabang perusahaan Arion Corp. Mungkin hal itu juga yang membuat pribadinya menjadi seperti sekarang. Arogan dan otoriter.
"Jangan lama-lama mandang gue nya, gue tahu gue ganteng."
Nara mendengkus mendengar itu. "Nggak sehat nggak sakit tetep aja narsis." cibirnya.
Jovan terkekeh kemudian membuka matanya, "Gue hanya mensyukuri nikmat ketampanan yang Tuhan kasih ke gue. Apa salahnya?"
"Penyampaian lo yang salah. Lagian lo harusnya banyakin istirahat bukan malah tiduran disini." ucap Nara mulai mengomel.
Jovan tersenyum tipis, "Gue muak harus berlama-lama di dalem rumah sendirian."
Nara terdiam beberapa saat.
Jovan kembali mengalihkan pandangannya ke atas dengan wajah datar, sementara Nara menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Masih ada pembantu lo yang nemenin juga nyiapin kebutuhan lo. Lo harusnya lebih bersyukur untuk itu."
"Gue nggak pernah bilang kalo gue nggak bersyukur sama hidup gue. Cuma sesekali, gue juga pengen kehidupan gue selayaknya orang lain. Menghabiskan waktu bareng keluarga juga menikmati kehangatan kasih sayang mereka. Gue nggak butuh uang kalo hal itu bikin gue sama mereka bagai orang asing kayak gini. " curhatnya mulai terbuka.
Nara hanya diam mendengarkan keluh kesahnya. Jovan menutup mata dengan sebelah lengannya.
"Gue bener-bener berharap jadi orang biasa aja. Hidup sendirian itu gak enak, Ra. Kadang gue selalu mikir, apa punya abang atau adik bisa terasa menyenangkan kayak Reza sama Audy yang saling menguatkan. Itu.. Pasti menyenang'kan."
Mereka terjebak hening. Cukup lama mereka saling diam sebelum Nara mengulurkan tangan mengusap sisi kepala Jovan pelan.
"Pasti beratkan 'kan?"
Jemari Nara bergerak lembut memainkan rambut halus Jovan, "Memang sulit untuk bertahan dalam sepi. Kosong dan hampa. Tapi lo harus inget, semua orang punya kebahagiaannya masing-masing, jangan iri ataupun bandingin hidup lo sama orang lain, karena dari tiap mereka juga punya kesakitannya sendiri-sendiri hanya saja terkadang berbeda luka." lanjut Nara menyorot Jovan serius.
Jovan menoleh, melihat Nara yang menyinggungkan senyum manisnya—seolah mengatakan semua ini pasti akan berlalu. Jovan mengambil tangan Nara dari kepalanya kemudian menggenggamnya erat.
"Kenapa cuma lo yang bisa paham situasi gue? Kenapa mereka bahkan nggak sadar meskipun berulang kali gue nunjukin sikap nggak rela gue tiap liat mereka keluar dari pintu rumah. Gue merasa kayak nggak ada artinya—"
"Gue psikiater kalo Lo lupa. Merawat rasa sakit udah salah satu tujuan gue jadi dokter." sahut Nara cepat.
Iris mata mereka saling menumbuk. Nara dengan jelas melihat pancaran kekosongan dari manik hitam di depannya. Anak tunggal sekaligus ahli waris, tanggung jawab itu menjadi beban Jovan di setiap langkahnya. Lelaki itu tidak bisa bertindak sesuai keinginannya juga tidak bisa memprotes apa yang dia jalani karena itulah kehidupannya yang sebenarnya.
"Lo sendiri, kenapa masih nggak mau jalin hubungan padahal lo udah dewasa?" tanya Jovan menatap Nara lekat.
Nara sempat kehilangan suaranya. Ia menelan ludah susah payah. Menarik tangannya dari geggaman Jovan. Matanya bergerak gelisah.
"Males aja."
"Males? Umur lo udah matang buat melangkah maju, apa ini ada hubungannya sama si b******k itu?" Nara menggigit bibir bawahnya.
"Di umur gue yang sekarang, gue udah nggak minat buat main-main. Dan tentang dia, gue nggak tahu itu berpengaruh atau enggak tapi, gue sadar.. Gue udah cidera sedalam itu mengenai hubungan serius."
Jovan menatapnya lama.
"Lo nggak mau pacaran atau nggak mau nikah?"
"Dua-duanya."
"Kenapa?"
Sesaat Nara terdiam. Ia juga masih bingung dengan luka nya. Namun ada sesuatu yang lebih membuatnya takut terpuruk kembali.
"Hancurnya kepercayaan bikin gue takut jatuh terpuruk dengan rasa sakit. Gue benci penghianatan, dan gue bener-bener nggak bisa memaafkan sesuatu berbau kebohongan. Cukup sekali gue terbelengu rasa sakit, dan gue nggak mau ngulang lagi."
"Lo nggak berkeinginan untuk jalin hubungan dengan siapapun?"
Nara terlihat menimbang, "Maybe."
"Itu bukan jawaban, Nara Sidzkia."
Nara menghela napas panjang, "Sulit, Van. Ketika lo pernah di patahkan, sebisa mungkin lo pasti nggak mau itu terjadi lagi." Nara memberi jeda, "Apalagi di era zaman sekarang, hati bukanlah tujuan. Bahkan banyak riset yang mengatakan kebanyakan dari kaum lo, mereka hanya melihat wanita sebagai objek kesenangan. Dari sana pula gue mulai lebih anti pati terhadap lawan jenis."
"Tapi nggak semuanya kayak gitu, Ra."
Nara mengangguk pelan, "Memang. Tapi kebanyakan dari mereka lebih membuktikan perkataan gue yang pertama. Bahkan selama ini, gue pun belum pernah menemukannya."
Jovan menatap Nara lama, "Lalu Bayu?"
"Dia pengecualian. 1 dari 1000 orang yang pernah gue temui." Nara lagi-lagi membuang napas panjang, "Segalanya nggak semudah yang terlihat. Sebagai perempuan gue harus punya kritis dalam pemahaman semacam itu. Dan gue harap lo bukan salah satu dari mereka. Jangan rusak kepercayaan orang yang lo sayang, ya." ucapnya sambil tersenyum.
"Di usahakan."
**
Langit dengan cepat berganti. Nara masih di rumah Jovan. Menemani kesepian yang kian mencekik cowok itu di kala rapuh seperti sekarang. Tidak ada yang bisa ia jadikan sandaran, bahkan orang tuanya tidak mengetahui keadaan nya saat ini. Untuk sementara, Nara lah yang mengambil alih sebagai peran pendamping.
Meski Jovan tidak mengatakan agar Nara tetap tinggal. Namun sorot hampanya sudah menjadi permohonan tak terucap yang tersampaikan lewat mata. Entah mengapa juga.. Nara menjadi lebih peduli seperti ini. Selain pada sahabatnya, Nara tidak pernah mau di repotkan dengan urusan orang lain. Apalagi itu mengenai rival menyebalkan nya. Sangat tidak bisa di percaya dia dengan lapang mau menemani lelaki itu seharian penuh.
Nara duduk bersandar di ruang keluarga, menonton serial drama korea yang sedang booming di kalangan masyarakat. Jovan lesehan di atas karpet berbulu tepat di bawah Nara duduk.
"Bayu tahu lo disini?"
"Enggak. Hari ini Aqila nyulik Bayu seharian. Artinya mereka nggak lagi pegang ponsel."
Jovan mengangkat satu alis. "Maksudnya gimana?"
"Aqila lagi patah hati sama si kadal darat. Biasanya kalo ada Penculikan gini mereka bakal matiin ponsel sampe selesai mereka main. Paling-paling mereka juga lagi ada di timezone."
"Arjuna?"
Nara mengangguk, "Siapa lagi bucinnya Aqila selain dia? Lagian gue heran, cowok nggak ada bener-benernya aja sampe segitunya banget dia pake perasaan. Buang-buang tenaga aja."
"Itu karena lo belum ketemu aja sama seseorang yang sanggup bikin lo bucin. Ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta. Mungkin Aqila lagi di titik itu."
"Halah, lo ngomong kayak pernah aja." cibirnya.
"Gue pernah. Cuma ga sebucin orang kebanyakan."
Nara mengangguk seakan percaya, "Lagian kalo Bayu tahu gue disini sama lo, mungkin lo udah di hajar sama dia."
Jovan terkekeh, "Posesif banget."
Nara tersenyum geli, "Dia 'kan papinya Tri Angel. Wajar lah."
Mereka kembali hening beberapa saat sebelum akhirnya Jovan merangkak naik kesofa. Meletakkan kepalanya di pangkuan Nara. Nara menunduk, melihat Jovan dengan tatapan heran. Sejak sakit, Jovan semakin terlihat manja.
"Gue pinjem bentar, kepala gue pusing." ucap Jovan cepat saat Nara hendak memprotesnya. Jovan menutup mata membuat Nara mendengkus.
Usapan halus di kepala nya membuat Jovan membuka mata. Melihat Nara dari bawah ketika perempuan itu masih sibuk dengan drama televisi di depannya namun, tangannya masih mengelusi sisi kepala Jovan lembut. Jovan terdiam. Benaknya menghangat. Ruang kosong di sudut hatinya sedikit terisi dengan perhatian-perhatian kecil yang Nara berikan. Sadar atau tidak, Jovan semakin jatuh hati dan tidak bisa berpaling dari cinta pertamanya.
Jovan sering bermain perempuan. Bukan dalam hal salah, melainkan hanya dekat dengan beberapa perempuan namun tidak memacarinya. Dia tidak pernah benar-benar merasa tertarik selain dengan perempuan yang tengah mengelusi kepalanya kini.
Jovan tersenyum samar. Menutup mata kembali sambil menikmati elusan hangat yang menjalar di relung hatinya.
Ah.. Gue bener-bener butuh seseorang kayak lo, Nara Sidzkia. Batinnya tersenyum dalam tidurnya.
HOPE YOU LIKE!
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA!
Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!
TANGKYUUU DEAR
MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKUN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99
BIG ❣️
'