Di saat aku sedih, aku tidak butuh pertanyaan 'kenapa sedih?'
Cukup dekap aku dan katakan 'Everything is fine'.
***
Setelah pulang dari danau. Jovan tidak langsung menghantarkan Nara pulang dan malah mengajaknya ke rumah lelaki itu. Nara sempat menolak, namun tetap saja.. Bukan Jovan namanya jika mudah menuruti perintah Nara.
Sesampainya di rumah Jovan, Nara terkesima dengan bangunan megah bergaya modern dari setiap desain sisi sepanjang jalan ia memasuki rumah. Tangga yang melingkar dengan pantulan kaca dan chandelier cantik di tengah ruangan membuat Nara kagum. Benar-benar cantik. Pikirnya.
Ketika memasuki ruang tamu, mereka tersentak saat sebuah suara berat mengalun di pendengarannya. Mereka menoleh serentak.
"Kemana saja kamu Jovan? Kenapa kamu selalu tidak di rumah di saat kami pulang?"
Jovan menghela napas. Menatap sang Papa dan Mamanya bergantian.
"Jovan punya urusan lain, dan Yah.. Diem di rumah sendirian bener-bener bikin Jovan bosen."
Nara melirik Jovan sekilas, kembali menundukkan kepala ketika ibu Jovan menatapinya terang-terangan.
"Gadis ini, apa dia pacarmu?" tanya Diana ibu Jovan.
Nara menggeleng cepat. "Bukan, Tante. Saya bukan pacarnya, kebetulan kita satu kampus. Dan Jovan adalah senior saya di kampus." jawab Nara canggung.
Diana mengulas senyum sembari berjalan mendekatinya. Melihat itu Nara semakin gugup.
"Wah, sayang sekali. Padahal Tante kira kalian pacaran. Kamu pasti nggak betah sama sikap bossy nya 'kan?"
Eh! Nara menggaruk kepala tidak gatal. Apa dia harus menjawab jujur?
"Lebih tepatnya semua sikap dia yang nyebelin, Tante." jawab Nara membuat Diana terkekeh.
Jovan mendengkus melihat Nara dengan tatapan protes. "Kapan gue nyebelin? Sejak kapan juga lo jadi suka ngadu gini?"
"Lo gak punya kaca sih, dan gue nggak ngadu ya.. Gue cuma jujur jawab pertanyaan orang tua. Emangnya apa yang salah?" jawab Nara tidak terima. Sebelum sempat membalas ucapan Nara, David ayah Jovan terlebih dulu menyela.
"Sudah jangan ribut. Apa kalian sudah makan? Mamamu sudah masak, ajak pacarmu makan bersama."
Nara mengerjap.
Bukankah sudah ia katakan jika mereka tidak berpacaran?
"Tapi kita nggak—"
"Jangan menolak, Cantik. Kita makan siang bersama." potong David cepat.
Diana memukul lengan David pelan. "Jangan menggodanya."
David terkekeh pelan. "Apa kamu cemburu?" balas David menggoda istrinya. Diana mencebik geli.
"Kamu sudah tua. Nara sudah pasti memilih Jovan di banding kamu yang sudah berumur." balas Diana membuat David mendengkus.
Nara berkedip dua kali. Dari mana mereka tahu namanya sedang Nara saja belum memperkenalkan diri?
"Meski sudah berumur, tapi aku masih terlihat tampan, bukan?"
Jovan yang merasa jengah menatap kedua orangtuanya bergantian.
"Jadi makan atau enggak?"
Mereka mengalihkan atensi berganti melihat Jovan yang melihat mereka dengan pandangan bosan. Kemudian menyinggungkan senyum ke arah Nara.
"Jadi dong. Ayo kita keruang makan." seru Diana menggiring mereka keruang makan. Sebenarnya Nara sangat cangung. Tapi dia bisa apa jika sudah di paksa seperti ini? mau menolakpun sungkan.
Mereka makan dalam diam. Sejenak, keluarga Arion memang terlihat harmonis dan menyenangkan. Namun tidak bagi Jovan. Meski sikap kedua orang tuanya terbilang humoris. Namun dia tetap merasa sendirian. Apalagi keluarga kecilnya sudah jarang menemaninya lagi.
Ralat.. Bahkan ketika Jovan kecil dia sudah lama kehilangan kehangatan keluarganya sendiri. Jovan lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan sahabatnya dan juga Neneknya dari pada dengan kedua orang tuanya.
Miris memang. Di balik kehidupan bergelimang kekayaan selalu ada hal-hal yang tidak bisa mereka rasakan dari sebuah kesederhanaan keluarga. Bisnis dan uang lebih mendominasi.
Nara melirik Jovan menggunakan ekor matanya. Jovan nampak lebih diam dan murung. Nara tidak mengerti kenapa, yang jelas Nara merasa jika Jovan tidak benar-benar bahagia dengan keluarganya. Padahal, keluarganya terlihat menyenangkan.
Merasa di perhatikan, Jovan menoleh ke arah Nara dengan melemparkan senyum menyebalkannya. Nara mendengkus sebelum kembali melanjutkan makannya.
Dering ponsel di atas meja membuat David dengan segera mengangkatnya.
"Ada apa?"
Jovan menatap David dengan pandangan yang sulit di artikan. Nara semakin tidak mengerti keadaannya saat ini. Tentu saja, karena jujur sedari tadi Nara tidak henti melirik Jovan. Seperti ada sesuatu yang berbeda.
Diana menoleh ke arah David saat suaminya telah selesai berteleponan. "Siapa?"
"Albert memberi tahu jadwal penerbangan sore ini."
Diana mengernyitkan dahi. "Bukannya besok pagi?"
David menghela napas pelan, "Ya, tapi karena beberapa hal terpaksa harus di majukan. Kamu siap-siap, satu jam lagi kita berangkat." Diana mengangguk mengerti. Ia menatap putra semata wayangnya dengan pandangan bersalah.
"Mama sama Papa sebenernya ingin tinggal lebih lama di rumah, tapi kamu tahu sendiri 'kan? Grandpa sudah pensiun dan menyerahkan semua tanggung—"
"Aku tahu. Kalian pergilah. Aku sudah terbiasa sendiri." potong Jovan cepat. Tatapannya terlihat datar. Nara bahkan dengan jelas dapat melihat tangan Jovan terkepal tanpa melepaskannya dari sendok yang dia pegang.
David menatap putranya serius. "Papa tahu kamu memang paham keadaannya, Son. Jadi mengertilah. Maafkan Mama dan Papa yang tidak lagi punya waktu untukmu. Kami akan terbang ke London dua jam lagi. "
Jovan mengangguk samar. "Aku mengerti. Tidak perlu khawatirkan Jovan. "
Nara melihat mereka bergantian. Sekarang Nara mengerti mengapa Jovan terlihat murung meski orang tuanya sangat menyenangkan. Well, orang kaya memang jarang memiliki waktu luang dan selalu di buru pekerjaan. Untuk itu, Nara tidak ingin menjadi kaya. Dia hanya ingin hidup berkecukupan. Cukup membeli barang yang diinginkan dan cukup membuatnya tidak perlu lagi memikirkan kesusahan dunia. Well, mudah bukan?
Mereka sudah selesai. Nara mengambil alih pekerjaan membereskan meja makan, ia tahu jika mereka sedang terburu-buru. Untuk itu ia menawarkan diri untuk mencuci piring kotor bekas mereka makan. Meski Jovan telah melarang nya dengan mengatakan asisten rumah tangga mereka saja yang mengerjakan, namun bukan Nara jika mudah menuruti perintah lelaki itu. Setelah kedua orang tua Jovan berlalu untuk berkemas. Nara berniat mencuci piring, dengan cepat Jovan mengambil alih.
"Gue yang nyuci, lo yang ngelapin." ucap Jovan membuat Nara mendengkus mendengar nada bossy nya.
"Biar gue aja. Mending lo bantuin bokap lo aja sana." balas Nara melihat David sibuk dengan kertas-kertas di tangannya. Jovan berpura tidak mendengar dan mulai mencuci piring tanpa menjawab Nara.
Nara melihat Jovan lama.
"Jadi orang kaya gak seenak yang gue pikir ternyata. Kebersamaan yang di renggut waktu terkadang memang menyiksa."
Jovan menghentikan kegiatannya. "Lo salah kalo mikir gue juga kayak gitu, karena gue bukan salah satunya." balas Jovan memberikan piring yang sudah bersih pada Nara. Nara menerimanya, meski Jovan tidak melihatnya dan terdengar seperti biasa saja. Namun Nara tahu jika dia tidak benar-benar baik-baik saja.
Mereka kembali hening. Nara tahu Jovan membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya. Ia tidak akan mendebatnya.
Kedua orang tua Jovan menghampiri mereka yang sudah selesai dengan kegiatan mencuci piring. Mereka pamit untuk pergi dan mulai memberi mereka petuah.
"Nara sering main-main aja kesini biar Jovan punya temen. Semenjak Gavin nikah dan Reza sibuk sama adiknya, Jovan udah nggak punya temen lagi. Tapi inget, jangan sampai kelewat batas, ya." pesan Diana membuat Nara meringis, merasa aneh dengan kalimat Diana padanya.
"Kita nggak bakal ngapa-ngapain, Tante. Lagian Nara nggak bisa janji buat sering main kesini. Nara juga punya pekerjaan soalnya."
Diana mengangguk paham. Mereka sudah tahu kalau Nara bekerja dengan keluarga Arion. Untuk itu, bukan hal sulit mencari tahu mengenainya yang sedang dekat dengan anak semata wayang mereka.
"Oke. Kalau begitu kami pamit, ya. Jovan sering telat makan, ingetin dia juga kalau dia udah larut sama kerjaannya dia juga jarang tidur. Tante titip Jovan ya, Ra."
Nara mengangguk kaku, "Nara usahain, Tante."
Jovan mencebik. "Aku bukan anak kecil, Ma. Udah jam empat tuh, kalian chek in jam enam'kan? Mending buruan pergi takut macet."
"Mentang-mentang ada yang nemenin langsung ngusir kita. Ya udah Ma, kita berangkat sekarang aja."
"Jangan mulai Pa,"
Diana terkekeh. Berjalan mendekat ke arah Jovan dan mencium pipi putranya sayang.
"Jaga kesehatan, Mama bener-bener pengin kita sering kumpul kayak dulu, tapi kamu ngerti keadaannya 'kan Sayang.."
Jovan mengangguk samar. "Kalian hati-hati dijalan. Jaga kesehatan juga disana." ucap Jovan tersenyum kecil. Diana mengangguk dan kembali mencium pipi putranya lagi. David menepuk pundaknya dua kali.
"Jangan terlalu memaksakan diri Jovan, Papa sering denger kamu terlalu serius dan mengabaikan istirahat mu. Papa tidak suka melihat kamu sakit, apalagi kita jauh darimu. Untuk itu, Papa ingin menyelesaikan ini lebih cepat. Kami pergi." ucap David menggandeng Diana keluar. Jovan menatap mereka lurus.
Nara masih setia memperhatikan mereka kemudian beralih ke Jovan. Di balik sikap menyebalkannya, Jovan adalah sosok kesepian yang mencoba menghibur dirinya sendiri. Ia kehilangan kehangatan keluarganya.
"Gue mau makan es krim sekalian keliling rumah lo. Boleh 'kan?" ucap Nara membuat Jovan mengalihkan atensi.
Jovan mengangguk. "Gue punya taman di samping rumah. Mau kesana?"
Nara berbinar. "Mau lah. Sekalian bawa cemilan sama soda ke sana. Gue mau baca Novel." jawab Nara antusias. Nara tipikal senang membaca dengan alam terbuka. Ia selalu mengisi waktu sendirinya dengan membaca.
Jovan tersenyum samar. Setidaknya.. Dia tidak benar-benar sendirian. Dengan melihat senyum Nara membuat ruang kosong di hati Jovan sedikit terisi dengan kehadiran Nara.
Ah.. Jovan benar-benar membutuhkannya.
HOPE YOU LIKE!
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA!
Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!
TANGKYUUU DEAR
MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKUN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99
BIG ❣️
'