Jangan pernah berharap pada seseorang, sering kali harapan membuatmu jatuh dan terpuruk.
Berhenti dan lupakan. Lepaskan lah jika kuatmu dalam bertahan tidak di hargai.
***
Aqila menggerutu ketika Nara tak kunjung datang menemuinya di warung Mba Siti. Bahkan Nara tidak memberi kabar ataupun mencoba menghubunginya. Aqila segera berlalu saat sudah kesekian kalinya ia menghubungi Nara namun tak ada jawaban. Ia ada satu mata kuliah lagi setelah ini.
Ketka Aqila sibuk mendumel dengan ponsel di gengamannya, tiba-tiba ia berhenti saat melewati lorong perpustakaan. Aqila meremas ujung roknya. Matanya memanas. Aqila menunduk dengan mengedipkan matanya beberapa kali. Ini bukan kali pertamanya melihat orang yang di cintainya dalam diam selalu membuatnya menitikan air mata.
Pemandangan di depannya sangat membuat Aqila ingin berhenti. Bahkan sudah ia niatkan sedari dulu, namun nihil. Aqila tidak menemukan kekuatannya untuk berpaling dan mencoba melihat orang lain.
Cinta.. Sesuatu yang semu namun benar-benar membuat orang menjadi bodoh.
"Lo mau nyoba?" ucap seseorang membuat Aqila terhenyak. Aqila berbalik dan mendapati Reza berdiri di belakangnnya dengan tangan bersedekap, bersandar pada dinding di belakangnya. Aqila mengerjap.
"Lo mau nyoba?" ulangnya.
"Ha? Apa ?"
"Mau nyoba ngilangin rasa sakit hati lo, nggak?"
"Maksudnya?"
Reza tersenyum miring. "Ngelakuin hal sama kayak yang lo liat."
Aqila mengernyih. "Apa, sih?!" tanya Aqila tidak mengerti.
Reza mendengkus. Maju dua langkah mempertipis jarak mereka. Aqila memundurkan langkah. Reza maju lagi. Aqila kembali mundur. Nahas. Ia terpojok.
"Lo mau apa sih? Mundur!"
Reza meletakkan kedua tangannya mengukung Aqila. Aqila panik. Ia menggigit bibir bawahnya menahan gugup.
Reza mendekatkan wajah ke samping telinga Aqila. "Lo sengaja, heh?" bisiknya serak.
"Apaan sih?! Sengaja apaan? Gue nggak ngerti." cicit Aqila gugup.
"Lo mau tau biar nggak lagi ngerasa sakit waktu liat dia nyium cewek lain?"
Aqila mendonggak. "Caranya?"
Mata mereka saling menumbuk. Dan untuk sesaat, Reza terhipnotis dengan iris mata hitam Aqila. Perlahan ia mendekatkan wajahnya —mempertipis jarak mereka.
"Caranya, kayak gini.." bisik Reza menahan tengkuk Aqila dan menciumnya.
Aqila menegang. Tubuhnya kaku. Ia masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya.
Reza menciumnya lagi?
Reza tidak benar-benar mencium Aqila, ia hanya sebatas menempelkan bibir mereka. Reza menatap lurus bibir Aqila kemudian mengusapnya menggunakan ibu jarinya.
"Gue yakin, setelah ini lo nggak akan ngerasa sakit ngeliat mereka ciuman."
Aqila mengepalkan kedua tangannya erat dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap Reza nyalang. Aqila merasa di lecehkan!
"Kalo Lo niat mau bikin gue membenci lo, selamat, lo berhasil bikin gue bener-bener benci sama lo!"
Reza menjauhkan wajah, menyinggungkan senyum kecil sembari balas menatap Aqila lekat.
"Silahkan benci gue kalo itu bisa membuat lo ngelupain rasa sakit lo. Gue lebih suka lo ngebenci gue dari pada harus nahan semua rasa sakit yang lo pendam selama ini."
"Apa peduli lo?!"
Reza memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. Ia berdecih, "Nggak ada. Gue cuma nggak suka liat orang b**o di bodohin sama yang namanya cinta. Gue tau lo masih polos, tapi gue bener-bener nggak tau kalo Lo b**o. Lo tau, 'kan? antara b**o sama polos itu beda tipis."
Aqila semakin meradang. Dengan gerakan cepat melayangkan tangannya menampar Reza yang bahkan hanya lelaki itu tanggapi dengan senyuman.
Oh, great! Aqila merasa dirinya tampak seperti gadis kecil yang tidak bisa apa-apa. Selain fakta bahwa itu adalah ciuman pertamanya, Aqila turut merasa kecewa. Kenapa harus lelaki b******k sejenis Reza? Kenapa?
"Sebenarnya mau lo itu apa b******k?!"
"Simple aja. Berhenti dan lupain dia. Orang t***l macam dia nggak pantes dapet sesuatu yang tulus." sorot matanya menunjukan keseriusan. Tetapi Aqila tidak peduli. Karena apapun alasan Reza melakukan tindakan konyolnya pada Aqila tidak bisa di benarkan.
Aqila menatapnya sinis. "Masalahnya sama lo apa? Gak usah peduliin perasaan gue, gue nggak butuh di kasihanin."
Wajah Reza menggelap. Ia mengeram kesal. "Masalahnya lo itu b**o! Kenapa harus peduli sama perasaan orang lain dan nyakitin diri lo sendiri. Apa dia pernah melihat lo? Jawabannya nggak pernah. Gue malah yakin kalo dia bahkan nggak pernah peduliin lo selain buat pelampiasan dia."
Aqila tergugu. Semua yang di katakan Reza memang benar adanya. Aqila tidak memungkiri itu. Namun tetap saja, menurutnya Reza terlalu kejam dengan mengatakan secara gamblang padanya. Apa dia tidak tahu jika perkataannya menyakiti hatinya?
"Jangan pernah berharap sama seseorang. Berhenti dan coba lihat orang lain, dari banyaknya cowok di dunia dan lo cuma terpaku sama dia? Come on.. Kalo lo nggak bisa bahagia sekarang, seengaknya elo nggak mengecewakan mereka yang setia di sekitar lo."
Aqila terdiam di tempat. Ia kehilangan suaranya mendengar fakta kebenaran yang mungkin selama ini seringkali Aqila abaikan.
"Kalo Lo bingung dan nggak tau kemana hati lo ingin pergi, kembali dan putuskan. Gue nggak akan maksa lo berhenti, tapi tolong.. Jangan pasrahin hati lo pada orang yang salah." setelahnya Reza meninggalkan Aqila yang masih bergeming ditempatnya.
Maksudnya apa?
**
Nara duduk di pinggir danau dengan pandangan kosong. Seusai Nara melepaskan semua beban pikirannya, Jovan membawa Nara untuk menenangkan diri. Sedari tadi, mereka hanya diam. Jovan tidak ingin memaksa Nara untuk menceritakan masalahnya. Karena Jovan cukup menyadari bahwa setiap orang memiliki privasinya masing-masing dan Jovan mencoba menerima itu meski dia juga turut merasa penasaran.
Nara memeluk lutut sembari memiringkan kepala menghadap Jovan. "Gue tau lo pasti kaget liat gue kacau kayak tadi." ucap Nara pelan. Jovan meliriknya sekilas.
"Setiap orang punya titik lemah tersendiri. Meski mungkin bagi orang lain itu hanya sebuah luka kecil tapi tetap bagi mereka yang merasakan nggak semudah yang mereka ucapkan."
"Dengan kata lain di wajarkan?"
Jovan mengendik santai, "Entah. Cuma kalo gue pribadi, gue merasa setiap luka punya porsinya sendiri. Dan orang lain nggak berhak berkomentar akan hal itu karena belum tentu mereka pernah mengalami. But, prinsip gue gini.. Jangan pernah menyepelekan luka orang lain. Karena yang namanya luka tetaplah menyakitkan. "
Nara tersenyum kecil, "Lo kalo waras gini keliatan charmingnya."
"Karena gue punya pesona."
Nara mendengkus geli, "Okay, gue tambahin kata-kata gue. Lo lebih banyak brengseknya. Ngeselinnya elo belum ada yang sanggup nyaingin."
Jovan terkekeh pelan, "Because I'm perfect." setelahnya mereka saling menatap kemudian tertawa bersama.
Entahlah.. Hari ini merupakan hari langka dimana mereka bertemu tanpa ejekan dan perdebatan. Percakapan-percakapan mereka hanya sekedar saling menimpali tanpa benar-benar berniat untuk menghina ataupun menyakiti.
"Gue bahkan pernah lebih buruk dari lo." celetuk Jovan seketika membuat Nara tanpa sadar mengangkat kepalanya —menatap jovan tertarik.
"Lo pernah nangis?"
Jovan terkekeh pelan. "Muka lo kayak ga percaya gitu?"
"Ya bukan apa ya, kek ga mungkin aja gitu."
"Jadi lo percaya ga nih?"
Nara mengendik dengan menahan senyum. "Percaya gak percaya sih,"
"Gue pernah kecil. Dan gue yakin semua anak laki-laki ketika kecil pun pasti pernah nangis."
Nara mengangguk, "Okay, masuk akal. Jadi gimana kronologisnya?"
Jovan menatap Nara dengan wajah menggoda, "Lo kayak penasaran banget sama gue."
Nara mendelik, "Bukan sama lo, tapi cerita lo. Jarang-jarang kan lo cerita aib sendiri."
Jovan mengangguk paham, "Gue pernah nangis saat jatuh dari sepeda waktu kecil. Papa bilang, Itu pertama kalinya gue nangis dan papa sering ngatain gue cengeng."
Nara hanya diam mendengarkan.
"Sejak saat itu, gue nggak pernah lagi nangis, karena kata mama.. Anak laki-laki nggak boleh cengeng. Bukan artinya ga boleh sedih, beliau cuma menegaskan ke gue untuk lebih tegar aja. Karena laki-laki harus kuat buat melindungi Ratunya nanti. " ucap Jovan menjelaskan.
Nara mengangguk membenarkan.
"Gue bahkan pernah nangis di tengah rapat saat papa kerja."
"Oh, ya?" Tanya Nara tertarik. Jovan mengangguk.
"Waktu itu gue marah saat papa bohong mau ngajakin gue liburan, tapi ga jadi dan akhirnya gue ngamuk minta di beliin helikopter kayak yang gue liat di tv. Papa nolak karena gue masih kecil dan bilang itu bahaya buat gue. Gue nggak percaya, dan malah makin keras nangisnya. "
Nara berkedip lugu.
"Tunggu-tunggu.. Lo ngamuk terus nangis dan minta di beliin helikoper?"
Jovan mengangguk. Seketika Nara terbahak. Ia tidak menyangka sosok menyebalkan sepertinya bisa menangis bahkan meraung kepada orang tuanya. Nara bahkan sampai mengusap sudut matanya membayangkan wajah Jovan saat menangis.
"Gue bener-bener nggak bisa bayangin wajah songong lo nangis. Astaga, pasti lucu anjir."
Jovan mendengkus. "Apa yang salah sama nangis? Bahkan pertama kali seseorang lahir ke dunia juga pasti menangis."
Nara manggut-manggut. Masih dengan menahan tawa.
"Iya, iya. Suka hati lo aja maunya gimana. Bebas."
"Menangis itu ungkapan keadaan yang tersampaikan lewat mata ketika bibir tidak mampu berucap. Well, dan itu umum terjadi sama siapapun termasuk orang hebat sekalipun."
Nara tersenyum tipis. Menatap Jovan dengan pandangan baru.
"Gue nggak tau kalo orang macam lo bisa ngomong sepuitis ini."
Jovan tersenyum geli. "Gue juga manusia biasa, Ra. Terlepas dari sikap gue yang nyebelin, gue juga seseorang yang terkadang ingin di mengerti, meski harus dengan cara yang salah."
Nara menegak'kan punggung. Manik hitamnya menatap Jovan lurus.
"Sebenarnya udah lama gue mau tanya ini, kenapa lo sering banget mengucapkan sesuatu yang membingungkan? Seolah itu kayak teka teki silang, di mana seseorang itu harus mengerti lo dengan baik."
"Karena itu memang tujuan gue."
"Maksudnya?"
"Kalo seseorang itu emang peduli sama gue, dia bakal berusaha mengerti setiap perkataan yang gue ucapin ke dia. Entah sadar atau enggak, dia bakal mulai mengenal gue lebih baik dari diri gue sendiri."
Nara tertegun.
"Terkadang, seseorang perlu egois untuk meraih apa yang membuatnya bahagia, meski terkadang menyakiti orang lain."
Nara mengernyit. "Itu sama aja lo bikin kejahatan lain."
"Setiap orang pernah melakukan kejahatan ataupun kesalahan. Kalo Lo tau cara buat meraih seseorang tanpa mengorbankan orang lain ataupun bersikap egois, lo bisa kasih tau gue."
HOPE YOU LIKE!
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA!
Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!
TANGKYUUU DEAR
MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKUN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99
BIG ❣️
'