Aku akan memelukmu, mendekap mu hingga tidak ada orang lain yang mampu membuat mu tersakiti.
***
Pagi yang cerah.
Nara membuka mata dengan perasaan senang. Ada bagian dirinya yang merasa lebih baik, Nara bahkan lupa kapan terkahir kali dia merasakan sensasi semacam ini. Mood nya sedang baik saat ini. Nara tidak akan menanyakan bagaimana ia bisa masuk dan tidur cantik di ranjangnya. Untuk sesaat, Nara mengingat kembali hari kemarin, serangkaian kejadian tidak berencana itu sanggup membuat seorang Nara merasakan euforia yang tidak ia dapatkan dari ketiga sahabatnya.
Sebenarnya Nara malas mengakui ini, hanya saja.. kemarin, untuk pertama kalinya Nara benar-benar merasa aman bersama dengan seorang laki-laki selain Bayu. Entah karena apa..
Nara meraih ponselnya di atas nakas untuk melihat jam berapa sekarang. Pukul sembilan lebih tigapuluh tiga menit, dan seperti yang dikatakan Jovan semalam. Nara memang memiliki janji temu dengan direktorat pagi ini. Nara kemudian beringsut duduk, mengucek kedua matanya lalu turun untuk mandi dan bersiap.
Dua puluh menit berlalu. Nara sudah rapi dengan pakaian kasualnya, kemudian ia berjalan menuju meja riasnya dan mulai mengoleskan bedak dan liptint sebelum akhirnya mengambil sisir dan merapikan rambutnya.
Aqila is calling..
Nara yang tengah menyisir rambutnya berhenti lalu mengangkat panggilan. "Kenapa, La?" tanya Nara saat sambungan terhubung. Terdengar decakan dari ujung sana.
"Kenapa dah, Nyuk?" ulang Nara sembari mengikat tali sepatunya.
"Gue lagi kesel."
Nara mengernyit kan dahi kemudian mematut dirinya di depan cermin sebelum mengambil tas dan kunci mobilnya.
"Hubungannya sama gue apa?"
"Laknat lo, ya! Gak suka gue tuh, di giniin." ucap Aqila merajuk.
Nara terkekeh pelan—memasuki lift dan ketika sampai di lantai bawah ia berjalan keluar lift menuju mobilnya.
"Ada apa emangnya? Paling nggak jauh-jauh dari si kadal darat 'kan?"
"Bukan, ini lebih parah dari Kak Juna. Lo perlu tahu kalo manusia satu ini lebih ngeselin. Pokoknya gue kesel!"
Nara mengernyit heran. Biasanya, Aqila hanya akan curhat jika berhubungan dengan yang namanya Arjuna. Namun kali ini, untuk pertama kalinya Aqila ingin membahas orang lain selain Arjuna.
Wah, apakah ini suatu kemajuan?
"Ceritain pinter. Gue mana ngerti kalo Lo cuma bilang kesel-kesel doang."
"Lo ngampus 'kan? Gue ceritain di warung mbak siti aja ntar. Gece!"
Nara mendengkus. "Bentar lagi gue sampe. Tapi gue mau ketemu direktorat dulu, lo tunggu aja di sana."
Aqila mengucap siap lalu mematikan panggilannya.
Tak lama Nara sampai di gedung Fly High University. Ia melangkah riang melewati lorong kampus yang lenggang. Sudah di katakan moodnya sedang baik saat ini, Nara berjalan menunduk dengan memainkan ponselnya santai. Beberapa waktu setelahnya, Nara tidak sengaja menabrak tubuh seseorang hingga ia hampir terjatuh. Belum sempat Nara mengumpat, Nara lebih dulu terpaku ketika manik matanya melihat siapa orang yang menabraknya.
"Long time no see, Nara.." sapa seseorang dengan suara lembut. Untuk sesaat Nara bergidik mendengar suara berat itu mengalun di indera pendengarannya.
Nara berkedip dua kali melihat sosok laki-laki tampan itu berdiri menjulang di depannya dengan sebelah tangan yang di masukkan kedalam saku celana. Kalau dulu Nara sempat jatuh hati pada laki-laki di depannya, untuk saat ini hanya tinggal kebencian yang masih bersarang di sudut hatinya.
Nara mengepalkan tangan. "Lo! Ngapain Lo ada disini?!" ketusnya.
Laki-laki didepan nya mengulas senyum manis—menunjukkan smirknya.
"Menurut Lo, ngapain gue ada di kampus? Nggak mungkin ngamen 'kan?"
Nara memejamkan mata, dari dulu.. Lelaki ini tidak pernah berubah. Sifatnya yang menyenangkan lah, yang pernah menjerat Nara dalam tipu rasa semuanya.
Tidak.. Mereka hanya masa lalu
Nara menghembuskan napas panjang, "Nggak guna emang ngomong sama Lo." ucapnya hendak berbalik, dengan gerakan cepat laki-laki itu menahan tanggannya.
"Apa begini cara Lo nyapa mantan, Ra?"
Nara meliriknya sinis. "Cuma mantan 'kan? Nggak usah sok penting! Lepasin tangan gue." ucapnya menghempas tangan besar yang menahannya.
"Lo berubah, Ra..." lirih laki-laki itu.
Nara menyeringai. "Dunia yang berubah. Dan gue rasa Lo yang paling tahu siapa yang bikin gue kayak sekarang."
Nara menatap laki-laki itu lekat-lekat. Sesaat, mata mereka saling menumbuk. Mereka terdiam cukup lama sebelum akhirnya Nara memutuskan kontak mata dan mengalihkan pandangannya.
"Perlu Lo tau, semua yang pernah hancur, tidak akan pernah sama lagi seperti semula. Sama halnya dengan Hati, Dilon." matanya memanas. Nara mengepalkan kedua tangan. masih teringat jelas kejadian dua tahun lalu yang membuatnya kehilangan rasa. Bahkan mungkin sudah mati rasa.
Ya.. Dia adalah Dilon Danuarta. Mantan kekasih sekaligus cinta pertama Nara. Setelah penghianatan yang Dilon lakukan, membuat Nara tidak lagi memercayai laki-laki, apalagi setelah apa yang Nara coba percayakan, dengan mudahnya di patahkan oleh laki-laki b******k di depannya.
Dilon menunduk dalam, ia sangat menyesal. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikhlaskan keputusan Nara. Wanita yang dicintainya, namun dengan bodohnya ia mengecewakan kepercayaannya—menghancurkan perasaannya begitu dalam.
"Gue nyesel, Ra.. Gue minta maaf." Ucap Dilon mencoba meraih jemari Nara yang langsung di tepis kasar.
"Maaf? Apa itu bisa mengembalikan keadaan?!" balas Nara yang membuat Dilon seketika bungkam.
Jawabannya Tidak.
Sampai kapanpun, tidak akan pernah ada Hati yang mampu seperti semula setelah hancur.
Seperti Halnya kaca, ia kuat namun akan tetap menjadi rapuh jika sudah retak, atau bahkan hancur dan meski bisa di perbaiki tetap tidak bisa mengubahnya menjadi seperti semula.
Dilon menyadari bahwa dia sudah sangat b******k menghianati kepercayaan Nara yang tidak pernah sekalipun di berikannya untuk orang lain. Bahkan dengan tidak ada malunya ia bahkan hampir melakukan hal fatal. Lalu Dilon harus bagaimana jika segalanya sudah terjadi?
"Ra—" ucapan Dilon terputus saat Nara mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkannya untuk diam.
"Kita udah selesai. Nggak ada yang perlu kita bicarain lagi, Dilon. Gue sibuk." setelah mengatakan itu, Nara benar-benar meninggalkan Dilon yang tetap bergeming di tempatnya, menatap nanar punggung yang dulu.. Sering bersandar di lengannya setiap kali bermain Game.
Ah.. Dilon benar-benar kehilangannya, huh? Haha lucu sekali, jika ia berpikir mereka bisa kembali seperti dulu setelah dia menyakitinya begitu dalam.
Ya, dulu.. Sebelum ia membuat Nara mati rasa.
**
Jovan sedang merokok di balik pohon besar di halaman belakang kampus. Dia bukan perokok aktif. Jovan hanya sesekali merokok untuk menghilangkan stres nya. Seperti saat ia selalu merasa sendiri dan jauh dari kasih sayang keluarganya.
Jovan memang orang berada. Bahkan bisa di katakan bahwa Jovan berasal dari keluarga terpandang. Namun hal itu tidak membuatnya merasa senang. Jovan bahkan sering kali berpikir jika ia ingin menjadi orang biasa saja agar bisa hidup damai dengan keluarganya tanpa terhalang urusan bisnis.
Ya.. Jovan selalu merasa kesepian. Apalagi dia hanya anak tunggal. Tidak ada tempat berbagi baginya selain sahabatnya. Namun itu tetap tidak dapat mengisi ruang kosong di hatinya.
Jovan terkekang oleh peran sebagai penerus tunggal Arion setelah ayahnya. Dia tidak benar-benar merasa diinginkan selain dijadikan sebagai aset keluarga. Bukankah Jovan terlihat menyedihkan?
Kepulan asap kembali menyeruak dari celah bibir Jovan. Kapan semua ini akan berakhir, Tuhan?
Suara isakan tertahan membuat kening Jovan berkerut kemudian mematikan rokoknya —melihat sekelilingnya yang tampak sepi. Ia berdiri mencari sumber suara dan menemukan Nara tak jauh dari tempatnya berada. Jovan menghampiri Nara yang terlihat kacau.
Setelah pertemuannya dengan Dilon tadi, Nara memang berlari menuju halaman belakang kampus. Ia berjongkok dengan menahan isakannya. Nara tidak mau orang lain mendengar kesakitanya, karena ia tidak ingin di anggap lemah.
Ini sudah berlalu lama, namun mengapa rasanya masih menyakitkan?
Usapan lembut di kepalanya membuat Nara mendonggak. Ia melihat Jovan berjongkok mensejajarkan tinggi mereka. Jovan hanya diam sembari memberinya tatapan menenangkan. Nara menggigit bibir bawah dengan mata berkaca-kaca .
"Gue nggak pa-pa.." lirihnya menatap Jovan sendu. Jovan tidak menjawab, ia meraih kepala Nara dan mendekapnya.
Nara mencengkram kemeja Jovan erat. Berulang kali menggumamkan kata 'Gue nggak pa-pa' untuk meyakinkan dirinya sendiri dengan masih menahan tangis. Jovan memejam kan mata. Ia tidak rela, sangat tidak rela melihat Nara terpuruk seperti ini. Siapapun yang menyakiti gadisnya, Jovan akan membalasnya. Siapapun itu termasuk dirinya sendiri.
Jovan mengelusi sisi kepala Nara lembut.
"Lepasin semua yang ada di pikiran lo. Nggak perlu di tahan."
"Gue.."
Jovan mengecup puncak kepala Nara sembari terus mengelusi kepala Nara pelan. "Menangislah kalau itu bikin lo lega, tapi janji sama gue.. Setelah ini, Jangan biarin air mata lo terbuang sia-sia buat orang yang emang nggak sepantasnya lo tangisin."
"Gue.. Nggak pa-pa. Gue Baik-baik aja."
Jovan mendekapnya lebih erat. "Gue tau. lo cewek kuat, semuanya bakal baik-baik aja."
Selama gue masih di samping lo, nggak akan gue biarin siapapun itu bikin lo serapuh ini. Lanjutnya dalam hati.
HOPE YOU LIKE!
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA!
Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!
TANGKYUUU DEAR
MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKUN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99
BIG ❣️
ANN_