Leon nge-grind pagi itu di kantor hukumnya, stacked sama meeting klien dan deadline kasus. Kerjaannya professional mode on fleek—gak heran deh kalo si doi jadi go-to lawyer buat sidang high-class stakes.
Padahal umurnya udah 40s, but penampilannya jauh dari kesan uncle vibes. Tinggi 180 cm, badan literally kayak gym-rat physique, visuals muka masih elite wichis kayak idol K-pop. Zero wrinkles, zero aging signs—banyak yang kaget kalo denger umur aslinya.
Sayangnya, nih fatal sekaleeee!!
rizz-nya yang top-tier bikin beberapa klien cewek shooting their shot. But doi stay strict no simp zone. Leon shut it down langsung kalo ada yang tryna flirt or whatever.
For him, Klien? its only about a business. So hot ga sehh !!🫣
Hari itu, seorang klien cewek tryna slide ke ruangannya habis menang sidang.
"Terima kasih pak Leon. Berkat Bapak saya bisa menang," pujinya sambil smirk ala-ala femme fatale.
Leon keep it chill, He said, "Itu memang sudah tugas saya, Bu."
Jawaban basic clasic kayak orang just clocking-in.
Cewek itu push without further a due, sodorkan kado berbungkus merah jambu. "Ini hadiah Valentine dari saya. Bapak kan masih single…" Hint-nya blatant kayak judul fanfiction.
Leon kasih deadpan, "Maaf, saya sibuk."
Auto dodge ajakan makan malem kayak pro ghoster. 👀
"Saya sudah tahu Bapak pasti menolak," klien itu sigh drama, akhirnya exit dengan Loki-level exit*.
Leon langsung switch balik ke work mode, type laporan sambil mikir: "Ini kenapa cewek-cewek pada delulu? Gue kan cuma exist dengan face card."
WOIII BANG , LU ITU GANTENG, BERKARISMA, TAJIR, TANVAAAN SEMUANYA ADA DI LO. LO ITU PERFECT !!
Di luar, Mike yang lurk di koridor judge: "Nih orang bisa carry sidang mafia tapi clueless kalo ada yang naksir."
Sepanjang hari, Leon handle 3 klien lagi—2 di antaranya shoot their shot dengan alesan, "mau konsultasi hukum keluarga". But Tiap kali da itolak, doi cuma shrug: "Kerjaan gue carry masalah mereka, bukan carry perasaan." 🙅
Leon nod sambil nge-gas "I’m built different", energyc sehh, Tapi dalem hati, flashback pelukan Rati kemarin bikin butterflies in his stomach level tsunami.
tiba-tiba
Knock knock !!! di pintu ruangan Leon.
"Silakan masuk,", doi jawab flat, ekspektasi klien biasa.
Tapi plot twist—Rati masuk dengan death glare habis liat klien cewek keluar bawa kado. Mukanya petty level 1000.
"Kenapa kakak gak pulang ke rumah? Apa karena gue?" Rati clap back langsung, nada accusatory kayak detektif kejar maling.
Leon keep cool, "Sebelumnya, emang jarang pulang." Jawaban singkat ala orang *lavoiding drama.
Rati eye roll sambil rant, "Ahhhh… aku tau—banyak cewek simping ke kakak. Sampe dapet hadiah Valentine. Mereka baik banget ya~", Sarcasm mode on kek di Twitter.
Leon lansung shut it down, " Kamu ngapain di sini? Kalo gak ada urusan, pulang.", Vibe-nya kayak bos marahin anak magang.
Rati switch tactic, smirk ala femme fatale, "Kakak Mau ngapain nanti?"
Leon drop schedule kayak Google Calendar: "Jam 6 makan malam keluarga, jam 8 reuni kampus, jam 9 hangout temen golf."
Jawaban efficient bikin Rati speechless.
"Kakak bohong. Ya fine. Bersenang-senanglah~", Rati storm out sambil slam pintu, petty level maksimal.
Leon yang biasanya stone-faced malah grin sendiri liat Rati dramaqueen exit. Dalam hati, doi judge: " hmm,, ,, Lama-lama tantrum-nya lucu juga."
Di luar, Rati stomp ke lift sambil mumbling, "Dasar player ! Gue aja gak dapet kado, doi malah terima dari cewek random!", Mikir revenge plan buat hack IG Leon.
Sementara Leon back to work, tapi lowkey replay ekspresi Rati yang salty tadi. "Dia tuh still the same kayak dulu," batinnya sambil shake head, tapi smile tipis nggak keliatan.
Di luar Rati seethe sambil rant dalem hati, "Dasar Leon toxic! Nolak ajakan gue, terus acting ala t****k rapper. "
Buat vent, doi gaslight Bu Melly buat hang di kafe langganan.
"Ahhhh leganya!", goan Rati sambil Slurp bir langsung bottom up.
Bu Melly side-eye: "Ngapa sih lo drag gue ke sini? Ada drama apa lagi?"
" Gue kesel, Bu! Leon yang biasa quiet kid tiba-tiba fast-talk kayak Travis Scott. Overkill banget!" jawab Rati spill the tea.
Bu Melly shrug, "Mungkin doi beneran sibuk."
Rati push, "Menurut Ibu beneran gitu?"
Bu Melly spit facts, "Nggak. Dia cuma ghosting lo."
Rati eye roll, "Ibu mah no help! Gimana progress hubungan Ibu sama Kak Mike?"
Bu Melly kaget, lansung shut it down, "Jangan dibahas."
Rati nosy kayak, "Kalian fight lagi ya?"
Bu Melly still stonewall, "Gak mau bahas."
Rati lansung sigh kaya korban situationship, "Ngapa sih hubungan boomer susah banget? Maintenance-nya high level class kayak ngerjain skripsi."
Sepanjang session, Rati malding sambil replay penolakan Leon, sedangkan Bu Melly lowkey judge dalam ati ,"Dua-duanya dense kayak batu."
Setelah kejadian itu, hari-hari berlalu begitu saja, Rati nge-grind buat distract diri dari Leon. Fokusnya full ke desain tas—side hustle doi sebagai lulusan desain LN.
Big flex-nya? Buka butik sendiri di Jakarta, slowly but surely.
Tapi lowkey, endgame mimpinya tetep , nikah sama Leon. Doi Main mission sekarang? Prove ke doi kalo Rati udah level up dari bocil cringe jadi independent queen.
"Dia bakal liat gue bukan anak kecil lagi," batinnya sambil sketch desain tas aesthetic buat clout di IG.
Malding-nya ke Leon dialihin ke hustle mode, tapi dalem hati masih simpen harapan kayak, doi bakal regret pernah ghosting cinta pertamanya.
Pagi itu ,
Rati grind lari pagi buat recharge energi habis lembur desain semalam. Jogging 45 menit di sekitar kompleks, doi balik ke rumah dripping sweat. Pas masuk, matanya nyangkut di sepasang sepatu kulit hitam wichis kayak corporate-core yang vibe-nya familiar banget.
"Ini sepatu Leon…" Jantungnya langsung drumroll kaya intro lagu hip-hop.
Dengan panic mode, Rati scan rumah kayak detektif cari petunjuk. Tiba-tiba Leon pop out dari kamar doi, muka resting b***h face kayak baru kena tagihan pajak.
"Aku datang buat ambil baju yang masih nyangkut dimari," Leon spill alesan sambil avoid eye contact, nada datar kaya voice AI. 🤖
Rati freeze, dalem hati screaming: "Dia lowkey stalker atau gimana?!".
Tapi doi keep cool, fake smile ala influencer, "Oh, yaudah. Jangan lupa ambil kaos bola yang pernah gue pinjem~"
Leon cuma nod ala orang buru-buru meeting Zoom, lalu Mau Zoom Out dari rumah kayak dikejar deadline. Rati standing there sambil mikir: "Dia tuh beneran clueless atau cuma gaslight aja sih?"
Plot twist: Leon sebenernya left kacamata favoritnya di kamar Rati—intentional move buat alesan balik lagi. Tapi Rati clueless, malding sambil post story workout pake caption subtweet: "Some people still act like you're 12 even when you're out here adulting."
Rati clap back frontal, "Cewek-cewek yang sleepover sama kakak, apa mereka gak bisa laundry baju kakak ?" Nada tanya savage ala netizen ke celeb yang ketauan cheating.
Leon stay spill facts dengan face chill: "Bisa jadi. Tapi lebih tepatnya aku tinggalin baju favoritku di sini." Jawaban vague kayak orang avoiding drama.
Rati push lagi, "Terus kenapa kakak dateng pas Rati gak di rumah?" . 🫣 Penasaran level detective cari 'the tea'.
Leon drop alesan random banget, "Gue liat lampunya mati dari luar ". Jawaban sus literally kayak alesan bocil nyuri kue.
Rati side-eye, "Jadi selama ini kakak gak masuk karena lampu nyala? Logic-nya where?". Mukanya confused kaya nonton plot twist garing.
Rati tiba-tiba Sambil elus betis yang kram gegara overwork lari, terus malding, "Gue gak sakit, cuma overdo workout. " , seakan ngasih tahu ,padahal Leon cuek aja.
" Oh iya, sebelum kakak pergi… kita coffee dulu yuk!" , lanjut Rati lagi. Ajakannya casual tapi lowkey rizz.
Leon side-eye Rati yang limping, wajahnya soft dikit, " Boleh, tapi kamu beneran gak apa-apa?" Vibe-nya unusually concerned buat orang yang biasa stone cold.
Rati walk tertatih ke dapur, acting tough, " Gak apa-apa kok!" .
Tapi Leon lowkey simp, stare dari belakang sambil mikir, "Dia tuh stubborn banget gak sih."
Sepanjang Obrolan, Rati try hard buat keep cool depan Leon, padahal dalem hati screaming,
"Plis jangan pergi lagi!" .
Sementara Leon hide perasaan mixed signals-nya di balik chill facade.
Ahirnya nyampe juga di dapur, ni Rumah vibe nya udah kayak lapangan bola.
Rati lansung nyamber cangkir di rak buat bikin kopi. Susah banget desisnya dalam hati, soalnya raknya sky-high—dengan tinggi 160 cm, doi struggle kayak anak kucing kejar laser.
"Dasar Ana, kakak b*****t !! mentang tinggi- sok jago naruh barang," gerutunya dalem hati.
Dia stretch jari-jari wichis max effort, nyentuh cangkir tapi gak bisa grab. Alamak!! Cangkirnya nyaris jatoh ke kepala doi. Rati panic, tutup mata, prepare mental kena headshot.
Tiba-tiba ada heat di punggung doi — TERNYATA !!! 🫣
Leon save cangkirnya last second. Jarak mereka super closer, Rati ngefreeze. Mukanya flushed, napas heavy. Leon stare intens, jarak wajah cuma 15 cm. Aroma doi masih nempel kayak parfum mahal.
Mereka Awkward silence wichis vibe nya kayak scene drakor slow-mo.
"Karena cuma Ana sama aku di sini, kami taruh di sini," Leon break the silence, suara monoton kayak audiobook.
Dia ambil cangkir, taruh di meja, "Nanti aku pindahin biar kamu gak struggle lagi. Jadi kamu gak cedera."
" Bisa gak kakak pretend gak peduli? Biarin aja di situ. Biarin gue cedera. Kalo gue sakit, kakak pasti dateng." jawab Rati nge - clap back sambil test feel Leon.
Leon ignore it, doi langsung exit, "ya udah, aku pergi."
"Aku bakal smash semua piring di rumah ini!" Rati yelling ala tantrum. wichis thats Last effort buat trap Leon. Tapi doi udah zoom out kayak dikejar debt collector.
Rati standing there sambil nge- malding, "Dia tuh dense level akhir ya?"
Sementara Leon di luar lowkey senyum-senyum sendiri, replay momen awkward tadi,
"Dia masih clingy kayak dulu," batinnya, rizz dikit.