1. THIS MORNING
Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;)
____________________________________
Tok, tok, tok!
Cklek!
Perlahan, handle pintu berwarna putih itu terbuka. Seorang wanita dengan perut yang sudah tampak membesar melangkah perlahan mendekati malaikat kecilnya yang masih tampak terlelap di bawah hangatnya selimut bergambar Pikachu tersebut.
“Ana ... bangun, Nak,” panggil Nadia dengan penuh kelembutan. Nadia mengatur posisinya senyaman mungkin untuk memberi kecupan pada kening Ana.
“Ana ...” Ana hanya mengeliat pelan saat telinganya menginterupsi suara sang ibu. Perlahan namun pasti, mata bulat itu mulai terbuka.
“Good morning, Mommy,” sapa Ana sambil mengucek mata, lantas kembali memeluk erat guling kesayangannya. Nadia tersenyum dengan begitu lembut melihat tingkah menggemaskan Ana saat bangun tidur.
“Good morning, Sayang. Duh, anak Mommy baru bangun aja udah cantik,” sindir Nadia sambil mengusap lembut pucuk kepala sang putri.
“Ish, Mommy.” Ana berdecak, sebal mendengar ucapan sang ibu. Sejurus kemudian Ana membalikkan tubuh mungilnya untuk menghadap malaikatnya tersebut.
“Selamat pagi, Adek. Apa kabar kamu di dalam perut Mommy?” sapa Ana pada sang calon adik yang masih bersemayam di dalam perut sang ibu.
“Selamat pagi, Kak Ana. Kak Ana pasti belum mandi, ‘kan. Kecium baunya,” jawab Nadia dengan nada menirukan anak kecil yang kembali dijawab decakan sebal oleh sang putri.
Ana lantas membenamkan wajahnya pada perut Nadia. menghujaminya dengan ciuman bertubu-tubi yang membuat hati Nadia diliputi kebahagiaan luar biasa. Sangat bahagia karena Ana terlihat begitu antusias menyambut kehadiran sang adik.
“Kakak mandi dulu, ya. Mommy masakin nasi goreng udang kesukaan Kakak,” ucap Nadia begitu melihat wajah merajuk Ana yang tampak menyeramkan. Mendengar ucapan sang ibu, seketika pupil mata Ana membesar dan berbinar. Serta merta Ana bangun dari tidurnya dan segera menuruni ranjang.
“Benar, Mom? Oke, Ana mandi dulu,” balasnya sambil berlari kecil.
“Jalan yang bagus, Sayang. nggak usah lari,” peringat Nadia melihat langkah kaki sang putri yang hampir saja membuatnya terjatuh karena tersangkut karpet.
“Oke, Mommy,” sahut Ana sambil menutup pintu kamar mandi.
“Tidak mau Mommy mandikan?” Dari dalam kamar mandi Ana menyahut lantang.
“Nggak, Mommy. Kakak sudah besar.” Nadia hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah sang putri yang sangat menggemaskan di matanya. Ia lantas menuju lemari untuk mengambilkan baju milik Ana.
Usai memastikan semua kebutuhan Ana siap dengan baik, kini Nadia melangkah menuju kamar pribadinya untuk membangunkan sang suami. Begitu Nadia membuka pintu, pemandangan pertama yang ia lihat tak jauh berbeda dengan saat dia meinggalkan kamar tadi. Alvin yang masih meringkuk di atas ranjang, bergulung di bawah selimut dengan posisi membelakangi pintu kamar.
Terlebih dulu Nadia mengambil baju ganti untuk sang suami dan meletakkannya di atas sofa. Barulah ia melangkah mendekati laki-laki yang sangat dicintainya tersebut.
“Sayang, bangun yuk. Udah siang lho,” ucap Nadia lembut sambil duduk di hadapan sang suami. Alvin yang mendengar hal itu justru hanya bergumam pelan dan tidak jelas.
“Sayang,” panggil Nadia lagi.
“Hm.” Alvin mengeliat pelan tanpa membuka mata. Kini posisinya berubah menjadi terlentang.
Merasa gemas dengan tingkah laku sang suami, perlahan Nadia bergerak untuk duduk di atas perut Alvin. Perbuatan Nadia serta merta membuat Alvin membuka mata.
“Kenapa, hm? Mau lagi? Masih kurang yang semalam,” goda Alvin sambil menyolek dagu Nadia dengan gemas.
“Ish ... dasar kamu. Ayo bangun, udah jam 7 lho ini.”
Bukannya menuruti perintah sang istri, Alvin justru menata posisinya agar lebih nyaman. Tangannya secara perlahan meremas lembut pinggul Nadia yang tampak semakin montok dan menggemaskan di usia kehamilannya saat ini.
Alvin dan Nadia serta Ana sedang menantikan kelahiran anak kedua mereka. Saat ini usia kehamilan Nadia sudah memasuki 7 bulan. Kehamilan yang cukup membuat Alvin merasa kerepotan sebab Nadia menjadi sangat manja. Jauh berkali-kali lipat lebih manja daripada saat ia hami Ana dulu.
Sebut saja contohnya ketika Nadia meminta Alvin membelikan Lumpia Semarang yang harus benar-benar dibeli dari Semarang. Alvin yang harus terbang dan membeli sendiri ke ibukota provinsi Jawa Tengah tersebut karena Nadia tidak mau menggunakan jasa pembelian online. Atau contoh kedua ketika Nadia menginginkan Soto Lamongan yang harus benar-benar dibuat langsung oleh orang Lamongan asli.
Beruntung untuk kasus Soto Lamongan, Alvin dapat menemukan penjualnya di Jakarta sehingga ia tidak harus bersusah payah pergi ke salah satu kota di Jawa Timur tersebut. Meskipun harus melalui drama panjang, bahkan Nadia sampai meminta Alvin untuk memeriksa KTP sang penjual guna memastikan keasliannya. Beruntung juga sang penjual sangat mengerti jika yang sedang dilayaninya adalah seorang ibu yang tengah hamil muda.
“Alvino!” peringat Nadia karena Alvin tak kunjung melepaskan pinggulnya dan justru semakin meremasnya dengan gerakan lambat-lambat.
“Salah kamu sendiri ... siapa yang suruh kamu naik-naik gini, Adikku Sayang,” balas Alvin tidak mau kalah.
Wajah Nadia bersemu setiap kali Alvin memanggilnya dengan sebutan adik. Entah bagaimana menjelaskannya, ada sebuah rasa yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
“Adik, huh?” sahut Nadia dengan tatapan memicing, membuat Alvin gemas lantas bergerak bangkit dari tidurnya. Kini posisi Alvin sedang duduk bersandar pada kepala ranjang, masih dengan Nadia di atas pangkuannya.
Alvin mengusap lembut pipi wanita tercintanya itu, sambil memandangnya dengan lekat. Terkadang, Alvin masih belum bisa percaya jika kini Nadia benar-benar sudah berubah status menjadi istrinya. Suatu hal yang dulu ia anggap mustahil, nyatanya kini wanita itulah yang akan menemani hidupnya hingga akhir hayat.
Begitupula dengan Nadia. setiap hari rasanya ia tidak pernah kehabisan alasan untuk tersenyum. Seseorang yang dicintainya sekaligus pernah menorehkan luka begitu dalam kini seolah tidak pernah membiarkan sedetikpun senyuman lenyap dari bibirnya. Memiliki Alvin dan Ana, serta jabang bayi yang kini masih tinggal di dalam rahimnya merupakan paket hidup lengkap yang tak akan pernah berhenti ia syukuri.
Di tengah aktivitas mereka yang masih saling memandang sambil tersenyum itu, pintu yang terbuka membuat sesosok bertubuh mungil dapat dengan leluasa memasuki kamar orang tuanya. Dari ambang pintu Ana terikik kecil dengan tangan bersedekap melihat kemesraan kedua orang tuanya.
Meskipun usia Ana baru menginjak angka 4 tahun, namun kecerdasan dan daya tangkap gadis itu sungguh luar biasa. Ana sangat senang saat melihat orang tuanya sedang bermesraan seperti pagi ini. Bukan tanpa sebab, Ana pernah melihat Alvin dan Nadia bertengkar bahkan hingga saling mendiam selama beberapa hari. Dan Ana, saat itu hanya bisa menangis sesenggukkan di dalam kamarnya.
Di usianya saat ini juga, Ana bahkan sudah bisa mandi dan mengenakan pakaiannya sendiri. Selama itu dress sederhana. Bukan kaos maupun celana pendek.
Nadia dan Alvin bersama-sama menoleh ke arah sumber suara. Keduanya spontan tersenyum melihat putri cantiknya yang masih tampak tertawa kecil. Secara perlahan, Nadia bergerak turun dari pangkuan Alvin. dengan isyarat tangan, wanita itu memanggil malaikat keciclnya untuk mendekat.
Dengan susah payah Ana berusaha menaiki ranjang tidur kedua orang tuanya yang memang lebih tinggi dari ranjang tidur miliknya. Kali ini giliran Alvin dan Nadia yang tertawa geli melihat tingkah menggemaskan sang putri.
“Daddy, tolong,” ucap Ana sambil menampilkan puppy eyes berwarna kebiruan miliknya yang akan membuat siapapun menjadi gemas dan tidak tega.
Benar saja, Alvin langsung beringsut untuk membantu putrinya. Segera saja Ana duduk di pangkuan sang ayah dan menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Alvin yang menjadi tempat ternyaman untuknya, sambil menghadapkan wajahnya pada Nadia. Tangan mungil Ana terulur, kembali membelai perut buncit sang ibu.
“Daddy, adiknya Ana masih lama ya di dalam perut Mommy?” Alvin mengecup pucuk kepala Ana sekilas sebelum menjawab.
“Nggak lama kok, Kak. mungkin 2 bulan lagi adiknya Kakak akan keluar dari perut Mommy.” Alvin meraih sisir kecil di atas nakas untuk merapikan rambut Ana.
Ana mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mendongakkan kepalanya menatap sang ayah, “Adiknya Ana nanti keluar lewat mana, Daddy?”
“Ehm, kalau itu hanya bu dokter yang tahu, Sayang. mommy sama Daddy tidak tahu.” Nadia memilih menjawab secara diplomatis karena melihat sang suami yang tampak kebingungan mencari jawaban.
“Oh, begitu. Nanti kalau bu dokter mau mengeluarkan adik, Ana boleh ikut, Mommy?” tanya Ana dengan wajah antusias dan penuh harap.
“Nanti kita tanya bu dokternya, ya, Sayang,” jawab Alvin dengan cepat.
Tingkat antusiasme Ana yang begitu tinggi terkadang juga bisa sangat merepotkan. Seringkali dari mulut mungilnya muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuat kedua orang tuanya hingga merasa kesulitan untuk meneguk salivanya. Salah satu kata saja akan membuat banyak pertanyaan lain bermunculan hingga membuat Alvin pusing karenanya sebab Ana yang begitu dekat dengannya memang seringkali mengajukan pertanyaan itu padanya.
“Kakak sudah mandi?” tanya Alvin mengalihkan perhatian Ana.
“Sudah, Daddy. Kan Kakak sudah harum,” jawab Ana dengan penuh percaya diri.
“Oh, ya? Coba mana, Daddy mau cium.” Ana menggeleng cepat sambil menjauhkan tubuhnya dari pangkuan Alvin.
“Nggak mau, Daddy belum mandi. Bau,” ucap Ana dengan tertawa geli sambil menutup hidungya menggunakan jari telunjuk. Sontak saja hal itu membuat Alvin membelalakkan mata, sementara Nadia tertawa puas mendengar celotehan sang putri.
“Daddy nggak bau, Kakak. Coba deh Kakak cium.” Ana kembali menggeleng dengan cepat.
“Nggak mau Daddy.”
“Ya sudah, sekarang Daddy mandi dulu. Biar nggak kalah sama Kakak,” ucap Nadia menengahi perdebatan suami dan anaknya tersebut. Jika dibiarkan, adu pendapat itu tidak akan pernah selesai karena baik Alvin maupun Ana tidak ada yang mau saling mengalah.
“Iya, Daddy mandi sana. Nggak boleh dekat-dekat adik kalau belum mandi,” ucap Ana sambil menata posisinya di antara kedua orang tuanya. Alvin hampir saja ingin mendebat putrinya itu lagi namun Nadia memberikan isyarat mata agar Alvin segera mandi.
“Iya, deh. Kalau gitu Daddy mandi dulu. Kakak jagain Mommy dan Adik, ya,” ucap Alvin sambil bergerak menuruni ranjang.
“Oke, Daddy.” Ana mengacungkan ibu jari kanannya yang masih terlihat sangat mungil.
“Kita ke dapur yuk, Kak. Sambil menunggu Daddy biar Mommy buatkan s**u untuk Kakak,” kata Nadia sambil membelai rambut Ana yang berwarna kemerahan.
“Ayo, Mommy. Mommy pelan-pelan ya kalau turun,” peringat Ana sambil menuruni ranjang kemudian mengulurkan tangannya seolah ingin membantu sang ibu. Membuat hati kecil Nadia kembali merasa hangat.
Pasangan ibu dan anak itu melangkah pelan menuju dapur sambil bergandengan tangan.