Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;)
____________________________________
Sembari menunggu Alvin yang masih sibuk dengan rutinitas pribadinya di dalam kamar, Nadia tengah membuatkan s**u cokelat kesukaan sang putri. Ana terlihat duduk dengan tenang di atas kursi yang selalu ditempatinya. Meskipun sebenarnya ia tidak tenang sama sekali karena aroma nasi goreng di hadapannya begitu menggugah selera. Sementara mereka harus menunggu sang ayah untuk sarapan bersama.
“Mommy, kenapa Daddy lama sekali?” Ana menggerutu sambil mengetuk-ketukkan ujung jari telunjuknya pada tepian piring.
Nadia tersenyum mengulum melihat ekspresi masam putrinya itu. Padahal, belum sampai 10 menit mereka berada di dapur dan waktu yang biasa dihabiskan Alvin untuk mandi dan bersiap-siap biasanya sekitar 20 menit.
“Tunggu sebentar ya, Kak. Pasti sebentar lagi Daddy selesai.”
“Kakak ‘kan sudah lapar, Mommy.” Nadia kembali hanya tersenyum, lantas meletakkan gelas s**u tersebut di sisi piring milik Ana.
“Kakak mau makan duluan?” tawar Nadia yang langsung dijawabi gelengan cepat oleh sang putri. Nadia tahu, Ana tidak akan menyentuh makanannya jika Alvin belum datang.
Dering ponsel Nadia membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk duduk. Perlahan, Nadia melangkah menuju meja di ruang tengah untuk menjawab telepon yang masuk.
“Mommy angkat telepon dulu, ya, Sayang.” Ana hanya mengangguk dengan malas sambil meniup menyendokkan s**u ke dalam mulutnya. Tingkah laku yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan di mata sang ibu.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Ana. Elusan lembut juga terasa mengiringi kecupan tersebut. Ana mendongakkan kepala lantas tersenyum dengan sangat manis. Sosok yang dinantikannya telah tiba.
“Maaf ya kalau Daddy lama.” Dengan cepat Ana menggeleng.
“Daddy nggak lama, tapi perut Ana yang sudah lapar.” Jawaban polos Ana membuat Alvin tertawa geli. Kepribadian Ana terlihat sebelas dua belas dengan sang istri yang manja-manja menggemaskan. Selalu mengingatkannya pada masa kecilnya dengan Nadia.
“Mommy di mana, Sayang?” tanya Alvin begitu ia duduk di kursi utama.
“Lagi ada telepon, Daddy,” jawab Ana seraya meraih sendok mungilnya.
“Telepon dari siapa?” Ana hanya menjawab dengan endikkan bahu acuh.
“Nggak tahu.”
“Telepon dari Lily. Katanya nanti mau ke sini,” jawab Nadia sambil berjalan.
Mendengar nama Lily disebut oleh sang ibu, membuat Ana serta merta menghentikan gerakan tangannya di atas piring.
“Tante Lily, Mom?” Nadia mengangguk sekilas menjawab pertanyaan sang putri.
“Ish.”
“Lho, memangnya kenapa, Sayang?” tanya Alvin dengan ekspresi geli. Tak berbeda jauh dengan raut wajah sang istri yang tampak mengulum senyum.
“Pasti seneng karena ada Rendra,” tebak Alvin masih dengan raut wajah geli melihat ekspresi sang putri yang kini berubah manyun.
Dengan cepat Ana menggelengkan kepalanya, “Enggak. Ana masih sebal sama Rendra.”
Beberapa minggu lalu kedua keluarga itu memang sempat bertemu di sebuah mall. Ana sedang menemani kedua orang tuanya untuk membeli pakaian dan berbagai perlengkapan bayi bagi calon adiknya. Saat sedang asyik memilih baju untuk sang adik, tiba-tiba saja Rendra datang dan dengan jahilnya menutup mata Ana dari belakang. Sementara kedua pasang orang tua mereka memperhatikan dari kejauhan.
Sontak saja Ana langsung menjerit histeris dan membuat seorang bayi yang kebetulan berada didekat mereka terbangun dan langsung menangis. Ana-pun ikut menangis karena merasa malu dan takut dimarahi oleh ibu dari bayi tersebut. Meskipun ketakutannya tidak menjadi kenyataan namun tetap saja peristiwa sore itu membuat Ana merasa kesal luar biasa pada Rendra.
“Sebal atau kangen,” ucap Alvin dengan nada yang masih menggoda. Mengabaikan tatapan horor dari istrinya.
“S-e-b-a-l,” balas Ana dengan penekanan penuh pada setiap hurufnya.
“Tapi kalau Tante Lily atau Om Bagas ke sini tanpa Rendra, Ana selalu nanyain?”
“Nggak pernah,” sergah Ana cepat dengan raut wajah memerah dan bibir mencebik.
“Oh ya? Padahal Daddy pernah lihat lho kalau Ana ... Aw.” Ucapan Alvin terhenti ketika merasakan sebuah cubitan panas mendarat di pahanya.
“Sakit, Sayang,” adu Alvin sambil mengusap bekas cubitan sang istri. Nadia hanya menanggapinya dengan delikan tajam sementara Ana justru terkekeh melihat wajah sang ayah.
“Ana, nggak boleh berlebihan kalau sebal sama orang lain ya, Sayang,” nasihat Nadia dengan nada lembut.
“Berlebihan itu apa, Mommy?” sahut Ana cepat dengan tatapan bingung.
“Berlebihan itu, seperti Ana yang sebal sama Rendra sekarang. Kan sudah prtistiwa itu sudah berlalu tapi Ana masih menyimpan rasa marah sama Rendra. Itu nggak baik, Nak,” nasihat Nadia dengan lembut, membuat Alvin secara spontan mengusap pipi sang istri.
Alvin selalu kagum dengan cara berpikir adik sekaligus istrinya tersebut. Sejak memiliki Ana, sikap Nadia seolah berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi lebih halus dan sangat jarang berteriak. Namun justru Ana-lah yang kini menggantikan teriakan ibunya hingga memenuhi seisi rumah.
“Tapi Rendra sudah membuat Ana malu, Mommy.”
“Tapi ‘kan waktu itu Rendra sudah minta maaf sama Ana. dan Ana juga sudah memaafkan Rendra, ‘kan?” Ana mengangguk dengan sangat pelan dengan raut wajah datar.
“Ya sudah, sekarang kita sarapan, ya,” ajak Alvin yang langsung disambut anggukkan penuh semangat dari sang anak.
****
Sesuai ucapannya di telepon, Lily berkunjung ke kediaman sahabatnya itu sekitar pukul 9 pagi. Kali ini Lily hanya ditemani oleh sang putra yang tidak lain dan tidak bukan ialah Narendra Azka Syarif sebab Bagas sedang pergi ke Singapura untuk mengurus pekerjaannya. Lily sebenarnya sangat ingin ikut namun terkendala keadaannya yang tengah hamil muda. Usia kandungannya baru menginjak angka 12 minggu yang mana masih belum diperbolehkan untuk menaiki pesawat terbang.
“Pelan-pelan, Nad. Perut lo udah segede gitu tapi cara lo jalan masih kaya orang nggak bawa beban apapun,” cetus Lily ketika mendapati langkah sang sahabat yang begitu bersemangat.
“Emang dia bukan beban, Lil. Tapi anugrah,” jawab Nadia sambil terkekeh dan mengusap lembut perutnya. Sejak sama-sama memiliki buah hati, Nadia berusaha memanggil para sahabatnya dengan bahasa yang sesopan mungkin. Berusaha menghindari panggilan-panggilan yang akan menjadi contoh jelek untuk para anak mereka nantinya.
“Ayo duduk,” ajak Nadia kemudian.
Rendra yang masih berdiri sambil menggenggam erat tangan sang ibu sontak berbinar ketika mendapati sosok yang ia rindukan sedang duduk di atas permadani dengan mata yang fokus menatap layar televisi. Ana memang sedang sibuk menonton cartoon di ruang tengah sambil menyantap puding Custard buatan sang ibu. Gadis kecil itu memasang wajah acuh ketika sang tamu memasuki rumahnya.
“Cantik,” sapa Rendra sambil duduk di sisi Ana begitu saja.
Ana hanya melayangkan tatapan datar sambil menyuapkan sendok berisi puding ke dalam mulutnya.
“Boleh minta nggak pudingnya?” Rendra kembali menggoda Ana karena gadis itu hanya terdiam tanpa merespon sapaannya.
Jika saja Ana adalah orang dewasa, pasti gadis itu akan mengumpat keras-keras dalam hati pada dirinya sendiri. Meskipun mulutnya mengatakan masih sebal dengan Rendra namun tangannya melakukan hal sebaliknya. Ana lantas meletakkan mangkuk pudingnya di atas meja dan bangkit menuju ke dapur.
“Sebentar, Ana ambilkan di dapur. Punya Ana jangan dimakan,” peringat Ana dengan tegas yang membuat Rendra tampak tersenyum-senyum sendiri. Dengan penuh keyakinan, Rendra mengangguk.
“Mau ke mana, Kak?” tanya Nadia yang baru saja menghempaskan pantatnya di permukaan sofa.
Ana berbalik dan menatap sang ibu sejenak, “Ambil puding untuk Rendra, Mommy.”
“Minta ambilkan Bibi, ya. Sekalian tolong ambilkan untuk Tante Lily, ya, Nak.” Ucapan Nadia dijawabi dengan anggukkan sekali dari sang putri.
“Iya, Mommy.”
“Kenapa wajahnya Ana datar gitu?” tanya Lily yang merasa heran dengan sikap dingin Ana. Ah, Ana bahkan masih kecil tapi sudah bisa bersikap dingin.
“Dia masih inget waktu dibikin nangis di mall kapan hari,” jawab Nadia sambl menunjuk Rendra dengan dagunya. Mendengar hal itu membuat Lily terkekeh geli. Pandangannya ikut tertuju pada sang putra yang sepertinya terpaku melihat Ana melangkah menuju dapur.
“Anak kecil jaman sekarang gedenya cepet ya. Belum 5 tahun udah ngenal ngambek-ngambekan.” Nadia hanya tertawa geli sambil mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya sejak SMP tersebut.
“Kak Alvin ke kantor, Nad? Kok sepi?”
Nadia menggeleng pelan, “Lagi di ruangannya di atas. Ngurusin kerjaan karena mau ada proyek sama salah satu perusahaan farmasi dari Jepang.”
“Sepertinya bulan ini menjadi bulan kesibukan para pria,” gumam Lily sambil mengingat sang suami yang akhir-akhir ini menjadi lebih sibuk dari biasanya. Sementara Rendra kini fokus menatap layar televisi tanpa ingin mengerti apa yang tengah dibiccarakan para ibu tersebut.
“Kalau nggak gitu gimana kita bisa jalan-jalan keliling dunia,” sahut Nadia dengan santainya.
“Jadi gimana? Lo masih mual-mual?” tanya Nadia sambil mengusap lembut perut Lily.
“Udah lumayan mereda, sih, Nad. Sekarang gantian bapaknya yang tiap pagi pasti mual. Udah beberapa minggu terakhir ini. Firasat gue kayaknya yang ini cewek, deh. Badan gue juga gampang banget lemes. Nggak kaya dulu waktu hamil itu bocah.” Mata Lily seketika membola melihat tangan sang putra yang mulai memegang sendok puding milik anak sahabatnya.
“Rendra, jangan, Kak. Itu ‘kan punya Ana.”
Rendra menoleh ke arah sang ibu dan tersenyum dengan sangat manis. Tepat ketika sang pemilik puding datang ditemani oleh sang bibi.
“Rendra.” Teriakan Ana menggema di seluruh ruangan bahkan hingga sampai ke lantai atas.
“Itu punya Ana. Jangan di makan,” lanjutnya masih tetap berteriak karena Rendra tak kunjung melepaskan sendok di tangannya.
****