3. ANA AND RENDRA

1719 Words
Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;) ____________________________________ “Ana, maaf, ya,” ucap Rendra untuk yang entah keberapa kalinya pada gadis kecil itu. Namun Ana bergeming, ia masih setia dengan kebisuannya. Enggan menanggapi laki-laki jahil yang berulang kali menggumamkan kata maaf padanya itu. Ana memilih mengalihkan perhatiannya sepenuhnya pada layar televisi di hadapannya. Sambil tetap menikmati pudingnya. Ana tahu Rendra memang tidak sampai memakan pudingnya, tetapi tetap saja apa yang dilakukan Rendra beberapa menit yang lalu membuatnya merasa kesal. Bisa tidak Rendra sekali saja tidak menjahilinya saat mereka bertemu? Sebenarnya kenapa Rendra senang sekali menjahilinya bahkan hingga membuatnya menangis? Apakah Rendra memang memiliki hobi membuat orang lain menangis? Selain dia, apakah ada orang lain yang selalu dijahili oleh Rendra? ‘Ana cepat juga dewasanya, ya.’ Hhh. Sementara kedua ibu mereka hanya diam sambil mengulum senyum melihat interaksi di antara para anak-anak itu. Sedikitpun baik Nadia maupun Lily tidak pernah ikut campur jika Rendra menjahili Ana. Seolah mereka sudah melatih kedua anak itu untuk belajar bertanggungjawab atas perbuatan mereka sendiri. “Ana, kenapa berteriak, Kak?” tanya Alvin dari ujung anak tangga. Saat Ana mengeluarkan suara nyaringnya tadi, Alvin sedang melakukan panggilan dengan sekretarisnya. Meskipun panik Alvin tidak bisa memutus panggilan begitu saja sebab pembicaraan itu sangat penting, menyangkut rencana kerjasama dengan perusahaan asal Jepang tersebut. Begitu panggilan usai, barulah Alvin bisa menengok keadaan sang putri. “Rendra, Daddy. Mau makan pudingnya Ana tadi.” Alvin menghela napas. Tadinya ia sudah berpikir terlalu jauh, khawatir jika terjadi sesuatu terhadap putri kesayangannya itu. Meskipun sebenarnya ia sudah bisa menduga pasti karena Rendra yang menjahili Ana. “Maaf, Om. Tadi Rendra hanya menggoda Ana. Rendra tidak memakan pudingnya Ana kok,” ucap Rendra dengan kepala tertunduk. Alvin adalah salah seorang yang paling ia hormati selain sang ayah dan kedua kakeknya. Alvin hanya bisa menepuk dahinya ringan sambil mengalihkan pandangan pada istrinya yang tampak menahan tawa. “Kenapa, Sayang? Mau tambah kopinya?” tanya Nadia begitu menyadari tatapan sang suami. Alvin menggeleng pelan. “Enggak kok. Cuma mau ambil minum.” Alvin kembali memandang sang putri kemudian mengusap lembut pucuk kepala Ana, “Ana, marahnya nggak boleh lama-lama, ya.” Sambil melangkah menuju dapur Alvin menggumam pelan, “Dulu sama Mamanya Ana berantem terus, akhirnya jadi cinta. Jangan-jangan ini dua anak bakal kaya gitu nantinya.” Mendengar ucapan sang ayah agar tidak terlalu lama marah-marah membuat Ana akhirnya mengangguk ketika Rendra kembali mengucapkan kata maaf. Rendra tentu saja sangat senang ketika akhirnya Ana memaafkannya. Rendra sendiri tidak tahu kenapa ia sangat senang menggoda gadis kecil itu. Sejak pertama kali melihat dan mengenal Ana, menurutnya Ana sangat cerewet dan menggemaskan. Ana juga sangat jarang menangis mau bagaimanapun Rendra menggodanya. Kejadian Ana menangis seperti saat mereka bertemu di mall beberapa minggu lalu bisa disebut satu momen yang sangat langka. Begitu suasana di antara kedua balita itu sudah menjadi lebih kondusif, mereka lantas berpindah menuju gazebo yang terletak di tepi kolam ikan milik Alvin. Hobi dan kegemaran Alvin tidak pernah berubah, bahkan semakin menjadi terutama semenjak dia pulang dari menempuh pendidikan di Eropa selama 9 tahun yang mengakibatkan beberapa ikan kesayangannya mati. Beruntung pada waktu itu, Nadia dengan senang hati merawat kolam peninggalan laki-laki yang sangat dicintainya tersebut “Perasaan belum sampai 2 bulan gue nggak ke sini, udah nambah aja tuh ikan-ikan,” celetuk Lily memperhatikan ikan berwarna-warni dengan berbagai ragam ukuran tersebut. “Lo tahu sendiri gimana bapaknya Ana kalau sama ikan. Masih baik yang dulu gue rawat waktu dia minggat ke Eropa.” Lily tertawa geli mendengar ucapan sarkas Nadia. Alvin dibilang minggat. Walaupun pada kenyataannya, memang benar adanya. Lily berani membenarkan ucapan Nadia karena ia juga sudah mengetahui apa yang membuat Alvin kabur ke Eropa pada saat duduk di bangku SMA kala itu. Tentu saja Lily mengetahui cerita tersebut dari sang suami. “Terus kenapa lo rawat? Nggak sekalian aja lo biarin, biar orangnya ngamuk-ngamuk ikannya pada mati.” Nadia mengembuskan napas perlahan, tanda pasrah. “Ya, gimana. Nggak bisa rawat orangnya, gue rawat ikannya aja.” “Dan sekarang, hobinya sepertinya menurun ke anak gadisnya,” balas Lily sambil memperhatikan Ana yang tengah menaburkan makanan ikan ke dalam kolam yang berukuran cukup besar tersebut. Kedua balita itu duduk di tepi kolam sambil bergantian memberi makan pada ikan-ikan yang asyik berenang ke sana ke mari. “Katanya, anak cewek bakal banyak mirip bapaknya.” Lily mengangguk setuju, sebab sejauh ini ia bisa melihat Ana memang cenderung mirip dengan Alvin. Tidak hanya secara wajah yang bagai pinang dibelah dua serta fisik Ana yang terlihat cukup tinggi untuk anak-anak seusianya. Namun juga sikapnya yang cenderung tenang dan memilih mengamati dengan lekat sebelum membicarakan tentang sesuatu. Meskipun, ada juga beberapa sifatnya yang seolah menurun sepenuhnya dari Nadia. Tertutup dan lebih senang memendam perasaannya sendiri, misalnya. “Ana, Rendra boleh minta ikan-ikannya?” tanya Rendra dengan suara pelan agar tidak di dengar oleh para ibu yang tengah duduk di kursi malas. Ana menatap Rendra sejenak lantas menggeleng cepat. “Kenapa?” “Itu ikan milik Daddy-nya Ana. Kalau Rendra mau, Rendra harus minta sama Daddy.” “Rendra nggak berani sama Daddy-nya Ana.” “Sama, Ana juga nggak berani sama Daddy.” Kedua balita menggemaskan itu saling tertawa geli, memantik rasa penasaran sang ibu. “Kakak, ada apa? Kok ketawa-ketawa sama Ana?” Sama seperti Nadia, Lily juga sudah mulai membiasakan memanggil Rendra dengan embel-embel Kakak. Rendra menggeleng cepat tanpa menatap sang ibu, “Nggak pa-pa, Mama. Ikannya lucu,” ucapnya sambil memberikan isyarat agar Ana tutup mulut. “Lo pernah mikir nggak Lil, mereka berdua itu sama kaya kecilnya gue sama Kak Alvin dulu?” “Eh?” Lily mengerjap beberapa kali. “Maksud lo, hobi berantem terus gedenya saling cinta?” Nadia menjawab lewat gerakan alisnya yang tampak naik turun. Sebuah pemikiran jahil terbesit dalam benak Lily. “Yah, kalau ending-nya mereka saling suka sih, gue mana bisa nolak. Eh, tapi jangan dulu ah. Masih pada bocil.” Nadia memandang Lily dengan gemas. Jika saja tidak teringat dengan keberadaan sang anak dan kondisi mereka saat ini, ingin rasanya Nadia menjitak dahi Lily sesegera mungkin. “Yang bilang buat sekarang siapa, Lilipet.” Sebagai gantinya, Nadia memilih menepuk dahinya sendiri. Sementara Lily hanya menanggapinya dengan tawa geli. Menjelang jam makan siang, sebuah panggilan masuk ke ponsel Lily. Ia tersenyum melihat nama sang suami terpampang di layar. “Halo. Iya, Sayang?” ... “Aku masih di rumah Nadia sekarang. Mendamaikan anak-anak kita,” ucap Lily yang membuat Nadia tersenyum mengejek. ... “Ya, biasalah. Kamu kaya nggak tahu aja gimana anak kamu kalau ketemu Ana.” ... “Oh, gitu. Oke, aku jemput sekarang, ya. Safe flight, Honey.” Wajah Lily tampak berbinar mendengar ucapan sang suami. ... “Ya, bye.” “Kak Bagas udah mau pulang?” Lily mengangguk cepat. “Udah di dalam pesawat katanya. Gue balik dulu, ya, Nad. Mesti ke airport jemput dia.” Nadia menangguk lantas bergerak perlahan untuk bangkit. “Nggak makan siang dulu?” Lily menggeleng cepat. “Next time, deh, Nad.” Nadia mengangguk mengerti. “Rendra, kita pulang yuk, Nak.” “Yah ...” Rendra mendesah kecewa, “Kenapa pulang sekarang, Mama? Kan baru sebentar di rumah Ana.” Lily tersenyum sekilas, lantas menghampiri putra kesayangannya tersebut. “Kita harus jemput Papa ke bandara, Sayang.” “Papa pulang?” tanya Rendra dengan wajah berbinar, Lily mengangguk sekali. “Hore ...” Rendra sampai bertepuk tangan kegirangan. Sudah beberapa hari ia tidak bertemu dengan sang ayah, tentu saja Rendra sangat rindu. Ana yang melihat Rendra tertawa senang spontan ikut bertepuk tangan. Sebagai seorang anak yang sama-sama memiliki ayah super sibuk, Ana juga tahu rasanya saat Alvin harus pergi ke luar kota atau ke luar negeri untuk mengurus pekerjaannya. Jadi Ana sangat memahami bagaimana senangnya perasaan Rendra saat ini. “Ayo, Mama. Jemput Papa,” ajak Rendra sambil meraih tangan sang ibu. Hendak melangkah menuju ke arah pintu. “Eits, pamit dulu sama Tante Nadia dong, Kak.” “Oh iya.” Rendra menepuk dahinya dengan telapak tangannya yang mungil. “Tante, Rendra pulang dulu, ya.” Nadia menjawab dengan anggukan dan senyuman. “Ana, Rendra pulang dulu, ya. Papanya Rendra pulang. Terima kasih untuk pudingnya.” Sama seperti sang ibu, Ana juga meresponnya dengan anggukkan beberapa kali. “Tante Lily pulang dulu, ya, Anak Cantik. Nanti kapan-kapan Tante ajak Rendra main lagi.” “Iya, Tante. Sama adik bayi, ya, Tante,” jawab Ana sambil memperhatikan perut Lily yang mulai tampak sedikit menonjol. “Sama adiknya siapa, Kak?” tanya Nadia menggoda. “Ish, Mama. Adiknya Ana dan adiknya Rendra, dong.” Mendengar ucapan polos itu membuat baik Lily maupun Nadia terkekeh. “Kalau adik bayi yang di perut Tante Lily masih lama keluarnya, Sayang. Tapi adik bayi yang di perut Mommy-nya Ana sebentar lagi keluar.” “Ana tahu, Tante. Kata Daddy, bulan depan Ana jadi kakak.” “Mama, ayo ...” Rendra merengek karena sang ibu tak kunjung melangkahkan kaki dan malah asyik mengobrol dengan Ana. Ana, Nadia dan Lily sontak tertawa mendengar rengekan Rendra. Tidak mau putranya berubah menjadi rewel, setelah berpamitan sekali lagi Lily segera melangkah menuju pintu depan. Tentu saja dengan diantar oleh Nadia dan Ana di belakang langkah mereka. “Salam buat Kak Alvin, ya, Nad. Sorry nggak sempat pamit.” “Santai aja, Lil. Itu tadi kalau air minumnya nggak habis dia juga nggak akan turun. Nanti gue sampein.” “Da-da, Ana.” Rendra melambaikan tangan dari jendela mobil yang terbuka. “Da-da Rendra.” Ana membalas serupa dengan sebelah tangannya menggenggam tangan sang ibu. “Kita makan siang, yuk, Kak,” ajak Nadia sambil berjalan memasuki rumah. “Ayo, Mommy. Ana panggil Daddy dulu, ya. Mommy sama adek tunggu di bawah saja.” Ana  mengecup perut sang ibu, kemudian segera melepaskan genggaman tangannya untuk menuju ruang kerja sang ayah di lantai atas. “Jalan pelan-pelan, Kak. Nggak usah lari,” peringat Nadia ketika melihat gelagat putrinya yang hendak berlari. “Iya, Mommy.” Ana menghentikan keinginannya untuk berlari. Jika tidak, Ana takut Nadia akan memarahinya. Sementara menunggu sang suami dan anaknya, Nadia segera menyiapkan makan siang di atas meja makan. Tentu saja dengan dibantu oleh sang bibi. Tak lama berselang, terdengar langkah kaki Alvin menuruni anak tangga. Beriringan dengan jeritan manja Ana akibat digoda oleh sang ayah dalam gendongannya. ****   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD