Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;)
____________________________________
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Lily dan Rendra untuk sampai ke bandara. Keadaan lalu lintas siang ini tidak seberapa padat. Rendra yang biasanya sangat mudah merasa bosan ketika berada di dalam kendaraan bahkan tidak mengira ia dan sang ibu akan seccepat ini sampai ke bandara.
“Kakak kenapa?” tanya Lily yang heran melihat raut wajah putranya.
“Kok cepat ya, Ma? Biasanya kan kalau mau lihat pesawat, lama sekali di dalam mobil.” Sontak saja Lily tertawa geli mendengar gerutuan putra sulungnya tersebut.
“Karena jalanan-nya nggak macet, Kak. Coba kalau macet, pasti Kakak akan bosan di dalam mobil.” Rendra hanya menyengir pada sang ibu hingga menampilkan deretan gigi putihnya.
Dengan saling bergandengan tangan, keduanya berjalan menuju tempat penjemputan tak jauh dari gerbang kedatangan penumpang.
“Mama, Kakak boleh minta es krim?” Langkah Lily terhenti ketika mendengar permintaan sang anak.
“Kakak mau es krim? Tumben sekali, Sayang?”
Dengan senyum cerahnya, Rendra mengangguk. “Boleh ‘kan Ma?”
“Boleh, Sayang. Nanti kita pulang beli es krim, ya?” Tentu saja Lily tidak akan tega menolak permintaan putra kesayangannya itu. Kebetulan, pulang dari bandara nanti Lily memang mempunya keinginan untuk mampir ke sebuah supermarket yang terletak tak jauh dari kediamannya.
“Nggak mau nanti, Mama. Kakak maunya sekarang.” Di luar dugaan, Rendra justru menggeleng sambil mengeluarkan rengekannya.
“Eh? Sekarang?” Lily memperjelas, Rendra mengangguk yakin.
Rendra lantas mengarahkan pandangannya ke sisi kanan. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri sat ini, terdapat sebuah gerai es krim. Lily mengikuti arah pandang Rendra, seketika senyumnya terluas ketika kembali berpandangan dengan sang putra.
“Oke, boleh. Tapi 1 saja, ya?”
Senyuman lebar Rendra tersungging sempurna, “Terima kasih, Mama.”
Secepat mungkin Rendra segera menuju gerai penjual es krim tersebut. Membuat sang ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
“Jalan yang bagus, Kak. Nggak usah lari.” Bagaikan magic, Rendra seketika menghentikan langkahnya. ia tahu jika mengabaikan ucapan sang ibu, maka kesenangannya kali ini akan terancam gagal.
“Kakak mau rasa apa?” tanya Lily begitu keduanya sampai di depan gerai dengan pegawai wanita tersebt.
“Cokelat sama vanila, Mama. Di campur, lalu atasnya di kasih kacang,” jawab Rendra tanpa mengalihkan perhatiannya dari etalase kaca di hadapannya. Deretan wadah es krim dengan 14 varian rasa yang membuat air liurnya seakan mau menetes.
“Cokelat? Kakak mau cokelat?” Tanpa keraguan sedikit pun, Rendra mengangguk.
Tentu saja Lily mempertanyakan hal itu sebab selama ini yang ia tahu, Rendra sangat tidak menyukai rasa cokelat, sama seperti sang suami. Terlebih jika diberi taburan kacang. Itu sama sekali bukan Rendra menurutnya. Namun, Lily tetap memenuhi permintaan Rendra. Ia juga memesan 1 lagi es krim rasa cokelat avocado kesukaannya.
Setelah keinginannya terpenuhi, pasangan ibu dan anak itu kemudian kembali pada tujuan awal mereka untuk menuju ruang tunggu kedatangan. Lily mengajak Rendra duduk di kursi yang bisa membuatnya mengetahui kedatangan sang suami.
“Mama, Papa di mana?”
“Mungkin pesawatnya Papa belum mendarat, Sayang. Kita tunggu, ya?” Rendra mengangguki ucapan sang ibu sambil sibuk menikmati es krim di tangannya. Demikian juga Lily yang sibuk menyuapkan es krim ke dalam mulutnya sendiri. Bedanya, Rendra menyantap kudapan dingin tersebut dengan sangat lahap hingga membuat bajunya tampak belepotan, sementara sang ibu begitu menikmatinya sedikit demi sedikit.
“Pelan-pelan, Sayang,” tegur Lily sambil mengusap mulut sang anak menggunakan tisu.
“Ini enak, Mama,” balas Rendra tanpa mennoleh pada sang ibu.
“Sejak kapan Kakak suka dengan cokelat?”
Rendra terdiam sejenak, ia sendiri baru ingat jika selama ini ia sangat tidak menyukai hal apapun yang berbau cokelat.
“Sejak Rendra makan es krim-nya Ana, Ma,” jawabnya tanpa rasa bersalah.
Dahi Lily seketika berkerut, tak lama kemudian ia tersenyum geli mengingat hari itu. Saat Rendra dan Ana duduk bersisian sambil menikmati es krim masing-masing. Ana memilih rasa cokelat dengan kacang sementara Rendra memilih rasa vanila. Saat Ana lengah, entah karena iseng atau penasaran, Rendra mencuri 1 sendok es krim milik Ana tanpa di ketahui oleh sang pemilik.
Nyatanya, Rendra kembali mengulangi hal itu hingga 3 sendok dan pada saat sendokan ketiga itulah Ana mengetahui perbuatan Rendra. Detik itu juga Ana langsung marah dan menangis. Ia tidak mau lagi menghabiskan es krimnya. Sebagai hukumannya, Rendra harus menghabiskan es krim milik Ana sementara Ana meminta es krim baru dan langsung menjauh dari tempat duduk Rendra.
Tidak disangka saja, hal itu justru membuat Rendra kini mulai menyukai makanan yang merupakan kesukaan dari Napoleon Bonaparte tersebut. Lily juga baru teringat jika sejak saat itu Rendra selalu ikut menikmati jika ia tengah menyantap kudapan yang mengandung rasa pahit manit itu.
Begitu es krim di tangannya habis, Rendra yang merasa sedikit bosan kemudian berjalan mendekati jendela kaca untuk melihat deretan pesawat di apron bandara. Lily hanya mengawasi sang putra, sebab ia mulai merasa sedikit lelah. Mata Rendra seketika berbinar melihat sebuah pesawat tampak mencapai landasan pacu. Entah mengapa, ia merasa itu adalah pesawat yang ditumpangi oleh sang ayah.
“Mama, pesawatnya Papa datang.” Rendra berteriak dengan penuh semangat hingga membuat perhatian beberapa orang yang tengah berada di dekat mereka teralihkan padanya.
Lily hanya mengangguk, kemudian ia berdiri mendekati Rendra. Lily tahu betul apa yang akan terjadi jika ia tidak memegangi putranya itu. Sudah pasti Rendra akan berlari menuju gerbang kedatangan mencari sang ayah.
Tak sampai 10 menit, sosok yang mereka nanti-nantikan akhirnya menampakkan batang hidungnya. Bagas, dengan raut wajah lelahnya namun seketika berbinar melihat siapa yang tengah berdiri menantinya, tentunya dengan senyuman manis yang selalu tersungging.
“Papa,” seru Rendra sambil berlari mendekati sang ayah. Bagas segera berjongkok untuk menerima pelukan sang putra.
“Hai, Anak Tampan. Gembira sekali wajahnya, ya?” balas Bagas sambil menciumi wajah sang anak.
“Papa, stop. Malu ih, geli.” Rendra tertawa renyah sambil menghindari ciuman bertubi-tubi dari sang ayah.
“Hai, Sayang,” sapa Bagas pada sang istri yang kini berdiri di hadapannya.
“Hai. Syukurlah kamu udah sampai. Anak kamu nanyain terus dari tadi,” balas Lily sambil meraih koper sang suami, namun Bagas mencegahnya.
“Biar aku saja yang bawa.” Lantas beralih menatap sang putra, “Kakak turun dulu, ya. Papa bawa koper, Sayang.”
Rendra mengangguk semangat, kemudian meraih tas tenteng sang ayah yang berada di atas koper.
“Rendra bawa tasnya Papa, boleh?” tanyanya dengan penuh harap.
“Boleh, Kak. Ayo kita pulang sekarang,” jawab dan ajak Bagas kemudian. Pasangan suami istri itu sungguh kesulitan jika harus menolak permintaan sang putra.
Ketiganya segera melangkah menuju tempat di mana sang sopir sedang menunggu, dengan Rendra yang berada di tengah sambil bergandengan tangan dengan sang ayah.
Perjalanan menuju ke rumah ternyata sangat berbanding terbalik dengan saat Lily berangkat menuju bandara tadi. Kemacetan mulai terlihat karena mobil mereka melintasi jalan protokol. Beruntung saja, Rendra tampaknya kelelahan dan langsung tertidur tidak alam setelah memasuki mobil. Jika tidak, bisa dipastikan bocah itu akan mengomel sepanjang jalan karena bosan.
1 jam kemudian, mobil hitam itu akhirnya memasuki pekarangan rumah mereka. Bagas terlebih dulu turun dan membantu Lily. Baru kemudian ia menggendong sang putra yang masih terlelap. Sementara barang bawaan mereka di bawa masuk oleh sang sopir.
Lily langsung menuju kamar pribadinya saat Bagas menidurkan putra mereka di dalam kamarnya. tak lama kemudian, Bagas menyusul sang istri ke dalam kamar mereka.
“Ada apa?” tanya Lily sambil melepas jaket sang suami. Lily tentu paham sejak keluar dari bandara tadi, raut wajah prianya itu sangat berbeda, bahkan saat di dalam mobil pun Bagas cenderung diam. Sangat berbeda jauh dengan kebiasaannya selama ini yang pasti bercerita apapun yang dialaminya.
Bagas menggeleng pelan, dan hal itu justru membuat Lily semakin penasaran.
“Apa sekarang kamu mulai main rahasia-rahasiaan dari aku?”
Bagas kembali menggeleng mendengar nada bicara istrinya yang dingin tersebut. Ia tidak boleh membuat mood Lily berantakan atau akan berefek pada kandungannya yang baru seumur jagung. Pria itu lantas mendekati sang istri, memeluknya begitu erat.
“Mr. Jonas terkena masalah. Sekarang kantor Singapura lagi semacam kosong pemimpin. Kemarin setelah rapat umum, keputusannya aku yang harus menggantikan. Sementara kantor yang di sini akan diganti sama Pak Leo,” kata Bagas sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
Lily tampak tertegun sejenak mendengar penuturan sang suami. Jika Bagas harus mengisi posisi di Singapura, itu artinya dia dan Rendra harus ikut hijrah ke Negeri Singa tersebut karena Lily sama sekali enggan untuk berjauhan dengan suaminya itu.
“Berarti, kit harus pindah ke Singapura?” Bagas mengangguk pelan.
“Ya sudah, kalau memang begitu seharusnya. Nggak masalah, kok. Kenapa kamu merasa berat gini?” Di akhir kalimatnya, Lily berusaha menjauhkan wajah Bagas dari lehernya lantas merangkumnya dengan tatapan penuh cinta.
“Masa aku harus pergi dari Indonesia lagi,” ucap Bagas dengan wajah merajuknya yang menurut Lily sangat menggemaskan.
Lily spontan tertawa mendengar gerutuan sang suami, “Makanya, siapa suruh dari SMP sampai kuliah hidup di Paris.”
Bagas menggeleng tidak terima, “Bukan salah aku, Sayang. Tapi ya, terlanjur betah di sana.”
Kepindahan Bagas dari Jakarta ke Paris saat SMP memang bukan murni keinginannya. Saat itu, ayahnya yang seorang diplomat ditugaskan menjadi duta besar Indonesia untuk Perancis. Jadilah Bagas ikut serta. Pada masa itu ia sedang duduk di kelas VIII SMP, satu kelas dengan Alvino Syahreza.
Setelah 10 tahun menjadi duta besar Indonesia untuk Perancis, sang ayah dipindah tugaskan ke Rusia. Namun Bagas enggan untuk ikut serta karena saat itu ia tengah menempuh pendidikan Bachelor sekaligus Master-nya di Sorbonne Universite. Itulah yang membuatnya menghabiskan hampir 15 tahun hidup di Benua Biru.
“Aku pikir ada apa. Wajah kamu kusut banget sejak tadi.”
“Kamu nggak keberatan pindah ke Singapura?” Dengan yakin Lily menggeleng.
“Kamu ... nggak berencana ninggalin aku sama Rendra berdua di sini, ‘kan?” tanyanya dengan tatapan memicing. Jangan lupakan tangannya yang kini bersedekap sehingga membuat Bagas tertawa geli.
“Nggak mungkin, dong. Ke manapun aku pergi, aku akan selalu membawa kalian.”
“Tapi, aku ‘kan belum boleh naik pesawat, Sayang,” ucap Lily begitu menyadari keadaannya saat ini.
“It’s okay. Aku udah ngomong kok kalau nggak bisa dalam waktu dekat ini. Mungkin beberapa waktu lagi sampai Adek siap untuk diajak terbang,” balas Bagas sambil mengusap lembut perut sang istri. Hal itu tentu saja membuat perasaan Lily menghangat.
“Memangnya, masalah apa yang menimpa Mr. Jonas sampai-sampai dia harus digantikan?”
Bagas menghela napas, tidak mungkin ia tidak bercerita pada sang istri. Namun jika ia bercerita kemungkinannya, telinganya akan panas seharian ini.
“Istrinya mergokin dia lagi di villa sama perempuan muda. Terus entah gimana beritanya sampai ke bagian HRD.” Jawaban Bagas membuat Lily memutarkan bola matanya dengan jengah.
“Dasar laki-laki, nggak ingat dulunya waktu susah, nggak punya apa-apa. Ada perempuan yang mau nerima ikhlas apa adanya. Giliran udah banyak uang, malah cari daun muda. Pantes aja dapet balasan kaya gitu.” Bagas hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Betul ‘kan apa dikata? Ia benar-benar harus mempersiapkan telinganya mendengar omelan sang istri yang masih belum berhenti.
****