Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;)
____________________________________
Menjelang tengah malam, Nadia terbangun dengan rasa sakit yang terasa melilit perutnya. Akhir-akhir ini ia merasa intensitas mulas di perutnya semakin menjadi. Seharusnya, minggu depan akan menjadi HPL Nadia. tetapi sepertinya, sang jabang bayi sudah tidak sabar untuk melihat dunia sekarang juga.
“Kak,” lirih Nadia sambil menggoyangkan lengan Alvin yang memeluknya dari belakang.
“Kak Alvin,” panggilnya lagi dengan nada suara yang lebih keras. Tidak lupa menolehkan kepalanya ke belakang. Terlihat Alvin mulai mengerjapkan mata untuk mengumpulkan kesadarannya.
“Kenapa, Sayang?” sahut Alvin sambil membelai lembut perut membuncit istrinya. Biasanya, saat nada manja Nadia keluar itu menandakan jika ia ingin perutnya diusap oleh Alvin.
Bukannya menjawab, Nadia justru meringis karena merasakan kontraksi yang terasa semakin menyakitkan untuknya. Ringisan Nadia sontak saja membuat Alvin seketika membuka kelopak matanya. Ia segera terbangun menyadari keadaan sang istri.
“Tahan sebentar, ya. Kita ke rumah sakit sekarang.” Tanpa berniat menunggu jawaban Nadia, Alvin segera menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kemudian memanggil sopir dan asisten rumah tangganya agar menyiapkan mobil dan membawa turun barang bawaan Nadia yang memang sudah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya.
Semua dilakukan Alvin dengan cepat dan tentu saja sedikit berlari. Meskipun merasakan sakit, mau tidak mau Nadia justru dibuat tertawa geli melihat betapa antusiasnya sang suami menyambut kelahiran anak kedua mereka. Sama seperti saat dulu sebelum Ana lahir ke dunia.
Alvin tak lupa membangunkan Darmawan dan Kartika. Beruntung, kedua orang tuanya sudah pulang dari perjalanan bulan madunya ke Eropa sejak kemarin. Sehingga mereka sudah memiliki cukup waktu untuk beristirahat dan Alvin juga tidak merasa berdosa membangunkan keduanya saat ini.
“Mamah mau temani Nadia?” tanya Darmawan saat Alvin kembali menuju kamarnya. Dengan cepat, Kartika mengangguk tetapi sedetik kemudian ia menggeleng, membuat kerutan pada wajah sang suami semakin terbentuk.
“Mama nggak mungkin biarin Nadia sendirian, Pah. Tapi, kasihan Ana kalau kita tinggal.”
“Nggak pa-pa. Ana biar Papah yang jaga.” Sekali lagi Kartika menggeleng.
“Mamah nggak mau Ana merasa diabaikan, Pah.” Tepat setelah itu tampak Alvin yang tengah menggondong Nadia ala bridal style. Kartika melangkah cepat, disusul dengan Darmawan di belakangnya sambil menelepon rumah sakit di mana Randy bekerja.
“Kak, Ana ....” lirih Nadia di sela-sela ringisannya saat Alvin menurunkannya di jok mobil.
“Kalian tenang aja, ya. Ana, biar Mamah sama Papah yang jaga. Besok pagi Mamah akan ajak Ana ke rumah sakit.”
“Titip Ana, Mah,” ucap Alvin yang langsung membuat Kartika mendelikkan matanya.
“Kamu ini bicara apa? Ana ‘kan juga cucu Mamah, Vin. Pasti Mamah akan jaga. Sudah kalian tenang saja, fokus sama adiknya Ana, ya.” Kartika mengecup dalam kening Nadia. Hal yang mampu membuat perasaan Nadia menjadi jauh lebih tenang.
“Kita pergi dulu, Mah, Pah,” pamit Alvin sambil mencium punggung tangan Kartika, lantas berganti pada Darmawan.
Mobil putih itu segera melaju membelah jalanan Ibukota yang sudah tampak lengang. Jelas saja, saat ini jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Alvin tidak hentinya berusaha menenangkan Nadia, memberinya sentuhan lembut yang mampu membuat wanita itu lebih rilex.
“Kakaknya lahir pagi hari, adiknya malah mau lahir dini hari,” celetuk Alvin sambil mengusap lembut perut Nadia. Spontan, Nadia tertawa geli mendengarnya.
“Terima kasih, sudah selalu menemani aku setiap melahirkan anak kita,” ucap Nadia tulus, dengan air mata yang mulai menggenang. Alvin membalasnya dengan senyuman lantas mengecup sekilas bibir Nadia.
“Apapun untuk kalian, Sayang.” Dulu saat Nadia hendak melahirkan Ana, Alvin juga menemaninya meskipun pada saat itu ia seharusnya pergi ke Surabaya untuk melihat lokasi pembangunan cabang perusahaan mereka. Tetapi Alvin membatalkan agendanya tersebut dan mengutus sang manajer agar menggantikannya. Alvin tidak rela jika harus kehilangan momen bersama putra-putri mereka untuk pertama kalinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Nadia segera dibawa ke ruang perawatan setelah dokter melakukan pemeriksaan awal yang ternyata sudah sampai tahap pembukaan 8. Alvin senantiasa berada di sisi Nadia, sambil menunggu hingga bayi kedua mereka benar-benar siap dilahirkan.
“Mau lanjut tidur lagi? Tadi ‘kan tidurnya baru sebentar,” saran Nadia yang tidak tega melihat raut wajah mengantuk sang suami. Dengan cepat Alvin menggeleng.
“Nggak pa-pa. Tidur lagi aja. Nanti kalau ada apa-apa juga pasti aku bangunin, Sayang.” Nadia mengusap lembut pipi Alvin dengan satu tangannya yang terbebas dari jarum infus. Tidak ingin berdebat terlalu lama dengan sang istri, Alvin akhirnya menurut sebab harus diakui kalau matanya memang masih sangat mengantuk.
“Ya sudah, tapi aku tidur di sini. Jangan minta aku tidur di sofa,” ucap Alvin tanpa ingin di bantah sambil merebahkan kepalanya di sisi brankar Nadia. Nadia mengulum senyum sambil menggeleng. Perlahan, Alvin mulai terlelap menuju ke alam mimpi diiringi dengan usapan lembut Nadia pada pundaknya.
****
Sunggingan senyum bahagia seolah enggan untuk beranjak dari bibir pasangan suami istri itu. Terlebih pada sang ibu. Seorang bayi berwarna kemerahan yang begitu tampan tengah terlelap dengan nyaman dalam pelukannya, dan seorang pria dewasa tak henti-hentinya memberikan kecupan serta ucapan terima kasih atas perjuangannya.
Tepat pukul 3 pagi, bayi yang baru diketahui jenis kelaminnya saat lahir itu akhirnya bisa melihat indahnya dunia. Sejak mengandung Ana, Alvin dan Nadia memang tidak pernah ingin tahu mengenai jenis kelamin bayi mereka. Menurut keduanya, hal itu bisa menjadi kejutan nantinya sebab bayi laki-laki maupun perempuan toh sama saja. Namun pada dini hari tadi, kebahagiaan Alvin semakin terasa semakin berlipat ganda dengan hadirnya seorang Arga Briandi Syahreza.
Nama yang tersemat begitu saja dalam benak Alvin sesaat setelah ia melihat bayi lelakinya sebelum dibersihkan oleh dokter. Nadia langsung mengangguk setuju dengan nama pemberian sang suami. Yang memicu perdebatan justru adalah nama panggilannya. Nadia menghendaki panggilan Arga agar serasi dengan sang kakak, sementara Alvin ingin memanggilnya Brian. Namun Akhirnya Alvin memilih mengalah sebab ia paling tidak bisa menolak keinginan istri cantiknya itu. Terlebih, Ana-pun, Alvinlah yang memberikan nama.
“Kamu udah kasih tahu Mamah sama Papah?” tanya Nadia sambil membuka kancing bajunya untuk memberikan ASI pertama bagi sang bayi. Bukannya menjawab, Alvin justru tertegun saat melihat sang putra yang begitu rakus dalam menyesap sumber makanannya dari sang ibu.
“Dad,” tegur Nadia karena Alvin tidak kunjung menjawab pertanyaannya, malah cenderung melamun.
“Pelan-pelan minumnya, Dek. Daddy nggak akan minta kok.” Mengerti dengan maksud ucapan sang suami, Nadia seketika memberikan cubitan pada lengan prianya itu. Cukup keras hingga membuat Alvin meringis.
“Aish ... panas, Sayang,” desis Alvin sembari mengusap lengannya yang ia yakini pasti memerah.
“Aku tadi tanya apa?” Nadia menatap Alvin dengan sinis, tidak sedikitpun ingin meminta maaf atas perbuatannya sebab ia merasa tidak bersalah.
Alvin hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal mendapat tatapan penuh intimidasi dari wanitanya itu.
“Udah, Sayang. Tadi sewaktu kamu masih di dalam ruang bersalin aku langsung kabarin Mamah. Tapi sepertinya Mamah masih tidur.” Alvin memang memberi kabar pada Kartika melalui pesan chat. Ia takut mengganggu waktu tidur orang tuanya. Nadia mengangguk mengerti atas penjelasan Alvin. Ia memaklumi mungkin saja Darmawan dan Kartika masih merasa lelah akibat perjalanan jauh mereka. Namun bukan itu yang Nadia khawatirkan.
Arga yang merasa sudah kenyang cepat melepaskan mulut mungilnya dari sumber makanan utamanya. Alvin bergerak sigap untuk mengambil alih putranya yang tampak sudah terlelap itu dan memindahkannya ke dalam box agar Nadia bisa beristirahat. Namun begitu membalikkan pandangannya, dahinya mengertu melihat raut wajah Nadia yang tampak berbeda. Seolah, risau.
“Ada apa?” Alvin kembali duduk di samping Nadia sambil menggenggam erat tangan mulus itu. Yang ada dalam pikiran Alvin sekarang, ia takut Nadia terkena syndrom baby blues yang biasa menyerang ibu-ibu yang baru saja melahirkan.
“Ana udah bangun belum, ya? Aku takut dia nyariin kita.” Alvin menghela napas lega karena ketakutannya tidak terbukti. Mengerti dengan kerisauan hati sang istri, Alvin segera menenangkannya dengan sebuah ide.
“Aku telepon Bibi, ya. Untuk ngecek keadaannya Ana.” Alvin segere men-dial nomor telepon rumah. Tak dari percakapan itu Alvin mengetahui jika Ana masih terlelap. Alvin meminta pada sang bibi agar segera menyiapkan s**u dan sarapan untuk Ana, serta kebutuhan Ana sebelum nanti menyusulnya ke rumah sakit. Termasuk baju yang harus dikenakan Ana, sesuai dengan permintaan Nadia. Karena dengan begitu, Ana pasti tahu jika baju itu merupakan pilihan sang ibu.
Ana bisa berubah menjadi anak yang sangat manja, terlebih saat berjauhan dari orang tuanya. Meskipun Alvin tidak meragukan kemampuan Darmawan dalam menenangkan sang cucu, tetap saja sikap Ana cukup membuatnya was-was.
Nadia bisa bernapas lega begitu mendengar penjelasan Alvin. Semakin lama ia merasa semakin jatuh cinta pada suami menyebalkannya itu. Alvin seolah tidak pernah ingin mengulangi kesalahannya yang dulu pernah melukai Nadia. Bahkan menurutnya, Alvin merupakan definisi suami yang sangat sempurna. Nadia tidak pernah menyesali apapun yang dulu terjadi pada mereka. Sebab hal itulah yang ia rasa kini membuat Alvin menjadi seorang suami dan ayah yang sangat hangat.
“Semoga dia nggak heboh saat tahu kita nggak di rumah,” celetuk Alvin yang membuat Nadia tertawa geli.
****