Main yang kubilang tadi bukan sepenuhnya main, melainkan lebih ke mengajari Kalana untuk mengaji. Dia anak yang cukup pintar dan cepat tanggap dengan apa yang kuajarkan. "Tante Kin, Kalana besok mau belajar iqro lagi," kata Kalana saat aku mengakhiri sesi baca kami saat jarum panjang jam menjauh dari angka delapan, yang mana jam tidurnya sudah lewat sedikit. "Wah, beneran Kalana mau Tante ajarin lagi?" balasku dengan senyum yang kubuat selebar mungkin, mencoba untuk mengimbangi gadis itu supaya hubungan kami nggak kaku-kaku amat. "Mauuuuu," sahut anak itu dengan sangat antusias. Matanya bahkan sampai berbinar. Respons Kalana kali ini sangat berbeda seperti pada saat kami di meja makan tadi. Keengganannya sudah nggak bisa aku lihat lagi. Padahal di sini aku cuma mengajarinya baca iqro ya

