Aku sedang duduk di kursi sembari menunggu Mas Javas yang tengah memasak di balik kompor dengan celemek hitam yang melekat di tubuhnya. Katanya zaman kuliah dulu dia paling ahli di antara teman-temannya yang lain dalam urusan masak-memasak, sampai Mas Natha, laki-laki yang sempat kukira punya hubungan lebih dari seorang teman dengan Mas Javas itu nambah berkali-kali. Dia juga sempat bilang padaku tadi kalau belum tentu masakannya seenak dulu. Alasannya sih, daripada pegang pisau dapur, dia lebih sering bermain-main dengan pisau bedah. "Mas, perlu bantuanku nggak? Biar cepet selesai, entar Mas pasti bakal balik ke rumah sakit lagi, kan?" tanyaku saat Mas Javas terlihat kesusahan memotong wortel menjadi bentuk dadu. Niatnya tadi dia memang ingin membuat sup ayam yang lebih simple dan mud

