Seorang Bidadari

1321 Words
Malam ini entah mengapa Yani merasa gelisah. Yani terus saja duduk lalu kembali berbaring lagi. Sesekali perutnya terasa amat kencang dan sedikit nyeri. Namun, hal itu sudah biasa ia rasa. Menurut bidan di puskesmas saat Yani memeriksakan kandungannya, Yani kelelahan hingga menyebabkan ia mengalami kontraksi palsu. Bidan pun meminta Yani untuk lebih banyak istirahat dan tidak bekerja berat. Akan tetapi, malam ini yang ia rasakan sungguh berbeda. Perutnya berkali-kali terasa kencang dan nyeri. Meski ia sudah beristirahat, tetapi rasa sakit itu terus saja menyerangnya. “Nak, kamu baik-baik saja, kan? Jangan buat ibu cemas,” ucap Yani mengusap-usap perutnya. Ia khawatir karena terlalu banyak bekerja akan berimbas pada kandungannya. Hingga mentari menyingsing, rasa itu malah semakin menjadi. Yani yang kebingungan, terus saja mondar mamdir di dalam rumahnya. Sesekali ia meringis menahan sakit yang menyerang perutnya. Yani bergegas ke dapur untuk merebus air, ia pikir dengan meminum air hangat mungkin saja bisa meredakan rasa sakit perutnya itu. Namun, ketika Yani berjongkok seperti ada yang meletus dari area sensitifnya. Ia berusaha untuk berdiri lagi, tetapi tiba-tiba Yani merasa ada air yang sedikit kental mengalir di sela-sela kakinya. “Ya, Tuhan. Apa ini?” pekik Yani, napasnya naik turun, cemas memikirkan hal apa yang sedang ia alami. Yani berusaha berjalan masuk ke kamarnya. Ia berniat mengganti pakaian yang telah basah terkena cairan yang Yani sendiri tidak mengerti. Akan tetapi, rasa sakit perutnya ternyata semakin menjadi-jadi. Ia memekik ketika rasa sakit itu terasa begitu amat sakit. Keringat dingin pun kini telah membasahi kening juga tubuh Yani. Dadanya berdegub kencang, tak tahan merasakan rasa sakit itu. Di tengah kepanikan Yani menahan sakit, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya dari arah luar. Tertatih-tatih Yani menuju pintu, tetapi langkahnya seakan semakin terasa berat dan ia menyandarkan tubuhnya pada dinding rumahnya yang lapuk. Yani lunglai, kakinya yang sangat lemah tidak dapat menopang tubuhnya lagi. Suara ketukan dan panggilan dari luar semakin keras. Yani dengan sisa tenaganga berkata lirih, “To—tolong ....!” Beberapa saat kemudian, pintu rumah Yani telah berhenti di ketuk. Mungkin, orang yang datang itu mengira Yani tidak ada di rumah. Sedangkan Yani semakin gelisah menahan rasa sakit yang seakan memelintir perutnya. Ia merasakan seperti ada sesuatu yang mendesak untuk keluar dari area kewanitaannya. “Aaa ...! ” teriak Yani, ia mengedan sekuat tenaga. Oeee ... oeee ... oeee Dan akhirnya terdengar suara bayi yang menangis. Yani yang akhirnya menyadari bahwa ia telah melahirkan semakin gelisah. “Tolonggg!” teriak Yani, berharap seseorang dapat membantunya dan juga bayi yang baru saja ia lahirkan. Tubuh Yani tersentak ketika pintu kembali di ketuk seseorang. Ia merasa, Allah memang mengirim seseorang untuk membantunya. Sekuat tenaga Yani terus berteriak meminta tolong. “Suara bayi? Yani, kau sudah melahirkan? Buka pintunya Yani!” ucap seseorang itu yang mendengar tangisan bayi. Yani hanya bisa mendengar suara panik yang ternyata Ibu Patin. Namun, ia tidak sanggup lagi untuk sekedar berteriak meminta tolong. Pandangannya perlahan-lahan buram. Kepalanya terasa berat dan berputar, tetapi samar-sama ia masih dapat mendengar suara bayinya yang menangis sebelum akhirnya pandangan dan kesadaranya hilang. “Astaga, Yani! Tolong, cepat panggil Mak Ijah. Yani sudah melahirkan,” pekik Bu Patin pada seseorang yang tadi di luar ia ajak membuka paksa pintu rumah Yani. Bu Patin yang awalnya datang ke rumah Yani berniat mengantarkan sedikit makanan, malah mendengar keanehan dari dalam rumah itu. Ia segera meminta bantuan karena merasa sangat khawatir. Hingga ternyata dugaannya benar. Saat ia kembali lagi bersama beberapa orang, mereka mendengar suara bayi yang menangis. Salah seoarang langsung berlari menuju rumah Mak Ijah seorang dukun bayi yang biasa membantu orang melahirkan. Di desa ini masih banyak yang menggunakan dukun ketimbang meminta tolong jasa bidan. Selain harganya lebih murah, mereka percaya dukun juga tidak kalah hebat dari bidan. Mak Ijah segera memberi pertolongan pada Yani. Ia menekan sedikit perut bagian bawah Yani. Mak Ijah sedang berusaha untuk mengeluarkan ari-ari bayi yang masih berada di dalam rahim Yani. Usaha Mak Ijah berhasil, ari-ari itu keluar. Mak Ijah pun segera memotong benda persis seperti usus yang masih menempel di perut bayi Yani. Bayi itu kini sudah berhenti menangis dan mengulum tangannya sendiri. Setelah bayi terlepas dari ari-ari, Mak Ijah meminta Bu Patin untuk membersihkan bayi mungil yang cantik itu. Sedang Mak Ijah membersihkan tubuh Yani dan mencoba untuk menyadarkannya. Kali ini usaha Mak Ijah berhasil lagi. Yani sadar dan mengerjapkan matanya. Ia melihat sudah ramai orang di dalam gubuk itu. Mak Ijah pun meminta beberapa orang membantunya memindahkan Yani ke dalam kamar. Semua mata melihat iba pada Yani. Saat membawa Yani ke dalam kamar mereka hanya melihat selembar tikar sebagai alas tempat Yani tidur. Bu Patin pun berlari ke rumahnya mengambil sebuah kasur yang tak kalah usang. Namun, masih layak untuk di pakai. Yani terharu melihat Ibu Patin yang memberinya sebuah kasur meski kasur bekas. Ibu Patin segera meletakkan kasur di atas tikar milik Yani dan juga mengalasi kasur dengan sebuah sprei yang ia bawa. Yani bersama bayinya pun dibaringkan di atas kasur tersebut. Beberapa orang telah kembali pulang ke rumah masing-masing. Namun, tidak dengan Ibu Patin. Ia membuatkan Yani makanan dan membantu Yani mengurus bayinya. Yani begitu bersyukur memiliki tetangga seperti Ibu Patin yang baik hati. Hingga satu minggu berlalu, keadaan Yani sudah mulai membaik. Ia sudah bisa memandikan bayinya sendiri berkat Bu Patin yang selalu memberi arahan. Kini ia bisa mengurus bayinya sendiri dan tidak merepotkan Ibu Patin lagi. “Bu, terima kasih banyak atas bantuannya. Maaf, Yani tidak bisa memberi apa pun selain ucapan terima kasih,” ucap Yani pada Bu Patin. Ia menggenggam tangan Bu Patin dengan erat. “Sama-sama Yani, dulu semasa ibumu hidup ia sering membantuku. Jadi, jika sekarang aku membantumu itu semua karena membalas kebaikan ibumu dulu. Oh, iya Yani. Aku ada sedikit untukmu. Terimalah, mungkin bisa membantumu.” Bu Patin memberikan sebuah amplop pada Yani. Yani menerima amplop tersebut dan berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Bu Patin. Kemudian Bu Patin pulang meninggalkan Yani berdua bersama putri kecilnya. “Muni, anak ibu yang cantik. Lihat ini, Bu Patin sangat baik pada kita, Nak.” Yani mengecup pipi lembut bayinya yang tertidur. Ia terus menatap wajah bayinya yang mirip dengan Rendra. Seketika hati Yani merasa amat rindu pada Rendra sang suami. “Bang, kapan kau pulang. Anak kita sudah lahir, dia begitu cantik. Matanya dan bibirnya begitu mirip denganmu, Bang. Cepat pulang,” ucap Yani lirih di dalam hati. Tidak terasa air matanya mengalir membasahi pipi. Ada rasa khawatir di dalam hati Yani. Bagaimana jika Rendra tidak pernah kembali lagi? Apa yang akan ia katakan pada Muni nanti, saat ia sudah mengerti pastilah ia akan bertanya soal ayahnya. “Cepatlah datang, Bang,” ucap Yani lagi, ia begitu berharap lelaki itu kembali ke desanya. Hari berlalu, Yani sudah mulai bekerja dari rumah ke rumah untuk mencuci pakaian. Muni yang masih bayi pun ia bawa kemana pun ia pergi. Namun, beberapa pelanggannya telah berhenti memakai jasa Yani karena mereka pikir pekerjaan Yani mulai menurun semenjak memiliki bayi. Hanya Ibu Patin yang terus memberi Yani pekerjaan sambil membantunya mengurus Muni. Hingga sampai Muni kanak-kanak. Bu Patin membantunya masuk ke sekolah taman kanak-kanak. Muni kecil, tumbuh dengan sangat cantik. Wajahnya dan kulitnya putih bersih. Namun, meski begitu banyak orang-orang yang menghinanya tanpa memikirkan bahwa ia hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa. Hati Yani sering terluka ketika melihat Muni yanh dikucilkan oleh teman-temannya. Mereka sering menyebut Muni anak haram. Entah bagaimana pemikiran orang tuanya anak-anak sudah di ajarkan kata-kata yang tidak sewajarnya mereka terima dan dengar, apalagi sampai dikatakan. Yani mulai menjauhkan Muni dari anak-anak itu. Ia memilih mengurung Yani di dalam rumah. Yani merasa tidak terima jika putrinya harus mendapat hinaan yang begitu amat menyakitkan hatinya. Perlahan-lahan Muni menjadi anak yang pendiam dan tidak memiliki teman. Perlakuan Yani yang suka mengurung Muni membuat anak itu tidak percaya diri. Ia mulai enggan untuk hanya berkumpul bersama teman. Bahkan, ia tidak memiliki satu teman pun di desa itu. Semua karena rasa takut Yani, yang akhirnya membuat Muni menjadi murung dan pendiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD