Rindu Ayah

1395 Words
Muni yang seharusnya menjadi anak yang periang, lincah dan aktif terpaksa menjadi seorang anak yang pendiam. Ia tidak ingin membuat ibunya menjadi sedih. Muni tahu, ibunya akan menangis jika ada yang mengejeknya dengan sebutan anak haram. Meski Muni sendiri tidak mengerti, mengapa ia disebut demikian. Muni yang tumbuh dengan pintar mulai bertanya-tanya. Dan hal yang paling ditakutkan Yani pun terjadi. Suatu hari, di siang yang terik berlari-lari Muni di seoanjang jalan saat pulang dari sekolah. Baju seragamnya yang terlihat kekecilan juga warnanya sudah tidak tampak putih, membuat ia menjadi bahan hinaan di sekolah. Akan tetapi, kali ini ia tidak menangisi hal itu. Ia menganggap ejekan dari temanya itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun, kali ini hinaan tentang sebutan anak haramlah yang membuat Muni menangis terluka. “Dasar anak haram,” ucap Vita salah satu teman Muni di sekolah, mereka satu kelas sedari duduk di kelas satu hingga kini kelas lima sekolah dasar. Muni yang tahu perangai dari Vita, anak orang terkaya di desanya enggan meladeninya. Namun, Vita seakan sengaja terus mengejek Muni. “He, Muni. Kamu tau gak, apa itu anak haram?” tanya Vita mendekati Muni yang hendak menjauh pergi. Muni tertunduk, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Vita tadi. Selain memang Muni tidak mengerti apa arti dari kata-kata itu. “Ha ha ha, hey kalian semua!” teriak Vita membuat semua mata anak-anak memandang pada Vita juga Muni. “Kalian tau gak, arti anak haram?” tanya Vita pada teman-teman sekelasnya. Mereka yang melihat ulah Vita tertawa-tawa melihat Muni yang ketakutan. “Kata mamaku. Anak haram itu ... anak yang gak diinginkan sama orang tuanya. Mmm, apa, ya? Pokoknya kata mamaku, anak haram itu enggak punya bapak,” teriak Vita membuat semua anak-anak bersorak-sorak menertawakan Muni. “Maaf, Vita. Aku mau pulang.” Muni berusaha pergi dari Vita. Namun, Vita menahannya karena belum puas mengganggu Muni. “He, Muni. Kamu tuh, ya. Aku belum selesai ngomong!” bentak Vita, ia menarik baju Muni dengan mengapit jari telunjuk dan ibu jari. Seakan ia jijik hanya sekedar menyentuh pakaian Muni. “Liat dong. Kami semua di sini punya bapak. Karena kami bukan anak haram seperti kamu!” bentak Vita lagi, membuat mata Muni semakin memanas menahan air mata. “Ha ha ha, dia nangis. Dasar cengeng! Sudah sana pergi!” Vita kemudian mendorong tubuh Muni hingga terentak ke dinding. Muni pun menangis sejadi-jadinya dan berlari pulang ke rumahnya. Kali ini ia benar-benar merasa sakit hati. Namun, setiba di rumahnya tidak ia temukan keberadaan sang ibu. Muni pun pergi ke rumah Ibu Patin, ia tahu ibunya pasti ada di situ. “Ibu ...!” teriak Muni saat melihat ibunya yang sedang sibuk membantu Ibu Patin di kebunnya. Yani yang melihat anaknya pulang sambil menangis pun cemas. Ia segera memeluk Muni kemudian bertanya, “Kenapa, Nak? Muni kenapa, Sayang?” Muni tak langsung menjawab. Ia terus memeluk tubuh Yani sambil menangis sesunggukan. Yani yang melihat Muni pun ikut menangis, ia khawatir pada putri satu-satunya itu. “Bu, aku pamit pulang dulu, ya. Sepertinya Muni kurang enak badan.” Yani berpamitan pada Ibu Patin. Ia tahu, Muni enggan bercerita karena di situ ada Ibu Patin. Setibanya di rumah, Yani memberikan Muni segelas air dan langsung Muni habiskan. Ia terlihat sangat haus setelah berlari dan juga puas menangis. Muni mulai tenang, meski masih terdengar satu dua isakan yang ia tahan. “Muni, anak sayang ibu. Muni kenapa?” tanya Yani berhati-hati. Ia tidak ingin Muni menangis lagi dan akan lama mendapat informasi penyebab Muni menangis. “Bu, apa benar Muni anak haram?” tanya Muni, membuat Yani mengernyitkan dahi, terkejut. “Muni. Kenapa ngomong gitu?” Yani enggan menjawab panjang. Menurutnya Muni hanya anak kecil yang tidak mengerti apa pun, belum seharusnya Yani menjelaskan tentang arti yang Muni tanyakan. Ia memeluk Muni dengan hangat. Berharap putrinya tenang. “Tapi, Bu. Vita dan teman-teman yang lain selalu saja mengatakan Muni anak haram. Vita bilang, anak haram itu tidak punya ayah. Dan Muni ....” Muni menggantung ucapannya. Ia menunduk dan menangis lagi, ia melepas pelukan Yani. “Muni, lihat ibu, Nak. Muni percaya ‘kan pada ibu?” Yani mengapit dagu Muni. Gadis kecilnya yang terlihat sangat cantik meski sedang menangis. “Muni punya kok ayah seperti teman-teman yang lain. Tapi, ayah Muni sedang bekerja jauhhh sekali. Makanya Muni tidak pernah bertemu,” Yani menghibur Muni dengan mengarang cerita. Ia berusaha untuk selalu tersenyum di depan putrinya dan menyembunyikan air matanya. Meski di dalam dadanya terasa sesuatu yang menghimpit sangat berat. “Ibu gak bohong?” tanya Muni seakan ia ragu dengan yang baru saja Yani katakan. “Enggak, Sayang,” jawab Yani sambil menggeleng pelan sebisa mungkin ia menampilkan senyum. “Bu, kapan ayah Muni pulang? Muni ingin menunjukkan pada teman-teman yang sudah menghina kita,” tanya Muni lagi. Ia masih merasa penasaran tentang ayahnya. “Muni berdoa saja, ya. Semoga ayah cepat kembali,” jawab Yani, ia kemudian berjalan dan menuju dapur. Sekilas ia melihat wajah Muni yang berbinar bahagia. “Kapan kau datang, Bang. Anak kita menunggumu,” bisik Yani dalam hati. Ia pun sangat berharap Rendra kembali datang. Kesalahan terbesar Yani, tanpa disadari ia pun memberi harapan itu pada Muni. Malam menjelang. Muni duduk di pelataran rumahnya yang di pasangi kursi kayu. Ia menatap bintang sambil bersenandung kecil. Memperhatikan tingkah Muni, Yani meneteskan air mata. Kadang, terbesit dalam pikiran untuk mencari Rendra di Jakarta. Namun, Yani tak tahu pasti di mana alamat Rendra. “Muni, masuk sudah malam,” panggil Yani pada Muni, ia mengusap air matanya karena enggan di lihat oleh Muni bahwa ia menangis. Ia harus terlihat setegar mungkin. Muni berlari kecil masuk ke rumah. Ia mencuci kakinya dan langsung naik ke atas kasur yang tidak empuk lagi. Yani pun menghampiri Muni yang sudah berbaring lebih dulu. Ia memeluk tubuh Muni, agar putrinya itu lekas tidur. “Bu, bagaimana wajah ayah?” tanya Muni, sepertinya ia semakin memikirkan tentang ayahnya. “Mmm ... wajahnya mirip sekali dengan Muni. Matanya, hidungnya, bibirnya,” jawab Yani sambil menyentuh bagian-bagian yang Yani sebut. Hal itu memmbuat Muni tertawa-tawa. Kemudian ia berkata, “Muni tidak sabar menunggu ayah pulang, Bu.” “Kalau begitu, Muni cepat tidur. Siapa tau ayah datang di dalam mimpi,” ucap Yani, ia menepuk-nepuk punggung Muni. Malam ini Muni tertidur dengan wajah yang tersenyum. Ia memikirkan kebahagiaan tentang kepulangan ayahnya. Mentari mulai muncul dengan malu-malu. Sedikit-sedikit ia menyembul memberi sinarnya untuk bumi. Burung-burung berkicau mengiringi mentari yang meninggi. Muni sudah siap pergi ke sekolah. Hari ini, ia lebih semangat, tidak seperti biasanya. Seragamnya yang telah kusam dan kekecilan sudah ia kenakan. “Bu, Muni berangkat, ya,” pamit Muni pada Yani. Ia mencium punggung tangan Yani lalu berjalan dengan sangat semangat. Sepanjang jalan menuju sekolah, Muni bersenandung bahagia. Ia tak menghiraukan tatapan aneh dari beberapa temannya yang bertemu di jalanan. Meski ramai anak-anak yang juga berangkat ke sekolah, Yani tetap berjalan sendirian. Setiap harinya memang selalu begitu. Tidak ada yang mau menemani Muni. Mereka semua sudah diajari orang tua masing-masing untuk tidak berteman dengan Muni. Hanya karena Muni anak dari orang miskin mereka semua enggan anaknya bermain dengan Muni. Muni yang sudah sangat terbiasa dengan hinaan teman-temannya pun menjadi bebal. Ia seakan tidak mempedulikan itu lagi. Setiap berangkat atau pun pulang sekolah, ia selalu berjalan sendiri. Tak menjadi masalah untuknya. Semua anak seakan iri melihat wajah bahagia Muni pagi ini. Mereka mulai membicarakan Muni yang berjalan tidak seperti biasa, ia tidak menunduk dan berjalan cepat lagi. Mereka semua bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada Muni. Hingga akhirnya mereka mengadukan hal itu pada Vita saat tiba di sekolah. Vita yang mendengar berita itu merasa tidak suka. Ia bergegas mencari Muni. “Muni, sini!” panggil Vita, ia memang melihat wajah Muni yang tersenyum. “Kenapa Vita?” Muni terlihat sedikit berani dan percaya diri. “Gak usah kecentilan, ya. Kamu itu gak pantas kaya gitu, anak ha ....” “Cukup Vita!” sela Muni saat Vita akan menyebutnya anak haram. “Berani kamu sama aku?” Vita geram karena Muni berani melawan. “Aku bukan anak haram. Aku juga punya ayah! Dan ayahku sekarang sedang bekerja.” Dengan bangga Muni mengatakan hal itu. Vita tertawa terbahak-bahak. Teman yang lain pun ikut menertawai Muni. Melihat hal itu, Muni kesal dan mendorong Vita hingga kepalanya terentak ke dinding. Vita pun menangis, ia yang terbiasa di manja oleh orang tuanya pun berlari pulang hendak mengadukan perlakuan Muni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD