Rindu Ibu

1157 Words
Sebulan berlalu, nyatanya Rendra tak kunjung kembali. Yani semakin merasa gelisah, kini warga di desanya bukan lagi menggunjing dia yang dinikahi siri saja. Namun, kini mereka mengira Yani telah di tinggal pergi oleh Rendra. Setiap kali Yani keluar dan bertemu orang, selalu saja ia mendengar kata-kata yang membuat hatinya sakit dan terluka. "Kenapa nasibku jadi begini, Bu?" Yani yang merasa hidupnya semakin hancur, merasa rindu dengan mendiang sang ibu. Ia memutuskan untuk pergi ke makam ibunya. Berjalan kaki di bawah terik panas matahari. Yani merasa dunia pun ikut mengutuk dirinya. Hingga tiada satu pun yang berhenti untuk tidak melukainya. Di depan gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir sang ibu, Yani terisak-isak. Sesekali ia mengusap-usap nisan yang terbuat dari kayu itu. Bahkan nama sang ibu pun sudah tidak tampak di nisan itu. "Bu, Yani yakin pilihan ibu tidak salah. Yani yakin Bang Rendra orang yang baik. Tapi, kenapa dia tega meninggalkan Yani seorang diri?” ucap Yani seakan ia sedang mengadu pada sang ibu. Meski hening, tiada jawaban dari siapa pun, ia terus saja menangis di depan makan sang ibu. "Bu, tolong katakan pada Bang Rendra untung cepat kembali. Semua orang jahat pada Yani, Bu. Mereka semua menghina dan menyakiti hati Yani," ucap Yani lagi. Ia menyadarkan kepalanya di kayu nisan ibunya. Hingga mentari telah siap kembali ke peraduannya, Yani seperti enggan untuk pergi dari makan itu. Beberapa orang yang melintas dan melihat Yani, mengira ia telah gila karena di tinggal suaminya. "Kenapa Ibu tidak mengajakku saja, kenapa aku di tinggal sendiri, Bu?" Suara Yani makin lirih. Tubuhnya lemas, seharian ia belum makan. Ia kini tergeletak memeluk gundukan kuburan ibunya. Sambil air matanya terus berlinang ia berbicara tidak jelas. Hingga lama kelamaan pandangannya buram, Yani pun pingsan karena kelelahan. Yani mengerjapkan matanya ketika ia merasa sebuah kain basah dan hangat menempel di jidatnya. Ia melihat suasana di sekitarnya dan melihat bahwa dirinya kini sudah berada di dalam kamar rumahnya. Yani mengingat-ingat kembali kejadian terakhir yang ia alami. Hingga akhirnya dia ingat, bahwa saat itu ia berada di makam ibunya. Namun, di dalam hatinya bertanya-tanya. Siapa yang sudah membawanya pulang? Yani bangkit dan berjalan keluar kamar. Rumahnya tampak sepi, tetapi hatinya berdebar ketika di luar rumah terdengar suara orang yang bercakap-cakap. Suara itu, Yani sangat mengenalinya. Sosok lelaki yang ia rindukan selama ini. Yani berjalan cepat ke sumber suara. Ia langsung berhambur memeluk orang itu yang ternyata Rendra. "Yani, kau sudah sadar?" tanya Rendra kemudian memeluk Yani. "Bang, Yani rindu. Kenapa Abang sangat lama?" ucap Yani tak kuasa ia menahan air mata bahagianya. "Maaf, Sayang. Ayo kita masuk dulu, tubuhmu belum pulih," ajak Rendra memapah Yani kembali ke kamar. "Tidurlah dulu," pinta Rendra pada Yani. "Pak Dokter, tolong periksa istriku dulu," ucap Rendra pada seorang dokter yang tadi berbicara dengannya di depan. "Dia baik-baik saja. Hanya tekanan daranya rendah, sepertinya ia kelelahan. Tidak apa, saya akan berikan obat dan juga vitamin. Jangan terlalu banyak berpikir, ya," ucap dokter itu setelah memeriksa Yani. Kemudian ia pun berpamitan. Rendra duduk di samping Yani yang terbaring. Ia mengusap wajah pucat Yani. Betapa Rendra merasa bersalah atas apa yang Yani alami. Sesekali Rendra mengecup kening Yani. "Yani, ada apa sebenarnya?" tanya Rendra, ia ingin tahu mengapa Yani sampai tak sadarkan diri di tengah makam. Rendra yang baru pulang dari kota kebingungan mencari Yani yang tidak ada di rumah. Hingga akhirnya salah satu warga yang melihat Yani di makan sang ibu memberi tahu Rendra. "Bang, orang-orang. Me—mereka menghi—hinaku." Yani terisak-isak. Batinnya masih sangat terluka jika mengingat selama sebulan ia jadi bulan-bulanan warga. "Yani, aku sudah bilang. Jangan dengarkan ucapan mereka." Rendra mencoba menenangkan Yani. Ia tak ingin istrinya itu malah semakin parah. "Sudahlah, kau istirahat dulu, ya. Aku ingin kau pulih, baru kita bicarakan hal ini lagi," ujar Rendra, ia menggenggam erat tangan Yani. Di dalam hatinya, ia sudah berjanji akan mengatakan hal yang sebenarnya. Hari-hari berlalu, kesehatan Yani telah membaik. Ia sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Namun, hatinya masih di penuhi dengan tanda tanya. Soal kesahan pernikahannya dengan Rendra. Yani sengaja menunggu waktu yang tetap untuk menanyakan hal itu pada Rendra. "Bang, apakah Yani bisa berbicara hal yang serius pada Abang?" tanya Yani di saat hendak tidur. Ia merasa malam ini, malam yang tepat untuk ia membicarakan soal pernikahannya. "Abang juga ingin bicara sesuatu padamu, Yani," jawab Rendra, membuat wajah Yani terangkat memandangnya. "Baiklah, Abang duluan saja," pinta Yani mempersilakan Rendra agar mengutarakan hal yang ingin ia bicarakan. "Tidak. Kau duluan, karena apa yang akan kubicarakan pasti akan sama dengan apa yang kau tanyakan," tolak Rendra, karena memang ia tahu yang ingin Yani katakan pastilah soal surat-surat pernikahan. Yani mengangguk kemudian mulai berkata, "Bang, saat kepergianmu ke kota aku bertemu dengan Pak Kasmin. Ia sudah cerita bahwa kau menikahiku hanya secara siri saja." Yani berhenti sejenak menarik napas, ia merasa dadanya sedikit sesak mengingat pernikahannya. "Bang, aku ingin sekarang kau jujur. Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Yani, air mata yang sedari tadi menggenang kini meluncur cepat membasahi pipi. "Aku minta maaf padamu, Yani. Sungguh aku tidak berniat buruk," ucap Rendra tampak wajahnya menyesal. "Tetapi, kau bersabarlah. Sesegera mungkin aku akan urus surat-surat pernikahan kita. Itulah sebabnya aku lama di kota." Rendra masih enggan mengungkap bahwa ia telah memiliki istri di kota. Namun, ia memutuskan untuk meminta izin pada istrinya untuk menikah lagi. Itu sebabnya ia lama berada di kota. Rendra sedang ingin mendekati hati istrinya agar mendapatkan izin. "Abang tidak bohong, kan? Em ... Abang tidak mempermainkan Yani, kan? Seperti apa yang dikatakan orang-orang," tuntut Yani pada Rendra. Ia merasa sedikit trauma dengan ucapan warga. "Iya," jawab Rendra mengangguk. Hati Yani kini kembali tenang. Meski ia mendengar ucapan yang tidak enak, Yani tidak lagi terpengaruh. Ia percaya pada ucapan Rendra. Ia Yakin, Rendra tidak akan mempermainkan hatinya. Rumah tangga Yani dan Rendra kembali hangat. Meski terkadang Rendra tetap harus pergi ke Jakarta dengan waktu yang lumayan lama. Namun, Yani tidak lagi gelisah. Ia percaya bahwa kepergian Rendra ke ibu kota untuk usahanya. Rendra yang terkadang berada di Jakarta dalam waktu yang lama pasti akan mengirim surat. Meski Yani tidak pernah membalas surat itu karena tidak diperbolehkan Rendra. Namun, Yani merasa bahagia dengan setiap kata-kata mesra yang Rendra tulis. Kini waktu Rendra banyak dihabiskan di Jakarta. Sedang saat ia kembali ke Desa, hanya beberapa minggu saja. "Bang, memangnya di sana usaha Abang lebih ramai?" tanya Yani pada Rendra yang baru tiga hari kembali dari Jakarta. "Ia sudah pasti. Di sana itu, kan kota besar. Sudah pasti ramai dan untungnya lebih besar," jawab Rendra. Ia memeluk tubuh Yani yang hanya di tutupi selimut. "Yani mau tinggal di Jakarta?" tanya Rendra membuat hati Yani kegirangan. "Abang benaran? Yani mau Abang ajak tinggal di Jakarta?" tanya Yani sangat antusias. "Iya. Tapi nanti setelah semua selesai, Abang akan carikan tempat tinggal yang nyaman untukmu," ujar Rendra membuat hati Yani makin bahagia. Yani mengeratkan pelukannya pada tubuh Rendra. Ia merasa semakin mencintai suaminya itu. Yani pun berharap malam ini tidak berlalu begitu cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD